Minggu, 08 Juni 2025

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Pertanyaan Ketika Hisāb”

Ketika hisāb, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allāh.

Allāh akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidaklah di antara kalian kecuali Rabbnya akan berbicara kepadanya. Tidak ada antara dia dengan Allāh penerjemah. Dia akan melihat di sebelah kanannya, maka dia tidak akan melihat kecuali amalan yang sudah ia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya, maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma” (Hadīts Bukhāri dan Muslim)

Adapun hadīts yang berisi bahwasanya ada tiga golongan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat.

⑴ Orang yang mengungkit-ungkit pemberian
⑵ Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu
⑶ Orang yang musbil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki, yaitu bagi laki-laki

(Hadīts Riwayat Muslim)

Maka yang dimaksud dalam hadīts ini seperti yang dikatakan oleh sebagian ulamā bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka dalam keadaan ridhā. Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.

Di antara hal yang ditanyakan di hari kiamat, yang pertama adalah tentang tauhīd kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

“Maka sungguh kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka para Rasūl. Dan sungguh kami akan tanya para Rasūl” (QS Al-A’rāf: 6)

Kita akan ditanya, bagaimana kita akan menjawab ajakan Rasūl dan ajakan Rasūl yang paling besar adalah Tauhīd.

Di antara hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat adalah kenikmatan yang Allāh berikan kepada kita di dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu, tentang kenikmatan”. (QS At-Takatsur: 8)

Di antara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman bagaimanapun sederhananya di pandangan manusia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, “Bukankan Kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?” (Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ditanya,

√ Tentang umurnya untuk apa dia gunakan,
√ dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan,
√ dan akan ditanya tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan
√ dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan”

(Hadīts shahīh Riwayat Tirmidzi)

Orang yang mensyukuri nikmat tersebut, dialah yang akan selamat. Mensyukuri dengan hati, lisan maupun perbuatan.

Hatinya mengakui kenikmatan tersebut, bahwasanya itu adalah dari Allāh.

Lisannya bersyukur dan memuji kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di antara hal yang akan ditanyakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika hisāb adalah pendengaran, penglihatan dan hati kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, penglihatan dan hatinya.” (QS Al-Isrā’: 36)

Dengan demikian hendaklah seorang muslim menjaga pendengaran, penglihatan dan hatinya dari apa yang Allāh harāmkan.

Di antara yang Allāh tanyakan adalah perjanjian.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولاً۬

“Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan” (QS Al-Isrā’: 34)

Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allāh dan kepada makhluk. Seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.

Di antara hal yang akan ditanyakan adalah tentang amanat yang telah Allāh berikan kepada kita.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang imām atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang ibu adalah seorang penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga. Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut .” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allāh untuk menegakkan hukum-hukum Allāh atas rakyatnya dan berbuat adil.

Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.

Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasihati suami dan lain-lain.

Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.

Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allāh perintahkan.

Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin.

Baik sebagai juru dakwah maupun yang didakwahi.

Baik sebagai suami maupun seorang istri.

Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak.

Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain, masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 40 Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi’ah

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 40 Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi’ah

Halaqah – 40 Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi’ah

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) Dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa)”

Seorang yang berimān kepada hari akhir dan berimān bahwasanya kelak akan dihisab maka hendaklah dia memohon rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian mengambil sebab supaya memiliki Al-Hasanah sebanyak mungkin dan menghilangkan dosa sebisa mungkin.

Di antara caranya adalah:

⑴ Menjaga tauhīd yang merupakan hasanah atau kebaikan yang paling besar.

Dan merupakan pondasi bagi Hasanah yang lain. Dan merupakan sebab diampuninya dosa seseorang.

⑵ Mencari amalan yang paling afdhāl.

Yang apabila dilakukan maka dia akan mendapatkan hasanah yang banyak. Yang demikian karena kita sangat butuh dengan hasanah yang banyak, sementara waktu untuk mendapatkannya adalah sangat terbatas. Amalan yang paling afdhāl setelah Rukun Islām dan kewajiban-kewajiban agama yang lain adalah tiga amalan, yaitu:

⑴ Menuntut ilmu agama
⑵ Jihād Fīsabilillāh sabilillah
⑶ Dzikrullāh yang dilakukan dengan khusyu’ di sebagian besar waktunya.

Amalan yang wajib lebih afdhāl dan lebih besar pahalanya dari pada amalan yang sunnah.

