Senin, 09 Juni 2025

Halaqah – 45 Penegakan Qishos atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhalim

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 45 Penegakan Qishos atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhalim

Halaqah – 45 Penegakan Qishos atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhalim

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Penegakan Qishas atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhālim”

Termasuk keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah menegakkan qishas di antara makhluk di hari kiamat.

Tidak ada makhluk yang dizhālimi di dunia oleh yang lain kecuali akan Allāh kembalikan haknya di hari kiamat, bahkan diantara hewan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لتؤدن الحقوق إلى أهلها يوم القيامة حتى يقاد للشاة الجلحاء من الشاة القرناء

“Sungguh akan diberikan hak-hak ini kepada pemiliknya di hari kiamat sampai akan di qishas seekor kambing yang bertanduk karena kezhāliman yang dia lakukan terhadap kambing yang tidak bertanduk.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Akan didatangkan orang yang dzalim dan di zhālimi sekecil apapun kezhāliman tersebut.

Baik kezhāliman berupa harta seperti:

√ Pencurian
√ Perampokan
√ Penipuan
√ Hutang

Atau kezhāliman kehormatan seperti:

√ Umpatan
√ Ghibāh yaitu membicarakan kejelekan orang lain, tuduhan palsu

Atau kezhāliman fisik seperti:

√ Pemukulan
√ Pembunuhan, dan lain-lain.

Penegakan keadilan saat itu adalah dengan hasanah dan sayyiah.

Orang yang zhālim akan diambil hasanahnya dan diberikan kepada orang yang dizhālimi.

Apabila orang yang zhālim tersebut tidak memiliki hasanah, maka sayyiah orang yang dizhālimi akan diberikan kepada orang yang zhālim tersebut.

Orang yang bangkrut di hari tersebut adalah orang-orang yang terlalu banyak kezhālimannya di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan ummatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalāt, pahala puasa dan pahala zakāt. Dia datang pada hari tersebut dan dahulu di dunia dia telah mencela si Fulān, menuduh si Fulān berzinah, memakan harta si Fulān, menumpahkan darah si Fulān dan memukul si Fulān. Maka hasanah atau pahala kebaikan orang tersebut akan diberikan kepada si Fulān, lalu si Fulān. Sehingga apabila habis hasanah orang tersebut sebelum dia melunasi hak orang lain maka akan diambil dosa-dosa orang yang pernah dia zhālimi tersebut dan dipikulkan kepadanya, kemudian akhirnya dia dilemparkan ke dalam neraka.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Oleh karena itu seorang muslim di dunia apabila berbuat zhālim maka hendaknya bersegera untuk minta maaf dan mengembalikan hak orang yang pernah dia zhālimi.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang memiliki kezhāliman kepada orang lain baik berupa kehormatan atau sesuatu yang lain maka hendaklah dia meminta dihalalkan darinya pada hari ini. Sebelum datangnya hari yang di situ tidak ada lagi dinar maupun dirham.”

(Hadīts Riwayat Bukhari)

Orang yang dizhālimi di dunia boleh membalas dengan balasan yang setimpal. Akan tetapi tidak boleh dia membalas dengan berlebihan, karena dengan demikian justru dia menjadi orang yang zhālim yang akan diambil kebaikannya.

Dan apabila dia memaafkan maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan pahala yang besar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَجَزَٲٓؤُاْ سَيِّئَةٍ۬ سَيِّئَةٌ۬ مِّثۡلُهَا‌ۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan balasan sebuah kejelekan adalah kejelekan yang setimpal. Dan barang siapa yang memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mencintai orang-orang yang zhālim.” (QS Asy Syūrā: 40)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 44 Pemberian Kitab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 44 Pemberian Kitab

Halaqah – 44 Pemberian Kitab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Pemberian Kitāb”

Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghisāb seorang hamba, maka hamba tersebut akan diberi kitāb.

Orang yang berimān dengan hisāb dan hari perhitungan dan dia beramal maka dia akan menerima kitāb yang berisi hasanah dengan tangan kanannya.

Dan kelak akan kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan yang sangat bahagia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورً۬ا (٩)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah dan akan kembali kepada keluarganya dalam keadaan bahagia”.

(QS Al-Insyiqāq: 7-9)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَـٰبِيَهۡ (١٩) إِنِّى ظَنَنتُ أَنِّى مُلَـٰقٍ حِسَابِيَهۡ (٢٠) فَهُوَ فِى عِيشَةٍ۬ رَّاضِيَةٍ۬ (٢١) فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ۬ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ۬ (٢٣) كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـَٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ (٢٤)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya dia akan berkata kepada orang lain,

“Silahkan bacalah kitābku ini, Sesungguhnya aku dahulu di dunia yakin bahwa aku akan menemui hisāb”.

