Selasa, 20 Mei 2025

Halaqah 17 – At-Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

  Sial Dengan Sesuatu)

Halaqah 17 – At-Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Tathayyur”, yaitu merasa sial dengan sesuatu.

At-Tathayyur adalah merasa akan mengalami nasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu, seperti melihat tabrakan, orang yang berkelahi, atau yang semisalnya kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain. At-Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut diikuti.

Rasūlullāh ﷺ bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang ath-thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik.”
(HR. Ahmad dan dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albānī raḥimahullāh)

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan dan diingkari oleh Rasūlullāh ﷺ. Beliau bersabda:

وَلاَ الطِّيَارَة

“Dan tidak ada thiyārah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, thiyārah ini adalah hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allāh ﷻ. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithān ini dan hendaknya dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi, berupa kebaikan dan keburukan adalah dengan takdir Allāh ﷻ semata. Seorang Mukmin hendaknya yakin bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allāh ﷻ, dan tidak ada yang melindungi dari keburukan kecuali Allāh ﷻ. Hanya bertawakkal kepada Allāh ﷻ semata dan berbaik sangka hanya kepada Allāh ﷻ.

Apabila datang perasaan was-was tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal kepada Allāh ﷻ dan tetap melaksanakan hajatnya. Apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allāh ﷻ semata.

Adapun at-tafā’ul, yaitu berbaik sangka kepada Allāh ﷻ karena melihat atau mendengar sesuatu, diperbolehkan dalam agama kita. Dahulu Nabi ﷺ sering bertafā’ul, seperti ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah. Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail, yang merupakan bentuk tashghir (pengecilan) dari kata “sahl,” yang artinya “mudah”. Maka Beliau ﷺ pun berbaik sangka kepada Allāh ﷻ bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam. Maka benarlah persangkaan Beliau ﷺ, karena setelah perjanjian tersebut, Allāh ﷻ membuka pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 16 – Perdukunan

 

Halaqah 16 – Perdukunan

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghoib. Yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia seperti:

-Mengetahui barang yang hilang,
-Pencurinya,
-Mengetahui ramalan nasib dan lain-lain.

Dia mengaku mengetahui hal² tersebut dengan cara-cara tertentu seperti :

-Melihat bintang,
-Menggaris di tanah,
-Melihat air di mangkuk dan lain-lain.

Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia.

Saudaraku sekalian.. Ketahuilah, perdukunan dengan namanya yang bermacam² adalah perkara yang diharamkan dalam agama islam. Ilmu ghoib yang mereka akui pada hakikatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan. sedangkan, cara-cara tersebut hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai seorang yang meminta bantuan jin dan juga syaithan.

Kita sudah mengetahui bersama bahwa iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersamanya ke dalam neraka. Iblis dan juga keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allâh ﷻ.

Para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini, dan harta yang dia dapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.

Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar, maka sebagai yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits yang shohih bahwa para jin bekerjasama untuk mencuri kabar dari langit. Apabila mendengar sesuatu maka jin yang di atas akan mengabarkan kepada yang dibawahnya dan seterusnya sehingga sampai ke telinga dukun, terkadang dia terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar tersebut, dan terkadang pula sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang.

Kabar sedikit ini atau kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah²i oleh dukun tersebut dengan kedustaan yang banyak. Apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan akan dijadikan alat mencari pembenaran dan kepercayaan dari manusia. Orang islam dilarang sekali-kali datang ke dukun dengan maksud meminta bantuan bagaimanapun susahnya keadaan dia. Rasulullâh ﷺ bersabda yang artinya :

Barang siapa yang mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (HR.Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullâh )

Rasulullâh ﷺ bersabda :

من اتى عرافا فسأ له عن شيء لم تقبل له صلا ة اربعين ليلة

Barang siapa yang mendatangi dukun, kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya sholat selama 40 hari (HR. Muslim)

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari islam. Namun kedua hadits diatas cukup menunjukkan besarnya dosa orang yang mendatangi dukun. Semoga Allâh ﷻ menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal dan menjauhkan kita dari yang haram.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah ke 16. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah berikutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 15 – Sihir

 

Halaqah 15 – Sihir

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Ayyuhal Ikhwah.. Sihir bermacam-macam jenisnya dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syetan, dan syetan tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yg dia ridhoi yaitu:

-Kufur kepada Allâh ﷻ,
-Kafir kepada Allâh ﷻ

Dengan cara menyerahkan sebagaian ibadah kepada syetan tersebut atau dengan menghina Al-Qur’an atau dengan mencela agama dan lain-lain. Allâh ﷻ berfirman :

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan bukanlah sulaiman yang kafir akan tetapi syetan-syetanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (QS. Al-Baqarah :102)

Rasulullâh ﷺ bersabda yang artinya:

“Jauhilah 7 perkara yang membinasakan, para sahabat bertanya “Ya Rasulullâh apa 7 perkara tersebut? Maka beliau Shalallâhu ‘alaihi Wasallam mengatakan : “Syirik kepada Allâh,Sihir,dan seterusnya”.(Muttafaqun Alaih)

Hukuman bagi seorang tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati, bila dia tidak bertobat sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi ﷺ dan yang berhak melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah dan bukan individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari islam. Demikian pula, meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram. Karena Rasulullâh ﷺ mengabarkan bukan termasuk pengikut beliau orang yang menyihir dan orang minta disihirkan. Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam musnadnya dan dishohihkan oleh syeikh Albani rahimahullâh.

