السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 3”.
16. Berbaik sangka kepada Allah. Ketika melihat dirinya diberi hidayah kepada Tauhid, Sunnah, dan ketaatan, maka dia berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah menghendaki pada dirinya kebaikan dan ingin memudahkan dia masuk ke dalam Surga-Nya.
17. Menimbulkan rasa takut di dalam diri seorang hamba dari suul khotimah, sehingga dia tidak tertipu dengan amal sholehnya, karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir amalannya.
18. Menimbulkan sifat tidak suka merendahkan orang lain dan menghinakan orang lain yang terjerumus ke dalam kemaksiatan, karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir dari amalan orang tersebut.
19. Memerdekakan akal dan diri dari khurafat dan tathoyyur dan dia meyakini bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak ada yg menolak kejelekan kecuali Allah.
20. Menjadikan seseorang rendah hati dan tidak sombong ketika diberikan rezeki oleh Allah baik berupa harta, kedudukan, maupun ilmu, dll. Karena ini semua datang dari Allah dan dengan takdir Allah. Dan kalau Allah menghendaki, Allah akan mengambilnya dari kita sewaktu-waktu.
21. Membawa ketenangan di dalam hati dan ketentraman jiwa karena ketika tertimpa musibah dia merasa itu yg terbaik dan pasti ada hikmahnya dan dia mengetahui bahwa orang yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya, sehingga dia tidak cemas dan gelisah, dan tidak berangan-angan dan berandai-andai.
Akhirnya semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk orang yang beriman dengan takdir Allah yang baik maupun yang buruk. Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan karunia kepada kita semua sehingga kita bisa merasakan buah-buah yang baik dari beriman dengan takdir. Dan sesungguhnya Allah mengabulkan do’a.
Demikianlah yang bisa saya sampaikan di dalam Silsilah Beriman dengan Takdir Allah dan sampai bertemu kembali pada Silsilah Ilmiah selanjutnya yaitu Silsilah Siroh Nabawiyyah.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 2”.
9. Membuahkan semangat yang tinggi di dalam melakukan kebaikan yang berkaitan dengan agama seperti ibadah, menuntut ilmu, berdakwah, dll.
Orang yang beriman dengan Takdir Allah tidak takut celaan orang yang mencela ketika berdakwah, tidak terlalu hancur hatinya ketika melihat orang yang tidak menerima dakwahnya, dan dia tidak pamer atau bangga diri ketika melihat orang yang mendapatkan hidayah dengan sebab dirinya karena semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla.
10. Membuahkan semangat yang tinggi di dalam berbuat kebaikan yang berkaitan dengan dunia seperti bekerja yang halal, melakukan aktivitas yang diperbolehkan dan bermanfaat, dll. Dan dia tidak mudah menyesal dan berputus asa ketika menghadapi musibah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
11. Membuahkan ridha terhadap hukum-hukum Allah baik yang berupa hukum-hukum syariat, maupun hukum-hukum Kauniyah.
12. Membuahkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan karena dia mengetahui dan yakin bahwa Allah memilih yang terbaik baginya di dalam urusan dunia, agama, dan akhir dari perkaranya.
“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu dan dia adalah baik bagi kalian. Dan mungkin saja kalian mencintai sesuatu dan dia adalah jelek bagi kalian. Dan Allah, Dia-lah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”
13. Membuahkan keistiqomahan di atas jalan yang lurus baik dalam keadaan mendapatkan nikmat atau tertimpa musibah, karena dia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan akan bersabar ketika dia terkena musibah.
14. Tidak putus asa dari pertolongan Allah bagaimanapun besarnya fitnah dan banyaknya ujian, karena dia yakin bahwa akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Dan ini adalah ketentuan Allah yang sudah Allah tentukan.
“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menampakkan agama tersebut di atas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
“Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan ketika bangkit para saksi.”
15. Menjadikan di dalam diri seorang hamba Qonaah atau merasa cukup dengan pemberian Allah azza wajalla, tidak rakus terhadap dunia dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Karena dia meyakini bahwa rezeki sudah tertulis dan tidak mungkin orang lain bisa menyampaikan kepadanya sebuah rezeki kecuali apa yang sudah Allah tulis sebelumnya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke dua puluh tiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 1”.
Diantara buah beriman dengan Takdir Allah azza wajalla:
1. Beriman dengan Takdir adalah sebab seseorang merasakan lezatnya iman
Berkata Ubadah Ibnu Shomit kepada putranya,
يابني انك لن تجد طعم حقيقة الإيمان , حتى تعلم ان ما اصابك لم يكن ليخطئك وما اخطئك لم يكن ليصيبك
“Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan lezatnya hakikat keimanan sampai engkau meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu.” [diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah]
2. Membuahkan keberanian, keyakinan, tawakal, dan bergantung hanya kepada Allah, karena dia meyakini bahwa tidak akan menimpa dia kecuali apa yang sudah Allah tulis.
“Katakanlah tidak akan menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah tentukan untuk kami, Dia-lah penolong kami dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal.”
3. Membuahkan akhlak yang mulia, seperti kedermawan karena apabila seseorang mengetahui bahwa kekayaan dan kemiskinan dengan Takdir Allah, dia tidak akan takut berinfak fii sabilillah.
4. Membuahkan rasa syukur ketika mendapatkan nikmat, menyandarkan kenikmatan tersebut kepada Allah, karena Dia-lah yang mentakdirkan.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ…
[QS An-Nahl 53]
“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian maka itu adalah dari Allah.”
5. Membuahkan petunjuk dan kesabaran ketika mendapatkan musibah.
“Musibah apa saja yang menimpa baik di bumi maupun pada diri-diri kalian kecuali sudah ditulis di dalam sebuah kitab sebelum Kami menjadikannya. Sesungguhnya yang demikian adalah sangat mudah bagi Allah.”
6. Semakin kuat keimanan seseorang dengan Takdir Allah, maka akan semakin kuat tauhid-nya, karena iman dengan Takdir adalah bagian dari iman dengan Rububiyah Allah, yang konsekuensinya adalah tauhid Uluhiyyah.
7. Membuahkan keikhlasan dan terjauh dari riya, karena orang yang beriman dengan Takdir mengetahui bahwa Allah telah menentukan segalanya dan menyadari bahwa mencari pahala dari manusia tidak akan memberikan manfaat.
8. Menghilangkan rasa dengki antar sesama muslim karena dia menyadari bahwa rezeki sudah diatur dan dibagi oleh Allah dengan hikmah yang dalam. Lalu untuk apa seseorang dengki dan iri.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang ”Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Hidayatut Taufiq dan Penyesatan“.
Telah menyimpang di dalam masalah ini dua aliran: Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah.
Adapun Al Qodariyyah, maka mereka meyakini bahwa Allah bukanlah yang memberikan hidayah taufiq dan Allah bukanlah yang menyesatkan.
Dan mereka mengatakan bahwa makna Allah memberikan hidayah yang datang di dalam dalil seperti dalam firman Allah,
… وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ…
[QS Al-Qashash 56]
“Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.”
Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang mendapatkan hidayah.
Dan mereka mengatakan bahwa maksud Allah menyesatkan seperti yang datang di dalam firman Allah azza wajalla,
… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ… ۚ
[QS Al-Muddatstsir 31]
“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.”
Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang sesat.
Dan ini tentunya bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa Allah, Dia-lah yang memberikan hidayah taufiq dan Dialah yang menyesatkan.
Demikian pula Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjadikan hidayah yang Allah berikan kepada seorang hamba sebagai sebuah karunia dan anugerah, sebagaimana firman Allah,
“Akan tetapi Allah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada keimanan.”
Seandainya maksud Allah memberikan hidayah adalah hanya penamaan pelakunya dengan orang yang mendapatkan hidayah maka ini tidak dinamakan dengan karunia dan anugerah karena seandainya ini adalah karunia atau anugerah, maka kita sebagai makhluk juga memberikan karunia dan anugerah sebab kita pun sebagai makhluk juga menamakan orang tersebut sebagai orang yang mendapatkan hidayah.
Adapun Al Jabriyyah maka mereka meyakini bahwa Allah memaksa mereka, tidak memberikan mereka kehendak, tidak memberikan mereka kemampuan, menghalangi mereka dari sebab-sebab mendapatkan petunjuk.
Dan ini juga bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa seorang hamba diberi kehendak dan kemampuan, diberi kesempatan memilih dan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Hidayah Taufiq dan Kesesatan Menurut Ahlus Sunnah”.
Hidayah terbagi menjadi dua:
1. Hidayatul Irsyad, yaitu bimbingan dan arahan menuju jalan yang benar. Hidayah jenis ini dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang yang mengikuti para Nabi dari kalangan para da’i, karena mereka membimbing dan mengarahkan manusia kepada jalan Allah.
“Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui siapa orang yang mendapatkan petunjuk.”
Hidayah Taufiq Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki dan kesesatan juga Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki.
“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki.”
Barangsiapa yang Allah berikan hidayah taufiq, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang bisa memberikan hidayah.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ…
[QS Al-A’raf 186]
“Barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak akan ada yang memberikan hidayah.”
Dan Allah berfirman,
وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ…
[QS Az-Zumar 37]
“Dan barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkan dirinya.”
“Barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang menyesatkan dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang memberikan hidayah.” [HR Muslim]
Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya dan anugerah-Nya dan Allah lebih mengetahui siapa diantara hamba-Nya yang berhak untuk mendapatkan petunjuk.
Dan Allah menyesatkan siapa yang Allah kehendaki dengan keadilan-Nya dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk disesatkan.
Kesesatan tersebut adalah keadilan Allah, bukan kedzoliman-Nya, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menegakkan hujjah atas hamba-Nya, memberikan kesempatan baginya untuk mengikuti petunjuk Allah, diberikan akal untuk berfikir dan memilih, diutus kepadanya seorang Rasul yang menjelaskan, diturunkan kepadanya kitab, dan diperlihatkan kepadanya jalan yang lurus. Apabila dia adalah orang yang hilang akalnya, atau anak yang belum baligh, atau orang yang tidur, maka tidak ditulis amalannya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
رُفِعَ القلمُ عن ثلاث، عَنِ النَّائمِ حتَّى يستَيقِظ ،و عنِ الصغير حتَّى يَكْبرََ ، وعنِ المجنونِ حتَّى يعقل أو يفيق
“Diangkat pena dari tiga golongan: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia baligh, dan dari orang yang gila sampai dia berakal atau sadar.” [Hadits Shahih riwayat An Nasai dan Ibnu Majah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]
Orang yang belum sampai kepadanya risalah seorang Rasul, maka tidak akan diadzab.
“Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang Rasul.”
Apabila sudah sampai kepada mereka petunjuk dan mereka tidak menerima serta tidak mengamalkan dan lebih memilih durhaka dan maksiat kepada Allah, maka Allah akan menyesatkan mereka dan ini adalah keadilan bukan kedzoliman.
“Dan tidaklah Allah menyesatkan sebuah kaum setelah memberikan petunjuk kepada mereka sampai Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka taqwai. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwasanya Allah menyesatkan mereka setelah mereka tidak menerima petunjuk Allah yang sampai kepada mereka.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته