Jumat, 10 April 2026

Halaqah 11 | Simpul 08 – Melazimi dan Sedikit Demi Sedikit Dalam Menuntut Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 11 | Simpul 08 – Melazimi dan Sedikit Demi Sedikit Dalam Menuntut Ilmu

Halaqah 11 | Simpul 08 – Melazimi dan Sedikit Demi Sedikit Dalam Menuntut Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.

المعقد الثامن

Simpul yang ke delapan adalah

لزوم التأني في طلبه، وترك العجلة

Simpul yang kedelapan adalah hendaklah kita terus-menerus pelan-pelan di dalam menuntut ilmu. لزوم berarti melazimi, التأني artinya adalah pelan-pelan di dalam menuntut, artinya sedikit demi sedikit, ini termasuk pengagungan kita terhadap ilmu.

Jadi jangan dikira mengagungkan ilmu kemudian Antum mempelajari ilmu dalam satu waktu dalam jumlah yang banyak, ingin misalnya dalam satu hari selesai menghafal kitabut Tauhid atau dalam satu hari ingin menghafal Tsalatsatul ushul, ini tergesa-gesa.

Harusnya termasuk penghormatan dia terhadap ilmu kalau memang dia ingin mendapatkan dan ingin bertemu dengan ilmu tadi ingin meraih ilmu tadi maka dia harus mencarinya dengan sedikit demi sedikit, itu justru menunjukkan pengagungan kita terhadap ilmu, karena dengan sedikit demi sedikit kita akan sampai kepada ilmu tapi kalau kita menimba ilmu secara langsung dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang sebentar maka ini sebenarnya adalah menghinakan ilmu karena dia tidak akan mendapatkan ilmu.

وترك العجلة

dan meninggalkan tergesa-gesa, tergesa-gesa ini adalah dari setan dia tahu bahwasanya orang yang tergesa-gesa di dalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan, semuanya ingin dia baca dalam waktu satu hari, dia ingin segera menguasai ilmu Fiqh dalam dua hari, ini tergesa-gesa

إنَّ تحصيل العلم لا يكون جملةً واحدةً؛

menuntut ilmu itu bukan dengan satu waktu, satu waktu dengan jumlah yang banyak bukan dengan cara itu menuntut ilmu

إذ القلب يضعف عن ذلك

karena hati kita ini adalah lemah dan tidak mampu untuk melakukan yang demikian.

Hati sebagaimana kita tahu ini adalah tempat ilmu tersebut dan kalau kita langsung memasukkan ilmu ke dalam hati yang lemah ini dalam satu waktu maka dia tidak akan mampu, dia adalah lemah untuk melakukan yang demikian kalau dia lemah maka akan dia segera letakkan ilmu tadi dan tidak bisa dia bawa.

و إنَّ للعلم فيه ثِقَاً كثِقَل الحَجَر في يد حامله

Maka sesungguhnya ilmu itu adalah memiliki berat sebagaimana beratnya sebuah batu di tangan orang yang membawanya.

Orang yang membawa batu besar berat dia, kalau dia tidak mampu maka akan segera dia lemparkan batu tadi tidak akan lama-lama dia pegang karena dia tidak bisa atau tidak mampu untuk membawa batu tadi.

Sebagaimana batu itu memiliki berat demikian pula ilmu itu adalah memiliki berat sehingga kalau hati kita tidak mampu untuk membawa ilmu tadi, karena dalam satu waktu kita masukkan ilmu tadi ke dalam hati kita maka dia akan segera meletakkan dan tidak mampu untuk membawanya.

Ini yang menjadikan banyak orang yang awalnya dia semangat untuk menuntut ilmu akhirnya dia putus akhirnya dia futur karena dia tergesa-gesa melihat orang lain ternyata dia bisa bicara ternyata dia memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu kemudian dia menganggap bahwasanya ilmu itu bisa didapatkan dalam waktu 1 hari dalam waktu 2 hari, dia tergesa-gesa.

Padahal dia bisa mendapatkan ilmu tadi selama puluhan tahun dia belajar, dari 1 jam tiap hari 2 jam setiap hari dan dia selama bertahun-tahun mendengarkan selama bertahun-tahun mengikuti akhirnya dia mendapatkan ilmu tadi, sebagian orang tergesa-gesa sehingga justru ini menjadi sebab dia tidak istiqomah di atas ilmu.