Seorang muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir, diantaranya adalah dengan menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti :

-Dzikir pagi dan petang
-Dzikir setelah sholat 5 waktu
-Dzikir akan tidur
-Dzikir mau makan
-Dzikir masuk rumah dan keluar rumah
-Dzikir masuk kamar kecil dan keluar kamar kecil dan lain-lain.

Dan membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridho syetan, seperti :

-Jimat- jimat,
-Musik – musik,
-Gambar-gambar makhluk bernyawa dan lain-lain.

Dan apabila qadarullâh terkena sihir maka hendaknya dia bersabar, merendahkan diri kepada Allâh ﷻ memohon dari-Nya kesembuhan, dan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Dan jangan sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin, baik secara langsung, maupun lewat dukun, paranormal dan semisal mereka.

Semoga Allâh ﷻ melindungi kita dan keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan juga di akhirat. Aamiin..

Itulah halaqah yang ke 15 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Senin, 19 Mei 2025

Halaqah 14 – Berlebihan Terhadap Orang Shalih Pintu Kesyirikan



Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Belajar Tauhid > Halaqah 14 – Berlebihan Terhadap Orang Shalih Pintu Kesyirikan

Halaqah 14 – Berlebihan Terhadap Orang Shalih Pintu Kesyirikan

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Orang yang sholih adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allâh ﷻ baik dalam hal Aqidah, Ibadah maupun Muamalah. Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda di sisi Allâh ﷻ. Kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk mencintai mereka, kita juga diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka dalam kebaikan.

Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan, membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati kita, Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-batas yang diizinkan agama.

Namun, berlebih-lebihan terhadap orang yang sholih seperti mendudukan mereka diatas kedudukannya sebagai manusia, atau menyifati mereka dengan sifat-sifat yg tidak pantas kecuali untuk Allâh ﷻ, maka ini hukumnya haram, tidak diperbolehkan menurut agama.

Karena menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allâh ﷻ. Mencintai Rasulullâh ﷺ melebihi cinta kita kepada orang tua, anak dan semua manusia adalah sebuah kewajiban agama.

Sebagaimana dalam hadits. Namun beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau dengan mendudukkan beliau diatas kedudukan beliau sebenarnya yaitu sebagai seorang Hamba Allâh ﷻ dan Rasul. Beliau ﷺ bersabda:

لا تطروني كما اطرت النصارى عيسى ابن مريم فإنما انا عبده فقولوا عبد لله ورسوله

Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku, sebagaimana orang-orang nasrani berlebih-lebihan terhadap ‘Isa ibnu Maryam. Sesungguhnya aku adalah hambaNya, maka katakanlah hamba Allâh dan RasulNya (HR. Al-Bukhori)

Beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah dan Beliau adalah seorang Rasul maka tidak boleh dicela dan diselisihi, Apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baik manusia yaitu Rasulullâh ﷺ tidak diperbolehkan, maka bagaimana dengan yang lain?

Dan diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang orang sholih adalah meyakini bahwasanya mereka mengetahui ilmu ghoib, atau membangun di atas kuburan mereka, atau beribadah kepada Allâh ﷻ disamping kuburan mereka dan lain-lain.

Dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka. Semoga Allâh ﷻ melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

Itulah halaqah yang ke 14 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 13 – Syafa’at


Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Belajar Tauhid > Halaqah 13 – Syafa’at

Halaqah 13 – Syafa’at

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang Syafā’at.

Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat. Allāh ﷻ dan Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat. Di antara bentuknya adalah bahwasanya Allāh ﷻ mengampuni seorang Muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh ﷻ izinkan untuk memberikan syafā’at.

Syafā’at akhirat ini harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya. Dan modal utama untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan. Rasūlullāh ﷺ bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا

“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.”
(Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allāh ﷻ ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki. Allâh ﷻ berfirman:

…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…

“…Dan mereka (yaitu para nabi, para malaikat, dan juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai….”
(QS. Al-Anbiyaa’: 28)

Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia. Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun. Sebagaimana firman Allāh ﷻ:

مَـن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦٓ

“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 255)

Oleh karena itu, permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh ﷻ, Dzat yang memilikinya. Seperti seseorang mengatakan dalam do’anya, “Yā Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu.” Ini adalah cara meminta syafā’at yang diperbolehkan.

Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ seperti mengatakan, “Yā Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.” Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya. Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh ﷻ berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat, & mereka berkata: ‘Mereka adalah pemberi syafā’at bagi kami di sisi Allāh.’ Katakanlah: ‘Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?’. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.”
(QS. Yūnus: 18)

Itulah yang bisa kami sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print