Kamis, 19 Juni 2025

Halaqah – 64 Masuknya Orang-orang Yang Beriman Ke Dalam Surga Bagian 2

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 64 Masuknya Orang-orang Yang Beriman Ke Dalam Surga Bagian 2

Halaqah – 64 Masuknya Orang-orang Yang Beriman Ke Dalam Surga Bagian 2

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Masuknya orang-orang Yang Berimān Kedalam Surga Bagian Kedua”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyebutkan di dalam hadīts Abdullah bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim tentang orang yang terakhir masuk surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan paling terakhir masuk ke dalam surga. Seorang laki-laki keluar dari neraka dalam keadaan merayap.

Maka berkata kepadanya:

“Pergilah dan masuklah ke dalam surga”

Diapun mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata:

“Wahai Rabb-ku aku mendapatkan surga sudah penuh”

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah”

Maka dia mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata:

“Wahai Rabb-ku, aku mendapatkan surga sudah penuh”

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah”

Maka sungguh untukmu semisal dengan dunia dan sepuluh kali lipat dari dunia, Atau bagimu sepuluh kali lipat dari dunia.

Maka hamba tersebut berkata,

Apakah Engkau mengejekku? Atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja?

Berkata Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu:

“Sungguh aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.”

Dikatakan bahwa orang ini adalah penduduk surga yang paling rendah tingkatannya.

⇒Pintu-pintu surga ada delapan

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ

“Di dalam surga ada delapan pintu, di antaranya sebuah pintu yang bernama arrayyan, tidak memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dari Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu )

⇒Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan beberapa nama dari pintu-pintu surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang menginfāqkan dua unta di jalan Allāh , maka akan dipanggil dari Pintu-pintu surga, Wahai ‘Abdullāh ini adalah baik, Maka barang siapa yang termasuk ahli shalāt, dia akan dipanggil dari pintu shalāt. Dan barang siapa yang termasuk ahli jihād , maka akan dipanggil dari pintu jihād. Dan barang siapa yang termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu arrayyan, Dan barang siapa yang termasuk ahli shadaqah, maka akan dipanggil dari pintu shadaqah”

Berkata Abū Bakar Radhiyallāhu ‘anhu:

Tebusanku bapak dan ibuku ya Rasūlullāh, Tidak ada yang rugi dipanggil dari pintu manapun. Apakah ada yang dipanggil dari semua pintu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, Iya….. dan aku berharap engkau termasuk mereka.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim )

⇒Orang yang memperbaiki wudhunya kemudian membaca dua kalimat syahadat, maka akan dibuka untuknya 8 pintu surga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya kemudian berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Kecuali akan dibuka untuknya 8 pintu surga, silakan dia memasuki dari mana saja yang ia kehendaki”

(Hadīts Riwayat Musim)

⇒Delapan pintu surga ini dibuka setiap tahun di bulan Ramadhān.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan Ramadhān, maka akan dibuka Pintu-pintu surga dan akan ditutup pintu-pintu Jahanam dan akan dibelenggu syaithān-syaithān.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepi seperti jarak antara kota Mekkah dan kota Busra atau kota Mekkah dan kota Hajar.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim )

⇒Hajar adalah kota masyhur di Bahrain.
⇒Busra adalah kota masyhur di Suria.

Apabila diukur maka jarak antara kota Mekkah dengan kedua kota tersebut kurang lebih 1200 km.

Di dalam hadits yang lain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepinya 40 tahun perjalanan.

(Hadīts Riwayat Muslim )

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan jalan kita menuju surga.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 63 Masuknya Orang-orang Yang Beriman ke Dalam Surga Bagian 1

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 63 Masuknya Orang-orang Yang Beriman ke Dalam Surga Bagian 1

Halaqah – 63 Masuknya Orang-orang Yang Beriman ke Dalam Surga Bagian 1

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimā Kepada Hari Akhir adalah tentang “Masuknya Orang-orang Yang Berimān Ke Dalam Surga Bagian Pertama”

Setelah dibersihkan hatinya, maka orang-orang yang berimān akan digiring menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan.