قال تعالىٰ

Allāh ﷻ mengatakan

إِنَّ سَنلْقِي عَلَيْكَ قَوْلً ثَقِيْلً﴾ المزمل: 5

Sesungguhnya Kami akan melemparkan kepadamu ucapan yang berat, maksudnya adalah Al-Qur’an, akan mewahyukan kepadamu ucapan yang berat

أي القرآن

yaitu Al-Qur’an, Allāh ﷻ mensifati Kalam-Nya ini adalah ucapan yang berat

وإذا كان هٰذا وصف القرآن الميسر

kalau ini adalah sifat dari Al-Qur’an yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻ

كما قال تعالىٰ

Allāh ﷻ mengatakan

وَلَقَدْ يَسَّرْنَ ٱلْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ﴾ القمر: 17

Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai peringatan, berarti Allāh ﷻ mensifati Al-Qur’an dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻ. Dia mudah tapi disifati oleh Allāh ﷻ dia adalah ucapan yang berat

فما الظنُّ بغيره من العلوم؟

kalau Qur’an saja yang disifati sesuatu yang dimudahkan oleh Allāh ﷻ, dikatakan oleh Allāh ﷻ itu adalah ucapan yang berat lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu yang lain

وقد وقع تنزيل القرآن رعايةً لهٰذا الأمر مُنَجَّمًا مفرَّقًا

Dan turunnya Al-Qur’an adalah dengan berangsur-angsur, مُنَجَّمًا bukan dalam satu waktu tapi dalam beberapa lama beberapa waktu, مفرَّقًا dan terpisah-pisah, turun satu ayat turun dua ayat turun satu Surah dan seterusnya, tidak diturunkan oleh Allāh Azza Wajalla dalam satu waktu

رعايةً لهٰذا الأمر

untuk menjaga perkara ini, yaitu karena yang namanya ilmu itu didapatkan dengan pelan-pelan bukan didapatkan secara langsung dalam satu waktu, Allāh ﷻ ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya ilmu itu didapatkan dengan sedikit demi sedikit.


باعتبار الحوادث والنَّوازل

Turun ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an sesuai dengan kejadian dan juga peristiwa

قال تعالىٰ

Allāh ﷻ mengatakan

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً

Dan orang-orang kafir mengatakan seandainya diturunkan Al-Qur’an kepadanya (kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam) dalam satu kali saja, itu ucapan orang-orang kafir, ini menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam waktu yang berbeda-beda secara bertahap

كَذَلِكَ لِنثبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ

Demikianlah supaya kami menguatkan dengan cara seperti itu hatimu, karena Al-Qur’an ini adalah sesuatu yang berat tapi ketika diturunkan satu ayat dipahami oleh Nabi ﷺ diamalkan, dua ayat dipahami oleh Nabi ﷺ dan diamalkan maka akan menegakkan hatinya.

Demikian pula kalau ilmu kita pelajari sedikit demi sedikit maka kita InsyaAllāh akan istiqamah di dalam menuntutnya, kalau kita tergesa-gesa dan mengikuti hawa nafsu dan mengikuti syaithan maka tidak lama seseorang akan terputus dari menuntut ilmu agama

وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيْلاً﴾ الفرقان: 32

dan Kami mentartil Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya.

وهٰذه الآية حجَّةٌ في لزوم التَّأنِّي في طلب العلم

Maka ayat ini adalah dalil tentang keharusan untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu, yaitu ayat yang berisi tentang turunnya Al-Qur’an secara bertahap

والتَّدرُّج فيه

dan keharusan untuk bertingkat-tingkat di dalam menuntut ilmu, artinya sedikit demi sedikit dimulai dari yang paling penting, dari yang paling penting pun kita mempelajari sedikit demi sedikit.

Tadi yang kita sampaikan ilmu tauhid itu adalah ilmu yang paling penting, dalam mempelajari ilmu tauhid juga kita mempelajarinya sedikit demi sedikit, sehari 1 jam sehari 2 jam kalau dikumpulkan kita akan selesai satu kitab

وترك العَجَلة

dan meninggalkan tergesa-gesa

كما ذكره الخطيب البغداديُّ في الفقيه والمتفقه، والرَّاغب الأسفهانيُّ في مقدِّمة جامع التفسر

Seperti disebutkan oleh Khatib Al-Baghdadiy di dalam kitab beliau Al-Faqih wal Mutafaqqih dan juga disebutkan oleh Ar-Raghib Al-Asfahaniy dalam Muqaddimah Jami’ At-Tafsir, menyebutkan bahwasanya ayat ini merupakan dalil keharusan kita untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu agama.


ومن شعر ابن النَّحَّاس الحلبيِّ قولُهُ

Di antara sya’ir Ibn Nahas Al-Halabiy rahimahullah adalah ucapan beliau

اليومَ شيءٌ وغدًا مثلُهُ
من نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْ

Hari ini adalah sesuatu, maksudnya hari ini kita mempelajari sesuatu yang sedikit saja, satu permasalahan

وغدًا مثلُهُ

dan besok kita mempelajari satu permasalahan lagi

من نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْ
يُحصِّل المرء بها حكمةً

dari pilihan-pilihan ilmu tadi yang diambil sedikit demi sedikit, hari ini dia ambil satu besok ambil satu, maka seseorang akan mendapatkan hikmah maka dia akan mendapatkan ilmu.

