Rabu, 20 Agustus 2025

Halaqah-01 Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-01 Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul

Halaqah-01 Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Para Rasul Allah “Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul”

Diantara pokok-pokok keimanan yang harus di imani oleh seorang hamba adalah beriman kepada para Rasul Allah

Rasuulun adalah bentuk tunggal dari rusulun, rasuulun artinya utusan, rusulun artinya utusan-utusan, Rasulullah artinya para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. Allah berfirman :

…لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ…

“…Sunngguh Kami telah mengutus rasul rasul Kami dengan bukti bukti yang nyata…” (Al-Hadid 25)

Al-Quran, Assunnah dan Ijma’ kaum muslimin menunjukkan tentang wajibnya beriman dengan kepada para Rasul Allah dan kekufuran kepada rasul-rasul Allah adalah kekufuran kepada Allah.

Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (An-Nisa : 136)

Adapun dari Assunnah maka Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?

الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Beriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang buruk

Beliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul rasul Allah ‘azza wajalla.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Sabtu, 09 Agustus 2025

Halaqah 25 ~ Buah beriman dengan kitab-kitab Allah

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 25 ~ Buah beriman dengan kitab-kitab Allah

Halaqah 25 ~ Buah beriman dengan kitab-kitab Allah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Buah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh”.

Diantara buah beriman dengan kitab-kitab Allāh yang bisa kita petik adalah:

1 | Mendapatkan keutamaan-keutamaan beriman.
Diantaranya:
⑴ Hidayah di dunia
⑵ Keamanan di akhirat
⑶ Masuk ke dalam surga
⑷ Dan lain-lain
Karena beriman dengan kitab Allāh adalah bagian dari mewujudkan keimanan.

2 | Semakin mengetahui dan menyadari perhatian Allāh dan kasih sayangNya kepada makhluk.
Semakin mencintaiNya karena menurunkan kepada kita kitab yang berisi petunjuk dan cahaya supaya kita tenang di dunia dan bahagia di akhirat.
Kita tidak dibiarkan tersesat dan terombang-ambing dengan hawa nafsu dan syahwat.
Dan bagi yang ingin melihat kebesaran nikmat ini silakan dia melihat orang-orang yang hidup tanpa berpegang dengan kitab Allāh; mereka dalam keadaan resah, bimbang, bingung dan tidak tahu kemana arah hidupnya.

3 | Mengetahui hikmah Allāh dan kebijaksanaanNya karena memberikan kepada setiap kaum syari’at yang sesuai dengan keadaan mereka.
Dan Al-Qurān sebagai kitab terakhir sesuai untuk semua umat di setiap tempat dan masa sampai hari kiamat.

4 | Mengetahui bahwa petunjuk Allāh kepada manusia tidak terputus sampai hari kiamat.

5 | Semakin mencintai dan menghormati Al-Qurān dengan memperhatikan adab-adab ketika membacanya.
Demikian pula semakin mencintai orang-orang yang mencintai Al-Qurān.

6 | Membenci amalan-amalan yang bertentangan dengan Al-Qurān dan orang-orang yang melakukannya.

7 | Membangkitkan semangat untuk bersungguh-sungguh mencari hidayah dari Al-Qurān dengan membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi, mengamalkan, berhukum dengan Al-Qurān dan kembali kepada Al-Qurān ketika terjadi perselisihan.

8 | Bersemangat untuk membela kitab Allāh dengan menyebarkan aqidah yang benar tentangnya dan membongkar tuduhan dan keyakinan yang sesat yang ingin menurunkan kepercayaan terhadap Al-Qurān dan menjauhkan umat dari Al-Qurān.

9 | Bergembira dan bersyukur kepada Allāh atas karuniaNya yang besar.

الْحَمْدُ لِلَّه ِالَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

[Alhamdulillāh alladzī bini’matihi tatimmushshālihāt] Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-7 tentang Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh.
Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan sampai bertemu kembali pada Silsilah Ilmiyyah ke-8 tentang “Beriman Dengan Rasul-rasul Allāh.”

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 24 ~ Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 24 ~ Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh

Halaqah 24 ~ Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh”.
Diantara penyimpangan-penyimpangan di dalam hal iman dengan kitab-kitab Allāh:
1 | Mengingkari keseluruhan atau sebagian kitab-kitab Allāh meskipun hanya 1 huruf.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً بَعِيداً

“Dan barangsiapa yang kufur kepada Allāh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS An-Nisā: 136)
Berkata ‘Abdullāh Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu:

مَنْ كَفَرَ بِحَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ بِآيَةٍ مِنْهُ فَقَدْ كَفَرَ بِهِ كُلِّهِ

“Barangsiapa yang kufur atau mengingkari satu huruf dari Al-Qurān atau 1 ayat darinya maka sungguh dia telah kufur atau mengingkari keseluruhannya.”
[Atsar ini dikeluarkan oleh Ath-Thabariy di dalam tafsirnya]

2 | Mendustakan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab tersebut.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka sombong merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-A’rāf: 36)

3 | Melecehkan dan mengolok-olok.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: Apakah dengan Allāh, ayat-ayatNya dan rasulNya kalian mengolok-olok? Janganlah kalian minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” (QS At-Taubah 65-66)

4 | Membenci apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa petunjuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian karena mereka membenci apa yang Allāh turunkan maka Allāh membatalkan amalan-amalan mereka.” (QS Muhammad: 9)
Apabila seseorang membenci Al-Qurān yang di dalamnya ada petunjuk meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kufur.

