Selasa, 17 Juni 2025

Halaqah – 54 Ash-Shirat

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 54 Ash-Shirat

Halaqah – 54 Ash-Shirat

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 54 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang”As Shirath”

Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya As Shirath
(Jembatan yang dipasang di atas neraka jahanam untuk lewat orang-orang yang berimān menuju surga)
Setelah berpisah dengan orang-orang munāfiq, maka tinggallah orang-orang yang berimān dengan berbagai tingkatan keimānan mereka.

⇒Mulai dari para Nabi ‘alayhimussalām sampai para pelaku dosa besar.

Mereka semua akan menuju surga dengan melewati sebuah jembatan yang berada di atas neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan melewati Neraka,yang demikian adalah ketentuan Allāh yang sudah ditetapkan,

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan kami akan biarkan orang-orang yang zhālim masuk kedalam Neraka dalam keadaan berlutut.”

(QS Maryam: 71-72)

Di dalam hadīts Abū Said Al Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa jembatan tersebut sangat menggelincirkan.

⇒Di atasnya ada besi-besi pengait dan duri yang keras yang bentuknya seperti duri Sa’dan.

Berkata Abū Said Al Khudri, shahābat yang meriwayatkannya, di sini di dalam riwayat Muslim.

“Telah sampai kepadaku bahwasanya jembatan ini lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam dari pada pedang.”

Di dalam hadīts ini disebutkan bahwasanya:

√ Ada orang yang berimān yang melewati jembatan tersebut dengan sangat cepat seperti kedipan mata,
√ Ada yang seperti kilat,
√ Ada yang secepat angin,
√ Ada yang secepat burung,
√ Ada yang secepat larinya kuda,
√ Ada yang secepat larinya unta,
√ Ada yang sangat lambat sehingga dia lewat jembatan tersebut dalam keadaan menyeret dirinya, dialah orang yang terakhir melewati jembatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts ini bahwasanya manusia akan terbagi menjadi 3 (tiga)

⑴ Orang yang benar-benar selamat melewati neraka yaitu tanpa terkena sambaran.
⑵ Orang yang selamat melewati neraka akan tetapi terkoyak tubuhnya.
⑶ Orang yang tersambar dan akhirnya terjatuh ke dalam neraka.

Di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka aku dan umatku lah yang pertama kali akan melewati dan tidak berbicara saat itu kecuali para Rasūl.”

Do’a mereka saat itu, “Yā Allāh , selamatkan, selamatkan.”

Di atas jembatan tersebut ada besi besi pengait seperti duri Sa’dan, mereka menjawab, tahukah kalian duri Sa’dan? Mereka menjawab “Iya….. Yā Rasūlullāh,

Beliau berkata:

“Besi pengait tersebut seperti duri Sa’dan. Namun tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh, Dia akan menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka, yaitu dosanya.”

⇒Ada diantara mereka yang binasa karena amalannya dan ada diantara mereka yang terkoyak dari belakang kemudian selamat.

⇒Di antara yang selamat adalah 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisāb , Wajah-wajah mereka seperti bulan di malam bulan purnama.

⇒Menyusul setelah mereka rombongan yang wajah mereka seperti bintang yang paling terang.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dari Jābir ibnu Abdillāh al Anshari Radhiyallāhu ‘anhummā:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan, maka keduanya berdiri di samping kanan dan kiri jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Ini menunjukkan bahwasanya melaksanakan amanah dan menyambung silaturrahim atau hubungan kekerabatan perkaranya besar di dalam agama Islām, keduanya akan menuntut orang-orang yang tidak memenuhi hak keduanya.
Sebagian orang yang berimān akan jatuh ke dalam neraka karena sebab ucapan yang dia ucapkan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat marah Allāh dan hamba tersebut tidak menganggap penting kalimat itu, dia jatuh dengan sebab ucapan tadi ke dalam jahanam.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Sebuah batu yang dilempar ke dalam neraka akan sampai ke dasar neraka 70 tahun kemudian.
Sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim.

Sebuah peristiwa yang pasti akan kita alami dan sangat mendebarkan, berjalan di atas jembatan yang sangat kecil, sangat panjang di bawahnya ada neraka yang sangat dalam dan berisi azab yang sangat pedih dan di samping kanan dan kiri ada besi-besi pengait yang siap mengenai orang yang berhak.

Ketegaran kita di atas jembatan saat itu sesuai dengan ketegaran kita di dunia di dalam berpegang teguh dengan agama Islām.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita dan menyelamatkan kita semua. Āmīn

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Sabtu, 14 Juni 2025

Halaqah – 53 Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 53 Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik

Halaqah – 53 Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”

Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”

√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.

Dan apabila padam, dia berdiri.

⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.

Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .

⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:

“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.

Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.

Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).

Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.

Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .

Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.

Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.

Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.

رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”

( QS At-Tahrim : 8)

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 52 Tinggalnya Orang-orang Beriman dan Orang Munafiq

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 52 Tinggalnya Orang-orang Beriman dan Orang Munafiq

Halaqah – 52 Tinggalnya Orang-orang Beriman dan Orang Munafiq

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Tinggalnya Orang-orang Berimān Dan Orang-orang Munāfiq”

Di dalam hadīts Abū Said Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya setelah orang-orang kāfir baik musyrikin maupun ahlul kitāb digiring ke neraka, maka tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allāh, yang shālih maupun yang fajir.

Dikatakan kepada mereka:

“Apa yang menghalangi kalian untuk pergi, sedangkan manusia sudah pergi?

Dalam riwayat Muslim,

“Apa yang kalian tunggu?

Mereka berkata:

“Kami berbeda dengan mereka di dunia. Padahal kami dahulu butuh dengan mereka.”

⇒Maksudnya dahulu mereka bertauhīd tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kāfir. Meskipun mereka membutuhkan orang-orang kāfir tersebut dalam beberapa hal.

Mereka berkata:

“Sungguh kami telah mendengar penyeru menyeru supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah. Dan kami sekarang sedang menunggu Rabb kami.

Maka datanglah Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang mereka lihat pertama kali.

⇒Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang berimān akan melihat Allāh di Padang Mahsyar.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allāh darimu. Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” Mereka mengatakan perkataan ini dua atau tiga kali.

⇒Maksudnya Allāh akan menguji mereka dengan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka dalam bentuk yang lain.

Ketika mereka melihat Allāh dalam bentuk yang lain, maka mereka berlindung kepada Allāh , supaya tidak terfitnah di dalam ujian ini.

Dan ucapan mereka, “Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” menunjukkan tentang keutamaan tauhīd.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka tidak berbicara kepada Allāh saat itu kecuali para Nabi.”

Maka Allāh berkata:

“Apakah kalian memiliki tanda sehingga kalian mengetahui bahwa Dia adalah Rabb kalian?

Mereka berkata, “Betis”

Maka disingkaplah betis Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Para ulamā mengatakan bahwasanya ini adalah termasuk hadīts yang berisi sifat Allāh, Kewajibah kita berimān bahwasanya Allāh memiliki betis sesuai dengan keagungan-Nya.

Tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan dengan mahluk, tidak boleh kita takwil, dan tidak boleh kita bertanya tentang bagaimananya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka sujudlah setiap mukmin.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan,

“Tidak tersisa orang yang dahulu sujud untuk Allāh , ikhlās dari dirinya kecuali Allāh akan mengijinkan dia bersujud. Kemudian tidaklah tersisa orang yang dahulu sujud karena hanya ingin melindungi diri dan riya’ kecuali Allāh akan menjadikan punggungnya menjadi rata.

Setiap akan sujud dia jatuh tersungkur di atas tengkuknya.

Maksudnya dia tidak bisa sujud karena punggungnya yang semula memiliki beberapa ruas tulang yang memudahkan dia untuk membungkuk, menjadi hanya memiliki satu ruas tulang yang rata.

Demikianlah keadaan orang-orang yang dahulu menipu Allāh dan orang-orang yang berimān di dunia
Maka Allāh menipu mereka.

Mereka mengira bahwasanya mereka akan selamat dengan tinggalnya mereka saat itu bersama orang-orang yang berimān.

Namun ternyata perkiraan mereka adalah perkiraan yang salah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian orang-orang yang berimān mengangkat kepala mereka dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah kembali kepada bentuk-Nya yang semula.

Kemudian Allāh berkata:

“Aku adalah Rabb kalian”.

Mereka pun berkata:

“Engkau adalah Rabb kami”.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلم عليكم ورحمة الّ وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 51 Keadaan Orang-orang Kafir di Dalam Neraka

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 51 Keadaan Orang-orang Kafir di Dalam Neraka

Halaqah – 51 Keadaan Orang-orang Kafir di Dalam Neraka

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir
“Keadaan Orang-orang Kafir Ketika Digiring dan Dikumpulkan ke Neraka”

• Pertama | Mereka akan digiring dengan kasar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (١٣) هَـٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِى كُنتُم بِہَا تُكَذِّبُونَ (١٤)

“Pada hari mereka akan didorong ke neraka jahannam dengan keras
Dikatakan kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kalian dustakan.”

(QS Ath-Thūr: 13-14)

• Kedua | Mereka akan digiring secara berkelompok dan akan disambut oleh para malāikat penjaga neraka, di ambang pintu neraka dengan penuh penghinaan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Orang-orang kāfir akan digiring ke neraka jahannam secara berkelompok-kelompok, sehingga apabila mereka telah sampai ke ambang neraka dibukalah pintu-pintunya.

Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka:

“Bukankah telah datang kepada kalian, Rasūl-rasūl yang berasal dari kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Rabb kalian, dan mengingatkan kalian pertemuan dengan hari ini?”.

