Jumat, 05 September 2025

Halaqah-11 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 9

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-11 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 9

Halaqah-11 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 9

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang kesebelas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul adalah tentangCara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Kesembilan.

Diantara cara beriman kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah wajib beriman kepada para Rasul secara terperinci maupun secara global.
Iman yang terperinci maksudnya adalah beriman dengan nama-nama, kabar-kabar, kisah-kisah para Nabi yang datang didalam Al-Quran dan Sunnah yang shahihah.
Adapun iman secara global maka yang dimaksud adalah beriman bahwa Allah memiliki Nabi-nabi dan Rasul-rasul selain yang disebut namanya didalam Al-Quran dan Al-Hadits.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ

“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu diantara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu” (Ghafir : 78]

Barangsiapa yang mendustakan dan mengingkari kenabian salah seorang dari para Nabi yang telah disepakati kenabiannya maka pada hakikatnya dia telah mengingkari seluruh Nabi yang demikian karena inti ajaran para Nabi ‘alayhimussalam adalah sama dan mendustakan sebagian mereka sama dengan mendustakan yang lain. Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 105)

Mereka dianggap mendustakan para Rasul padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh, yang demikian karena mendustakan seorang Nabi sama dengan mendustakan semuanya.
Dan Allah berfirman

كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum ‘Ad mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 123)

Dan Allah berfirman

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Tsamud mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 141)

Dan Allah berfirman

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Luth telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 160)

Dan tidak datang kepada kaum Nabi Nuh (‘Ad Tsamud) dan kaum Nabi Luth kecuali seorang Rasul saja namun ketika mereka kafir terhadap Rasul tersebut maka pada hakikatnya mereka telah kafir kepada semua Rasul.
Orang yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ dan orang-orang Nashrani yang mengaku beriman dengan Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ kalau mereka kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, telah mengetahui kedatangan beliau mereka akan masuk kedalam Neraka.
Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya tidaklah mendengar seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa kecuali dia masuk ke dalam Neraka

Adapun kalau kenabian pasti diperselisihkan seperti Khadir maka ada orang yang mengatakan beliau adalah Nabi dan ada yg mengatakan bahwa beliau adalah wali dan bukan Nabi dalam keadaan demikian maka orang yang yang mengatakan beliau adalah wali (bukan Nabi) tidak dikafirkan.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-10 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 8

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-10 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 8

Halaqah-10 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 8

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian yang Ke Delapan”

Diantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul.

Di antaranya

① Wahyu

Allah berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…

“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)

Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ

kami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah (HR Al Bukhori dan Muslim)

Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.

Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه

Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)

Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda

إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء

Sesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)

Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum dan telah berlalu pembahasan tentang hal ini pada Halaqah yang keenam.

Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.

Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata

والنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهم

Dan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur (HR. Al-Bukhari)

Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat. Rasulullah ﷺ bersabda

الانبياء احياء فى قبورهم يصلون

Para Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Rabu, 20 Agustus 2025

Halaqah-09 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 7

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-09 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 7

Halaqah-09 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 7

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ketujuh”

Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)

yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakan

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakan

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…

“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)

Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)

Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakan

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)
Dan Allah mengatakan

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…

“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُ

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…

“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)

Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.

Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan. Allah berfirman

…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …

“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَ

Para Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.

Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah

فالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتها

maka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-08 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 6

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-08 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 6

Halaqah-08 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 6

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-8 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ke Enam”

Diantara cara beriman dengan para Rasul ‘alaihimussalam adalah keyakinan bahwa Allah melebihkan sebagian Nabi dan Rasul diatas sebagian yang lain tanpa merendahkan dan melecehkan harga diri dan kedudukan yang lain.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ

“Itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka diatas sebagian yang lain” (Al-Baqarah : 253)

Dan Allah berfirman

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ…

“Dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi diatas sebagian yang lain” (Al-Isra : 55)

Adapun ayat yang berbunyi

… لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ…

“Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari Rasul-RasulNya” (Al-Baqarah : 285)

Maka yang dimaksud dengan yang membeda-bedakan disini adalah beriman dengan sebagian Rasul dan mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang beriman dengan Nabi ‘Isa عَلَيهِ السَّلَامُ dan kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki kesabaran yang kuat)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…

“Maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul ‘Azmi diantara para Rasul telah bersabar” (Al-Ahqaf : 35)

Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan Ulul ‘Azmi adalah 5 Orang, mereka adalah:

① Nabi Nuh
② Nabi Ibrahim
③ Nabi Musa
④ Nabi Isa
⑤ Nabi Muhammad ‘Alayhimussalam

Nama-nama mereka telah terkumpul didalam dua ayat dari surat Al-Ahzab dan surat Asy-Syura.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi darimu, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Ibnu Maryam dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” (Al-Ahzab : 7)

Dan Allah mengatakan

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ…

“Allah telah mensyariatkan bagi kalian dari agama apa yang Allah wasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa ” (Asy-Syura : 13)

Ke-lima Nabi inilah dan juga Nabi Adam yang tersebut didalam hadits Tentang Asyafa’atul ‘Uzma yang kita sudah sebutkan didalam Silsilah Beriman dengan Hari Akhir.

Dan sebaik-baik Ulul ‘Azmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah khalilullah (kekasih Allah) beliau berdua adalah Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan Nabi Muhammad ﷺ

Dalilnya adalah firman Allah

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya” (An-Nisa’ : 125)

Rasulullah ﷺ bersabda

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Maka sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (HR Muslim)

Dan sebaik-baik kekasih Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة

aku adalah pemuka anak-anak Adam pada hari Kiamat (HR Muslim)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-07 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 5

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-07 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 5

Halaqah-07 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 5

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Kelima”.

Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah waspada dari ghuluw (berlebihan) terhadap para Rasul alaihimussalam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat-sifat ketuhanan dan Allah ‘azza wa jalla melarang Ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nya

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ

“Wahai Ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan didalam agama kalian dan janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah Rasulullah dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah Ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ”(An-Nisa’ : 171)

Dan Rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah mereka, beliau ﷺ bersabda

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan didalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan RasulNya (Hadits Shahih Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)

Dan diantara bentuk ghuluw orang-orang Nashrani adalah mengatakan ‘Isa anak Allah, orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah, Allah berfirman

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa ‘Uzair adalah anak Allah dan berkata orang-orang Nashrani bahwa Al-Masih adalah anak Allah, demikianlah ucapan-ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling” (At-Tawbah : 30)

Padahal para Rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiyah dan Uluhiyah yaitu sifat-sifat ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah berfirman

عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦۤ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدً۬ا (٢٧

“Dia lah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapa pun, kecuali orang yang Allah ridhai dari kalangan para Rasul” (Al-Jin : 26 – 27)

Dan mereka juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali dengan kehendak Allah. Allah berfirman

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudharat kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raf : 188)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print