Senin, 26 Mei 2025

MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA

MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA


Oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Apabila anda ditanya : Siapakah Tuhanmu ? Maka katakanlah : Tuhanku adalah Allah, yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan yang haq selain Dia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam“. [al-Faatihah/1: 1]

Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini.

Selanjutnya jika anda ditanya : Melalui apa anda mengenal Tuhan ? Maka hendaklah anda jawab : Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Firman Allah Ta’ala.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah” [Fushshilat/41: 37]

Dan firman-Nya :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam“. [al-A’raaf/7: 54]

Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿٢١﴾الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan) yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui“. [al-Baqarah/2: 21-22]

Ibnu Katsir[1]  rahimahullah Ta’ala, mengatakan :”Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah”.[2]

Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara lain : Islam[3], Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan olehAllah.

Baca Juga  Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
Referensi : https://almanhaj.or.id/3984-mengenal-allah-azza-wa-jalla.html

orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)“. [al-An’am /6: 162-163]

Dalil dari Sunnah.

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِاللَّهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah“.[6]

Dalil Nadzar.
Firman Allah Ta’ala.
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana“. [al-Insaan /76: 7]

[Disalin dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Dicetak dan Disebarkan oleh Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da’wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebaran Kerajaan Arab Saudi]
_______
Footnote
[1] Abu Al-Fidaa : Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (701-774H – 1302-1373M). Seorang ahli ilmu hadits, tafsir, fiqh dan sejarah. Diantara karyanya : Tafsir Al-Qur’aan Al-Azhim, Thabaqat Al-Fuqahaa Asy Syafiiyyun, Al-Bidayah wa An-Nihayah (sejarah), Ikhtishaar ‘Uluum Al-Hadits, Syarh Shahih Al-Bukhari (belum sempat dirampungkannya).
[2] Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, (Cairo, Maktabah Dar At-Turats, 1400H) jilid. 1 hal. 57
[3] Islam yang dimaksud disini, adalah Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji.
[4] Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ Ash-Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. “Maksud hadits ini adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena senantiasa harus mengiringi gerak ibadah”
[5] Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ ‘Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara : bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1 hal. 293, 303, 307
[6] Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152

Home/A1. Tiga Landasan Utama/Mengenal Allah ‘Azza Wa...
🔍 Hadits Tentang Perjalanan, Hadist Tentang Alam, Kitab Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, Jamak Maghrib Isyak

🔗 SSD VPS
Referensi : https://almanhaj.or.id/3984-mengenal-allah-azza-wa-jalla.html

Halaqah 10 – Mengenal Allāh ﷻ Dengan Nama-Nama Dan SifatNya

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Mengenal Allah ﷻ > Halaqah 10 – Mengenal Allāh ﷻ Dengan Nama-Nama Dan SifatNya

Halaqah 10 – Mengenal Allāh ﷻ Dengan Nama-Nama Dan SifatNya

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Mengenal Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ adalah tentang “Mengenal Allāh ﷻ Dengan Nama dan Sifat-Nya”. Allāh ﷻ telah mengabarkan di dalam Al Qurān bahwa Allāh ﷻ memiliki nama dan sifat. Allāh ﷻ berfirman :

ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﺄَﺳۡﻤَﺎٓﺀُ ﭐﻟۡﺤُﺴۡﻨَﻰ

“Dan Allāh memiliki nama-nama yang paling baik.” (QS Al-A’rāf: 180)

Dan Allāh ﷻ berfirman :

ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﻤَﺜَﻞُ ﭐﻟۡﺄَﻋۡﻠَﻰ

“Dan Allāh memiliki sifat-sifat yang paling tinggi.” (QS An-Nahl: 60)

Kita mengenal Allāh ﷻ dengan nama dan juga sifat tersebut.

✓ Kita mengenal Allāh ﷻ sebagai Dzat Yang Maha Penyayang karena Dia adalah Ar Rahmān Ar Rahīm.
✓ Dan kita mengenal Allāh ﷻ sebagai Dzat Yang Maha Pengampun karena Dia adalah Al-Ghafūr, dan seterusnya.
✓ Dan Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwasanya di antara sifat Allāh ﷻ adalah:

• Allāh ﷻ beristiwa’ di atas ‘Arsy.
• Allāh ﷻ memiliki dua tangan.
• Allāh ﷻ berada di atas.

✓ Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya,

• Allāh ﷻ turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam yang terakhir.