Allāh akan kembali memuliakan Nabi-Nya di hadapan orang-orang yang berimān.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) akan diizinkan untuk memberikan syafa’at bagi calon penduduk surga, supaya dibukakan pintu surga.

Syafa’at ini juga termasuk syafa’at khusus bagi beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Beliaulah (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) yang pertama kali akan mengetuk pintu surga.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda:

وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Dan akulah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) juga bersabda:

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat, Kemudian aku minta untuk dibuka.

Berkatalah penjaga surga, siapa kamu?

Aku menjawab, “Muhammad”

Penjaga pintu surga berkata:

“Denganmulah aku diperintah, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Dibukalah pintu surga dan masuklah penduduk surga dengan disambut oleh para malāikat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka akan digiring ke surga secara berombongan, Sehingga apabila mereka sampai ke surga, dan pintu-pintunya telah dibuka, dan berkatalah penjaga-penjaga pintu surga kepada mereka,”Salam atas kalian”.

Kalian telah baik, maka masuklah kalian ke dalam surga, sedang kalian kekal di dalamnya.

Dan mereka mengucapkan:

“Segala puji bagi Allāh yang telah memenuhi janjinya untuk kami dan telah memberi kami tempat ini, Kami diperkenankan menempati tempat di dalam surga dimana saja kami kehendaki, Maka surga itulah sebaik-baiknya balasan bagi orang-orang yang beramal.”

(QS Az-Zumar: 73-74)

Umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, merekalah yang pertama kali masuk surga sebelum umat yang lain.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Kita adalah umat terakhir tapi akan menjadi yang pertama di hari kiamat. Dan kita yang pertama kali akan masuk surga.”

(Hadīts riwayat Bukhāri Muslim)

Rombongan pertama dari umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan masuk surga, wajah-wajah mereka terang seperti bulan di malam bulan purnama

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu )

Di dalam hadīts Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan masuk surga dari umatku 70.000 atau 700.000 (keraguan dari perawi hadīts), Mereka saling bergandengan tangan di antara mereka sehingga masuklah awal mereka dan akhir mereka ke dalam surga, Wajah-wajah mereka seperti cahaya bulan di malam bulan purnama. Ada yang mengatakan merekalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisāb dan tanpa azab.

Dan sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

⇒Sehingga masuklah awal mereka dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya mereka akan masuk ke dalam surga dalam keadaan satu shaf secara serentak, Dan ini menunjukkan sangat besarnya pintu surga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya orang-orang faqīr muhajirin akan lebih dahulu masuk ke dalam surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya muhajirin.

(Hadīts Riwayat Muslim )

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Rabu, 18 Juni 2025

Halaqah – 62 Al-Qontoroh dan Qisos Antara Orang-orang Yang Beriman

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 62 Al-Qontoroh dan Qisos Antara Orang-orang Yang Beriman

Halaqah – 62 Al-Qontoroh dan Qisos Antara Orang-orang Yang Beriman

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 62 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Qantharah Dan Qishāsh Diantara Orang-orang Yang Berimān”

◆ Secara bahasa

Al-Qantharah secara bahasa adalah jembatan.

◆ Secara syar’iat

Al-Qontoroh adalah jembatan lain setelah sirāth yang terletak antara neraka dan surga (tempat berkumpulnya orang-orang yang berimān setelah melewati neraka sebelum masuk ke dalam surga).

⇒Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya Al-Qantarah ini.

Tempat akan dibersihkan hati-hati orang yang berimān dengan di qishāsh di antara mereka.

⇒Dan ini menunjukkan keadilah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

“Orang-orang yang berimān yang selamat dari neraka, mereka akan ditahan di Al-Qantharah (antara surga dan neraka) Kemudian di qishāsh kezhāliman-kezhāliman yang terjadi di antara mereka di dunia.

Sehingga apabila sudah dibersihkan dan disucikan, mereka akan diizinkan untuk masuk surga.

