Rabu, 22 Oktober 2025

Halaqah-03 Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām

 

  • Home
  • Halaqah-03 Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām

Halaqah-03 Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke tiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Kedudukan Iman dengan Takdir di dalam Agama Islam”.

Iman dengan takdir Allah memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam.
Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:

1. Beriman dengan takdir termasuk diantara enam Rukun Iman yang harus diimani dan pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpanya.

2. Beriman yang benar dengan takdir Allah yang mencakup: beriman dengan Ilmu Allah, penulisan-Nya, kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allah di dalam Rububiyah dan sifat-sifat-Nya, karena Al Qadha (memutuskan) dan Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allah dan pekerjaan Allah adalah termasuk sifat-sifat-Nya. Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir maka dia bukan seseorang yang meng-Esa-kan Allah di dalam Rububiyah-Nya dan ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.

Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar maka akan terjaga Tauhid Rububiyah-Nya dan Uluhiyahnya.

Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,

” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .

“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allah dan beriman dengan takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas. Dan barangsiapa mentauhidkan Allah dan mendustakan takdir maka dia telah melepaskan tauhidnya.” [Atsar ini dikeluarkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 143]

Yang dimaksud dengan takdir adalah aturan Tauhid yaitu beriman dengan takdir menjadikan teratur dan lurus tauhid seseorang.

3. Beriman dengan takdir Allah adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allah). Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.

Berkata Zaid Ibnu Aslam,

القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل

“Takdir adalah kemampuan Allah azza wajalla, barangsiapa yang mendustakan takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allah azza wajalla.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 144].

4. Beriman dengan takdir berkaitan dengan hikmah Allah, Ilmu-Nya, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya. Maka barangsiapa yang mengingkari takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allah, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.

5. Beriman yang benar dengan takdir Allah akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqah-halaqah yang terakhir dari silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

6. Beriman dengan takdir adalah aqidah seluruh para Nabi dan para pengikut mereka.

Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihissalam,

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ…
[QS Hud 33]

“Nuh berkata sesungguhnya Allah-lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaan-Nya apabila Dia menghendaki.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,

… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
[QS Ash-Shaffat 102]

“Ismail berkata, wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar apabila Allah menghendaki.”

Dan Allah berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam,

… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ…
[QS Al-A’raf 155]

“Musa berkata, wahai Rabb-ku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka dan diriku sebelum ini.”

Tiga ayat di atas menunjukkan keimanan para Nabi alaihimussallam terhadap takdir Allah azza wajalla.

7. Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukan beriman dengan takdir di dalam agama Islam bahwa takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti: sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, adzab, hidayah, kesesatan dll.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Selasa, 30 September 2025

Halaqah-02 Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ > Halaqah-02 Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ

Halaqah-02 Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dalil Wajibnya Beriman dengan Takdir Allah”.

Beriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.

Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
[QS Al-Qamar 49] “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”

Dan Allah berfirman,

… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
[QS Al-Furqan 2] “Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
[QS Al-Ahzab 38] “Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”

Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman,

أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda,

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ

“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]

Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.
Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]

Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.
Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,

وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155] Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,

و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى

“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-01 Pengertian Al Qadha dan Al Qadar

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ > Halaqah-01 Pengertian Al Qadha dan Al Qadar

Halaqah-01 Pengertian Al Qadha dan Al Qadar



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Pengertian Al Qadha dan Al Qadar”.
Al Qadha dan Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.

Al Qadha
Secara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.

Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…
[QS Al-Isra’ 23] “Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.”

Dan Allah berfirman,

وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…
[QS Ghafir 20] “Dan Allah memutuskan dengan benar.”

Dan Allah berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…
[QS Al-Baqarah 200] “Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.”
Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.

Al Qadar
Secara bahasa adalah menentukan.
Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.
Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.
Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.
Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.
Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Selasa, 16 September 2025

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam

Diantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalam

① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jalla

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)

② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam

③ Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirman

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩

“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)

④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.
⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah terakhir dari Silsilah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam

Kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan meninggal dunia diatas keimanan dan sampai bertemu kembali pada Silsilah ilmiah berikutnya yaitu Silsilah Beriman Dengan Takdir.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang ke 22

Diantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka

Mereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)

Dan Allah mengatakan

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

”Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27)

Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat

Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ

”Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… “ (Yusuf : 109)

Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau adapun sabda Rasulullah ﷺ

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ

Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing (HR Al-Bukhari)

Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah (HR Al-Bukhari)

Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan., sebagaimana di dalam Al Qashas : 27

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print