Rabu, 22 Oktober 2025

Halaqah-23 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 1

 

  • Home
  • Halaqah-23 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 1

Halaqah-23 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 1



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua puluh tiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 1”.

Diantara buah beriman dengan Takdir Allah azza wajalla:

1. Beriman dengan Takdir adalah sebab seseorang merasakan lezatnya iman

Berkata Ubadah Ibnu Shomit kepada putranya,

يابني انك لن تجد طعم حقيقة الإيمان , حتى تعلم ان ما اصابك لم يكن ليخطئك وما اخطئك لم يكن ليصيبك

“Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan lezatnya hakikat keimanan sampai engkau meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu.” [diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah]

2. Membuahkan keberanian, keyakinan, tawakal, dan bergantung hanya kepada Allah, karena dia meyakini bahwa tidak akan menimpa dia kecuali apa yang sudah Allah tulis.

Allah berfirman,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

[QS At-Taubah 51]

“Katakanlah tidak akan menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah tentukan untuk kami, Dia-lah penolong kami dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal.”

3. Membuahkan akhlak yang mulia, seperti kedermawan karena apabila seseorang mengetahui bahwa kekayaan dan kemiskinan dengan Takdir Allah, dia tidak akan takut berinfak fii sabilillah.

4. Membuahkan rasa syukur ketika mendapatkan nikmat, menyandarkan kenikmatan tersebut kepada Allah, karena Dia-lah yang mentakdirkan.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ…

[QS An-Nahl 53]

“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian maka itu adalah dari Allah.”

5. Membuahkan petunjuk dan kesabaran ketika mendapatkan musibah.

Allah berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

[QS Al-Hadid 22]

“Musibah apa saja yang menimpa baik di bumi maupun pada diri-diri kalian kecuali sudah ditulis di dalam sebuah kitab sebelum Kami menjadikannya. Sesungguhnya yang demikian adalah sangat mudah bagi Allah.”

6. Semakin kuat keimanan seseorang dengan Takdir Allah, maka akan semakin kuat tauhid-nya, karena iman dengan Takdir adalah bagian dari iman dengan Rububiyah Allah, yang konsekuensinya adalah tauhid Uluhiyyah.

7. Membuahkan keikhlasan dan terjauh dari riya, karena orang yang beriman dengan Takdir mengetahui bahwa Allah telah menentukan segalanya dan menyadari bahwa mencari pahala dari manusia tidak akan memberikan manfaat.

8. Menghilangkan rasa dengki antar sesama muslim karena dia menyadari bahwa rezeki sudah diatur dan dibagi oleh Allah dengan hikmah yang dalam. Lalu untuk apa seseorang dengki dan iri.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-22 Aliran Menyimpang Dalam Masalah Hidayatut Taufiq & Penyesatan

 

  • Home
  • Halaqah-22 Aliran Menyimpang Dalam Masalah Hidayatut Taufiq & Penyesatan

Halaqah-22 Aliran Menyimpang Dalam Masalah Hidayatut Taufiq & Penyesatan



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang ”Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Hidayatut Taufiq dan Penyesatan“.

Telah menyimpang di dalam masalah ini dua aliran: Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah.

Adapun Al Qodariyyah, maka mereka meyakini bahwa Allah bukanlah yang memberikan hidayah taufiq dan Allah bukanlah yang menyesatkan.

Dan mereka mengatakan bahwa makna Allah memberikan hidayah yang datang di dalam dalil seperti dalam firman Allah,

… وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ…

[QS Al-Qashash 56]

“Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.”

Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang mendapatkan hidayah.

Dan mereka mengatakan bahwa maksud Allah menyesatkan seperti yang datang di dalam firman Allah azza wajalla,

… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ… ۚ

[QS Al-Muddatstsir 31]

“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.”

Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang sesat.

Dan ini tentunya bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa Allah, Dia-lah yang memberikan hidayah taufiq dan Dialah yang menyesatkan.

Demikian pula Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjadikan hidayah yang Allah berikan kepada seorang hamba sebagai sebuah karunia dan anugerah, sebagaimana firman Allah,

… ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ..

[QS Al-Hujurat 17]

“Akan tetapi Allah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada keimanan.”

Seandainya maksud Allah memberikan hidayah adalah hanya penamaan pelakunya dengan orang yang mendapatkan hidayah maka ini tidak dinamakan dengan karunia dan anugerah karena seandainya ini adalah karunia atau anugerah, maka kita sebagai makhluk juga memberikan karunia dan anugerah sebab kita pun sebagai makhluk juga menamakan orang tersebut sebagai orang yang mendapatkan hidayah.

Adapun Al Jabriyyah maka mereka meyakini bahwa Allah memaksa mereka, tidak memberikan mereka kehendak, tidak memberikan mereka kemampuan, menghalangi mereka dari sebab-sebab mendapatkan petunjuk.