Para ulama mereka mendapatkan ilmu karena mereka sedikit demi sedikit mereka menuntut ilmu tadi, satu ayat dipelajari besok satu lagi besok satu lagi sehingga muncullah seperti Ibnu Taimiyah Ibnul Qayyim An-Nawawi Ibnu Hajar, mereka dulu belajarnya sedikit demi sedikit bukan langsung menjadi seorang ulama atau sehari dua hari mereka menghafal tapi dari sedikit demi sedikit dan mereka bersabar akhirnya mereka menjadi seorang yang berilmu.

وإنَّما السَّبيل ٱجتماع النُّقَطْ

Sesungguhnya yang namanya banjir, banjir hakikatnya adalah berkumpulnya titik-titik air, banjir air yang banyak itu adalah kumpulan dari titik-titik air, dia dikumpulkan atau mereka berkumpul akhirnya menjadi sebuah banjir, demikian pula ilmu yang dimiliki oleh para ulama mereka dapatkan sedikit demi sedikit dengan cara yang tadi sudah kita sebutkan.

Jadi kita harus punya pokoknya dulu,kita mempelajari Matan dulu dan ini kita jadikan sebagai pokoknya pondasinya Matan dari ilmu tersebut, kemudian kita mempelajari lagi kemudian kita tempelkan lagi dan kita tempelkan sampai akhirnya terbentuk sebuah bangunan ilmu yang kokoh. Jadi masing-masing cabang ilmu tadi kita harus memiliki pondasinya memiliki Matan yang kita jadikan rujukan yang kita hafal dan kita pelajari maknanya.

ومقتضىٰ لزومِ التَّأنِّي والتَّدرُّجِ: البداءةُ بالمتون القصار المصنَّفةِ في فنون العلم

Diantara konsekuensi dari keharusan pelan-pelan dan juga bertahap adalah kita memulai dengan matan-matan yang pendek yang ditulis di dalam cabang-cabang ilmu tadi, kita memulai dengan mempelajari matan-matan tadi

حفظًا

dengan cara menghafalnya

واستشراحًا

dan kita berusaha untuk mencari syarahnya, penjelasan dari dari Matan tadi, karena terkadang dia ucapannya sedikit dia memiliki makna yang dalam tapi kalau kita tidak belajar dari seorang guru kita tidak memahami


Dan hendaklah seseorang berpaling dari membaca buku-buku yang panjang buku-buku yang berjilid-jilid yang belum sampai seseorang kepada tingkatannya.

Antum baru di awal maka termasuk pengagungan terhadap ilmu Antum mulai dari matan-matan yang pendek jangan Antum langsung belajar misalnya langsung buka Fathul Bari, memang di situ ada ilmunya tapi Antum belum sampai ke sana, banyak nanti habis waktunya Antum mempelajari mungkin 10 halaman Antum tidak paham semuanya habis waktunya, tapi kalau antum mempelajari dari yang ringkas Antum langsung paham dan bisa Antum amalkan dan nanti InsyaAllāh antum paham bisa membaca Fathul Bari.

ومن تعرَّض للنَّظر في المطوَّلات فقد يجني علىٰ دينه

Barang siapa yang memaksakan dirinya membaca buku-buku yang berjilid-jilid maka dia telah merusak agamanya, dia merusak ilmunya merusak agamanya

وتجاوزُ الاعتدال في العلم ربَّما أدَّىٰ إلىٰ تضييعه

dan melanggar keseimbangan di dalam ilmu, harusnya Antum mempelajari yang ringkas-ringkas dulu tapi Antum memaksakan diri Antum untuk mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid yang Antum belum sampai ke sana sebenarnya maka ini akan membawa kepada penyia-nyiaan terhadap ilmu tadi, karena Antum banyak perkara yang Antum tidak paham dan mungkin Antum salah paham sehingga justru malah sesat di dalam pemikiran kita karena kita tidak mendasari dengan mempelajari matan-matan yang singkat yang ringkas yang ditulis dalam cabang ilmu tadi.

ومن بدائع الحِكَم قول عبد الكريم الرِّفاعيِّ – أحد شيوخ العلم بدمشقَ الشَّام في القرن الماضي -: طعام الكبار سمُّ الصِّغار

Dan di antara hikmah-hikmah yang luar biasa adalah ucapan Abdul Karim Ar-Rifa’i salah seorang ulama yang ada di Damaskus Syam di abad yang lalu, beliau mengatakan

طعام الكبار سمُّ الصِّغار

Makanan bagi orang yang sudah besar itu menjadi racun bagi anak yang masih kecil.

