Kamis, 12 Juni 2025

Halaqah – 47 Telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 47 Telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam

Halaqah – 47 Telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-47 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang ” Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam”

Diantara berimān kepada hari akhir adalah Berimān tentang Adanya Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada Hari Kiamat.

Hadīts -hadīts yang datang di dalam masalah ini mencapai derajat mutawwatir.

Diantaranya adalah sabda beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga dan sesungguhnya mereka akan saling berbangga siapa di antara mereka yang telaganya paling banyak didatangi. Dan aku berharap akulah yang telaganya akan paling banyak didatangi.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Tirmidzi)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ، مَا ؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ اْلمِسْكِ وَكِيْزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَ فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sepanjang 1 bulan perjalanan, airnya lebih putih dari pada susu dan baunya lebih wangi dari minyak kesturi dan kiizān-nya yaitu sejenis teko sebanyak bintang di langit. Barangsiapa meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Sebagian ulamā mengatakan bahwasanya seandainya dia masuk ke dalam neraka setelah itu karena dosa yang dia lakukan maka dia tidak akan diazab dengan rasa haus.

Umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan mendatangi telaga beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan meminum darinya.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

• Dan aku akan menolak manusia dari telagaku sebagaimana seseorang menolak unta orang lain dari telaganya

Maka para shahābat bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasūlullāh , apakah engkau mengenal kami pada hari tersebut?”

Beliau menjawab:

“Iya….Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki umat-umat yang lain. Kalian akan mendatangi telagaku dalam keadaan putih wajah, tangan dan kaki kalian dari bekas berwudhu”.

(Hadīts Riwayat Muslim)

Orang yang berimān ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup kemudian dia murtad sepeninggal beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka akan dijauhkan dari telaga beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam sebuah hadīts, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Aku akan mendahului kalian diatas telaga dan akan dinampakkan beberapa orang diantara kalian kemudian tiba-tiba dijauhkan dariku.

Akupun bertanya, “Wahai Rabb-ku, Bukankah mereka adalah para sahabatku?” Maka dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah dirimu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim, dari ‘Abdullāh bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu)

Di dalam hadīts yang lain dikatakan kepada beliau:

“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka rubah setelahmu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Sebagian ulamā mengatakan bahwasanya membuat bid’ah di dalam agama termasuk merubah yang dimaksud di dalam hadīts ini.

Dikhawatirkan dia tidak bisa meminum dari telaga Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam Namun, bukan berarti apabila dia masuk ke dalam neraka dia kekal di dalamnya.

Karena yang kekal di neraka hanyalah orang-orang kāfir.

Dua hadīts terakhir menunjukkan bahwa setelah meninggal dunia, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan umatnya.

Semoga Allāh menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa meminum dari telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada hari dimana kita sangat membutuhkannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 46 Mizan (Timbangan) dan Penimbangan Amal

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 46 Mizan (Timbangan) dan Penimbangan Amal

Halaqah – 46 Mizan (Timbangan) dan Penimbangan Amal

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-46 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Mizān (timbangan) dan penimbangan amal

Di antara berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya mizān dan penimbangan amal.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئ

“Dan Kami akan meletakkan timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidak ada seorangpun yang akan dizhālimi sedikitpun.”

(QS Al Anbiyā: 47)

Sebagian ulamā berpendapat bahwasanya penimbangan amal dilakukan setelah hisāb.

Karena:

√ Hisāb adalah untuk menghitung amalan.

√ Penimbangan adalah untuk menampakkan hasil dari perhitungan tersebut dan menunjukkan keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Akan ditimbang hasanah dan sayyiah dengan timbangan yang hakiki.

Memiliki dua kiffah yaitu piringan timbangan.

Memiliki sifat berat dan ringan dan bisa miring karena amalan.

Allāhu a’lam tentang tentang hakikatnya dan bagaimananya.

Allāh berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون.
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُون.

“Dan barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, di dalam Jahannam mereka akan kekal.”

(QS Al Mu’minun: 102-103)

Dalam hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mājah disebutkan bahwasanya catatan dosa-dosa akan ditaruh di kiffah dan bitaqah (kartu yang bertuliskan ‘Lā ilāha illallāh) akan ditaruh di kiffah yang lain.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ،

“Akan diletakkan mizān pada hari kiamat, seandainya langit dan bumi di timbang didalamnya niscaya akan cukup,

Bertanyalah para Malāikat wahai Rabb untuk siapakah timbangan ini?