Amalan yang wajib ‘ain yaitu yang wajib atas semuanya lebih afdhāl dari pada amalan yang wajib kifayyah yang apabila dilakukan oleh sebagian maka gugur atas yang lain.

Kewajiban yang berkaitan dengan hak Allāh lebih afdhāl dari pada kewajiban yang berkaitan dengan hak mahluk.

Amalan yang lebih afdhāl adalah amalan yang dilakukan dengan lebih ikhlās dan lebih mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Amalan sedikit yang mudah dikerjakan tanpa memberatkan diri dan dilakukan secara terus-menerus, lebih afdhāl dari pada amalan yang banyak tapi terputus.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Amalan yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah yang paling dilakukan terus-menerus meskipun sedikit” (Hadits Riwayat Bukhāri dan Muslim).

Terkadang sebuah amalan afdhāl bagi sebagian, namun belum tentu afdhal bagi yang lain.

Amalan yang manfaatnya sampai kepada orang lain lebih afdhāl dari pada amalan yang manfaatnya hanya untuk diri-sendiri.

Contohnya seperti:

√ Shadaqah dan
√ Dakwah Fīsabilillāh

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun” (Hadīts Riwayat Muslim)

Amalan yang dikerjakan di waktu yang mulia lebih afdhāl, Seperti:

√ Amalan yang dikerjakan di Bulan Ramadhān.
√ Amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama di Bulan Dzulhijjah.

Sebagian amalan lebih afdhāl dikerjakan di tempat mulia tertentu. Seperti:

√ Shalāt dimasjidil Harām,
√ Shalāt dimasjid Nabawī dan
√ Shalāt dimasjidil Aqsa

Di antara cara memperbanyak Al-Hasanah dan menghilangkan As-Sayyi’ah (dosa) adalah:

⑶ Memanfaat kenikmatan Allāh yang telah diberikan kepada kita semaksimal mungkin.

Seperti kenikmatan ilmu agama, kesehatan, waktu luang, harta benda, anggota badan yang lengkap dan sehat, jabatan, kenikmatan teknologi, kecerdasan, kenikmatan berbicara dan lain-lain.

Menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan niat yang benar, yaitu untuk mencari pahala Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya ,

“Dua nikmat yang banyak manusia yang rugi di dalamnya, kesehatan dan waktu luang” (Hadīts Riwayat Bukhāri )

Dalam hadīts yang lain Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang kaya, mereka adalah orang -orang yang sedikit hasanahnya pada hari kiamat. Kecuali orang yang Allāh berikan kekayaan kemudian bershadaqah kepada yang ada di kanannya, kirinya, depan dan belakangnya dan beramal dengan kekayaan tersebut, amalan yang baik” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

⑷ Dengan memperbaiki amalan supaya diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena amalan bisa menjadi hasanah bagi seseorang bila diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan syarat diterimanya amalan ada dua, yaitu:

√ Ikhlās
√ Sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

⑸ Bertaubat dari dosa yang diiringi dengan imān dan amal shālih.

Karena barang siapa yang melakukan yang demikian itu, maka dosanya akan diganti dengan hasanah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan bahwasanya,

√ Orang yang menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla
√ Membunuh jiwa tanpa hak,
√ Berzina,

Maka mereka akan mendapatkan azab yang pedih di hari kiamat.

Kecuali,

Apabila dia bertaubat,
√ Berimān,
√ Mengerjakan amal shālih.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengganti dosa-dosa mereka menjadi sebuah kebaikan. (QS Al-Furqān: 68-70)

⑹ Memperbanyak istighfār setiap melakukan dosa atau kurang bersyukur atas nikmat, atau kurang dalam melakukan kewajiban atau lalai dalam mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًاكَثِيْرًا

“Tūbā bagi orang yang menemukan di dalam kitābnya istighfār yang banyak” (Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Tūbā ada yang mengatakan maknanya adalah surga, ada juga yang mengatakan maknanya adalah nama pohon di surga.