Mereka menjawab: “Benar telah datang”.

Namun telah tetap adzab bagi orang-orang kāfir.

Dikatakan kepada mereka: “Masuklah kalian melalui pintu-pintu neraka jahannam tersebut, sedangkan kalian kekal di dalamnya.

Maka neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.

(QS Az-Zumar: 71-72)

• Ketiga | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajah-wajah mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلَّذِينَ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ شَرٌّ۬ مَّكَانً۬ا وَأَضَلُّ سَبِيلاً۬

“Orang-orang yang dikumpulkan ke neraka jahanam dengan berjalan di atas wajah-wajah mereka, mereka itulah orang-orang yang paling jelek kedudukan mereka dan paling sesat jalan mereka.”

(QS Al-Furqān: 34)

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

“Wahai Nabi Allāh, bagaimana orang kafir dikumpulkan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Bukankah yang telah menjadikan dia berjalan di atas kedua kakinya mampu untuk menjadikan dia berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

• Keempat | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di atas wajah-wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.”

(QS Al-Isrā’: 97)

Ada sebagian ulamā yang mengatakan bahwasanya mereka buta, bisu dan tuli tidak dalam semua keadaan.

• Kelima | Mereka akan dikumpulkan bersama teman-teman mereka dan sesembahan-sesembahan mereka.

Dan akan saling menyalahkan di antara mereka, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam neraka.

( Lihat QS Ash-Shāffāt: 22-32)

• Keenam | Sebelum mereka sampai ke neraka, mereka akan mendengar suara neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٍ۬ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظً۬ا وَزَفِيرً۬ا

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara neraka yang bergemuruh karena marah.”

(QS Al-Furqān: 12)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dan keluarga kita dari neraka jahanam dan memasukkan kita ke dalam surganya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 50 Dikumpulkannya Orang-orang Kafir di Dalam Neraka

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 50 Dikumpulkannya Orang-orang Kafir di Dalam Neraka

Halaqah – 50 Dikumpulkannya Orang-orang Kafir di Dalam Neraka

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Dikumpulkannya Orang-orang Kāfir ke dalam Neraka”

Setelah hisāb di Padang Mahsyar selesai, maka mulailah dipisah antara penduduk Surga dan penduduk Neraka secara bertahap.

Al-Imām Bukhāri dan Muslim meriwayatkan dalam shahīhnya dari Abū Said Al-Khudry Radhiyallāhu ‘anhu dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bahwasanya kelak di hari kiamat akan ada yang memanggil dan memerintahkan setiap umat untuk mengikuti Tuhan yang dia sembah di dunia.

Maka tidaklah ada manusia yang menyembah selain Allāh seperti patung dan batu, kecuali dia akan berjatuhan ke dalam neraka.

Sehingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang berimān baik yang shālih maupun yang fasik dan sebagian kecil atau sisa ahlul kitāb yaitu orang Yahūdi dan Nasrani.

Dikatakan kepada orang Yahūdi:

Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, ” Kami dahulu menyembah Uzair, anak Allāh”. Dikatakan kepada mereka, “Kalian telah berdusta. Allāh tidak memiliki istri dan anak.”

Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus”. Maka berilah kami air minum, Karena saat itu Allāh memperlihatkan kepada mereka Jahannam yang dari jauh seperti air.

Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air tersebut, dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mau mendatanginya?

Maka mereka pun dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani:

Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, “Kami dahulu menyembah ‘Īsā anak Allāh” Dikatakan kepada mereka,” Kalian telah berdusta” Allāh tidak memiliki istri dan anak. Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus, maka berilah kami air minum” Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mendatanginya? Akhirnya mereka pun juga dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Dan di dalam hadīts Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu yang juga dikeluarkan oleh Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya Allāh akan berkata kepada manusia:

“Barang siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah mengikutinya”.

Maka penyembah matahari akan mengikuti matahari, penyembah bulan akan mengikuti bulan, penyembah thaghut akan mengikuti thāghut.

Dan thāghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allāh.

Kemudian tersisalah umat Islām dan bersama mereka orang-orang munāfiq.

Di dalam hadīts ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya orang-orang yang dahulu menyembah Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām , maka akan mengikuti syaithān Nabi ‘Īsā yang diserupakan dengan beliau.

Dan yang dahulu menyembah Uzair, maka akan mengikuti syaithān Uzair yang diserupakan dengan beliau

(Hadīts Shahīh Riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir).

Demikianlah keadaan orang-orang yang menyembah kepada selain Allāh baik orang-orang musyrikin maupun ahlul kitāb, orang Yahūdi dan Nasrani.

Mereka akan dipisahkan dari orang-orang yang menyembah Allāh saja.

Yang mencakup orang-orang yang benar-benar menyembah Allāh , mereka lah orang-orang yang berimān maupun orang-orang yang pura-pura menyembah Allāh.

Dan mereka lah orang-orang munāfiq.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print