Senin, 09 Juni 2025

Halaqah – 44 Pemberian Kitab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 44 Pemberian Kitab

Halaqah – 44 Pemberian Kitab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Pemberian Kitāb”

Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghisāb seorang hamba, maka hamba tersebut akan diberi kitāb.

Orang yang berimān dengan hisāb dan hari perhitungan dan dia beramal maka dia akan menerima kitāb yang berisi hasanah dengan tangan kanannya.

Dan kelak akan kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan yang sangat bahagia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورً۬ا (٩)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah dan akan kembali kepada keluarganya dalam keadaan bahagia”.

(QS Al-Insyiqāq: 7-9)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَـٰبِيَهۡ (١٩) إِنِّى ظَنَنتُ أَنِّى مُلَـٰقٍ حِسَابِيَهۡ (٢٠) فَهُوَ فِى عِيشَةٍ۬ رَّاضِيَةٍ۬ (٢١) فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ۬ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ۬ (٢٣) كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـَٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ (٢٤)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya dia akan berkata kepada orang lain,

“Silahkan bacalah kitābku ini, Sesungguhnya aku dahulu di dunia yakin bahwa aku akan menemui hisāb”.

Maka dia akan berada di dalam kehidupan yang diridhai di surga yang tinggi yang buah-buahannya rendah (maksudnya mudah dipetik), dikatakan kepada mereka:

“Makanlah kalian dan minumlah dengan nikmat karena amal-amal yang kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

(QS Al-Hāqqah: 19-24)

Adapun orang kāfir dan munāfiq maka dia akan menerima kitāb dengan tangan kiri dari arah belakang.

Pertanda bahwasanya mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dia pun berteriak dengan kecelakaan.

Tidak bermanfaat bagi mereka, harta mereka yang melimpah dan jabatan mereka yang tinggi di dunia.

Mereka menyesal dan berangan-angan seandainya tidak diberi kitāb.

Dan berangan-angan seandainya tidak dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ (١٠) فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورً۬ا (١١) وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا (١٢) إِنَّهُ ۥ كَانَ فِىٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا (١٣) إِنَّهُ ۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ (٤١)َ

“Dan adapun orang yang diberikan kitābnya dari belakangnya, maka dia akan berteriak dengan kecelakaan. Dan akan masuk kelak di dalam neraka. Sesungguhnya dahulu dia bergembira ria bersama keluarganya. Dan sesungguhnya dahulu dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

(QS Al-Insyiqāq: 10-14)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (٢٦) يَـٰلَيۡتَہَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ (٢٧)مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡۜ (٢٨) هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَـٰنِيَهۡ (٢٩)خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ۬ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعً۬ا فَٱسۡلُكُوهُ (٣٢)

“Adapun orang-orang yang diberi kitāb dari sebelah kiri, maka dia akan berkata, “Seandainya aku tidak diberi kitābku ini dan seandainya aku tidak mengetahui hisābku. Seandainya kematian yang menyudahi segalanya. Hartaku tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku”. Maka Allāh berkata, “Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta”

(QS Al-Hāqqah: 25-32)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Minggu, 08 Juni 2025

Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab0

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab

Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Orang yang pertama dihisāb, amal yang pertama dihisāb dan hal yang pertama dihisāb”

Orang yang pertama kali akan dihisāb pada hari kiamat ada tiga orang.

Yaitu:

⑴ Orang yang berjihad karena riyā’

Dia akan didatangkan dan akan diperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata: “Aku gunakan untuk berperang di jalanmu sampai aku mati syahīd”

Allāh berkata kepadanya, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani dan manusia sudah mengatakan engkau adalah pemberani”

⑵ Orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al-Qur’ān

Akan tetapi melakukan itu semua karena riyā’.

Kemudian diperlihatkan kenikmatan yang Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla bertanya :

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata, “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur’ān karenamu”

Allāh berkata, “Kamu dusta, kamu mempelajari ilmu, mengajarkannya supaya dikatakan ‘alim”

Dan membaca Al Qur’ān supaya dikatakan Qari’.

Dan manusia sudah mengatakan demikian.

⑶ Orang yang Allāh luaskan hartanya dan telah diberikan berbagai macam harta benda

Maka Allāh memperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya, maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh bertanya,

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Ia pun menjawab,”Tidaklah aku tinggalkan satu jalan yang engkau cinta. Aku berinfāq di dalamnya, kecuali aku infāq di dalamnya”

Allāh berkata, “Kamu dusta, akan tetapi engkau melakukannya supaya dikatakan dermawan”

Dan sungguh manusia telah mengatakan demikian (Hadīts Riwayat Muslim)

Amal ibadah yang pertama kali akan dihisāb adalah shalāt lima waktu.