✓ Dan juga sifat-sifat yang lain.

Kewajiban kita sebagai seorang Muslim adalah menetapkan nama & juga sifat tersebut, karena Allāh ﷻ lebih tahu tentang diri-Nya daripada kita semua. Dan Rasūlullāh ﷺ lebih tahu tentang Allāh ﷻ daripada kita. Tidak boleh seorang Muslim menolak nama-nama dan juga sifat-sifat tersebut. Dan tidak boleh dia menyerupakan, karena Allāh ﷻ berfirman:

ﻟَﻴۡﺲَ ﻛَﻤِﺜۡﻠِﻪِۦ ﺷَﻰۡﺀٌ۬ۖ ﻭَﻫُﻮَ ﭐﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﭐﻟۡﺒَﺼِﻴﺮ

“Tidak ada yang serupa dengan Allāh dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syūrā: 11)

Jadi yang benar, yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim adalah:

◆ Menetapkan nama dan juga sifat tersebut sebagaimana datangnya, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allāh ﷻ, tanpa menyerupakan dan tanpa mentakwil nama dan juga sifat tersebut.

⇒ Mentakwil adalah menafsirkan nama dan sifat Allāh ﷻ bukan dengan maknanya yang benar.

Seperti;

• Mentakwil istiwā dengan kekuasaan.
• Mentakwil turunnya Allāh ﷻ dengan turunnya rahmat Allāh ﷻ.
• Dan lain-lain.

Ini adalah halaqah yang terakhir dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ.

Dan sampai bertemu kembali pada Silsilah berikutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 09 – Mengenal Allāh ﷻ Dengan Makhluk-makhlukNya

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Mengenal Allah ﷻ > Halaqah 09 – Mengenal Allāh ﷻ Dengan Makhluk-makhlukNya

Halaqah 09 – Mengenal Allāh ﷻ Dengan Makhluk-makhlukNya

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Mengenal Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ adalah “Mengenal Allāh ﷻ Dengan Makhluk-Nya”.

Allāh ﷻ telah menciptakan makhluk-makhluk supaya manusia yang berakal memikirkan makhluk-makhluk tersebut, sehingga mereka bisa mengenal Dzat yang telah menciptakan mereka.

◆ Besarnya makhluk dan luasnya (seperti langit yang tujuh & bumi, kursi Allāh dan ‘Arsy-Nya) menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ.
◆ Keteraturan gerakan dan perjalanan (seperti perjalanan matahari & bulan) menunjukkan kekuasaan dan pengawasan Allāh ﷻ yang tidak pernah berhenti.
◆ Kejelian dalam penciptaan menunjukkan hikmah-Nya dan keluasan ilmu-Nya.

⇒ Manfaat yang ada di dalam ciptaan tersebut menunjukkan:

✓ Rahmat yang luas. dan
✓ Karunia yang meliputi segala sesuatu.

Allāh ﷻ berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيامًا وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ (١٩١

“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang & malam ada tanda-tanda bagi orang yang memiliki akal, yaitu orang-orang yang mengingat Allāh, baik dalam keadaan berdiri, duduk & berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. Wahai Rabb kami, tidaklah engkau menciptakan ini semua dengan bathil (sia-sia). Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari adzab neraka.” (QS Āli ‘Imrān: 190-191)

Hendaknya seorang Muslim meluangkan waktunya untuk memikirkan makhluk-makhluk Allāh ﷻ supaya dia:

✓ Semakin mengenal Allāh ﷻ penciptanya.
✓ Semakin yakin dan mantap dalam menjalankan syariat Allāh ﷻ.
✓ Merasa takut dengan adzab-Nya.
✓ Semakin dekat dengan Allāh ﷻ.
✓ Semakin meng-Esakan Dia di dalam beribadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 08 – Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Mengenal Allah ﷻ > Halaqah 08 – Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy

Halaqah 08 – Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Mengenal Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Mengenal Allāh adalah tentang “Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy”.

Diantara bentuk kesyirikan mereka adalah:

• Berdo’a dan bertaqarrub kepada orang-orang shālih yang sudah meninggal.
• Menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka dengan tujuan supaya:

Mendapatkan syafa’at orang-orang shālih tersebut disisi Allāh ﷻ. dan dengan tujuan mencari kedekatan kepada Allāh ﷻ.