Dan demi dzat Yang Jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, Sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Yang akan dibersihkan di sini adalah ghill yang ada di dalam hati orang-orang yang berimān (hasad, dendam, kebencian dan lain-lain) yang kadang terjadi di antara mereka.

Semakin bersih hati seseorang di dunia dari ghill maka akan semakin sebentar qishāsh-nya dan akan semakin cepat dia masuk ke dalam surga.

Sebaliknya, semakin banyak ghill (hasad, dendam dan kebencian kepada sesama orang yang berimān) maka akan semakin lama qishāshnya dan semakin lama dia masuk ke dalam surga.

⇒Qishāsh di Al-Qantharah ini terjadi di antara orang-orang berimān saja, dengan maksud pembersihan hati.

Adapun qishāsh di Padang Mahsyar, maka untuk semua makhluk (kāfir maupun yang mukmin) Yang mencakup qishāsh karena kezhāliman harta, fisik maupun kehormatan.

Apabila sudah bersih dari ghill barulah mereka bisa masuk surga, Karena tidak masuk surga kecuali orang yang sudah benar-benar bersih dan baik keadaannya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَزَعۡنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٲنًا عَلَىٰ سُرُرٍ۬ مُّتَقَـٰبِلِينَ

“Dan Kami akan hilangkan ghill dari dada-dada mereka”.

(QS Al-Hijr : 47)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla membersihkan hati kita dan saudara-saudara kita dari hasad, dendam dan kebencian yang tidak dibenarkan dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mudah untuk memaafkan orang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 61 Syafaat Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian 3

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 61 Syafaat Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian 3

Halaqah – 61 Syafaat Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian 3

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberikan syafa’at bagi dua dan tiga orang.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَشْفَعُ لِلرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ

“Sesungguhnya seseorang sungguh akan memberikan syafa’at bagi dua orang dan tiga orang”

(Hadīts Shahīh Riwayat Al-Bazzar)

⇒Para syuhada akan Allāh berikan kesempatan untuk memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَشْفَعُ الشَّهِيدُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Orang yang mati syahīd akan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd)

Sebuah kebahagiaan yang luar biasa, seseorang memberi syafa’at untuk orang tua, anak-anak, istri dan saudara-saudaranya di saat mereka sangat membutuhkan.

Ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberi syafa’at untuk orang banyak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan masuk surga lebih dari jumlah Bani Taamim dengan sebab syafa’at satu orang dari umatku,

Dikatakan kepada beliau,

“Yā Rasūlullāh, apakah orang itu adalah selain dirimu?”

Beliau menjawab:

“Iya, dia adalah orang lain selain diriku.”

(Hadīts Riwayat At-Tirmidzi)

⇒Bani Taamim adalah kabilah yang terkenal besar di zaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Semakin besar imān seseorang, maka akan semakin besar harapan untuk bisa memberi syafa’at kepada orang lain.

Orang yang banyak melaknat orang lain di dunia tidak bisa memberikan syafa’at di hari kiamat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:


إِنَّ الّلَعَانِيْنَ لَا يَكُوْنُوْنَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafa’at di hari kiamat.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Anak-anak orang yang berimān yang meninggal sebelum dewasa akan memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Anak-anak kecil dari orang-orang yang berimān akan menjadi daanish surga”

⇒Arti daanish adalah jentik-jentik nyamuk yang senantiasa ada di kolam.

Maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya anak-anak kecil tersebut pasti akan masuk surga dan tidak akan pernah meninggalkannya.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Salah seorang di antara mereka menemui ayahnya atau kedua orang tuanya kemudian memegang pakaian atau memegang tangannya seperti aku mengambil ujung pakaianmu ini, Maka dia tidak akan melepaskan pegangannya sampai Allāh memasukkan dia dan kedua orangtuanya ke dalam surga.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Ini adalah kabar gembira bagi setiap orang tua yang bersabar ketika diuji oleh Allāh dengan meninggalnya anak yang belum dewasa.

Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk seorang hamba” Puasa berkata,

Wahai Rabb-ku aku telah menahannya dari makan dan syahwatnya di siang hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.

Al Qurān berkata:

Wahai Rabb-ku sesungguhnya aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, Maka terimalah syafa’atku untuknya.

Maka diterimalah syafa’at keduanya.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Ahmad di dalam Musnad beliau).

Ini adalah dorongan bagi seseorang untuk berpuasa karena Allāh dan menjaga adab-adabnya. Dan dorongan untuk membaca Al Qurān karena Allāh dan menunaikan hak-haknya. Demikianlah mereka akan memberikan syafa’at setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagai bentuk pemuliaan Allāh kepada mereka.

Orang-orang yang bertauhīd sajalah yang akan mendapatkan syafa’at.

Adapun orang-orang musyrik, orang-orang kāfir dan orang-orang munāfiq, maka mereka tidak akan mendapatkan syafa’at.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ

“Maka tidak akan bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberikan syafa’at.”

(QS Al-Mudatsir : 48)

Orang-orang yang berdo’a kepada nabi atau malāikat atau Orang-orang yang shālih dengan alasan ingin mendapatkan syafa’at mereka, justru tidak mendapatkan syafa’at, karena mereka telah membatalkan imān mereka dengan menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah – 60 Syafaat Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian 2

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Hari Akhir > Halaqah – 60 Syafaat Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian 2

Halaqah – 60 Syafaat Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian 2

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-60 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Kedua”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk umatnya, para pelaku dosa besar yang disiksa di dalam neraka.

Di dalam hadīts Anas bin Mālik Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, bahwasanya Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan meminta izin kepada Allāh untuk memberi syafā’at dan beliau diizinkan.

Maka Allāh akan mengilhamkan kepada beliau pujian-pujian yang sebelumnya tidak pernah diajarkan kepada beliau di dunia.

Dan beliau bersujud, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah….. engkau akan didengar perkataanmu,
Mintalah……. maka kamu akan diberi, dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah engkau dan keluarkanlah dari neraka orang yang didalam hatinya ada iman sebesar biji gandum.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan sujud kepada-Nya, maka dikatakan kepada beliau,

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah……. maka akan didengar perkataanmu.
Mintalah….. maka kamu akan diberi. Dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah engkau dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman sebesar dzarrah atau qardalah yaitu biji sawi.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh dan sujud kepada-Nya, dikatakan kepada beliau,

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah….. niscaya akan didengar perkataanmu.
Mintalah…… niscaya akan diberi permintaanmu dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah kamu dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman yang lebih kecil dan lebih kecil dari sebuah biji sawi.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian keempat kalinya beliau datang dan kembali memuji dan sujud kepada Allāh, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu” Berkatalah…….. niscaya akan didengar perkataanmu.
Mintalah……. maka kamu akan diberi, dan berikanlah syafaat, niscaya akan diterima syafaatmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, izinkan aku untuk memberikan syafā’at kepada setiap orang yang mengatakan ” لا إله إلّا الله “.

Maka Allāh berkata:


Demi keperkasaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, dan kemuliaan-Ku sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengatakan ” لا إله إلّا الله “.

Maksudnya adalah orang yang mengatakan لا إله إلّا الله ikhlās dari hatinya dan tidak membatalkannya dengan kesyirikan.

Di dalam shahīh Bukhāri disebutkan bahwasanya di antara amalan yang bisa menjadi sebab kita mendapatkan syafā’at Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam di akhirat adalah membaca doa setelah mendengar ādzān, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّة وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Dan di antara amalan tersebut adalah bersabar atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madināh, kemudian meninggal di dalamnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا

“Tidaklah bersabar seseorang atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madināh kemudian dia meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafā’at untuknya atau pemberi saksi untuknya di hari kiamat, apabila dia adalah orang islam.”

(Hadīts Riwayat Muslim )

Ada dua golongan dari umat Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang tidak akan mendapatkan syafā’at beliau
Shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Beliau bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ

“Dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafa’atku, pemimpin yang dzalim dan setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam agama”

(Hadīts Hasan Riwayat At-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabiir ).

Kita memohon kepada Allāh semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerima syafā’at Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print