Apakah seorang hamba menyempurnakan shalātnya atau tidak.

Jika sempurna, maka akan ditulis sempurna.

Dan apabila kurang, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memerintahkan malāikat untuk melihat shalāt-shalāt sunnahnya.

Apabila dia memiliki shalāt-shalāt sunnah, maka akan digunakan untuk menambal kekurangan yang dilakukan ketika shalāt fardhu (Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah)

Adapun hal pertama yang berkaitan dengan hak antar manusia yang akan dihisāb adalah tentang darah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Hal yang pertama kali akan dihisāb yang berkaitan dengan hak antar manusia pada hari kiamat adalah tentang darah”. (Hadīts Riwayat Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 42 Keadaan Manusia Ketika Hisab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 42 Keadaan Manusia Ketika Hisab

Halaqah – 42 Keadaan Manusia Ketika Hisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-42 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Keadaan Manusia Ketika Hisāb”

Ada di antara manusia yang kelak akan sulit hisābnya, ada yang mudah, dan ada di antara mereka yang sama sekali tidak dihisāb.

Orang-orang kāfir menurut pendapat yang lebih kuat meskipun amalan mereka adalah amalan yang sia-sia namun mereka akan dihisāb dan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagai celaan kepada mereka dan untuk menunjukkan keadilan Allāh serta menegakkan hujjah atas mereka.

Hisāb terhadap orang-orang kāfir akan sangat teliti.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَمَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكْ

“Barang siapa yang diperiksa dengan teliti hisābnya, maka dia akan binasa” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Adapun orang-orang yang berimān maka mereka akan dihisāb dengan hisāb yang mudah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨)

“Adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya,maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah”. (QS Al-Insyiqaq: 7-8)

Dan yang dimaksud dengan hisāb yang mudah disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts yang artinya:

“Sesungguhnya Allāh akan mendekatkan seorang mu’min kemudian menutupinya, kemudian Allāh berkata kepadanya,

“Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?”

Maka orang mu’min tersebut akan berkata, “Iya wahai Rabbku”.

Sehingga ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla sudah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan hamba tersebut melihat bahwasanya dirinya binasa yaitu karena dosa-dosanya tersebut, maka Allāh berkata aku telah menutupi dosa-dosamu ini di dunia dan aku mengampuninya untukmu hari ini.

Maka diapun diberi kitāb kebaikan-kebaikannya”. (Hadits Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada 70 ribu orang dari umatnya yang kelak tidak dihisāb sama sekali.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasannya mereka adalah:

⑴ Orang-orang yang tidak pernah minta diobati dengan besi panas
⑵ Tidak minta diruqyah oleh orang lain
⑶ Tidak bertathayyur yaitu menganggap sial dengan melihat burung ataupun semisalnya

Dan mereka hanya bertawakal kepada Allāh.

Di antara mereka adalah seorang sahabat Ukasyah Ibnu Mihshan (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Pertanyaan Ketika Hisāb”

Ketika hisāb, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allāh.

Allāh akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidaklah di antara kalian kecuali Rabbnya akan berbicara kepadanya. Tidak ada antara dia dengan Allāh penerjemah. Dia akan melihat di sebelah kanannya, maka dia tidak akan melihat kecuali amalan yang sudah ia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya, maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma” (Hadīts Bukhāri dan Muslim)

Adapun hadīts yang berisi bahwasanya ada tiga golongan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat.

⑴ Orang yang mengungkit-ungkit pemberian
⑵ Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu
⑶ Orang yang musbil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki, yaitu bagi laki-laki

(Hadīts Riwayat Muslim)

Maka yang dimaksud dalam hadīts ini seperti yang dikatakan oleh sebagian ulamā bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka dalam keadaan ridhā. Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.

Di antara hal yang ditanyakan di hari kiamat, yang pertama adalah tentang tauhīd kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

“Maka sungguh kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka para Rasūl. Dan sungguh kami akan tanya para Rasūl” (QS Al-A’rāf: 6)

Kita akan ditanya, bagaimana kita akan menjawab ajakan Rasūl dan ajakan Rasūl yang paling besar adalah Tauhīd.

Di antara hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat adalah kenikmatan yang Allāh berikan kepada kita di dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu, tentang kenikmatan”. (QS At-Takatsur: 8)

Di antara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman bagaimanapun sederhananya di pandangan manusia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, “Bukankan Kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?” (Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ditanya,

√ Tentang umurnya untuk apa dia gunakan,
√ dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan,
√ dan akan ditanya tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan
√ dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan”

(Hadīts shahīh Riwayat Tirmidzi)

Orang yang mensyukuri nikmat tersebut, dialah yang akan selamat. Mensyukuri dengan hati, lisan maupun perbuatan.

