Sabtu, 17 Mei 2025

Halaqah 04 – Syirik Membatalkan Amal

  Amal

Halaqah 04 – Syirik Membatalkan Amal

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4 dari silsilah ilmiyyah belajar Tauhid adalah tentang Syirik Membatalkan Amal

Pernahkah Anda kehilangan file data berharga, hasil kerja keras Anda selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun? Bagaimanakah perasaan Anda saat itu? Sedih bukan! Terkadang seseorang berani membayar jutaan rupiah asal file tersebut kembali.

Saudaraku, syirik adalah dosa besar yang bisa membatalkan amalan seseorang. Allāh ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sungguh-sungguh telah diwahyukan kepadamu Wahai Muhammad dan orang-orang sebelummu bahwa ‘Apabila kamu berbuat syirik maka sungguh akan batal amalanmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’ Maka sembahlah Allāh saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Az-Zumar: 65-66)

Di dalam ayat ini disebutkan, seorang Nabi pun akan batal amalannya apabila dia berbuat syirik. Oleh karena itu, jagalah amalan yang sudah Anda tabung bertahun-tahun. Jangan biarkan amalan tersebut hilang begitu saja hanya karena kejahilan Anda terhadap Tauhid dan juga syirik. Terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa bisa menghancurkan amalan sebesar gunung, dan belum tentu ada waktu lagi untuk menabung kembali.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 03 – Bahaya Kesyirikan

 

Halaqah 03 – Bahaya Kesyirikan

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari silsilah ilmiyyah belajar Tauhid adalah tentang Bahaya Kesyirikan

Akhil karīm, Tauhid adalah amalan yang paling Allāh ﷻ cintai, sebaliknya syirik (menyekutukan Allāh ﷻ dalam beribadah) adalah amalan yang sangat Allāh ﷻ murkai. Allāh ﷻ memang Maha Pengampun, akan tetapi apabila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut.

Akibatnya dia kekal di dalam Neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke dalam Surga Allāh ﷻ. Sungguh, ini adalah kerugian yang tidak ada kerugian yang lebih besar daripada kerugian ini.

Allāh ﷻ berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

“Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik, dan masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.”
(Surah An-Nisā’: 48)

Allāh ﷻ juga berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya, barang siapa yang menyekutukan Allāh, maka Allāh mengharamkan baginya Surga, dan tempat kembalinya adalah Neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zhalim.”
(Surah Al-Mā’idah: 72)

Oleh karena itu, hati-hatilah saudaraku terhadap dosa yang satu ini. Terkadang seseorang terjerumus ke dalamnya sedangkan dia tidak menyadarinya. Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu agama. Belajarlah dan berdo’alah kepada Allāh ﷻ dengan sejujur-jujurnya. Semoga Allāh ﷻ melindungi kita dan keluarga kita dari perbuatan syirik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 02 – Syarat Mutlak Masuk Surga

 Surga

Halaqah 02 – Syarat Mutlak Masuk Surga

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari silsilah ilmiyyah belajar Tauhid adalah tentang Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga

Saudaraku, orang yang menginginkan kebahagiaan di Surga maka dia harus memiliki modal yang satu ini, yaitu Tauhid. Tidak akan masuk ke dalam Surga kecuali orang-orang yang bertauhid, orang yang bertauhid pasti akan masuk Surga meskipun mungkin sebelumnya dia diadzab terlebih dahulu di dalam Neraka karena dosa-dosa yang pernah dia lakukan di dunia. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ الله وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّة حَقٌّ وَالنَّار حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allāh, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, dan bahwasanya ʿĪsā adalah hamba Allāh dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan dia bersaksi bahwa Surga benar adanya dan Neraka benar adanya, maka Allāh ﷻ akan memasukkan dia ke dalam Surga sesuai dengan apa yang telah diamalkan.”
(HR. Bukhāri dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, Nabi ﷺ bersabda:

فَإِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا الله يُبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ الله

“Maka sesungguhnya Allāh ﷻ telah mengharamkan Neraka bagi orang-orang yang mengatakan ‘Lā ilāha illā Allāh’ (tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allāh), yang dia mengharap dengan kalimat tersebut Wajah Allāh ﷻ.”
(HR. Bukhāri dan Muslim)

Oleh karena itu tidak heran jika prioritas dakwah para Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka adalah Tauhid. Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya modal utama untuk mendapatkan Surga Allāh ﷻ adalah dengan bertauhid.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

 

Halaqah 01 - Mengapa Kita Harus Belajar Tauhid

 Belajar Tauhid

Halaqah 01 – Mengapa Kita Harus Belajar Tauhid

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari silsilah ilmiyyah belajar Tauhid adalah tentang “Mengapa Harus Mempelajari Tauhid?”