Yang kita makan enak tapi kalau kita berikan kepada anak yang masih umur 1 bulan 2 bulan maka ini bisa meninggal dia karena dia belum waktunya untuk memakan makanan tadi, dia minum susu dari ibunya itu yang cocok dengan dia tapi kalau kita paksa dia memakan makanan kita meskipun menurut kita adalah enak maka ini akan menjadikan dia termudharati.

Tentunya ini adalah permisalan yang sangat bagus sekali, ini permisalan bagi orang yang mempelajari ilmu membaca buku-buku yang berjilid-jilid yang panjang sementara dia belum mempelajari yang ringkas dari cabang ilmu tersebut, maka ini bukan pengagungan terhadap ilmu tapi justru ini adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.

Orang yang ingin mengagungkan ilmu maka dia menempuh caranya, menempuh cara untuk mendapatkan ilmu tadi yaitu dengan cara bertahap, pelan-pelan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Halaqah 10 | Simpul 07 – Bersegera dalam Menuntut Ilmu dan Memanfaatkan Waktu Muda

 

  • Home
  • Halaqah 10 | Simpul 07 – Bersegera dalam Menuntut Ilmu dan Memanfaatkan Waktu Muda

Halaqah 10 | Simpul 07 – Bersegera dalam Menuntut Ilmu dan Memanfaatkan Waktu Muda



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد السابع

Simpul yang ketujuh di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu

المبادرة إلى تحصيله واغتنام سن الصبا والشباب

Adalah dengan bersegera untuk mendapatkan ilmu, artinya jangan kita berlambat-lambat kalau antum benar-benar mengagungkan ilmu maka bersegeralah untuk mendapatkan dia dan keinginan untuk bertemu dengan ilmu tersebut, jangan kita melambatkan diri bermalas-malasan ini bentuk kita tidak mengagungkan ilmu, apalagi menunda-nunda nanti saja bulan depan saja atau tahun depan saja ini berarti ada di dalam hatinya bentuk tidak mengagungkan ilmu dan tidak menghormati ilmu.

Dan juga menggunakan umur atau menggunakan usia anak-anak dan remaja atau masa muda, menggunakan dengan baik umur dia ketika dia masih di masa kanak-kanak dan masa remajanya, ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu. Bagi yang masih muda maka bentuk pengagungan Antum terhadap ilmu adalah menggunakan masa muda Antum ini menggunakannya dengan baik untuk mencari ilmu agama, ini kesempatan Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan Taufik kepada Antum di masa mudah ini untuk bisa menekuni ilmu agama ini.

قال أحمد

Berkata Ahmad rahimahullah

ما شبَّهتُ الشَّباب إلَّ بشيءٍ كان في كُمِّي فسقط

Berkata Imam Ahmad tidaklah aku menyerupakan masa muda kecuali seperti sesuatu yang ada di ujung pakaianku kemudian dia jatuh, kummiy adalah ujung pakaian, beliau serupakan masa muda yang menunjukkan tentang sebentarnya masa muda itu seperti sesuatu yang ada di ujung pakaian kemudian dia segera jatuh ketika kita memakai pakaian seperti ini dan ada suatu di ujung pakaian kita maka dia akan segera jatuh dengan cepat sekali dia jatuh.

Ini menunjukkan betapa sebentarnya masa muda yang dilewati oleh seseorang, harus kita manfaatkan dengan baik masa muda tersebut dan termasuk pengagungan terhadap ilmu kita manfaatkan masa muda tersebut untuk menuntut ilmu agama, bersegera sebelum datang masa tua.

والعلم في سنِّ الشَّباب أسرع إلىٰ النَّفس، وأقوىٰ تعلُّقًا ولصوقًا

Dan ilmu di masa muda atau di masa remaja itu lebih cepat masuk ke dalam jiwa lebih mudah masuknya ke dalam hati seseorang

وأقوىٰ تعلُّقًا ولصوقًا

dan kalau dia sudah masuk maka dia akan kuat melekat di dalam jiwa seseorang atau di dalam hati seseorang.

Jadi ini kelebihan menuntut ilmu di masa muda, lebih cepat dia menerima dan menyerap dan kalau sudah sampai di dalam hatinya sudah dia hafal maka dia akan melekat dengan kuat di dalam hati seseorang.

فقوَّة بقاء العلم في الصِّغر، كقوَّة بقاء النَّقش في الحَجَر

Maka kekuatan langgengnya ilmu yang didapat ketika masih kecil itu seperti kekuatan langgengnya pahatan di dalam batu, orang kalau memahat di batu maka ini akan beberapa tahun ke depan bahkan mungkin ratusan tahun masih bisa terlihat pahatan tadi, sebagaimana di sana ada peninggalan-peninggalan mungkin di dalam goa atau pahatan-pahatan itu masih ada meskipun 1000 tahun yang lalu dipahat.

