Senin, 19 Mei 2025

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Berdo’a Kepada Selain Allāh ﷻ Adalah Syirik Besar”.

  Allāh ﷻ adalah Syirik Besar

Halaqah 12 – Berdo’a Kepada selain Allāh ﷻ adalah Syirik Besar

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Berdo’a Kepada Selain Allāh ﷻ Adalah Syirik Besar”.

Berdo’a kepada Allāh ﷻ adalah seseorang menghadap Allāh ﷻ dengan maksud supaya Allāh ﷻ mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri, mengharap, dan takut kepada Allāh ﷻ. Berdo’a dengan makna di atas adalah ibadah.

Berkata An-Nu’mān Ibnu Basyīrin raḍiyallāhu ʿanhu, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

الدعاء هو العبادة

“Do’a adalah ibadah”

Kemudian Beliau ﷺ membaca ayat:

وَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

“Dan Rabb kalian telah berkata, ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina’.” (Surah Ghāfir: 60)

(HR. Abū Dāwūd, Tirmidzi, Nasāi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani raḥimahullāh).

Dan makna “beribadah kepada-Ku” pada ayat ini adalah “berdo’a kepada-Ku.”

Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh ﷻ semata, maka berdo’a kepada selain Allāh ﷻ dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap, dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh ﷻ, adalah termasuk syirik besar.

Dan termasuk jenis do’a adalah:

  1. Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)
  2. Isti’ādzah (meminta perlindungan)
  3. Isti’ānah (meminta pertolongan)

Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan, dan takut, maka ini adalah ibadah yang hanya boleh diserahkan kepada Allāh ﷻ semata. Namun perlu kita ketahui bahwasanya boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, atau beristi’ānah kepada makhluk dengan 4 syarat berikut:

  1. Makhluk tersebut masih hidup.
  2. Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.
  3. Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.
  4. Makhluk tersebut diyakini hanya sebagai sebab sehingga tidak boleh bertawakkal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakkal kepada Allāh ﷻ yang menciptakan sebab tersebut.

Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah, atau beristi’ānah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup akan tetapi tidak berada di depan kita, atau tidak mendengar ucapan kita, atau meminta kepada makhluk perkara yang tidak mungkin bisa melakukannya kecuali oleh Allāh ﷻ, maka ini termasuk syirik besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print


Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)”

-jampi)

Halaqah 11 – Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)”

Ar-Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh. Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikannya. Diriwayatkan dari ‘Auf bin Mālik raḍiyallāhu ʿanhu, beliau berkata

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺮْﻗِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻋْﺮِﺿُﻮﺍ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭُﻗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ

Kami dahulu meruqyah di zaman Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh ﷺ, “Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?” Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan”. (HR. Muslim).

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan adalah seperti ruqyah dari:

  • Ayat-ayat Al-Qur’an.
  • Do’a-do’a yang diajarkan Nabi ﷺ dan ini lebih utama.
  • Do’a-do’a yang lain yang diketahui kebenaran maknanya, baik dengan bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab.

Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah sebab semata, tidak berpengaruh dengan sendirinya, dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut yaitu Allāh ﷻ. Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allāh ﷻ, baik kepada jin, wali atau selainnya, biasanya disebutkan di situ nama-nama mereka.

Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Qur’ān atau dengan nama-nama Allāh ﷻ atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab dengan tujuan untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu. Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh ﷺ di dalam sabda Beliau:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﻭَﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺋِﻢَ ﻭَﺍﻟﺘِّﻮَﻟَﺔَ ﺷِﺮْﻙٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan pelet adalah syirik.” (HR. Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albānī raḥimahullāhu taʿālā).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 10 – Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allâh ﷻ

 Bernadzar Untuk Selain Allâh ﷻ

Halaqah 10 – Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allâh ﷻ

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh ﷻ.

Bernadzar untuk Allāh ﷻ adalah seseorang mengatakan, wajib bagi saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allāh ﷻ, atau dengan mengatakan misalnya saya bernadzar untuk Allāh ﷻ bila terlaksana hajat saya.

Bernadzar adalah ibadah dan sebuah bentuk pengagungan, karenanya bernadzar tidak diperkenankan kecuali untuk Allāh ﷻ semata, seperti orang yang bernadzar untuk berpuasa satu hari jika lulus ujian, atau bernadzar untuk Allāh ﷻ akan mengadakan umrah jika sembuh dari penyakitnya dan lain-lain. Allāh ﷻ berfirman:

ُوَمَآأَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Dan apa yang kalian infaqkan atau yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allāh ﷻ mengetahuinya dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dzhalim” (Surah Al-Baqarah: 270).

Di dalam ayat ini Allāh ﷻ mengabarkan bahwa Allāh ﷻ mengetahui nadzar para hamba-Nya dan akan membalas dengan balasan yang baik. Ini menunjukkan bahwasanya nadzar adalah ibadah yang seorang Muslim akan diberikan pahala atas nadzar tersebut. Menunaikan nadzar apabila dalam ketaatan hukumnya adalah wajib. Berdasarkan firman Allāh ﷻ:

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُم

“Dan supaya mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka”(Surah Al-Ḥajj: 29)

Dan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ

“Barang siapa yang bernadzar untuk menaati Allāh maka hendaknya menaatinya, dan barang siapa yang bernadzar untuk memaksiati Allāh maka janganlah dia memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari).