Maka Allāh berfirman, “untuk orang yang aku kehendaki dari para makhluk ku.”

(Hadīts shahīh diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Al mustadrak)

Para ulamā berbeda pendapat tentang berapakah jumlah mizān di hari kiamat.

Apakah satu timbangan atau banyak, karena masing-masing manusia memiliki timbangan atau masing-masing amalan ada timbangan khusus. Allāhu a’lam.

Amalan yang paling berat di dalam timbangan pada hari kiamat adalah dua kalimat syahadah.

Dari Abdullāh ibnu ‘Amr ibnul Ash Radhiyallāhu ‘anhuma, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allāh akan memilih seseorang dari umatku di hadapan makhluk-makhluk yang lain pada hari kiamat.”

Maka dibukalah di hadapannya 99 sijil.

⇒Makna sijil adalah kitāb besar

Dan maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah kitāb yang berisi dosa-dosa hamba tersebut.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Setiap sijil besarnya sejauh mata memandang.”

Kemudian Allāh bertanya kepada hamba tersebut, “Apakah ada di antara isi kitāb tersebut yang engkau ingkari?”

Apakah para malāikat penulis telah menzhālimimu ?

Hamba tersebut menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku”

Allāh bertanya, Apakah kamu memiliki alasan? Dia kembali menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku”

Maka Allāh pun berkata, “Sesungguhnya engkau memiliki hasanah di sisi kami”

Dan sesungguhnya engkau tidak akan dizhālimi pada hari ini.

Maka dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan “Asyhaduallā ilā ha illallāh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasūluh”.

Allāh pun berkata, Lihatlah timbanganmu,

Hamba tersebut mengatakan,
Wahai Rabb-ku apa arti sebuah kartu ini dibandingkan dengan sijjil yang begitu banyak?

Maka Allāh berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhālimi.

Diletakkanlah sijjil yang banyak tersebut, di satu piringan timbangan dan diletakan kartu di satu piringan timbangan yang lain.

Maka ringanlah sijjil yang banyak dan beratlah kartu tersebut.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

Tidak ada sesuatu yang mengalahkan beratnya nama Allāh

Hadīts Shahīh Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Mājah).

Di antara amalan yang sangat memberatkan timbangan pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan dari pada akhlak yang baik.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Tirmidzi).

Di antara akhlak yang baik adalah

• Menyambung orang yang memutus kita
• Memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepada kita
• Memaafkan orang yang menzhālimi kita.

Di antara amalan yang berat adalah ucapan “Subhanallāhi wa bihamdih subhanallāhil ‘azhīm”.

Sebagaimana didalam hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

Di antara amalan yang memenuhi timbangan adalah ucapan “Alhamdulillah”

Sebagaimana dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim senantiasa memperbaiki dua kalimat syahadat yang dia ucapkan.

Berusaha untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya dan istiqamah di atas keduanya sampai meninggal dunia.
Di samping itu hendaknya dia memperbaiki ibadahnya kepada Allāh dan akhlaknya kepada manusia.

Melakukan itu semua karena Allāh dan untuk memperberat timbangannya di hari kiamat.

Orang yang berbahagia adalah orang yang lebih berat timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

Dan orang yang celaka adalah orang yang lebih ringan timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

Sebagaimana disebutkan oleh Allāh di dalam Surat Al-Qariah.

Orang kāfir tidak memiliki sesuatu yang memberatkan timbangan mereka, Karena amalan mereka batal dengan kesyirikan dan kekufuran

(Lihat Surat Al-Kāhfi : 103-106)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya akan datang seseorang yang besar lagi gemuk pada hari kiamat akan tetapi beratnya di sisi Allāh tidak lebih berat dari satu sayap dari seekor nyamuk.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dalīl-dalīl di atas menunjukkan bahwasanya nya ada tiga perkara yang akan ditimbang pada hari kiamat.

⑴ Amalan
⑵ Orang yang mengamalkan
⑶ Kitāb catatan amalan

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Senin, 09 Juni 2025

Halaqah – 45 Penegakan Qishos atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhalim

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 45 Penegakan Qishos atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhalim

Halaqah – 45 Penegakan Qishos atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhalim

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Penegakan Qishas atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhālim”

Termasuk keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah menegakkan qishas di antara makhluk di hari kiamat.