Demikian ilmu yang dipahat yang diukir ketika seseorang masih kecil, dia menghafal Qur’an semenjak kecil dia menghafal hadits semenjak kecil dia mempelajari berbagai ilmu semenjak dia muda maka ini InsyaAllāh akan melekat di dalam dirinya.

فمن ٱغتنم شبابه نال إرْبَه

Barang siapa yang memanfaatkan masa mudanya maka dia akan mencapai puncaknya (tujuannya)

وحَمِد عند مشيبه سُراه

dan dia akan bersyukur ketika dia sudah tua, سُراه yang dimaksud di sini adalah ijtihad dia dan kesungguhan dia ketika masih muda.

Orang yang menggunakan masa muda dengan baik maka dia akan mendapatkan tujuannya dan ketika dia sudah tua maka dia akan bersyukur kepada Allāh ﷻ, Alhamdulillah yang telah memberikan Taufik kepadaku di masa mudaku aku diberikan Taufik untuk bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu.

Kemudian setelahnya beliau mendatangkan sebuah syair

اغتنم سِنَّ الشَّباب يا فتىٰ

di dalam nuskhah yang terbaru

أَلَا اغتنم سِنَّ الشَّباب يا فتىٰ

Ketahuilah maka hendaklah engkau menggunakan waktu mudamu wahai pemuda

عند المشيب يَحْمَدُ القوم السُّريٰ

ketika sudah tua barulah kaum-kaum tersebut bersyukur, bersyukur dan memuji Allāh subhanahu wa ta’ala atas kesungguhan yang dia lakukan ketika masih muda.

Orang yang menggunakan masa mudanya dengan baik maka dia akan mencapai tujuannya dan ketika dia sudah tua Alhamdulillah dia bersyukur kepada Allāh ﷻ yang telah memudahkan dia untuk berijtihad dan bersungguh-sungguh di masa mudanya.

ولا يُتوهَّم ممَّا سبق أنَّ الكبر لا يتعلَّم

Tadi kita menyebutkan hendaklah engkau gunakan masa mudamu dan menuntut ilmu di masa muda itu seperti orang yang mengukir di atas batu. Jangan dikira jangan disangka bahwasanya orang yang sudah tua kemudian tidak belajar, jangan menyangka kemudian orang yang sudah tua berarti dia tidak perlu belajar dan tidak usah belajar karena tidak ada manfaatnya, jangan dia menyangka demikian

بل هؤلاء

akan tetapi atau bahkan


هؤلاء أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلَّموا كبارً

Jadi orang yang sudah tua pun dituntut untuk belajar, beliau mendatangkan sebuah dalil bahwasanya para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mereka mempelajari ilmu agama ini dalam keadaan mereka sudah besar-besar sudah tua.

Di sana ada kibaru sahabah di sana ada sighar sahabah, ada sahabat-sahabat yang kibar yang mereka memang masuk Islam mengenal agama Islam ini ketika mereka sudah tua, mungkin 30 tahun atau 40 tahun atau ada yang 50 tahun bahkan dan ternyata mereka menjadi sebaik-baik manusia, mereka bisa mempelajari agama ini dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka jangan kita putus asa.

Alhamdulillah, ada sebagian orang sampai dia tua dan sampai dia mati tidak mempelajari ilmu agama, Allāh ﷻ memberikan karunia kepada kita sebelum kita bertemu Allāh subhanahu wa ta’ala Allāh ﷻ membimbing kita memberikan hidayah kepada kita untuk mempelajari ilmu agama, sebagaimana dahulu para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam banyak di antara mereka yang masuk Islam dalam keadaan mereka sudah sepuh dan sudah tua.

ذكره البخاريُّ في كتاب العلم من صحيحه

Ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullāh di dalam Kitabul Ilmi dari shahih beliau, beliau sebutkan bahwasanya para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dulu belajar dan mereka dalam keadaan sudah tua.

Ini menunjukkan bahwasanya yang sudah tua pun maka dituntut dia untuk mempelajari ilmu agama ini tentunya dengan cara yang tadi sudah kita sebutkan, kita dahulukan yang paling penting kemudian yang penting dan seterusnya.

وإنَّما يعسر التَّعلُّم في الكِبَر – كما بَيَّنه الماورديُّ في أدب النيا والدين

Kemudian beliau menyebutkan sebenarnya apa yang menyebabkan orang yang sepuh atau orang yang tua itu susah untuk belajar

كما بَيَّنه الماورديُّ

sebagaimana disebutkan oleh Mawardiy di dalam

أدب الدُّنيا والدِّين

Sebabnya adalah ini

لكثرة الشَّواغل

Yang pertama adalah karena banyaknya kesibukan, berbeda dengan anak muda orang yang sudah tua sudah banyak kesibukannya, dia sudah punya keluarga ngurus anak ngurus istri ngurus pekerjaan

وغلبة القواطع

dan banyaknya perkara-perkara yang memutuskan yang mengganggu yang merintangi dia dalam mempelajari ilmu agama yang itu harus dia lakukan

وتكاثر العلائق

dan banyaknya koneksi-koneksi (hubungan-hubungan) dengan manusia, dalam masalah pekerjaan dalam masalah mungkin dia ketua RT dan kesibukan-kesibukan yang lain, banyak urusan kalau dilihat di HP-nya mungkin ada ribuan nomor-nomor HP kalau dilihat di WA-nya mungkin ratusan yang masuk ke nomornya.