Allāh ﷻ sendiri telah menceritakan keyakinan mereka ini di dalam Al Qurān dan Allāh ﷻ mengingkarinya. Allāh ﷻ berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberi manfaat.Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh.
Katakanlah : apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?’Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (QS Yūnus :18)

Dalam ayat ini Allāh ﷻ menamakan perbuatan mereka sebagai bentuk menyekutukan Allāh ﷻ. Dan Allāh ﷻ juga berfirman :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ketahuilah bahwa milik Allāh-lah agama yang tulus. Dan orang-orang yang menjadikan selain Allāh sekutu, (mereka mengatakan) ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh. Sesungguhnya Allāh akan menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta lagi sangat ingkar.” (QS Az Zumar: 3)

Ayat ini menunjukan bahwa tujuan mereka menyembah orang-orang shālih tersebut adalah supaya mereka mendekatkan penyembahnya kepada Allāh ﷻ.

Dan cara meraih syafa’at di hari kiamat bukanlah demikian.

◆ Cara meraih syafa’at di hari kiamat adalah dengan memurnikan tauhid, bukan dengan kesyirikan.
◆ Dan cara dekat dengan Allāh ﷻ adalah mendekatkan diri kepadaNya dengan iman dan amal shālih, yang wajib maupun yang sunnah, sebagaimana orang-orang shālih tersebut melakukannya.

Tidak boleh seseorang menyamakan Allāh ﷻ dengan seorang kepala negara yang sulit menyampaikan hajat kepadanya kecuali melalui perantara dan para pembantunya.

Tidak boleh seseorang menyerupakan Allāh ﷻ dengan siapapun karena Allāh Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa.

Sedangkan seorang kepala negara, maka dia adalah makhluq yang lemah, tidak mampu melakukan seluruh pekerjaannya kecuali dibantu oleh para pembantunya.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 07 – Pengertian Ibadah Dan Macam-Macamnya

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Mengenal Allah ﷻ > Halaqah 07 – Pengertian Ibadah Dan Macam-Macamnya

Halaqah 07 – Pengertian Ibadah Dan Macam-Macamnya

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Mengenal Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Ibadah adalah seluruh perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allāh ﷻ, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang zhahir maupun yang bathin.

Seseorang bisa mengetahui sesuatu dicintai oleh Allāh ﷻ dengan beberapa cara, di antaranya :

– Apabila sesuatu tersebut diperintahkan oleh Allah ﷻ

Maka kita mengetahui bahwasanya sesuatu tersebut adalah ibadah, karena Allāh ﷻ tidak memerintah kecuali dengan sesuatu yang Allāh ﷻ cintai. Termasuk di antaranya:

– Apabila Allah ﷻ diketahui memuji pelakunya

Maka kita mengetahui bahwasanya sesuatu tersebut adalah dicintai oleh Allāh ﷻ

– Do’a adalah ibadah, karena Allah ﷻ memerintahkan

ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdo’alah kalian kepadaKu niscaya Aku akan mengabulkan.” (QS Ghāfir: 60)

Rasūlullāh ﷺ bersabda di dalam sebuah hadīts :

الدُّعَاءُهُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a itu adalah ibadah.” (HR Abū Dāwūd no. 1479, At-Tirmidzi no. 2969, Ibnu Mājah no. 3828 dan Ahmad 4/267; dari shahābat Nu’man bin Basyīr)

Dengan demikian syirik hukumnya, (apabila) berdo’a kepada selain Allāh, baik kepada seorang Nabi, seorang malaikat, seorang jin, orang yang shalih dan lain-lain.

– Menyembelih adalah Ibadah, Allāh ﷻ berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Hendaklah engkau shalat untuk Rabb-mu dan juga menyembelih untuk Rabb-mu.” (QS Al-Kautsar: 2 )

Dan Rasūlullāh ﷺ bersabda :

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Allāh Subhānahu wa Ta’āla melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allāh.” (HR Muslim 1978, dari shahābat ‘Ali radhiyallāhu ‘anhu)

Dengan demikian termasuk syirik hukumnya (apabila) seseorang menyembelih untuk jin, atau untuk syaikh atau untuk yang lain, selain Allāh ﷻ

Seperti bernadzar, ber-istighatsah, bersumpah, bertawakal, rasa takut, rasa cinta, maka semua ini termasuk jenis-jenis ibadah.

Tidak boleh sekali-kali seorang Muslim menyerahkan salah satu dari ibadah-ibadah tersebut kepada selain Allāh ﷻ

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print