Maka dia akan berada di dalam kehidupan yang diridhai di surga yang tinggi yang buah-buahannya rendah (maksudnya mudah dipetik), dikatakan kepada mereka:

“Makanlah kalian dan minumlah dengan nikmat karena amal-amal yang kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

(QS Al-Hāqqah: 19-24)

Adapun orang kāfir dan munāfiq maka dia akan menerima kitāb dengan tangan kiri dari arah belakang.

Pertanda bahwasanya mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dia pun berteriak dengan kecelakaan.

Tidak bermanfaat bagi mereka, harta mereka yang melimpah dan jabatan mereka yang tinggi di dunia.

Mereka menyesal dan berangan-angan seandainya tidak diberi kitāb.

Dan berangan-angan seandainya tidak dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ (١٠) فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورً۬ا (١١) وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا (١٢) إِنَّهُ ۥ كَانَ فِىٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا (١٣) إِنَّهُ ۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ (٤١)َ

“Dan adapun orang yang diberikan kitābnya dari belakangnya, maka dia akan berteriak dengan kecelakaan. Dan akan masuk kelak di dalam neraka. Sesungguhnya dahulu dia bergembira ria bersama keluarganya. Dan sesungguhnya dahulu dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

(QS Al-Insyiqāq: 10-14)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (٢٦) يَـٰلَيۡتَہَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ (٢٧)مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡۜ (٢٨) هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَـٰنِيَهۡ (٢٩)خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ۬ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعً۬ا فَٱسۡلُكُوهُ (٣٢)

“Adapun orang-orang yang diberi kitāb dari sebelah kiri, maka dia akan berkata, “Seandainya aku tidak diberi kitābku ini dan seandainya aku tidak mengetahui hisābku. Seandainya kematian yang menyudahi segalanya. Hartaku tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku”. Maka Allāh berkata, “Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta”

(QS Al-Hāqqah: 25-32)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Minggu, 08 Juni 2025

Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab0

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab

Halaqah – 43 Orang, Amalan dan Hal Yang Pertama Kali Dihisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Orang yang pertama dihisāb, amal yang pertama dihisāb dan hal yang pertama dihisāb”

Orang yang pertama kali akan dihisāb pada hari kiamat ada tiga orang.

Yaitu:

⑴ Orang yang berjihad karena riyā’

Dia akan didatangkan dan akan diperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata: “Aku gunakan untuk berperang di jalanmu sampai aku mati syahīd”

Allāh berkata kepadanya, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani dan manusia sudah mengatakan engkau adalah pemberani”

⑵ Orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al-Qur’ān

Akan tetapi melakukan itu semua karena riyā’.

Kemudian diperlihatkan kenikmatan yang Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla bertanya :

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata, “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur’ān karenamu”

Allāh berkata, “Kamu dusta, kamu mempelajari ilmu, mengajarkannya supaya dikatakan ‘alim”

Dan membaca Al Qur’ān supaya dikatakan Qari’.

Dan manusia sudah mengatakan demikian.

⑶ Orang yang Allāh luaskan hartanya dan telah diberikan berbagai macam harta benda

Maka Allāh memperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya, maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh bertanya,

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Ia pun menjawab,”Tidaklah aku tinggalkan satu jalan yang engkau cinta. Aku berinfāq di dalamnya, kecuali aku infāq di dalamnya”

Allāh berkata, “Kamu dusta, akan tetapi engkau melakukannya supaya dikatakan dermawan”

Dan sungguh manusia telah mengatakan demikian (Hadīts Riwayat Muslim)

Amal ibadah yang pertama kali akan dihisāb adalah shalāt lima waktu.

Apakah seorang hamba menyempurnakan shalātnya atau tidak.

Jika sempurna, maka akan ditulis sempurna.

Dan apabila kurang, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memerintahkan malāikat untuk melihat shalāt-shalāt sunnahnya.

Apabila dia memiliki shalāt-shalāt sunnah, maka akan digunakan untuk menambal kekurangan yang dilakukan ketika shalāt fardhu (Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah)

Adapun hal pertama yang berkaitan dengan hak antar manusia yang akan dihisāb adalah tentang darah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Hal yang pertama kali akan dihisāb yang berkaitan dengan hak antar manusia pada hari kiamat adalah tentang darah”. (Hadīts Riwayat Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 42 Keadaan Manusia Ketika Hisab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 42 Keadaan Manusia Ketika Hisab

Halaqah – 42 Keadaan Manusia Ketika Hisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-42 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Keadaan Manusia Ketika Hisāb”

Ada di antara manusia yang kelak akan sulit hisābnya, ada yang mudah, dan ada di antara mereka yang sama sekali tidak dihisāb.