Ini keadaan orang yang sudah tua, sudah banyak hubungannya sudah banyak kenalannya berbeda dengan anak yang masih muda urusannya masih ringan, kalau kita sudah tahu sebabnya adalah demikian

فمن قدِر علىٰ دفعها عن نفسه أدرك العلم

maka barang siapa yang mampu, ada orang tua yang dia mampu untuk melawan sebab-sebab yang menjadikan dia sulit untuk mempelajari ilmu tadi artinya dia bisa menekan dia bisa mengurangi koneksi dengan orang, dia bisa mengurangi pekerjaan dia, dia sempatkan untuk menuntut ilmu

أدرك العلم

maka InsyaAllāh dia akan mendapatkan ilmu sebagaimana anak muda mereka bisa mendapatkan ilmu, dengan syarat tentunya setelah Taufik dari Allāh ﷻ dan dia bisa melawan sebab-sebab dia sulit untuk mendapatkan ilmu.

Tapi kalau dia lebih memilih seperti awal artinya aduh kayaknya berat untuk meninggalkan rekan-rekan dia, masih ingin menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat ingin banyak nongkrong dan ngobrol dengan teman-temannya sulit bagi dia untuk mendapatkan ilmu, tapi kalau dia bisa melawan itu semuanya bisa menyempatkan waktu untuk belajar maka InsyaAllāh dia mendapatkan ilmu.

Dan di sana banyak para ulama yang dia menjadi ulama setelah mereka sudah tua, artinya baru mempelajari ilmu agama ketika mereka sudah tua bukan dari semenjak 10 tahun tapi mungkin ada di antara mereka yang berumur 40 tahun baru belajar ilmu agama.

Di antaranya seperti Al-‘Izz ibnu Abdissalam seorang ulama besar, ini juga belajar ilmu bukan dari kecil, Al-Qadhi ‘Iyadh, Ibnu Hazm mereka baru mempelajari ilmu agama dan mulai mempelajari ilmu agama ketika mereka sudah tua artinya sudah tidak muda lagi dan ternyata mereka menjadi ulama.

Jadi intinya ma’qid yang ketujuh adalah kita berusaha untuk memanfaatkan waktu muda kita dan bersegera untuk menuntut ilmu, jangan kita tunda-tunda dalam menuntut ilmu agama.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Halaqah 09 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (2)

 

  • Home
  • Halaqah 09 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (2)

Halaqah 09 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (2)



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

Beliau mengatakan hafidzahullahu ta’ala

وإنمَّا تنفع رعاية فنون العلم باعتماد أصلين

Dan sesungguhnya akan bermanfaat penjagaan kita terhadap cabang-cabang ilmu itu dengan berpegang dengan dua pokok, kita dinamakan menjaga cabang-cabang ilmu kalau kita berpegang dengan dua pokok

أحدهما

yang pertama adalah

تقديم الأهمِّ فالمهمِّ

kita mendahulukan yang paling penting kemudian yang penting

ممَّا يفتقر إليه المتعلِّم في القيام بوظائف العبوديَّة لله

diantara perkara-perkara yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu supaya dia bisa melaksanakan tugas ibadah dia untuk Allāh ﷻ, ini yang perlu diperhatikan. Karena tujuan kita menuntut ilmu adalah supaya kita bisa beribadah kepada Allāh ﷻ dengan baik yang merupakan tujuan dan hikmah kita diciptakan oleh Allāh ﷻ.

Maka Antum lihat ilmu apa yang kira-kira langsung kita butuhkan di dalam ibadah kita kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, tentunya yang paling penting adalah ilmu tauhid, memahami tentang tauhid al-uluhiyah apa yang dimaksud dengan ibadah macam-macam dari ibadah dan apa yang dimaksud dengan kesyirikan macam-macam kesyirikan, maka ini perkara atau ilmu yang paling penting yaitu ilmu tauhid sebelum kita mempelajari ilmu Ushul fiqh bahasa Arab dan seterusnya maka kita harus dan wajib hukumnya untuk mempelajari ilmu yang paling penting yaitu ilmu tauhid karena ini jelas berkaitan dengan ibadah yang merupakan tujuan utama kita diciptakan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala.

