Rabu, 22 Oktober 2025

Halaqah-16 Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah

 

  • Home
  • Halaqah-16 Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah

Halaqah-16 Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.

Aliran yang menyimpang di dalam masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah adalah:

– Al Qodariyyah
– Al Jabriyyah

Mereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah.
Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.

Adapun Al Qodariyyah maka mereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yg tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.

Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalah
kekafiran dan kemaksiatan.
Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya.
Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah dan penciptaan Allah tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allah dan penciptaan Allah.

Dan adapun Al Jabriyyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah dan penciptaan Allah.
Dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah.
Dan kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allah, berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah azza wajalla.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.

Dan kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.

Adapun Ahlus Sunnah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka.
Mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan.
Dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.

Dari keterangan di atas diketahui bahwa syubhat Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah satu, yaitu: mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah, padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah azza wajalla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-15 Beberapa Contoh Berkaitan Iradah Syar’iyyah dab Iradah Kauniah

 

  • Home
  • Halaqah-15 Beberapa Contoh Berkaitan Iradah Syar’iyyah dab Iradah Kauniah

Halaqah-15 Beberapa Contoh Berkaitan Iradah Syar’iyyah dab Iradah Kauniah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke lima belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beberapa Contoh Keadaan yang Berkaitan dengan Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.

1. Keimanan Abu Bakar
Keimanan Abu Bakar berkaitan dengannya dua Iradah sekaligus (Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah).
Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Bakar.
Dan berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah mentakdirkan, mewujudkan, dan menciptakan keimanan Abu Bakar.

2. Keimanan Abu Jahal
Keimanan Abu Jahal berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah saja dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah.
Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Jahal.
Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan, mewujudkan, dan menciptakan keimanan Abu Jahal.

3. Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat
Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat berkaitan dengannya Iradah Kauniyah saja dan tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah.
Berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah mentakdirkan, mewujudkan, & menciptakan kemaksiatan tersebut.
Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syari’at, Allah tidak mencintai dan menginginkan kemaksiatan tersebut.

4. Kekufuran Orang yang Beriman yang Tidak Terjadi
Hal ini tidak berkaitan dengannya dua Iradah.
Tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syari’at, Allah tidak mencintai dan tidak menginginkan kekufuran orang yang beriman.
Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan kekufuran orang yang beriman dan tidak mewujudkannya serta tidak menciptakannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-14 Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah

 

  • Home
  • Halaqah-14 Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah

Halaqah-14 Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke empat belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariyyah dan Iradah Syar’iyyah Diniyyah”.

Perbedaan antara Iradah Kauniyah Qadariyyah dan Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya:

1. Iradah Kauniyah melazimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allah.

Misalnya Allah menginginkan menciptakan matahari maka terciptalah matahari.

Sedangkan Iradah Syar’iyyah maka tidak melazimkan terjadinya apa yang Allah inginkan, seperti secara syari’at Allah menginginkan ke-Islam-an Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi.

2. Bahwa Iradah Kauniyah tidak melazimkan apa yang Allah inginkan tersebut dicintai oleh Allah, akan tetapi terkadang kejadiannya ada yg dicintai oleh Allah, misal keimanan orang yang beriman.

Dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allah, seperti kemaksiatan.

Adapun Iradah Syar’iyyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allah, seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat, dll.

3. Iradah Kauniyah tidak melazimkan bahwa itu diperintah oleh Allah, sedangkan Iradah Syar’iyyah melazimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah, artinya setiap yang diinginkan oleh Allah secara syari’at berarti dia diperintahkan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-13 Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ

 

  • Home
  • Halaqah-13 Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ

Halaqah-13 Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dua Macam Iradah atau Keinginan Allah azza wajalla”.

Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim di dalam masalah beriman dengan takdir Allah bahwa Iradah atau keinginan Allah ada dua macam:

1. Iradah Kauniyah Qodariyyah
Yaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian-kejadian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla, seperti:
– Keinginan Allah menciptakan manusia dan hewan
– Menciptakan orang yang taat dan orang yang berbuat maksiat
– Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain.

Dalil Iradah Kauniyah Qadariyyah diantaranya adalah firman Allah azza wajalla,

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

[QS Ya-Sin 82]

“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah’, maka jadilah dia.”

Dan Allah berfirman,

… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

[QS Al-Hajj 14]

“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…

[QS Al-An’am 125]

“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk diberi hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam dan barangsiapa yang Allah inginkan untuk disesatkan maka Allah akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seperti ketika dia berusaha naik ke atas.”

Dan Masyiah Allah atau Kehendak Allah yang disebutkan di dalam halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qadariyyah.

2. Iradah Syar’iyyah Diniyyah
Yaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan syari’at agama yang Allah turunkan.

Allah Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syari’at-Nya dan agama-Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allah, dan menginginkan mereka meninggalkan larangan Allah.

Dalil Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya adalah firman Allah azza wa jalla,

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

[QS Al-Ahzab 33]

“Sesungguhnya Allah hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian dari dosa dengan sebenar-benarnya.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…

[Surat An-Nisa’ 27]

“Dan Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian.”

Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda,

يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”

“Allah Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya di hari kiamat, ‘Seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada di bumi apakah engkau akan menebus dengannya?’
Maka dia berkata, ‘Iya’.
Maka Allah berkata, ‘Aku menginginkan darimu yang lebih ringan daripada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi Adam, yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri-Ku’ ” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-12 Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir

Halaqah-12 Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran Sesat yang Menyimpang di Dalam Masalah Takdir”.

Diantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.

Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.

Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.

Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,
“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”

Dan mereka berkata,
“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”

Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:
⑴ Pencipta kebaikan
⑵ Pencipta keburukan

Dan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.

Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.

Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.

Allah berfirman tentang mereka,

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…

[Surat Al-An’am 148]

“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”

Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.

Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.

Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print