5 | Meninggalkan Al-Qurān.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَقَالَ الرَّسُول ُيَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qurān sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqān: 30)
Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qurān mencakup:
• Tidak mau mendengarkannya.
• Tidak beramal dengannya.
• Tidak berhukum dengannya.
• Tidak mentadabburinya.
• Dan juga tidak mau berobat dengan Al-Qurān baik untuk penyakit hati maupun penyakit badan.
Diantara penyimpangan-penyimpangan dalam hal iman dengan kitab-kitab Allāh adalah:

6 | Ragu-ragu dengan kebenaran Al-Qurān.
7 | Berusaha untuk mengubah Al-Qurān baik lafazh maupun maknanya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 23 ~Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qurān (Taurat dan Injīl) Yang Telah Diubah

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 23 ~Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qurān (Taurat dan Injīl) Yang Telah Diubah

Halaqah 23 ~Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qurān (Taurat dan Injīl) Yang Telah Diubah

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang
“Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qurān (Seperti Taurat dan Injīl) Yang Telah Diubah”.
Para ulama menjelaskan bahwa hukum membacanya ada 2;
⑴ HARAM
Apabila maksudnya adalah mencari petunjuk di dalam kitab-kitab tersebut seakan-akan tidak mencukupkan dirinya dengan Al-Qurān.
Karena Allāh telah mengabarkan bahwa kitab-kitab tersebut sudah diubah, sudah tercampur antara yang haq dan yang bathil.
⇒ Yang bathil jelas kita tinggalkan.
⇒ Adapun yang haq, yang selamat dan tidak diubah maka Al-Qurān yang dijaga oleh Allāh dari perubahan telah mencukupi kita.
◆ Tidak ada kebaikan yang kita butuhkan di dalam agama kita kecuali sudah diterangkan di dalam Al-Qurān.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Apakah tidak mencukupi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab yang dibacakan atas mereka? Sesungguhnya di dalamnya ada rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman.” (QS Al-‘Ankabūt: 51)
Dari Jābir Ibnu ‘Abdillāh radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa ‘Umar Ibnu Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu mendatangi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan membawa sebuah kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab kemudian membacakannya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam marah seraya berkata: ‘Apakah engkau bingung di dalam agamamu, wahai putra Al-Khaththāb?
Dan demi Zat yang jiwaku berada ditanganNya, sungguh aku telah mendatangi kalian dengan sesuatu yang putih bersih.
Janganlah kalian bertanya kepada mereka (yaitu Ahlul Kitab) tentang sesuatu karena mungkin mereka mengabarkan kepada kalian dengan kebenaran kemudian kalian mendustakannya atau mereka mengabarkan yang bathil kemudian kalian membenarkannya.
Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya Mūsā masih hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.”
(Hadits hasan riwayat Imām Ahmad)

Al-Imām Al-Bukhāriy rahimahullāh menyebutkan di dalam Shahīh Bukhāri, ucapan ‘Abdullāh Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā. Beliau mengatakan:
“Bagaimana kalian bertanya kepada Ahlul Kitāb tentang sesuatu sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih baru?
Kalian membacanya dalam keadaan bersih tidak tercampuri dan Allāh telah mengabarkan kepada kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti kitab Allāh dan mengubahnya.
Dan menulis kitab dengan tangan-tangan mereka dan mereka berkata ‘Ini adalah dari kitab Allāh’ dengan tujuan menjualnya dengan harga yang sedikit.
Bukankah ilmu yang datang kepada kalian telah melarang kalian untuk bertanya kepada mereka?
Tidak demi Allāh, kami tidak melihat seorangpun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.”
◆ Dikhawatirkan apabila seseorang membaca kitab-kitab tersebut akan membenarkan yang bathil atau mendustakan yang benar atau menjadi tersesat dan terfitnah agamanya.

⑵ BOLEH
Boleh hukumnya apabila dia:
• ⑴ Termasuk penuntut ilmu atau orang yang berilmu dengan Al-Qurān dan Hadits.
• ⑵ Kuat keimanannya dalam ilmu agamanya, khususnya tentang masalah ‘aqidah, tauhid dan lain-lain.
• ⑶ Dan tujuannya adalah ingin:
✓Membantah Ahlul Kitab.
✓Menerangkan penyimpangannya.
✓Menjelaskan pertentangan yang ada di dalam kitab tersebut.
✓Menunjukkan keistimewaan Al-Qurān.
✓Menyingkap syubhat mereka.
✓Dan juga menegakkan hujjah atas mereka.
Dari ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā; bahwasanya orang-orang Yahudi datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian mereka menyebutkan bahwa seorang laki-laki dan wanita di antara mereka telah berzina.
Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘Apa yang kalian temukan di dalam Taurat tentang masalah hukum rajam?’
Mereka berkata: ‘Kami akan membuka aib-aibnya dan mereka akan dicambuk.’
⇒ Maksudnya mereka mengingkari adanya ayat tentang rajam di dalam Taurat.
Kemudian ‘Abdullāh Ibnu Salām radhiyallāhu ‘anhu berkata: ‘Kalian telah berdusta, sesungguhnya di dalam Taurat ada ayat rajam.’
Kemudian mereka mendatangkan Taurat dan membukanya.
Salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam.
⇒ Maksudnya menutupi.
Kemudian membaca ayat sebelumnya dan setelahnya kemudian ‘Abdullāh Ibnu Salām berkata: ‘Angkatlah tanganmu!’
Maka dia mengangkat tangannya, maka di dalamnya ada ayat tentang rajam.
Mereka berkata: ‘Dia telah benar, wahai Muhammad, di dalamnya ada ayat tentang rajam.’
Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk merajam keduanya, kemudian keduanya dirajam.
Berkata ‘Abdullāh Ibnu Salām: ‘Maka aku melihat laki-laki tersebut memiringkan badannya ke arah wanita tersebut ingin melindunginya dari batu.
(HR Muslim)

Para ulama menulis kitab-kitab yang membantah Ahlul Kitab, dan membawakan di dalamnya beberapa nash dari kitab-kitab yang ada di tangan mereka sendiri, seperti:
• Ibnu Hazm, di dalam kitabnya Al-Fashlu Fīl Milali Wal Ahwāi.
(الفصل في الملل والأهواء)
• Abū ‘Abdillāh Al-Qurthubiy, di dalam kitabnya Al-‘I’lāmu Bimā Fī Dīnin Nashāra Minal Fasādi Wal Awhāmi Wa Izh-hāru Mahāsinil Islāmi.
(الإعلام بما في دين النصارى من الفساد والأوهام وإظهار محاسن الإسلام)
• Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Al-Jawābush Shahīhu Liman Baddala Dīnal Masīhi.
(الجواب الصحيح لمن بدّل دين المسيح)
• Ibnul Qayyim, di dalam Kitabnya Hidāyatul Hayāra Fī Ajwibatil Yahūdi Wan Nashāra
(هداية الحيارى في أجوبة اليهود والنصارى)
• Dan juga kitab-kitab yang lain.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 22 ~ Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Belum Dihapus (Naskh) Di Dalam Kitab-Kitab Allāh

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 22 ~ Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Belum Dihapus (Naskh) Di Dalam Kitab-Kitab Allāh

Halaqah 22 ~ Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Belum Dihapus (Naskh) Di Dalam Kitab-Kitab Allāh

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang
“Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Ada Di Dalam Kitab-Kitab Allāh”.
Diantara cara beriman dengan kitab-kitab Allāh;
⑷ Beramal, ridha dan berserah diri dengan hukum-hukum di dalam kitab-kitab tersebut, baik yang kita ketahui hikmahnya atau tidak.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidak pantas bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allāh dan RasūlNya sudah menetapkan sebuah perkara, kemudian mereka memiliki pilihan yang lain di dalam urusan mereka. Dan barangsiapa yang memaksiati Allāh dan rasulNya, maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzāb: 36)
Dan Allāh berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak menemukan rasa berat di dalam hati-hati mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerima dengan sebenarnya.” (QS An Nisā: 65)
Adapun hukum yang sudah dihapus, maka tidak boleh diamalkan, seperti:
• ‘Iddah 1 tahun penuh bagi wanita yang ditinggal mati suaminya.
⇒ Sebagaimana di dalam surat Al-Baqarah ayat 240.
Maka telah dihapus dengan ayat 234 dari Surat Al-Baqarah yang isinya bahwa:
✓Masa ‘iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari.
Dan semua kitab yang terdahulu secara umum hukum-hukumnya telah dihapus dengan Al-Qurān.
⇒ Artinya, tidak boleh seorangpun baik jin maupun manusia mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya, setelah datangnya Al-Qurān.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitāb (yaitu Al-Qurān) dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaymin kitab-kitab sebelumnya. Maka hendaklah engkau menghukumi diantara mereka dengan apa yang Allāh turunkan. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu bagi masing-masing dari kalian telah kami jadikan syariat dan juga jalan.”
(QS Al-Māidah: 48)

Bahkan Nabi Mūsā sekalipun yang diturunkan kepadanya Taurat harus berhukum dengan Al-Qurān, seandainya beliau masih hidup ketika Al-Qurān turun.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Zat yang jiwaku ada di tangannya, seandainya Mūsā hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.”
(HR Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh)
Oleh karena itu Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām salam yang diturunkan kepadanya Injīl di akhir zaman, ketika beliau turun akan berhukum dengan hukum Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print