Hatinya mengakui kenikmatan tersebut, bahwasanya itu adalah dari Allāh.

Lisannya bersyukur dan memuji kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di antara hal yang akan ditanyakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika hisāb adalah pendengaran, penglihatan dan hati kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, penglihatan dan hatinya.” (QS Al-Isrā’: 36)

Dengan demikian hendaklah seorang muslim menjaga pendengaran, penglihatan dan hatinya dari apa yang Allāh harāmkan.

Di antara yang Allāh tanyakan adalah perjanjian.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولاً۬

“Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan” (QS Al-Isrā’: 34)

Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allāh dan kepada makhluk. Seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.

Di antara hal yang akan ditanyakan adalah tentang amanat yang telah Allāh berikan kepada kita.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang imām atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang ibu adalah seorang penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga. Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut .” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allāh untuk menegakkan hukum-hukum Allāh atas rakyatnya dan berbuat adil.

Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.

Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasihati suami dan lain-lain.

Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.

Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allāh perintahkan.

Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin.

Baik sebagai juru dakwah maupun yang didakwahi.

Baik sebagai suami maupun seorang istri.

Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak.

Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain, masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 40 Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi’ah

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 40 Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi’ah

Halaqah – 40 Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi’ah

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) Dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa)”

Seorang yang berimān kepada hari akhir dan berimān bahwasanya kelak akan dihisab maka hendaklah dia memohon rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian mengambil sebab supaya memiliki Al-Hasanah sebanyak mungkin dan menghilangkan dosa sebisa mungkin.

Di antara caranya adalah:

⑴ Menjaga tauhīd yang merupakan hasanah atau kebaikan yang paling besar.

Dan merupakan pondasi bagi Hasanah yang lain. Dan merupakan sebab diampuninya dosa seseorang.

⑵ Mencari amalan yang paling afdhāl.

Yang apabila dilakukan maka dia akan mendapatkan hasanah yang banyak. Yang demikian karena kita sangat butuh dengan hasanah yang banyak, sementara waktu untuk mendapatkannya adalah sangat terbatas. Amalan yang paling afdhāl setelah Rukun Islām dan kewajiban-kewajiban agama yang lain adalah tiga amalan, yaitu:

⑴ Menuntut ilmu agama
⑵ Jihād Fīsabilillāh sabilillah
⑶ Dzikrullāh yang dilakukan dengan khusyu’ di sebagian besar waktunya.

Amalan yang wajib lebih afdhāl dan lebih besar pahalanya dari pada amalan yang sunnah.

Amalan yang wajib ‘ain yaitu yang wajib atas semuanya lebih afdhāl dari pada amalan yang wajib kifayyah yang apabila dilakukan oleh sebagian maka gugur atas yang lain.

Kewajiban yang berkaitan dengan hak Allāh lebih afdhāl dari pada kewajiban yang berkaitan dengan hak mahluk.

Amalan yang lebih afdhāl adalah amalan yang dilakukan dengan lebih ikhlās dan lebih mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Amalan sedikit yang mudah dikerjakan tanpa memberatkan diri dan dilakukan secara terus-menerus, lebih afdhāl dari pada amalan yang banyak tapi terputus.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Amalan yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah yang paling dilakukan terus-menerus meskipun sedikit” (Hadits Riwayat Bukhāri dan Muslim).

Terkadang sebuah amalan afdhāl bagi sebagian, namun belum tentu afdhal bagi yang lain.

Amalan yang manfaatnya sampai kepada orang lain lebih afdhāl dari pada amalan yang manfaatnya hanya untuk diri-sendiri.

Contohnya seperti:

√ Shadaqah dan
√ Dakwah Fīsabilillāh

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun” (Hadīts Riwayat Muslim)

Amalan yang dikerjakan di waktu yang mulia lebih afdhāl, Seperti:

√ Amalan yang dikerjakan di Bulan Ramadhān.
√ Amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama di Bulan Dzulhijjah.

Sebagian amalan lebih afdhāl dikerjakan di tempat mulia tertentu. Seperti:

√ Shalāt dimasjidil Harām,
√ Shalāt dimasjid Nabawī dan
√ Shalāt dimasjidil Aqsa

Di antara cara memperbanyak Al-Hasanah dan menghilangkan As-Sayyi’ah (dosa) adalah:

⑶ Memanfaat kenikmatan Allāh yang telah diberikan kepada kita semaksimal mungkin.

Seperti kenikmatan ilmu agama, kesehatan, waktu luang, harta benda, anggota badan yang lengkap dan sehat, jabatan, kenikmatan teknologi, kecerdasan, kenikmatan berbicara dan lain-lain.

Menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan niat yang benar, yaitu untuk mencari pahala Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya ,

“Dua nikmat yang banyak manusia yang rugi di dalamnya, kesehatan dan waktu luang” (Hadīts Riwayat Bukhāri )

Dalam hadīts yang lain Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang kaya, mereka adalah orang -orang yang sedikit hasanahnya pada hari kiamat. Kecuali orang yang Allāh berikan kekayaan kemudian bershadaqah kepada yang ada di kanannya, kirinya, depan dan belakangnya dan beramal dengan kekayaan tersebut, amalan yang baik” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

⑷ Dengan memperbaiki amalan supaya diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena amalan bisa menjadi hasanah bagi seseorang bila diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan syarat diterimanya amalan ada dua, yaitu:

√ Ikhlās
√ Sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

⑸ Bertaubat dari dosa yang diiringi dengan imān dan amal shālih.

Karena barang siapa yang melakukan yang demikian itu, maka dosanya akan diganti dengan hasanah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan bahwasanya,

√ Orang yang menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla
√ Membunuh jiwa tanpa hak,
√ Berzina,

Maka mereka akan mendapatkan azab yang pedih di hari kiamat.

Kecuali,

Apabila dia bertaubat,
√ Berimān,
√ Mengerjakan amal shālih.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengganti dosa-dosa mereka menjadi sebuah kebaikan. (QS Al-Furqān: 68-70)

⑹ Memperbanyak istighfār setiap melakukan dosa atau kurang bersyukur atas nikmat, atau kurang dalam melakukan kewajiban atau lalai dalam mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًاكَثِيْرًا

“Tūbā bagi orang yang menemukan di dalam kitābnya istighfār yang banyak” (Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Tūbā ada yang mengatakan maknanya adalah surga, ada juga yang mengatakan maknanya adalah nama pohon di surga.

⑺ Tidak melakukan amalan yang mengurangi pahalanya

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Aku mengetahui ada sebagian umatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa hasanah sebesar gunung-gunung thihamah. Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan hasanah tersebut seperti debu yang beterbangan. Maka salah seorang shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang sifat mereka. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya mereka adalah saudara-saudara kita. Shalāt malam sebagaimana kita shalāt malam, akan tetapi mereka apabila dalam keadaan sendiri dengan sesuatu yang diharāmkan, mereka pun melanggarnya. (Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Di antara cara untuk memperbanyak Al-Hasanah dan mengurangi As-Sayyi’ah adalah,

⑻ Bersabar atas musibah dan ujian.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa ujian menimpa seorang mu’min dan mu’minah, di dalam dirinya, anaknya dan juga hartanya sampai dia bertemu Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia tidak memiliki dosa” (Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Ketika orang-orang yang terkena musibah di dunia mendapatkan pahala di hari kiamat, maka ahlul ‘afiah (orang-orang yang tidak banyak terkena musibah) akan berkeinginan seandainya kulit-kulit mereka digunting di dunia” (Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

Yang demikian karena mereka melihat besarnya pahala orang-orang yang bersabar

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Sesungguhnya akan disempurnakan pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas” (QS Az-Zumar: 10)

⑼ Beramal shālih secara umum berdasarkan dalīl-dalīl yang shahīh, seperti membaca Al-Qurān, puasa dan lain-lain.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullāh (Al-Qurān), maka setiap huruf dia akan mendapatkan satu hasanah. Dan satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah.” (Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

Di dalam sebuah hadīts disebutkan bahwasanya setiap amalan anak Ādam, satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah sampai tujuh ratus. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan Dia-lah yang akan membalasnya. (Hadīts Shahīh Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Mintalah senantiasa kepada Allāh pertolongan di dalam beramal, beramallah sebaik mungkin dan mohonlah kepada Allāh supaya diterima.

Dan ketahuilah bahwasanya amal kita hanyalah sebab dan bukan pengganti kenikmatan surga dan keselamatan dari neraka.

Seandainya seseorang beramal semaksimal mungkin, sebaik-baiknya selama hidupnya, niscaya tidak cukup untuk membalas kenikmatan Allāh di dunia.

Maka bagaimana dengan kenikmatan di akhirat?

Rahmat atau kasih sayang dan anugerah Allāh-lah yang lebih kita harapkan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Amalan seseorang tidaklah memasukkan dia ke dalam surga.

Para shahābat berkata, “Tidak juga engkau ya Rasūlullāh?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Tidak juga saya”, kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla melimpahkan kepadaku anugerah dan rahmatnya” (Hadīts Shahīh Riwayat Bukhāri Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print