Kemudian juga kita mempelajari setelahnya tentang masalah tata cara shalat karena ini merupakan rukun Islam yang kedua yang setiap hari diwajibkan atas kita semuanya, dan di antara syarat shalat adalah berwudhu berarti kita harus mempelajari tentang tata cara bersuci yaitu berwudhu.

Tentunya sangat tidak mengagungkan ilmu sebelum dia belajar tauhid sebelum dia belajar shalat dia belum belajar wudhu, kemudian dia sibuk dengan menghafal al-waraqat misal ingin mempelajari ilmu Ushul fiqh, kemudian dia menghafalnya menyibukkan diri dengan Ushul fiqh padahal dia belum belajar tauhid belum belajar salat belum belajar wudhu, ini dia tidak mengagungkan ilmu itu sendiri.

Kemudian setelah itu dia mempelajari yang berkaitan dengan shalat dia, seperti misalnya mempelajari bagaimana membaca Al-fatihah yang benar karena Al-fatihah ini adalah rukun shalat belajar Al-fatihah, sebelum mempelajari atau membaca dengan benar surah An-nas Al-falaq maka dia mempelajari dengan benar bagaimana membaca Al-fatihah, kalau Al-fatihah sudah benar maka InsyaAllāh mudah untuk mempelajari surah-surah yang lain.

Juga mempelajari makna dari Al-fatihah, hanya tujuh ayat saja makna Bismillahirrahmanirrahim makna alhamdulillahi robbil ‘alamin secara singkat saja tidak perlu dia mempelajari Al-fatihah sampai berbulan-bulan, secara singkat mengetahui secara global apa yang terkandung di dalam Al-fatihah karena ini langsung berkaitan dengan ibadahnya setiap hari.

Demikian pula dzikir setelah shalat misal zikir pagi dan juga sore, jangan sampai seseorang belum hafal tentang dzikir setelah shalat kemudian dia ingin menghafal sebuah matan di dalam ilmu hadits menghafal Arba’in Nawawi sementara dia belum menghafal atau belum mengetahui tentang dzikir setelah shalat, dia harus dahulukan yang paling penting kemudian yang setelahnya.

Kemudian yg kedua

والآخر: أن يكون قصده في أوَّل طلبه تحصيلَ مختصرٍ في كلِّ فنٍّ

Hendaklah yang dia maksudkan (tujuan dia) ketika dia mulai mempelajari sebuah cabang ilmu adalah mencari ringkasan didalam setiap cabang ilmu tadi.

Kalau kita mau mempelajari ilmu agama dengan baik maka hendaklah kita mencari ringkasan dari masing-masing cabang ilmu tadi, ini termasuk

رعاية فنون العلم

kita ingin menjaga cabang-cabang ilmu, kita dahulukan yang paling penting kemudian yang penting kemudian kita berusaha untuk mencari ringkasan dari masing-masing ilmu. Antum ingin belajar tauhid cari ringkasan di dalam masalah tauhid, belajar ushulul tsalatsah belajar kitabut tauhid itu semuanya ringkasan di dalam masalah tauhid.

حتَّىٰ إذا ٱستكمل أنواع العلوم النافع؛ نظر إلىٰ ما وافق طبعه منها، وآنس من نفسه قدرةً عليه

Kemudian apabila dia sudah melengkapi seluruh ilmu-ilmu yang bermanfaat, dia sudah belajar ringkasan dari ushul fiqh sudah belajar tentang fiqih sudah belajar tentang nahwu dan sharaf, barulah dia melihat apa yang sesuai dengan tabi’at dia.

Ketika dia sudah mempelajari ilmu-ilmu tersebut maka dia akan mendapatkan dalam dirinya kecenderungan, Ana sepertinya lebih senang untuk mendalami masalah hadits silahkan, Ana lebih senang untuk mendalami masalah tafsir silakan setelah kita berusaha untuk melengkapi cabang-cabang ilmu tadi

وآنس من نفسه قدرةً عليه

dan dia mendapatkan di dalam dirinya kemampuan (untuk mempelajari ilmu tersebut), dia senang memang dengan ilmu tadi dan dia punya kemampuan untuk mendalami ilmu tersebut

فتبحَّر فيه

maka silakan dia mendalami ilmu tersebut

سواءٌ كان فنًّا واحدًا أم أكثر

sama saja apakah yang dia senangi itu adalah satu cabang ilmu atau lebih dari satu cabang.

Kadang seseorang mencintai dan tabiatnya senang dengan ilmu ini dan ilmu itu ada beberapa ilmu yang dia senangi, tapi sebagian yang lain dan ini banyak biasanya yang dia senangi satu saja maka silahkan dia menambah wawasannya dan mendalami ilmu tadi.