⑺ Tidak melakukan amalan yang mengurangi pahalanya

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Aku mengetahui ada sebagian umatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa hasanah sebesar gunung-gunung thihamah. Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan hasanah tersebut seperti debu yang beterbangan. Maka salah seorang shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang sifat mereka. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya mereka adalah saudara-saudara kita. Shalāt malam sebagaimana kita shalāt malam, akan tetapi mereka apabila dalam keadaan sendiri dengan sesuatu yang diharāmkan, mereka pun melanggarnya. (Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Di antara cara untuk memperbanyak Al-Hasanah dan mengurangi As-Sayyi’ah adalah,

⑻ Bersabar atas musibah dan ujian.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa ujian menimpa seorang mu’min dan mu’minah, di dalam dirinya, anaknya dan juga hartanya sampai dia bertemu Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia tidak memiliki dosa” (Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Ketika orang-orang yang terkena musibah di dunia mendapatkan pahala di hari kiamat, maka ahlul ‘afiah (orang-orang yang tidak banyak terkena musibah) akan berkeinginan seandainya kulit-kulit mereka digunting di dunia” (Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

Yang demikian karena mereka melihat besarnya pahala orang-orang yang bersabar

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Sesungguhnya akan disempurnakan pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas” (QS Az-Zumar: 10)

⑼ Beramal shālih secara umum berdasarkan dalīl-dalīl yang shahīh, seperti membaca Al-Qurān, puasa dan lain-lain.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullāh (Al-Qurān), maka setiap huruf dia akan mendapatkan satu hasanah. Dan satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah.” (Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

Di dalam sebuah hadīts disebutkan bahwasanya setiap amalan anak Ādam, satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah sampai tujuh ratus. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan Dia-lah yang akan membalasnya. (Hadīts Shahīh Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Mintalah senantiasa kepada Allāh pertolongan di dalam beramal, beramallah sebaik mungkin dan mohonlah kepada Allāh supaya diterima.

Dan ketahuilah bahwasanya amal kita hanyalah sebab dan bukan pengganti kenikmatan surga dan keselamatan dari neraka.

Seandainya seseorang beramal semaksimal mungkin, sebaik-baiknya selama hidupnya, niscaya tidak cukup untuk membalas kenikmatan Allāh di dunia.

Maka bagaimana dengan kenikmatan di akhirat?

Rahmat atau kasih sayang dan anugerah Allāh-lah yang lebih kita harapkan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Amalan seseorang tidaklah memasukkan dia ke dalam surga.

Para shahābat berkata, “Tidak juga engkau ya Rasūlullāh?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Tidak juga saya”, kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla melimpahkan kepadaku anugerah dan rahmatnya” (Hadīts Shahīh Riwayat Bukhāri Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print



Rabu, 04 Juni 2025

Halaqah – 39 Keadilan Allah ﷻ Ketika Hisab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 39 Keadilan Allah ﷻ Ketika Hisab

Halaqah – 39 Keadilan Allah ﷻ Ketika Hisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-39 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Keadilan Allāh ketika Hisab”

Yang dimaksud dengan hisab adalah perhitungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap amalan para hamba didunia.

Hisab Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah hisab yang sangat sempurna keadilannya.

Tidak ada kezhāliman sedikitpun di dalamnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬‌ۖ

“Sesungguhnya Allāh tidak akan menzhālimi meskipun sebesar Zarrah sekalipun” (QS An-Nisā’: 40)

Zarrah artinya adalah semut, itu yang dikenal oleh orang Arab, mereka mengatakan semut kecil itu dengan Zarrah. Jangan diartikan dengan biji sawi atau yang semisalnya, Zarrah menurut orang Arab adalah semut.

Bahkan rahmat dan kelebihan karunia serta anugerah yang Allāh berikan kepada para hamba adalah sangat banyak.

Seandainya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengazab semua makhluk, maka bukanlah hal itu sebuah kezhāliman. Dan seandainya Allāh merahmati, niscaya rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih baik dari pada amalan mereka. (Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah).

Yang demikian karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Pencipta mereka, Raja yang memiliki kerajaan, semua makhluk adalah milik-NYA dan dalam kerajaan-NYA. Dan Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki di dalam Kerajaan-NYA.

Di antara yang menunjukkan Keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah:

⑴ Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memfitrahkan di dalam hati semua manusia bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Rabb mereka dan mereka mengakui bahkan sebelum mereka dilahirkan. (Lihat Surat Al-A’rāf: 172)

⑵ Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus para Rasūl, para Utusan kepada manusia yang telah mengingatkan mereka dengan fitrah ini dan mengajak mereka untuk berimān dengan hari akhir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

رُّسُلاً۬ مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِ‌ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمً۬ا

“Para Rasūl yang datang untuk memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan supaya tidak ada hujjah bagi manusia atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah kedatangan para Rasūl. Dan sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS An-Nisā’: 165)

(3)  Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menugaskan para Malāikat untuk mencatat semua amalan manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَـٰفِظِينَ (١٠) كِرَامً۬ا كَـٰتِبِينَ (١١)يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ (١٢)

