Rabu, 22 Oktober 2025

Halaqah-18 Kapan seseorang boleh beralasan dengan Taqdir

 

  • Home
  • Halaqah-18 Kapan seseorang boleh beralasan dengan Taqdir

Halaqah-18 Kapan seseorang boleh beralasan dengan Taqdir



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke delapan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Kapan Seseorang Boleh Beralasan dengan Takdir”.

Takdir dijadikan hujjah dan alasan di dalam musibah dan bencana dan tidak boleh dijadikan hujjah dan alasan di dalam dosa dan kemaksiatan.

Ketika musibah seseorang mengatakan,
“Ini adalah takdir Allah.”
“Ini adalah dengan izin Allah.”
Atau mengatakan, “Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.”
Maka hal ini akan membawa ketenangan dan kebaikan pada dirinya.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)

[QS At-Taghabun 11]

“Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan petunjuk kepada dirinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Dan Nabi ﷺ bersabda,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

”Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan, seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian dan demikian, akan tetapi ucapkanlah, ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan. Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ ini membuka amalan syaithan.” [HR Muslim]

Namun ketika berbuat maksiat dan dinasihati maka tidak boleh seseorang berhujjah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan, “Saya berbuat maksiat karena takdir Allah.” atau mengatakan “Kalau Allah menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat.” dll.

Orang-orang Musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para Nabi untuk bertauhid mereka menolak dan mereka berhujjah dengan takdir atas kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

[QS An-Nahl 35]

“Dan berkata orang-orang Musyrikin, ‘Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allah sedikit pun, kami dan bapak-bapak kami, dan niscaya kami tidak mengharamkan sedikit pun.’ Demikianlah orang-orang sebelum mereka melakukan. Maka tidak ada kewajiban atas rasul kecuali menyampaikan dengan jelas.”

Adapun ucapan Nabi Adam ‘alaihissalam yang disebutkan di dalam hadits,

▫️ احتجَّ آدمُ وموسى ، فقالَ لَهُ موسَى : أنتَ آدمُ الَّذي أخرجتكَ خطيئتُكَ منَ الجنَّةِ ؟ فقالَ لَهُ آدمُ : أنتَ موسى الَّذي اصطفاكَ اللَّهُ برسالتِه وبكلامِه ، ثمَّ ، تَلومُني على أمرٍ قُدِّرَ عليَّ قبلَ أن أُخلَقَ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فحجَّ آدمُ موسَى

“Adam dan Musa saling berhujjah, maka berkata Musa ‘Engkau adalah Adam yang dosamu telah mengeluarkanmu dari surga.’ Berkata Adam, ‘Engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu sebagai seorang Rasul dan memilihmu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allah kemudian engkau mencelaku atas sebuah perkara yang telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujjah.’ Beliau ﷺ mengucapkannya dua kali.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Maka perlu diketahui bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam di dalam hadits ini tidak berhujjah dengan takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa beliau dan keturunan beliau, yaitu musibah keluarnya beliau dari surga yang efeknya juga dirasakan oleh keturunan beliau ‘alaihissalam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-17 Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ

 

  • Home
  • Halaqah-17 Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ

Halaqah-17 Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Peran Do’a di Dalam Beriman dengan Takdir Allah”.

Takdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdo’a kepada Allah.
Berdo’a adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

[QS Ghafir 60]

“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdo’a kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…

[QS Al-Baqarah 186]

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan do’anya orang yang berdo’a kepada-Ku.”

Dan do’a adalah ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

الدعاء هو العبادة

”Do’a itu adalah ibadah.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda,

وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ

“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali do’a.” [Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah]

Dan bukanlah yang dimaksud dengan do’a bisa menolak takdir, bahwa do’a bisa melawan takdir Allah yang sudah Allah tulis, akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar, yaitu sesuatu yang ditakdirkan, artinya do’a bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allah.

Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdo’a kepada Allah meminta kesembuhan kemudian Allah mengabulkan do’anya dan menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut.

Dan do’a yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allah adalah bagian dari takdir Allah.

Lalu bagaimana dikatakan bahwa doa bisa melawan takdir Allah azza wajalla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-16 Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah

 

  • Home
  • Halaqah-16 Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah

Halaqah-16 Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.

Aliran yang menyimpang di dalam masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah adalah:

– Al Qodariyyah
– Al Jabriyyah

Mereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah.
Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.

Adapun Al Qodariyyah maka mereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yg tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.

Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalah
kekafiran dan kemaksiatan.
Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya.
Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah dan penciptaan Allah tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allah dan penciptaan Allah.

Dan adapun Al Jabriyyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah dan penciptaan Allah.
Dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah.
Dan kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allah, berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah azza wajalla.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.

Dan kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.

Adapun Ahlus Sunnah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka.
Mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan.
Dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.

Dari keterangan di atas diketahui bahwa syubhat Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah satu, yaitu: mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah, padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah azza wajalla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-15 Beberapa Contoh Berkaitan Iradah Syar’iyyah dab Iradah Kauniah

 

  • Home
  • Halaqah-15 Beberapa Contoh Berkaitan Iradah Syar’iyyah dab Iradah Kauniah

Halaqah-15 Beberapa Contoh Berkaitan Iradah Syar’iyyah dab Iradah Kauniah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke lima belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beberapa Contoh Keadaan yang Berkaitan dengan Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.

1. Keimanan Abu Bakar
Keimanan Abu Bakar berkaitan dengannya dua Iradah sekaligus (Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah).
Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Bakar.
Dan berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah mentakdirkan, mewujudkan, dan menciptakan keimanan Abu Bakar.

2. Keimanan Abu Jahal
Keimanan Abu Jahal berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah saja dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah.
Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Jahal.
Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan, mewujudkan, dan menciptakan keimanan Abu Jahal.

3. Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat
Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat berkaitan dengannya Iradah Kauniyah saja dan tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah.
Berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah mentakdirkan, mewujudkan, & menciptakan kemaksiatan tersebut.
Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syari’at, Allah tidak mencintai dan menginginkan kemaksiatan tersebut.

4. Kekufuran Orang yang Beriman yang Tidak Terjadi
Hal ini tidak berkaitan dengannya dua Iradah.
Tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syari’at, Allah tidak mencintai dan tidak menginginkan kekufuran orang yang beriman.
Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan kekufuran orang yang beriman dan tidak mewujudkannya serta tidak menciptakannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-14 Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah

 

  • Home
  • Halaqah-14 Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah

Halaqah-14 Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke empat belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariyyah dan Iradah Syar’iyyah Diniyyah”.

Perbedaan antara Iradah Kauniyah Qadariyyah dan Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya:

1. Iradah Kauniyah melazimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allah.

Misalnya Allah menginginkan menciptakan matahari maka terciptalah matahari.

Sedangkan Iradah Syar’iyyah maka tidak melazimkan terjadinya apa yang Allah inginkan, seperti secara syari’at Allah menginginkan ke-Islam-an Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi.

2. Bahwa Iradah Kauniyah tidak melazimkan apa yang Allah inginkan tersebut dicintai oleh Allah, akan tetapi terkadang kejadiannya ada yg dicintai oleh Allah, misal keimanan orang yang beriman.

Dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allah, seperti kemaksiatan.

Adapun Iradah Syar’iyyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allah, seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat, dll.

3. Iradah Kauniyah tidak melazimkan bahwa itu diperintah oleh Allah, sedangkan Iradah Syar’iyyah melazimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah, artinya setiap yang diinginkan oleh Allah secara syari’at berarti dia diperintahkan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print