Orang-orang kāfir menurut pendapat yang lebih kuat meskipun amalan mereka adalah amalan yang sia-sia namun mereka akan dihisāb dan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagai celaan kepada mereka dan untuk menunjukkan keadilan Allāh serta menegakkan hujjah atas mereka.

Hisāb terhadap orang-orang kāfir akan sangat teliti.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَمَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكْ

“Barang siapa yang diperiksa dengan teliti hisābnya, maka dia akan binasa” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Adapun orang-orang yang berimān maka mereka akan dihisāb dengan hisāb yang mudah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨)

“Adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya,maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah”. (QS Al-Insyiqaq: 7-8)

Dan yang dimaksud dengan hisāb yang mudah disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts yang artinya:

“Sesungguhnya Allāh akan mendekatkan seorang mu’min kemudian menutupinya, kemudian Allāh berkata kepadanya,

“Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?”

Maka orang mu’min tersebut akan berkata, “Iya wahai Rabbku”.

Sehingga ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla sudah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan hamba tersebut melihat bahwasanya dirinya binasa yaitu karena dosa-dosanya tersebut, maka Allāh berkata aku telah menutupi dosa-dosamu ini di dunia dan aku mengampuninya untukmu hari ini.

Maka diapun diberi kitāb kebaikan-kebaikannya”. (Hadits Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada 70 ribu orang dari umatnya yang kelak tidak dihisāb sama sekali.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasannya mereka adalah:

⑴ Orang-orang yang tidak pernah minta diobati dengan besi panas
⑵ Tidak minta diruqyah oleh orang lain
⑶ Tidak bertathayyur yaitu menganggap sial dengan melihat burung ataupun semisalnya

Dan mereka hanya bertawakal kepada Allāh.

Di antara mereka adalah seorang sahabat Ukasyah Ibnu Mihshan (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Pertanyaan Ketika Hisāb”

Ketika hisāb, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allāh.

Allāh akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidaklah di antara kalian kecuali Rabbnya akan berbicara kepadanya. Tidak ada antara dia dengan Allāh penerjemah. Dia akan melihat di sebelah kanannya, maka dia tidak akan melihat kecuali amalan yang sudah ia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya, maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma” (Hadīts Bukhāri dan Muslim)

Adapun hadīts yang berisi bahwasanya ada tiga golongan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat.

⑴ Orang yang mengungkit-ungkit pemberian
⑵ Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu
⑶ Orang yang musbil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki, yaitu bagi laki-laki

(Hadīts Riwayat Muslim)

Maka yang dimaksud dalam hadīts ini seperti yang dikatakan oleh sebagian ulamā bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka dalam keadaan ridhā. Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.

Di antara hal yang ditanyakan di hari kiamat, yang pertama adalah tentang tauhīd kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

“Maka sungguh kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka para Rasūl. Dan sungguh kami akan tanya para Rasūl” (QS Al-A’rāf: 6)

Kita akan ditanya, bagaimana kita akan menjawab ajakan Rasūl dan ajakan Rasūl yang paling besar adalah Tauhīd.

Di antara hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat adalah kenikmatan yang Allāh berikan kepada kita di dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu, tentang kenikmatan”. (QS At-Takatsur: 8)

Di antara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman bagaimanapun sederhananya di pandangan manusia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, “Bukankan Kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?” (Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ditanya,

√ Tentang umurnya untuk apa dia gunakan,
√ dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan,
√ dan akan ditanya tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan
√ dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan”

(Hadīts shahīh Riwayat Tirmidzi)

Orang yang mensyukuri nikmat tersebut, dialah yang akan selamat. Mensyukuri dengan hati, lisan maupun perbuatan.

Hatinya mengakui kenikmatan tersebut, bahwasanya itu adalah dari Allāh.

Lisannya bersyukur dan memuji kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di antara hal yang akan ditanyakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika hisāb adalah pendengaran, penglihatan dan hati kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, penglihatan dan hatinya.” (QS Al-Isrā’: 36)

Dengan demikian hendaklah seorang muslim menjaga pendengaran, penglihatan dan hatinya dari apa yang Allāh harāmkan.

Di antara yang Allāh tanyakan adalah perjanjian.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولاً۬

“Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan” (QS Al-Isrā’: 34)

Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allāh dan kepada makhluk. Seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.

Di antara hal yang akan ditanyakan adalah tentang amanat yang telah Allāh berikan kepada kita.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang imām atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang ibu adalah seorang penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga. Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut .” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allāh untuk menegakkan hukum-hukum Allāh atas rakyatnya dan berbuat adil.

Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.

Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasihati suami dan lain-lain.

Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.

Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allāh perintahkan.

Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin.

Baik sebagai juru dakwah maupun yang didakwahi.

Baik sebagai suami maupun seorang istri.

Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak.

Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain, masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print