“Dan sesungguhnya pada diri kalian ada Malāikat-malāikat yang menjaga atau mengawasi yang mereka mulia, dan menulis, mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-Infithār: 10-12)

Di antara keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika hisab,

⑷ Bahwasanya kebaikan dan kejelekan sekecil apapun yang disembunyikan di dalam hati maupun yang dinampakkan akan didatangkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak ada manusia yang dizhālimi karena kebaikan yang terlupakan atau karena kejelekan yang tidak dia lakukan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرً۬ا يَرَهُ ۥ (٧) وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬ شَرًّ۬ا يَرَهُ ۥ (٨)

“Maka barang siapa yang mengamalkan kebaikan seberat Zarrah sekalipun dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengamalkan sebuah kejelekan seberat Zarrah sekalipun akan melihatnya.” (QS Az-Zalzalah: 7-8)

⑸ Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ۬ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ‌ۚ

“Dan sebuah jiwa tidak akan menanggung dosa jiwa yang lain” (QS Al-An’ām: 164)

Kecuali apabila seseorang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya dalam kesesatan orang tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثَمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya.Tidak berkurang dari dosa mereka sedikitpun.” (Hadīts Riwayat Muslim)

⑹ Masing-masing kita akan dipersilahkan melihat sendiri isi kitābnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنُخۡرِجُ لَهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ڪِتَـٰبً۬ا يَلۡقَٮٰهُ مَنشُورًا (١٣)ٱقۡرَأۡ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبً۬ا (١٤)

“Dan Kami akan keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitāb dalam keadaan terbuka. Bacalah kitābmu, cukuplah dirimu pada hari ini yang menghisab dirimu sendiri” (QS Al-Isrā’: 13-14)

⑺ Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mendatangkan para saksi supaya tidak ada alasan bagi manusia.

Didatangkan para Rasūl yang akan bersaksi atas umatnya,bahwasanya mereka sudah menyampaikan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِيدٍ۬ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ شَہِيدً۬ا

“Maka bagaimana jika Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami akan datangkan dirimu sebagai saksi atas mereka” (QS An-Nisā’: 41)

Malāikat akan menjadi saksi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٍ۬ مَّعَهَا سَآٮِٕقٌ۬ وَشَہِيدٌ۬

“Dan akan datang setiap jiwa bersamanya para malāikat yang menuntun dan malāikat yang menjadi saksi” (QS Qāf: 21)

Bahkan anggota badan manusia akan menjadi saksi di hari kiamat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٲهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيہِمۡ وَتَشۡہَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

“Pada hari ini akan Kami tutup mulut-mulut mereka dan tangan-tangan mereka akan berbicara dengan Kami. Dan kaki-kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang sudah mereka lakukan” (QS Yāsin: 65)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Selasa, 03 Juni 2025

Halaqah – 38 Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah ﷻ

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 38 Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah ﷻ

Halaqah – 38 Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah ﷻ

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-38 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah ﷻ”

Kedatangan Allah تَعَالَى di hari tersebut adalah kejadian yang sangat besar bagi semua makhluk. Allah تَعَالَى yg telah menciptakan mereka supaya beribadah kepada-Nya semata, mengutus para Rasul supaya ditaati, menurunkan kitab supaya diamalkan, memberikan kenikmatan supaya digunakan dengan baik, akan datang untuk menanyakan itu semua dan menghitung amalan-amalan mereka.

Semua manusia merasa takut atas apa yang mereka lakukan di dunia, orang yang kafir akan takut atas kekafirannya kepada Allah تَعَالَى dan orang yang beriman akan takut atas kemaksiatannya kepada Allah ﷻ dan amalannya yang penuh dengan kekurangan. Dan akan didatangkan jahannam yg akan semakin menambah rasa takut manusia. Rasulullah ﷺ bersabda,

يؤتي بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها

Akan didatangkan Jahannam pada hari tersebut. Jahannam tersebut memiliki 70.000 tali pengikat. Pada setiap tali pengikat ada 70.000 malaikat yg akan menyeretnya (HR. Muslim).