Dan ini juga bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa seorang hamba diberi kehendak dan kemampuan, diberi kesempatan memilih dan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-21 Hidayah Taufik dan Kesesatan menurut Ahlus Sunnah

 

  • Home
  • Halaqah-21 Hidayah Taufik dan Kesesatan menurut Ahlus Sunnah

Halaqah-21 Hidayah Taufik dan Kesesatan menurut Ahlus Sunnah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Hidayah Taufiq dan Kesesatan Menurut Ahlus Sunnah”.

Hidayah terbagi menjadi dua:

1. Hidayatul Irsyad, yaitu bimbingan dan arahan menuju jalan yang benar.
Hidayah jenis ini dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang yang mengikuti para Nabi dari kalangan para da’i, karena mereka membimbing dan mengarahkan manusia kepada jalan Allah.

Allah berfirman,

… ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

[QS Asy-Syura 52]

“Dan sesungguhnya engkau sungguh-sungguh memberikan hidayah kepada jalan yang lurus.”

Maksudnya adalah membimbing dan mengarahkan menuju jalan yang lurus.

2. Hidayatut Taufiq, yaitu pembukaan hati dan pelapangan dada untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya.

Hidayah Taufiq ini hanya dimiliki oleh Allah, tidak dimiliki oleh Nabi dan da’i.

Allah berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

[QS Al-Qashash 56]

“Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui siapa orang yang mendapatkan petunjuk.”

Hidayah Taufiq Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki dan kesesatan juga Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki.

Allah berfirman,

… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ…

[QS Al-Muddatstsir 31]

“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki.”

Barangsiapa yang Allah berikan hidayah taufiq, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang bisa memberikan hidayah.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ…

[QS Al-A’raf 186]

“Barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak akan ada yang memberikan hidayah.”

Dan Allah berfirman,

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ…

[QS Az-Zumar 37]

“Dan barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkan dirinya.”

Dan Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

“Barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang menyesatkan dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang memberikan hidayah.” [HR Muslim]

Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya dan anugerah-Nya dan Allah lebih mengetahui siapa diantara hamba-Nya yang berhak untuk mendapatkan petunjuk.

Dan Allah menyesatkan siapa yang Allah kehendaki dengan keadilan-Nya dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk disesatkan.

Kesesatan tersebut adalah keadilan Allah, bukan kedzoliman-Nya, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menegakkan hujjah atas hamba-Nya, memberikan kesempatan baginya untuk mengikuti petunjuk Allah, diberikan akal untuk berfikir dan memilih, diutus kepadanya seorang Rasul yang menjelaskan, diturunkan kepadanya kitab, dan diperlihatkan kepadanya jalan yang lurus.
Apabila dia adalah orang yang hilang akalnya, atau anak yang belum baligh, atau orang yang tidur, maka tidak ditulis amalannya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

رُفِعَ القلمُ عن ثلاث، عَنِ النَّائمِ حتَّى يستَيقِظ ،و عنِ الصغير حتَّى يَكْبرََ ، وعنِ المجنونِ حتَّى يعقل أو يفيق

“Diangkat pena dari tiga golongan: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia baligh, dan dari orang yang gila sampai dia berakal atau sadar.” [Hadits Shahih riwayat An Nasai dan Ibnu Majah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Orang yang belum sampai kepadanya risalah seorang Rasul, maka tidak akan diadzab.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

… ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

[QS Al-Isra’ 15]

“Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang Rasul.”

Apabila sudah sampai kepada mereka petunjuk dan mereka tidak menerima serta tidak mengamalkan dan lebih memilih durhaka dan maksiat kepada Allah, maka Allah akan menyesatkan mereka dan ini adalah keadilan bukan kedzoliman.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

[QS At-Taubah 115]

“Dan tidaklah Allah menyesatkan sebuah kaum setelah memberikan petunjuk kepada mereka sampai Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka taqwai. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwasanya Allah menyesatkan mereka setelah mereka tidak menerima petunjuk Allah yang sampai kepada mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-20 Amalan Hamba / Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah

 

  • Home
  • Halaqah-20 Amalan Hamba / Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah

Halaqah-20 Amalan Hamba / Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua puluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Amalan Hamba Ikhtiariyyah Menurut Ahlus Sunnah”.

Amalan Hamba terbagi menjadi dua:

1. Amalan Hamba Idlthiroriyyah (اضطرارية) yaitu amalan hamba yang seorang hamba tidak bisa memilih, seperti gerakan orang yang menggigil.

2. Amalan hamba Ikhtiariyyah (اختيارية) yaitu amalan hamba yang seseorang bisa memilih. Seperti amalan-amalan ketaatan dan amalan-amalan kemaksiatan.

Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah yang menciptakan amalan mereka, bukan mereka sendiri yang menciptakan amalan tersebut sebagaimana keyakinan orang-orang Qodariyyah.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

[QS Ash-Shaffat 96]

“Dan Allah, Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”

Dan Rasulullah ﷺ bersabda,

إن الله خالق كل صانع وصنعته

“Sesungguhnya Allah Yang Menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.” [Hadits Shahih diiriwayatkan oleh Al Hakim, di dalam Al Mustadrok]

Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa para hamba, merekalah pelaku dari apa yang mereka amalkan.

Allah yang menciptakan keimanan dan kekafiran, dan seorang hamba dialah yang beriman dan dialah yang kafir.

Allah menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan hamba dialah yang taat dan dialah yang bermaksiat.

Allah menciptakan shalat dan puasa, dan hamba-lah yang melakukan shalat dan dialah yang melakukan puasa, bukan Allah Subhānahu wa Ta’āla yang menjadi pelaku itu semua, sebagaimana diyakini oleh orang-orang Al Jabriyyah.

Allah berfirman,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

[QS As-Sajdah 17

“Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa hal-hal yang menyejukan mata mereka sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan.”

Di dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa amal yang dilakukan para hamba adalah sebab mereka mendapatkan kenikmatan di surga, menunjukkan bahwa pelaku amalan tersebut adalah hamba dan bukan Allah.

Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan para hamba qudrah atau kemampuan sebagaimana firman Allah,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ..

[QS Al-Baqarah 286]

“Allah tidak membebani sebuah jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.”

Dan Allah juga memberikan mereka iradah atau keinginan. Allah-lah yang menciptakan iradah pada diri mereka dan iradah mereka di bawah iradah Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Allah berfirman,

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

[QS At-Takwir 28-29]

“Bagi siapa diantara kalian yang ingin istiqomah dan tidaklah kalian menghendaki istiqomah kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam.”

Ini semua menunjukkan tentang batilnya ucapan Al Jabriyyah bahwa hamba dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan, tidak ada pilihan bagi mereka, mereka tidak memiliki qudrah dan iradah, keadaan mereka seperti gerakan pohon yang tertiup angin mengikuti ke mana arah angin tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-19 Makna Ucapan Rasulullãh ﷺ “Kejelekan Tidak Kepadamu

 

  • Home
  • Halaqah-19 Makna Ucapan Rasulullãh ﷺ “Kejelekan Tidak Kepadamu

Halaqah-19 Makna Ucapan Rasulullãh ﷺ “Kejelekan Tidak Kepadamu



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke sembilan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Makna Ucapan Rasulullah ﷺ “Kejelekan Tidak Kepada-Mu”.

Allah Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat maupun yang memudhoroti, yang baik maupun yang buruk.
Adapun sabda Nabi ﷺ di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

والشر ليس إليك

”Dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.”

Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak dicipta oleh Allah.
Para ulama telah menjelaskan bahwa makna hadits ini:

1. Ini adalah bentuk adab kita kepada Allah azza wajalla. Tidak boleh kita berkata “Wahai Yang Menciptakan kejelekan” atau mengatakan “Wahai Pencipta Babi” meskipun Allah Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah Yang Menciptakan itu semua.

2. Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak menciptakan kejelekan, secara murni kejelekan. Kejelekan yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya. Dilihat dari sisi hikmah inilah kejelekan yang menimpa manusia tersebut adalah baik di pandangan Allah azza wajalla, maka tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allah azza wajalla.

Misalnya Allah mentakdirkan rezeki.
Ada diantara manusia yang diluaskan rezekinya dan ada yang disempitkan.
Disempitkan dengan hikmah dan diluaskan dengan hikmah.

Dan diantara hikmah disempitkan rezeki seseorang adalah supaya dia tidak berlebihan di dunia, supaya dia banyak berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dan diantara hikmahnya adalah supaya terjadi saling membutuhkan antara orang yang kaya dan orang yang miskin.

3. Ada di antara ulama yang mengatakan bahwa makna ucapan Nabi ﷺ “Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu” maksudnya tidak boleh bertaqarrub kepada Allah dengan kejelekan.

4. Ada di antara ulama yang mengatakan bahwa maknanya kejelekan tidak akan sampai kepada Allah, tetapi kebaikan itulah yang akan sampai kepada Allah.

Penyandaran kejelekan di dalam dalil tidak dilakukan secara khusus kepada Allah, tetapi terkadang dengan penyandaran umum, seperti firman Allah azza wajalla,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…

[QS Az-Zumar 62]

“Allah Yang Menciptakan Segala Sesuatu.”

Dan terkadang disandarkan kejelekan tersebut kepada penyebabnya, sebagaimana firman Allah,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

[QS Al-Falaq 2]

“Dari kejelekan apa yang dia ciptakan.”

Dan terkadang Allah Subhānahu wa Ta’āla menggunakan kalimat yang pasif, sebagaimana firman Allah,

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

[QS Al-Jinn 10]

“Dan sesungguhnya kami (bangsa jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rabb mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan.”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print