Tidak ada makhluk yang dizhālimi di dunia oleh yang lain kecuali akan Allāh kembalikan haknya di hari kiamat, bahkan diantara hewan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لتؤدن الحقوق إلى أهلها يوم القيامة حتى يقاد للشاة الجلحاء من الشاة القرناء

“Sungguh akan diberikan hak-hak ini kepada pemiliknya di hari kiamat sampai akan di qishas seekor kambing yang bertanduk karena kezhāliman yang dia lakukan terhadap kambing yang tidak bertanduk.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Akan didatangkan orang yang dzalim dan di zhālimi sekecil apapun kezhāliman tersebut.

Baik kezhāliman berupa harta seperti:

√ Pencurian
√ Perampokan
√ Penipuan
√ Hutang

Atau kezhāliman kehormatan seperti:

√ Umpatan
√ Ghibāh yaitu membicarakan kejelekan orang lain, tuduhan palsu

Atau kezhāliman fisik seperti:

√ Pemukulan
√ Pembunuhan, dan lain-lain.

Penegakan keadilan saat itu adalah dengan hasanah dan sayyiah.

Orang yang zhālim akan diambil hasanahnya dan diberikan kepada orang yang dizhālimi.

Apabila orang yang zhālim tersebut tidak memiliki hasanah, maka sayyiah orang yang dizhālimi akan diberikan kepada orang yang zhālim tersebut.

Orang yang bangkrut di hari tersebut adalah orang-orang yang terlalu banyak kezhālimannya di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan ummatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalāt, pahala puasa dan pahala zakāt. Dia datang pada hari tersebut dan dahulu di dunia dia telah mencela si Fulān, menuduh si Fulān berzinah, memakan harta si Fulān, menumpahkan darah si Fulān dan memukul si Fulān. Maka hasanah atau pahala kebaikan orang tersebut akan diberikan kepada si Fulān, lalu si Fulān. Sehingga apabila habis hasanah orang tersebut sebelum dia melunasi hak orang lain maka akan diambil dosa-dosa orang yang pernah dia zhālimi tersebut dan dipikulkan kepadanya, kemudian akhirnya dia dilemparkan ke dalam neraka.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Oleh karena itu seorang muslim di dunia apabila berbuat zhālim maka hendaknya bersegera untuk minta maaf dan mengembalikan hak orang yang pernah dia zhālimi.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang memiliki kezhāliman kepada orang lain baik berupa kehormatan atau sesuatu yang lain maka hendaklah dia meminta dihalalkan darinya pada hari ini. Sebelum datangnya hari yang di situ tidak ada lagi dinar maupun dirham.”

(Hadīts Riwayat Bukhari)

Orang yang dizhālimi di dunia boleh membalas dengan balasan yang setimpal. Akan tetapi tidak boleh dia membalas dengan berlebihan, karena dengan demikian justru dia menjadi orang yang zhālim yang akan diambil kebaikannya.

Dan apabila dia memaafkan maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan pahala yang besar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَجَزَٲٓؤُاْ سَيِّئَةٍ۬ سَيِّئَةٌ۬ مِّثۡلُهَا‌ۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan balasan sebuah kejelekan adalah kejelekan yang setimpal. Dan barang siapa yang memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mencintai orang-orang yang zhālim.” (QS Asy Syūrā: 40)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 44 Pemberian Kitab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 44 Pemberian Kitab

Halaqah – 44 Pemberian Kitab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Pemberian Kitāb”

Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghisāb seorang hamba, maka hamba tersebut akan diberi kitāb.

Orang yang berimān dengan hisāb dan hari perhitungan dan dia beramal maka dia akan menerima kitāb yang berisi hasanah dengan tangan kanannya.

Dan kelak akan kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan yang sangat bahagia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورً۬ا (٩)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah dan akan kembali kepada keluarganya dalam keadaan bahagia”.

(QS Al-Insyiqāq: 7-9)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَـٰبِيَهۡ (١٩) إِنِّى ظَنَنتُ أَنِّى مُلَـٰقٍ حِسَابِيَهۡ (٢٠) فَهُوَ فِى عِيشَةٍ۬ رَّاضِيَةٍ۬ (٢١) فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ۬ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ۬ (٢٣) كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـَٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ (٢٤)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya dia akan berkata kepada orang lain,

“Silahkan bacalah kitābku ini, Sesungguhnya aku dahulu di dunia yakin bahwa aku akan menemui hisāb”.