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكًّ۬ا دَكًّ۬ا (٢١) وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفًّ۬ا صَفًّ۬ا (٢٢) وَجِاْىٓءَ يَوۡمَٮِٕذِۭ بِجَهَنَّمَ‌ۚ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَذَڪَّرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ (٢٣) يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى (٢٤) فَ

“Sekali-kali tidak, apabila bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya dan datang Rabbmu dan malaikat dengan berbaris dan didatangkan pada hari tersebut jahannam. Pada hari tersebut manusia akan sadar dan apa manfaat kesadaran pada hari tersebut, dia mengatakan “Seandainya aku beramal untuk kehidupanku ini”. (Al-Fajr : 21-24)

Dan akan dipisahkan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir. Allah Ta’ala berfirman

وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَفَرَّقُونَ

“Dan ketika datang hari kiamat pada hari tersebut mereka akan saling berpisah.” (Ar-Rum : 14)
Masing-masing umat akan duduk di atas lututnya karena rasa takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pada hari tersebut. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ۬ جَاثِيَةً۬‌ۚ كُلُّ أُمَّةٍ۬ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَـٰبِہَا ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dan kamu akan melihat setiap umat akan duduk di atas lututnya dengan gelisah. Setiap umat akan dipanggil kepada kitab amalannya dan dikatakan kepada mereka hari ini akan dibalas amalan kalian.” (Al-Jatsiyah : 28)
Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ

Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala apabila datang hari kiamat, akan turun kepada hamba-hamba untuk memutuskan di antara mereka dan masing-masing umat akan duduk diatas lututnya dengan gelisah (HR. Tirmidzi).

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah – 37 Datangnya Allah ﷻ Untuk Memberi Keputusan

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 37 Datangnya Allah ﷻ Untuk Memberi Keputusan

Halaqah – 37 Datangnya Allah ﷻ Untuk Memberi Keputusan

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-37 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Datangnya Allāh ﷻ Untuk Memberi Keputusan ”

Setelah Nabi ﷺ diizinkan untuk melakukan syafa’at dan diterima syafa’atnya oleh Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan datang untuk memberi keputusan bagi penduduk Mahsyar. Dan menghisab amalan-amalan mereka. Allāh ﷻ datang dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Tidak mengetahui bagaimananya kecuali Allāh ﷻ. Kewajiban kita adalah Beriman bahwasanya Allāh ﷻ akan datang, tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan datangnya Allāh ﷻ dengan datangnya makhluk. Dan tidak boleh kita takwil dengan mengatakan bahwasanya yang datang adalah perintah-Nya atau urusan-Nya atau Adzab-Nya.

Langit akan pecah dengan awan putih, wallahu a’lam dengan hakikatnya. Akan diturunkan para Malaikat dan mereka akan datang dengan bershaf-shaf. Allāh ﷻ berfirman

وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفًّ۬ا صَفًّ۬ا

“Dan datanglah Rabb-Mu dan para Malaikat bershaf-shaf.” (Al-Fajr : 22)

Allah ﷻ juga berfirman

وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَـٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ تَنزِيلاً

“Dan hari di mana langit akan pecah dengan awan putih dan diturunkan para Malaikat.” (Al-Furqan : 25)
Ketika Allāh ﷻ datang, bersinarlah Bumi dengan cahaya Allāh ﷻ dan didatangkan para Nabi dan para Malaikat pencatat amal yang baik maupun yang jelek, yang mereka akan dijadikan saksi.

وَأَشۡرَقَتِ ٱلۡأَرۡضُ بِنُورِ رَبِّہَا وَوُضِعَ ٱلۡكِتَـٰبُ وَجِاْىٓءَ بِٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَقُضِىَ بَيۡنَہُم بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

“Dan Bumi akan menjadi terang dengan cahaya Rabb-Nya dan diletakkan kitab-kitab dan didatangkan para Nabi dan juga para syuhada’, yaitu para Malaikat dan akan diputuskan di antara mereka dengan haq dan mereka tidak akan didzolimi.” (Az-Zumar : 69)
Allah ﷻ akan melipat langit,

يَوۡمَ نَطۡوِى ٱلسَّمَآءَ ڪَطَىِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡڪُتُبِ‌ۚ

“Hari di mana kami akan menggulung langit, seperti menggulung lembaran-lembaran kertas.” (Al-Anbiya : 104)

Allah ﷻ akan menggenggam Bumi dan melipat langit dengan tangan-Nya kemudian berkata, Aku adalah Raja, di mana raja-raja Bumi? (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan juga Muslim)

Suara Allāh ﷻ didengar penduduk Mahsyar yang jauh maupun yang dekat sebagaimana di dalam Shahih Bukhari. Dialah Allāh ﷻ

مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

Yaitu Raja yang menguasai hari pembalasan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print