ومن طيَّار شعرِ الشَّناقطة قولُ أحدهم

Diantara syi’ir (sya’ir) orang-orang syanaqithah, dan sya’ir ini tidak diketahui siapa yang mengucapkan makanya dinamakan dengan طيَّار (sya’ir yang berterbangan) yang tidak diketahui siapa yang mengucapkan pertama kali sya’ir ini. Dia mengatakan

و إن تُرد تحصيلَ فنٍّ تَمِّمهْ
وعن سواه قبل الانتهاءِ مَهْ

kalau kamu ingin mendapatkan (menguasai) sebuah cabang ilmu maka sempurnakan dan sebelum selesai ilmu tadi jangan engkau mempelajari yang lain.

وفي ترادف العلوم المنعُ جا
إن توأمانِ ٱستبقا لن يخرجا

Jadi petunjuk beliau kalau kita mempelajari sebuah ilmu maka hendaklah kita selesaikan dulu, ini adalah cara sebagian ulama, mereka memiliki cara yaitu kalau memang kita ingin mempelajari tauhid misalnya kita pelajari dari awal sampai akhir dulu tentang tauhid, kita belajar tsalatsatul ushul kitabut tauhid kemudian qawa’idul arba kasyfus syubhat dan seterusnya sampai kita benar-benar menguasai ilmu tadi barulah kita berpindah ke ilmu yang lain.

Kalau belum menguasai jangan membaca cabang-cabang ilmu yang lain, jangan belajar fiqih dulu jangan belajar ini dulu tapi belajar tentang tauhid dulu, ini maksud beliau ini cara sebagian ulama. Beliau mengatakan demikian karena

وفي ترادف العلوم المنعُ جا

karena ketika ilmu itu sama-sama dipelajari maka ini dilarang (tidak boleh) ini menurut beliau, tidak boleh di sini maksudnya jangan sampai dipelajari sama-sama, karena sesungguhnya dua bayi kembar kalau mereka tidak mau mengalah (masing-masing ingin cepat keluar dari perut ibunya)

لن يخرجا

maka dua-duanya tidak akan keluar, kalau tidak ada salah satu di antara keduanya yang mengalah dan semuanya ingin segera keluar dari perut ibunya maka dua-duanya justru tidak akan keluar, ini dipermisalkan orang yang ingin mendapatkan ilmu ini dan ilmu itu dalam waktu yang sama justru malah dia tidak mendapatkan dua-duanya, tapi kalau dia mempelajari satu ilmu terlebih dahulu sampai selesai baru dia mempelajari ilmu yang lain maka dia akan mengambil manfaat.

Ini cara sebagian ulama dan di sana ada cara yang lain dan ini lebih mudah bagi seorang penuntut ilmu, itu yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Al-Ushaimi pengarang kitab ini yaitu dengan cara kalau kita memang ingin mempelajari sebuah cabang ilmu, misalnya kita mempelajari tauhid kita mempelajari dasarnya, tidak harus kita menguasai seluruh dengan benar seluruh ilmu tauhid.

Mungkin cukup kita mempelajari tsalatsatul ushul kemudian kitabut tauhid kemudian setelah itu kita mempelajari tentang tata cara shalat tata cara wudhu, jangan sampai seseorang dua tahun atau tiga tahun dia mempelajari tentang tauhid sementara dia tidak tahu selama dua tahun tiga tahun tadi bagaimana cara wudhu yang benar bagaimana cara shalat yang benar. Kita mempelajari ilmu tauhid yang dasarnya kemudian setelah itu kita mempelajari tentang shalat tentang wudhu tentang dzikir pagi dan petang dan dzikir setelah shalat.

ومن عرف من نفسه قدرةً علىٰ الجمعِ جَمَعَ، وكانت حاله ٱستثناءً من العموم

Barang siapa yang mengetahui kemampuan didalam dirinya, dan masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dia tahu bahwasanya dirinya memiliki kemampuan untuk menjama’ yaitu menguasai lebih dari satu ilmu maka silahkan dia menjama’ dan keadaan dia ini adalah pengecualian  dari umumnya manusia, karena umumnya manusia mereka tidak mampu untuk menjama’ lebih dari satu ilmu, biasanya kalau spesialis masalah hadits maka dia di hadits saja.

Kadang di hadits pun ada yang lebih spesial lagi, ada seorang guru yang dia memang spesialisnya masalah tentang ilmu jarh wa ta’dil yaitu tentang bagaimana kita menilai seorang rawi, ada sebagian mereka di dalam ilmu hadits tapi dalam masalah musthalah, ada di antara mereka yang lebih khusus lagi tentang hadits-hadits yang palsu, jarang di antara mereka yang menguasai lebih dari satu cabang.

Kalau misalnya ada seseorang yang bisa ini dan bisa itu maka ini sebuah pengecualian, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beliau termasuk orang yang diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala anugerah memiliki keahlian dalam banyak cabang ilmu agama. Baik itu adalah simpul yang keenam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته