Sabtu, 09 Agustus 2025

Halaqah 18 ~ Kitab Al-Quran Bagian 4

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 18 ~ Kitab Al-Quran Bagian 4

Halaqah 18 ~ Kitab Al-Quran Bagian 4

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Qurān (Bagian 4)”.
Allāh ‘Azza wa Jalla juga mensifati Al-Qurān dengan beberapa sifat yang memiliki makna yang agung yang juga menunjukkan keutamaannya.
Diantara sifat-sifat tersebut:
■ SIFAT PERTAMA | ‘AZĪZ
Artinya: yang mulia, dimuliakan oleh Allāh dengan dijaga dari segala perubahan.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dengan adz-dzikru (yaitu Al-Qurān) ketika datang kepada mereka dan sesungguhnya dia adalah kitab yang mulia.” (QS Fushshilat: 41)

■ SIFAT KEDUA | MAJĪD
Artinya: agung lagi mulia.
⇒Maksudnya: agung maknanya dan luas ilmunya.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ

“Bahkan dia adalah Al-Qurān yang agung.” (QS Al-Burūj: 21)

■ SIFAT KETIGA | KARĪMUN
Artinya: mulia lagi banyak manfaatnya, besar kebaikannya dan dalam ilmunya.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya dia adalah Al-Qurān yang mulia.” (QS Al-Wāqi’ah: 77)

■ SIFAT KEEMPAT | MUBĀRAK
Artinya: yang berbarakah (yang banyak manfaatnya dan banyak membawa kebaikan).
⇒ Kebaikan bagi yang membacanya, yang menghafalnya, yang mendengarnya, yang mentadabburinya, maupun yang mengamalkannya.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ

“Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan berbarakah membenarkan apa yang datang sebelumnya.” (QS Al-An’ām: 92)
Diantara sifat-sifat Al-Qurān adalah,
■ SIFAT KELIMA | FASHL
Artinya: yang benar dan jelas, memisahkan antara yang haq dan yang bāthil.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ

“Sesungguhnya dia (yaitu Al-Qurān) adalah ucapan yang memisahkan (yaitu antara yang haq dan yang bāthil).” (QS Ath-Thāriq: 13)

Dan diantara sifat Al-Qurān adalah,
■ SIFAT KEENAM | HAKĪM
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

الم (١) تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (٢) هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ (٣)

“Alif Lam Mim. Itu adalah ayat-ayat kitab yang hakīm, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS Luqmān: 1-3)
Hakīm artinya:
•✓Memiliki hikmah dan kebijaksanaan yang mendalam.
•✓Ayat-ayatnya muhkam, yaitu kokoh.
⇒ Dia kokoh karena:
⑴ Datang dengan lafazh yang paling fasih dan jelas yang mengandung makna yang dalam.
⑵ Tidak mungkin dirubah.
⑶ Kabar-kabar yang ada di dalamnya benar sesuai dengan kenyataan.
⑷ Tidak memerintah kecuali dengan sesuatu yang merupakan kebaikan bagi manusia dan tidaklah melarang kecuali dari sesuatu yang merupakan keburukan bagi manusia.
⑸ Tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya.
Dan diantara sifat Al-Qurān adalah,

■ SIFAT KETUJUH | BERBAHASA ARAB YANG JELAS
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ (١٩٥)

“Dan sesungguhnya Al-Qurān diturunkan dari Rabb semesta alam, turun dengannya Ar-Rūhul Amīn (yaitu Jibrīl) atas hatimu supaya engkau termasuk orang-orang yang memberikan peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS Asy-Syuarā: 192-195)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 17 ~ Kitab Al-Quran Bagian 3

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 17 ~ Kitab Al-Quran Bagian 3

Halaqah 17 ~ Kitab Al-Quran Bagian 3

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Qurān (Bagian 3)”.
Al-Qurān memiliki nama-nama yang banyak yang menunjukkan keutamaannya,
diantaranya :
■ Pertama | AL-QURĀN
✓Ini adalah nama yang paling banyak di dalam Al-Qurān dan inilah yang paling masyhūr.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qurān? Dan seandainya itu dari selain Allāh niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.” (QS An-Nisā: 82)
■ Kedua | AL-KITĀB
Artinya “kitab”, dari kata كَتَبَ yang artinya “mengumpulkan”.
⇒ Dinamakan demikian karena dia mengumpulkan huruf dengan huruf, ayat dengan ayat, surat dengan surat.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ

“Apakah kepada selain Allāh aku mencari hakim? Padahal Dialah yang menurunkan Al-Kitāb (yaitu Al-Qurān) secara terperinci.” (QS Al-An’ām: 114)
■ Ketiga | KITĀBULLĀH
Artinya “kitab Allāh”.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitābullāh dan mendirikan shalat dan berinfaq dari sebagian harta yang Kami rezekikan kepadanya, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS Fāthir: 29)
■ Keempat | AL-FURQĀN
Artinya “yang membedakan”, karena dia membedakan;
• Yang benar dengan yang bathil.
• Petunjuk dan kesesatan.
• Yang halal dan yang haram.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Sungguh berbarakah Zat yang telah menurunkan Al-Furqān (yaitu Al-Qurān) kepada hambaNya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqān: 1)
■ Kelima | ADZ-DZIKRU
✓Ada yang mengatakan artinya adalah “peringatan”, karena di dalamnya ada peringatan dan nasehat.
✓Dan ada yang mengatakan artinya adalah “penyebutan”, karena di dalam Al-Qurān disebutkan banyak permasalahan dan dalil-dalil yang jelas.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikru (yaitu Al-Qurān) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS Al-Hijr: 9)
Diantara nama-nama Al-Qurān adalah,
■ Keenam | HABLULLĀH
Artinya “tali Allāh”.
Dinamakan demikian karena dia menyampaikan kepada ridha Allāh.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

“Dan hendaklah kalian semua berpegang teguh dengan hablullāh (yaitu Al-Qurān) dan janganlah kalian saling berpecah belah.” (QS Āli ‘Imrān: 103)
Di dalam sebuah hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: (وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي)

“Dan aku tinggalkan di antara kalian 2 perkara yang berat; yang pertama Kitābullāh, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah dengan kitabullāh dan berpeganglah dengannya. Maka beliaupun menganjurkan dan mendorong untuk berpegang teguh dengan kitabullāh. Kemudian Beliau berkata: ‘Dan keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allāh tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allāh tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allāh tentang keluargaku’.” (HR Muslim)
Di dalam sebuah riwayat, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أحدهما كتاب الله عز وجل هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على ضلالة

“Yang pertama di antara keduanya adalah Kitābullāh, dia adalah hablullāh. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk dan barangsiapa meninggalkannya maka dia di atas kesesatan.”
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Kamis, 17 Juli 2025

Halaqah 16 ~ Kitab Al-Quran Bagian 2

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 16 ~ Kitab Al-Quran Bagian 2

Halaqah 16 ~ Kitab Al-Quran Bagian 2

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Qurān (Bagian 2)”.
Diantara keistimewaan Al-Qurān,
■ Keistimewaan Keempat | Al-Qurān diturunkan secara berangsur-angsur.
Al-Qurān Allāh turunkan dari Lauhul Mahfūzh ke langit dunia di bulan Ramadhān, pada malam Laylatul Qadr.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhān yang diturunkan di dalamnya Al-Qurān.” (QS Al-Baqarah: 185)
Dan Allāh berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qurān di malam Laylatul Qadr.” (QS Al-Qadr: 1)

◆ Kemudian, turun Al-Qurān secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian dan peristiwa selama 23 tahun.
✓Ada di antaranya yang turun sebelum hijrahnya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke kota Madinah yang dinamakan surat-surat Makiyyah.
✓Dan ada diantaranya yang turun setelah hijrah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke kota Madīnah yang dinamakan dengan surat-surat Madaniyyah.
◆ Dan diantara hikmah turunnya Al-Qurān secara berangsur-angsur adalah agar lebih mudah dihafal, dimengerti dan diamalkan.
Allāh berfirman:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا

“Dan Al-Qurān telah Kami pisah-pisahkan (yaitu diturunkan secara berangsur-angsur) supaya engkau wahai Muhammad membacakannya atas manusia pada beberapa waktu dan sungguh Kami telah benar-benar menurunkannya secara bertahap.” (QS Al-Isrā: 106)
Dan Allāh berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Dan berkata orang-orang kafir seandainya diturunkan kepadanya Al-Qurān dengan sekali turun, demikianlah supaya Kami tetapkan hatimu dengannya dan Kami telah menjelaskan Al-Qurān dengan perlahan.” (QS Al-Furqān: 32)
Dan diantara keistimewaan Al-Qurān,
■ Keistimewaan Kelima | Al-Qurān adalah muhaymin bagi kitab-kitab sebelumnya.
Allāh berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitāb dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaymin kitab-kitab sebelumnya.” (QS Al-Māidah: 48)
⇒ Yang dimaksud dengan muhaymin adalah:
• Yang menjadi saksi
• Yang menghukumi
• Yang mengemban amanat
⇒ Maksudnya: apa yang sesuai dengannya berarti benar dan menyelisihinya berarti salah.
Diantara keistimewaan Al-Qurān,
■ Kesitimewaan Keenam | Bahwasanya Al-Qurān diturunkan agar menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan jin dan bukan untuk bangsa tertentu saja.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً

“Sungguh berbarakah Zat yang telah menurunkan Al-Furqān (yaitu Al-Qurān) kepada hambanya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqān: 1)
◆ Seandainya seorang nabi yang diutus kepada kaum tertentu hidup di zaman Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam niscaya dia diharuskan mengikuti Al-Qurān dan mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتْبَعَنِي‏

“Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya Mūsā hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.” (Hadits Hasan Riwayat Imām Ahmad)
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 15 ~ Kitab Al-Quran Bagian 1

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Halaqah 15 ~ Kitab Al-Quran Bagian 1

Halaqah 15 ~ Kitab Al-Quran Bagian 1



Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Qurān (Bagian 1)”.

● PENGERTIAN AL-QURĀN SECARA BAHASA
Al-Qurān secara bahasa adalah mashdar dari قَرَأَ, artinya جَمَعَ (yaitu mengumpulkan)
Dinamakan demikian karena Al-Qurān mengumpulkan kisah-kisah, perintah-perintah, larangan-larangan, pahala dan juga ancaman dan juga mengumpulkan ayat-ayat serta surat-surat satu dengan yang lain.
● PENGERTIAN AL-QURĀN SECARA SYARI’AT
Adapun secara syari’at, maka Al-Qurān adalah kalāmullāh yang diturunkan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melalui Jibrīl ‘alayhissalām dan ditulis di dalam mushaf dari awal surat Al-Fātihah sampai akhir surat An-Nās.
Allāh telah memberikan keistimewaan yang banyak terhadap Al-Qurān yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya, diantaranya:
■ Keistimewaan Pertama | Al-Qurān wajib diimani secara terperinci
Yaitu dengan:
✓Dibenarkan kabar-kabarnya.
✓Dijalankan perintahnya.
✓Dijauhi larangan-larangannya.
✓Dilaksanakan nasehatnya.
✓Berhukum dengan Al-Qurān di dalam perkara yang kecil maupun yang besar.
✓Dan beribadah kepada Allāh dengan cara yang tercantum di dalamnya dan di dalam sunnah RasulNya shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

■ Keistimewaan Kedua | Al-Qurān adalah mu’jizat yang abadi
Seandainya seluruh ahli bahasa bersatu untuk mendatangkan yang semisal Al-Qurān, niscaya mereka tidak akan mampu.
Allāh berfirman:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيراً

“Katakanlah: Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Qurān niscaya mereka tidak bisa mendatangkan yang semisalnya meskipun sebagian membantu sebagian yang lain.” (QS Al-Isrā: 88)
Dan di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلّاَ أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَة

“Tidak ada seorang Nabi kecuali diberi ayat-ayat (yaitu tanda-tanda kekuasan Allāh atau mu’jizat) yang seharusnya beriman dengannya manusia. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allāh wahyukan kepadaku (yaitu Al-Qurān) maka aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR Bukhāri dan Muslim)
Diantara keistimewaan Al-Qurān,
■ Keistimewaan Ketiga | Allāh telah berjanji untuk menjaganya dari pengubahan, baik lafazh maupun maknanya
⇒ Dijaga lafazhnya sehingga tidak bisa ditambah dan tidak dikurangi.
⇒ Dan dijaga maknanya dari makna-makna yang menyimpang.
Allāh berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (yaitu Al-Qurān) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS Al-Hijr: 9)
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Al-Qurān tidak didatangi kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Terpuji.” (QS Fushshilat: 42)
Oleh karena itu, Allāh menyiapkan di sana;
• Orang-orang yang menghafal Al-Qurān.
• Para ulama yang menerangkan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Al-Qurān dari masa ke masa, dari zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampai zaman kita dan sampai Allah mengangkat Al-Qur’an di akhir zaman.
Mereka;
✓Menghafal dan memahami maknanya dan istiqamah di dalam mengamalkannya.
✓Mengkhidmah Al-Qurān dengan berbagai cara;
• Ada yang menulis tafsirnya baik yang singkat maupun yang panjang lebar.
• Ada yang mengarang tentang:
⑴ Cara penulisannya
⑵ Cara membacanya
⑶ Tentang i’rabnya
⑷ Dan lain-lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 14 ~ Kitab Al-Injil Bagian 3

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 14 ~ Kitab Al-Injil Bagian 3

Halaqah 14 ~ Kitab Al-Injil Bagian 3

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Injīl (Bagian 3)”.
Diantara kesalahan yang ada di dalam Al-Injīl yang tersebar sekarang adalah penyebutan nasab Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām kepada laki-laki.
[Sebagaimana dalam Injil Matius pasal 1 ayat 1-17 dan di dalam Injil Lucas pasal 3 ayat 23-38] Padahal Allāh telah mengabarkan di dalam Al Qurān bahwa Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām lahir dari:
✓Seorang wanita tanpa disentuh laki-laki
✓Seorang wanita yang shālihah, bukan wanita pezina
✓Bukan wanita yang bersuami
Sebagai tanda kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

“Maryam berkata, “Bagaimana aku memiliki anak laki-laki, padahal tidak ada laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan wanita pezina.” Jibrīl berkata, “Demikianlah dikatakan oleh Rabbmu. Dia berkata, ‘Yang demikian mudah bagiKu dan supaya Kami jadikan dia (yaitu ‘Īsā) sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan itu adalah perkara yang sudah diputuskan’.” (QS Maryam: 20-21)
Oleh karena itu, Allāh menyebutkan di dalam Al Qurān:
• ‘ĪSĀ BIN MARYAM
⇒ Sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah 87 dan juga yang lain.
• AL-MASĪH BIN MARYAM
⇒ Sebagaimana dalam Surat Al-Māidah ayat 17 dan juga yang lain.
• AL-MASĪH ‘ĪSĀ BIN MARYAM
⇒ Sebagaimana dalam QS Āli ‘Imrān ayat 45 dan juga yang lain.
Apa yang tertulis di dalam Injil yang sekarang justru membenarkan aqidah orang Yahudi yang mengatakan bahwa “Nabi ‘Īsā adalah anak zina”.
Dan di sana ada perbedaan antara nasab ‘Īsā antara Injil Matius dan Injil Lukas;
● INJĪL MATIUS
Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa Nabi ‘Īsā adalah:
• Anak Yūsuf bin Ya’qūb bin Matan bin Ilyāzar dan seterusnya.
• Termasuk keturunan Nabi Sulaimān bin Dāwūd ‘alaihimāssalām.
● INJĪL LUKAS
Adapun di dalam Injil Lukas disebutkan bahwa beliau adalah:
• Anak Yūsuf bin Eli bin Matat bin Lewi dan seterusnya.
• Termasuk keturunan Natan bin Dāwūd ‘alaihissalām.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print