Rabu, 22 Oktober 2025

Halaqah-10 Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 2

 

  • Home
  • Halaqah-10 Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 2

Halaqah-10 Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 2



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beriman dengan Takdir Allah dan Mengambil Sebab Bagian 2”.

Banyak dan sedikitnya keturunan sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla tetapi bukan berarti seorang muslim menunggu tanpa usaha untuk mendapatkan keturunan. Bahkan dia diperintahkan untuk menikah sebagai sebab dan upaya mendapatkan keturunan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

▪️تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ بكم الأممَ..

“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur karena sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian di depan umat yang lain.” [HR Abu Daud dan An Nasai dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Sakit dan kesembuhan dari penyakit sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla namun kita diperintahkan untuk menjauhi sebab terkena penyakit dan diperintahkan pula untuk berobat apabila seseorang ditimpa sakit.

Rasulullah ﷺ bersabda,

▪️ إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حيثُ خلق الداءَ خلق الدواءَ فتداووا

“Sesungguhnya Allah azza wajalla ketika menciptakan penyakit Dia juga menciptakan obatnya, maka berobatlah kalian.” [HR Ahmad dari Annas bin Malik radhiyallahu anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Dan Beliau ﷺ bersabda tentang sikap seorang muslim terhadap tho’un yaitu wabah penyakit yang merata yang terjadi di sebuah daerah,

إذا سمعتُم بِه بأرضٍ فلا تقدُموا علَيهِ وإذا وقعَ بأرضٍ وأنتُم بِها فلا تخرُجوا فرارًا منهُ َ

“Apabila kalian mendengar tho’un di sebuah daerah, maka janganlah kalian datang ke sana dan apabila terjadi di sebuah daerah sedangkan kalian berada di sana maka jangan kalian keluar dari daerah tersebut karena lari darinya.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Kematian dan juga musibah, sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla dan kita diperintahkan untuk mengambil sebab keselamatan.

Dahulu Rasulullah ﷺ bersama keimanan beliau yang dalam tentang masalah takdir.
Beliau berperang memakai baju perang, menggunakan senjata, mengatur siasat perang, mengatur pasukan, dll.
Dan ini semua menunjukkan bahwa selain kita diperintah beriman dengan takdir Allah, kita juga diperintah untuk mengambil sebab yang diperbolehkan.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-09 Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1

 

  • Home
  • Halaqah-09 Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1

Halaqah-09 Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beriman dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1”.

Seorang yang beriman selain diperintah untuk beriman dengan takdir Allah juga diperintah untuk mengambil sebab dan bertawakal kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dan tidak bertawakal kepada sebab tersebut.

Rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla dan kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[QS Al-Jumu’ah 10]

“Kemudian apabila sudah selesai shalat Jum’at maka hendaklah kalian menyebar di permukaan bumi dan carilah dari karunia Allah dan perbanyaklah di dalam mengingat Allah, semoga kalian beruntung.”

Dan Allah berfirman,

…ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ…
[QS Al-Baqarah 275]

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.”

Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ مِنْ حَطَبٍ فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ

“Sungguh salah seorang di antara kalian mencari satu ikat kayu bakar kemudian mengangkatnya di atas punggungnya lebih baik daripada dia meminta orang lain, baik diberi atau tidak diberi.”
[HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Dan beliau ﷺ bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah niscaya kalian akan diberi rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki. Pagi-pagi mereka pergi dalam keadaan lapar dan datang di sore hari dalam keadaan kenyang.”
[HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Dan burung di dalam mencari rezeki tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan di sarangnya tetapi dia pergi mencari sebab di dalam mendapatkan rezeki tersebut.

Dan dahulu para Nabi alaihimussalam bekerja dan mereka adalah orang-orang yang beriman dengan takdir Allah.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ…
[QS Al-Furqan 20]

“Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu seorang Rasul pun kecuali mereka memakan makanan dan pergi ke pasar”

Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .

“Dahulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.” [HR Muslim]

Dan Nabi Musa alaihissalam pernah bekerja sebagai seorang penggembala untuk orang yang shaleh dari Madyan selama beberapa tahun, sebagaimana Allah Subhānahu wa Ta’āla sebutkan di dalam surat Al Qashash ayat 27.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-08 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5

 

  • Home
  • Halaqah-08 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5

Halaqah-08 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke delapan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 5”.

Diantara cara beriman dengan takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke empat, yaitu:

4. Penciptaan Allah terhadap segala sesuatu. Maksudnya Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah pencipta segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi (sifat-sifatnya dan amalannya).

Menciptakan pelaku dan amalan yang dilakukan.
Menciptakan orang yang beriman dan keimanannya.
Menciptakan orang yang kafir dan kekafirannya.
Menciptakan orang yang taat dan ketaatannya.
Menciptakan pelaku maksiat dan kemaksiatannya.
Menciptakan setiap yang bergerak dan gerakannya.
Dan setiap yang diam dan diamnya.