Maka dia akan berada di dalam kehidupan yang diridhai di surga yang tinggi yang buah-buahannya rendah (maksudnya mudah dipetik), dikatakan kepada mereka:

“Makanlah kalian dan minumlah dengan nikmat karena amal-amal yang kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

(QS Al-Hāqqah: 19-24)

Adapun orang kāfir dan munāfiq maka dia akan menerima kitāb dengan tangan kiri dari arah belakang.

Pertanda bahwasanya mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dia pun berteriak dengan kecelakaan.

Tidak bermanfaat bagi mereka, harta mereka yang melimpah dan jabatan mereka yang tinggi di dunia.

Mereka menyesal dan berangan-angan seandainya tidak diberi kitāb.

Dan berangan-angan seandainya tidak dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ (١٠) فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورً۬ا (١١) وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا (١٢) إِنَّهُ ۥ كَانَ فِىٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا (١٣) إِنَّهُ ۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ (٤١)َ

“Dan adapun orang yang diberikan kitābnya dari belakangnya, maka dia akan berteriak dengan kecelakaan. Dan akan masuk kelak di dalam neraka. Sesungguhnya dahulu dia bergembira ria bersama keluarganya. Dan sesungguhnya dahulu dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

(QS Al-Insyiqāq: 10-14)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (٢٦) يَـٰلَيۡتَہَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ (٢٧)مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡۜ (٢٨) هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَـٰنِيَهۡ (٢٩)خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ۬ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعً۬ا فَٱسۡلُكُوهُ (٣٢)

“Adapun orang-orang yang diberi kitāb dari sebelah kiri, maka dia akan berkata, “Seandainya aku tidak diberi kitābku ini dan seandainya aku tidak mengetahui hisābku. Seandainya kematian yang menyudahi segalanya. Hartaku tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku”. Maka Allāh berkata, “Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta”

(QS Al-Hāqqah: 25-32)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Minggu, 08 Juni 2025

Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab0

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab

Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Orang yang pertama dihisāb, amal yang pertama dihisāb dan hal yang pertama dihisāb”

Orang yang pertama kali akan dihisāb pada hari kiamat ada tiga orang.

Yaitu:

⑴ Orang yang berjihad karena riyā’

Dia akan didatangkan dan akan diperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata: “Aku gunakan untuk berperang di jalanmu sampai aku mati syahīd”

Allāh berkata kepadanya, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani dan manusia sudah mengatakan engkau adalah pemberani”

⑵ Orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al-Qur’ān

Akan tetapi melakukan itu semua karena riyā’.

Kemudian diperlihatkan kenikmatan yang Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla bertanya :

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata, “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur’ān karenamu”

Allāh berkata, “Kamu dusta, kamu mempelajari ilmu, mengajarkannya supaya dikatakan ‘alim”

Dan membaca Al Qur’ān supaya dikatakan Qari’.

Dan manusia sudah mengatakan demikian.

⑶ Orang yang Allāh luaskan hartanya dan telah diberikan berbagai macam harta benda

Maka Allāh memperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya, maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh bertanya,

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Ia pun menjawab,”Tidaklah aku tinggalkan satu jalan yang engkau cinta. Aku berinfāq di dalamnya, kecuali aku infāq di dalamnya”

Allāh berkata, “Kamu dusta, akan tetapi engkau melakukannya supaya dikatakan dermawan”

Dan sungguh manusia telah mengatakan demikian (Hadīts Riwayat Muslim)

Amal ibadah yang pertama kali akan dihisāb adalah shalāt lima waktu.

Apakah seorang hamba menyempurnakan shalātnya atau tidak.

Jika sempurna, maka akan ditulis sempurna.

Dan apabila kurang, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memerintahkan malāikat untuk melihat shalāt-shalāt sunnahnya.

Apabila dia memiliki shalāt-shalāt sunnah, maka akan digunakan untuk menambal kekurangan yang dilakukan ketika shalāt fardhu (Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah)

Adapun hal pertama yang berkaitan dengan hak antar manusia yang akan dihisāb adalah tentang darah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Hal yang pertama kali akan dihisāb yang berkaitan dengan hak antar manusia pada hari kiamat adalah tentang darah”. (Hadīts Riwayat Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print