Bernadzar untuk selain Allāh ﷻ termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, seperti seseorang bernadzar apabila sembuh dari penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan, atau berpuasa untuk syeikh fulan dan lain-lain. Semoga Allāh ﷻ melindungi kita dan keturunan kita dari perbuatan syirik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 09 – Termasuk Syirik Besar Menyembelih Untuk Selain Allâh ﷻ

 Menyembelih Untuk Selain Allâh ﷻ

Halaqah 09 – Termasuk Syirik Besar Menyembelih Untuk Selain Allâh ﷻ

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang Menyembelih Untuk Selain Allāh ﷻ Termasuk Syirik Besar.

Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agama Islam, di dalamnya ada pengagungan terhadap Allāh ﷻ Rabb semesta alam. Diantara wujud cinta kepada Allāh ﷻ adalah dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk-Nya, seperti ibadah qurban di hari raya Idul Adha, aqiqah, dan hadyu bagi sebagian jama’ah haji.

Allāh ﷻ telah memerintahkan kita menyerahkan ibadah yang mulia ini hanya untuk-Nya semata, sebagaimana Firman Allāh ﷻ:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah dan menyembelihlah untuk Tuhanmu” (Surah Al-Kautsar: 2).

Barang siapa yang menyerahkan ibadah menyembelih ini untuk selain Allāh ﷻ dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain Allāh ﷻ baik kepada Nabi, wali, jin atau selainnya maka dia telah terjatuh di dalam syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, membatalkan amalannya, dan terkena ancaman laknat dari Allāh ﷻ, sebagaimana sabda Nabi ﷺ

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allāh melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allāh” (HR. Muslim).

Makna laknat adalah dijauhkan dari Rahmat Allāh ﷻ. Oleh karenanya, janganlah sekali-kali kita sebagai seorang Muslim berkorban dan menyembelih untuk selain Allāh ﷻ sedikitpun, meskipun dengan seekor lalat, dengan harapan untuk mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudharat. Kita harus yakin sebagai seorang Muslim bahwa manfaat dan juga mudharat di tangan Allāh ﷻ semata. Dan hanya kepada-Nya lah seorang Muslim bertawakkal.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 08 – Bertabarruk (Mencari Barokah)

  Barokah)

Halaqah 08 – Bertabarruk (Mencari Barokah)

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang Bertabarruk (mencari barokah)

Barokah adalah banyaknya kebaikan dan langgengnya. Allāh ﷻ adalah Dzat yang berbarokah artinya Dzat yang banyak kebaikan-Nya. Allāh ﷻ berfirman:

تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

”Dialah Allāh yang banyak barokahnya, Rabb semesta alam.” (Surah Al-A’raf: 54)

Allāh ﷻ jugalah Dzat yang memberikan keberkahan atau kebaikan kepada sebagian makhluk-Nya sehingga makhluk tersebut menjadi makhluk yang berbarokah dan banyak kebaikannya.

Allāh ﷻ berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang pertama yang diletakkan bagi manusia untuk beribadah adalah rumah yang ada di Makkah yang berbarokah dan petunjuk bagi seluruh alam.” (Surah Āli ʿImrān: 96)

Ka’bah diberikan barokah oleh Allāh ﷻ dan cara mendapatkan barokahnya adalah dengan melakukan ibadah di sana.

Allāh ﷻ juga berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’ān) pada malam yang berbarokah, sesungguhnya Kami memberi peringatan.” (Surah Ad-Dukhān: 3)

Malam Lailatul Qadr adalah malam yang berbarokah, dan cara mendapatkan barokah dan kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di malam tersebut. Seorang ulama berbarokah dengan ilmunya dan dakwahnya, dan cara mendapatkan keberkahannya dan juga kebaikannya adalah dengan menimba ilmu darinya.

Disana ada barokah yang sifatnya dzātiyah, yaitu dzatnya yang berbarokah, di mana barokah seperti ini bisa berpindah. Barokah jenis ini hanya Allāh ﷻ berikan kepada para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, dahulu para sahabat Nabi ﷺ bertabarruk dengan bekas air wudhu Beliau ﷺ, rambut Beliau ﷺ, keringat Beliau ﷺ, dan lain-lain.

Sepeninggal Beliau ﷺ, mereka tidak melakukan hal ini kepada Abu Bakar dan Umar serta para sahabat mulia yang lain, hal itu menunjukkan bahwa ini adalah kekhususan para Nabi dan Rasul.

Meminta barokah hanya kepada Allāh ﷻ dengan cara yang disyariatkan, adapun meminta barokah dari Allāh ﷻ dengan sebab yang tidak disyariatkan, seperti mengusap dinding masjid tertentu, atau mengambil tanah kuburan tertentu, dan lain-lain, maka ini termasuk syirik kecil. Semoga Allāh ﷻ memberkahi kita dan keluarga kita.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print