Tidak ada yang mencipta selain Allah azza wajalla. Dia-lah Al Kholiq dan selainnya adalah makhluk.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
[QS Ash-Shaffat 96]

“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”

Dan Allah berfirman,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…
[QS Az-Zumar 62]

“Allah yang menciptakan segala sesuatu.”

Dan Rasulullãh ﷺ bersabda,

إن الله خالق كل صانع وصنعته

“Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.”
[HR Al Hakim di dalam Al Mustadrak dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Inilah 4 tingkatan takdir yang barangsiapa tidak beriman dengan salah satunya maka dia tidak beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-07 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 4

Halaqah-07 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 4



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke tujuh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 4”.

Diantara Cara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke-3 yaitu:

3. Masyiiatullah atau Kehendak Allah.

Dan yang dimaksud adalah beriman bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki maka tidak akan terjadi. Dan apa yang ada di langit dan di bumi berupa bergeraknya sesuatu atau diamnya sesuatu maka dengan kehendak Allah dan tidak mungkin terjadi di kerajaan Allah Subhānahu wa Ta’āla apa yang tidak dikehendaki-Nya.

Diantara dalilnya dari Al Qur’an adalah firman Allah,

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
[QS Ya-Sin 82]

“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah.’, maka jadilah dia.”

Dan Allah berfirman,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…
[QS Yunus 99]

“Dan seandainya Rabb-mu menghendaki niscaya akan beriman seluruh yang ada di bumi.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ…
[QS Ali ‘Imran 26]

“Katakanlah, ‘Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki.”

Dan Allah berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
[QS At-Takwir 29]

“Dan tidaklah kalian menginginkan kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam.”

Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah ﷺ bersabda,

▫️ لا يقل أحدُكم : اللهمَّ اغفر لي إن شئتَ ، ارحمني إن شئتَ ، ارزقني إن شئتَ ، وليَعزِمْ مسألتَه ، إنَّهُ يفعلُ ما يشاءُ ، لا مُكْرِهَ لهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, sayangilah aku jika engkau menghendaki, berilah aku rezeki apabila engkau menghendaki.’ Maka hendaklah dia menguatkan permintaannya karena Allah melakukan apa yang Dia kehendaki, tidak ada yang memaksanya”. [HR Bukhori]

Berkata Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah,

مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ

“Apa yang Engkau kehendaki ya Allah, terjadi, meskipun aku tidak menghendakinya dan apa yang aku kehendaki kalau Engkau tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi.” [Atsar ini dikeluarkan oleh Al Lalika-i di dalam kitab beliau Syarhu Ushuli Itiqadi Ahli Sunnati wal Jamaah Minal Kitabi wa Sunnah Wa Ijmai Shahabah Jilid IV halaman 702]

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print


Halaqah-06 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 3

 

  • Home
  • Halaqah-06 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 3

Halaqah-06 Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 3



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke enam dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Cara Beriman dengan Takdir Bagian 3”.

Selain beriman dengan penulisan takdir azali yang mencakup seluruh perkara, maka para ulama menyebutkan bahwa termasuk beriman dengan penulisan takdir adalah beriman dengan beberapa jenis penulisan takdir yang lain, yang merupakan bagian dari penulisan takdir azali.

⑴ Takdir Umri
Yaitu penulisan takdir seseorang di awal umurnya ketika di dalam rahim ibunya. Ditulis rezeki, ajal, amalan, kesengsaraan dia, dan kebahagiaannya.
Dalilnya adalah hadits Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu.
Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،
(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaanya di perut ibunya selama 40 hari, kemudian di dalamnya sebagai segumpal darah selama 40 hari, kemudian di dalamnya sebagai segumpal daging selama 40 hari, kemudian diutus seorang Malaikat kemudian meniup nyawa di dalamnya dan diperintahkan dengan 4 kalimat yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah dia sengsara atau orang yang bahagia.”
[HR Al Bukhari dan Muslim]

⑵ Takdir Hauli
Yaitu takdir khusus kejadian selama satu tahun ditentukan di malam Lailatul Qadar.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
[QS Ad-Dukhan 3- 4]

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam yang berbarakah. Sesungguhnya Kami memberikan peringatan, di dalamnya dipisahkan seluruh perkara yang kokoh.”

⑶ Takdir Yaumi
Yaitu pelaksanaan apa yang sudah ditulis pada waktu yang sudah ditentukan.
Dalilnya adalah firman Allah,

.. ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
[QS Ar-Rahman 29]

“Setiap hari Dia (Allah) dalam sebuah urusan.”

Diantara urusan Allah adalah mengampuni dosa, menciptakan, melenyapkan, menghidupkan, mematikan, memuliakan dan menghinakan, memberi dan menahan, dll.

Dan perlu diketahui bahwa Takdir Yaumi, Hauli, dan Umri tidak keluar dari apa yang sudah tertulis di dalam takdir azali.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print