Mempelajari Tauhid merupakan kewajiban setiap Muslim, baik laki-laki maupun wanita, karena Allāh ﷻ menciptakan manusia dan jin adalah hanya untuk bertauhid, yaitu mengesakan ibadah kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
(Surah Adz-Dzāriyāt: 56)

Oleh karena itu, Allāh ﷻ mengutus para Rasul kepada setiap umat dengan tujuan untuk mengajak mereka kepada Tauhid. Allāh ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Dan sungguh-sungguh, telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang berkata kepada kaumnya “Sembahlah Allāh dan jauhilah thāghūt.”
(Surah An-Naḥl: 36)

Makna thāghūt adalah segala sesembahan selain Allāh ﷻ.

Oleh karena itu, seorang Muslim yang tidak memahami Tauhid yang merupakan inti ajaran Islam maka sebenarnya dia tidak memahami agamanya meskipun telah mengaku mempelajari ilmu-ilmu yang banyak.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Jumat, 16 Mei 2025

Pengagungan terhadap ilmu bagian 04


 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Pengagungan Terhadap Ilmu

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4 dari Muqaddimah Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah “Pengagungan Terhadap Ilmu”

Diantara perkara yang disebutkan Guru kami yang mulia Syaikh Dr. Shaleh bin ‘abdillah al ‘ushaimi hafdzhahullah didalam kitab beliau khulashah ta’dzimi ‘ilmi

13. Berusaha Keras Menghapal ilmu bermudzakarah dan bertanya

Belajar dari seorang guru tidak banyak manfa’atnya jika tidak menghapal, bermudzakarah, dan bertanya, menghapal berkaitan dengan diri sendiri, bermudzakarah mengulang kembali bersama teman dan bertanya maksudnya adalah bertanya kepada sang guru

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah

حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا

“Kami menghapal sedikit dan membaca banyak, maka kami mengambil manfa’at dari apa yang kami hapal lebih banyak dari apa yang kami baca dan dengan bermudzakarah akan hidup ilmu dalam jiwa dan dengan bertanya akan terbuka pembendaharaan ilmu”

14. Menghormati Ahli Ilmu

Rasulullah shallahallahu wa sallam bersabda

ليس من أمتي من لم يجلّ كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه

“Bukan termasuk ummatku yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan mengetahui hak bagi seorang ‘alim” (Hadits Hasan yang di riwatkan Al Imam Ahmad didalam musnad beliau)

Maka seorang murid harus memiliki rasa tawadhu terhadap gurunya, menghadap beliau, dan tidak menoleh menjaga adab berbicara, tidak berlebihan didalam memuji beliau, mendoakan beliau, mengucapkan terima kasih kepada beliau, atas pengajaran beliau menampakan rasa butuhnya terhadap ilmu beliau, tidak menyakiti beliau dengan ucapan dan perbuatan, serta berlemah lembut ketika mengingatkan kesalahan beliau

Disana ada 6 perkara yang harus dia jaga apabila melihat kesalahan seorang guru:

1. Meneliti terlebih dahulu apakah benar kesalahan tersebut keluar dari seorang guru
2. Meneliti apakah itu sebuah kesalahan (dan ini tugas ahlul ilmu)
3. Tidak mengikuti kesalahan tersebut
4. Memberikan udzur kepada sang guru dengan alasan yang benar
5. Memberikan nasihat dengan lembut dan rahasia
6. Menjaga kehormatan seorang guru dihadapan kaum muslimin yang lain

15. Mengembalikan Sebuah Permasalahan Kepada Ahlinya

Orang yang mengagungkan ilmu mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahli ilmu dan tidak memaksakan dirinya atas sesuatu yang tidak mampu, karena dikhawatirkan takut berbicara tanpa ilmu khususnya peristiwa peristiwa yang besar yang terjadi yang berkaitan dengan urusan umat dan orang banyak

Mereka para ulama memiliki ilmu dan berpengalaman maka hendaklah kita husnudzhan kepada mereka dan apabila ulama berselisih maka lebih hati hatinya seseorang mengambil ucapan mayoritas mereka

16. Menghormati Majelis Ilmu dan kitab

Hendaklah beradab ketika bermajelis,
Melihat kepada gurunya dan tidak menoleh tanpa keperluan,
Tidak banyak bergerak dan memainkan tangan dan kakinya,
Tidak bersandar dihadapan seorang guru, tidak bersandar dengan tangannya,
Tidak berbicara dengan orang yang ada disampingnya,
Apabila bersin berusaha untuk merendahkan suaranya,
Apabila menguap berusaha untuk meredamnya atau menutup dengan mulutnya
Hendaknya juga menjaga kitab dan memuliakannya
Tidak menjadikan kitab sebagai tempat simpanan barang barang,
Tidak bersandar diatas kitab,
Tidak meletakkan kitab dikakinya, dan
Apabila dia membaca kitab dihadapan seorang guru
Hendaknya dia mengangkat kitab tersebut dan tidak tidak meletekkan kitab tersebut ditanah

Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته