Jumat, 10 April 2026

Halaqah 10 | Simpul 07 – Bersegera dalam Menuntut Ilmu dan Memanfaatkan Waktu Muda

 

  • Home
  • Halaqah 10 | Simpul 07 – Bersegera dalam Menuntut Ilmu dan Memanfaatkan Waktu Muda

Halaqah 10 | Simpul 07 – Bersegera dalam Menuntut Ilmu dan Memanfaatkan Waktu Muda



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد السابع

Simpul yang ketujuh di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu

المبادرة إلى تحصيله واغتنام سن الصبا والشباب

Adalah dengan bersegera untuk mendapatkan ilmu, artinya jangan kita berlambat-lambat kalau antum benar-benar mengagungkan ilmu maka bersegeralah untuk mendapatkan dia dan keinginan untuk bertemu dengan ilmu tersebut, jangan kita melambatkan diri bermalas-malasan ini bentuk kita tidak mengagungkan ilmu, apalagi menunda-nunda nanti saja bulan depan saja atau tahun depan saja ini berarti ada di dalam hatinya bentuk tidak mengagungkan ilmu dan tidak menghormati ilmu.

Dan juga menggunakan umur atau menggunakan usia anak-anak dan remaja atau masa muda, menggunakan dengan baik umur dia ketika dia masih di masa kanak-kanak dan masa remajanya, ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu. Bagi yang masih muda maka bentuk pengagungan Antum terhadap ilmu adalah menggunakan masa muda Antum ini menggunakannya dengan baik untuk mencari ilmu agama, ini kesempatan Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan Taufik kepada Antum di masa mudah ini untuk bisa menekuni ilmu agama ini.

قال أحمد

Berkata Ahmad rahimahullah

ما شبَّهتُ الشَّباب إلَّ بشيءٍ كان في كُمِّي فسقط

Berkata Imam Ahmad tidaklah aku menyerupakan masa muda kecuali seperti sesuatu yang ada di ujung pakaianku kemudian dia jatuh, kummiy adalah ujung pakaian, beliau serupakan masa muda yang menunjukkan tentang sebentarnya masa muda itu seperti sesuatu yang ada di ujung pakaian kemudian dia segera jatuh ketika kita memakai pakaian seperti ini dan ada suatu di ujung pakaian kita maka dia akan segera jatuh dengan cepat sekali dia jatuh.

Ini menunjukkan betapa sebentarnya masa muda yang dilewati oleh seseorang, harus kita manfaatkan dengan baik masa muda tersebut dan termasuk pengagungan terhadap ilmu kita manfaatkan masa muda tersebut untuk menuntut ilmu agama, bersegera sebelum datang masa tua.

والعلم في سنِّ الشَّباب أسرع إلىٰ النَّفس، وأقوىٰ تعلُّقًا ولصوقًا

Dan ilmu di masa muda atau di masa remaja itu lebih cepat masuk ke dalam jiwa lebih mudah masuknya ke dalam hati seseorang

وأقوىٰ تعلُّقًا ولصوقًا

dan kalau dia sudah masuk maka dia akan kuat melekat di dalam jiwa seseorang atau di dalam hati seseorang.

Jadi ini kelebihan menuntut ilmu di masa muda, lebih cepat dia menerima dan menyerap dan kalau sudah sampai di dalam hatinya sudah dia hafal maka dia akan melekat dengan kuat di dalam hati seseorang.

فقوَّة بقاء العلم في الصِّغر، كقوَّة بقاء النَّقش في الحَجَر

Maka kekuatan langgengnya ilmu yang didapat ketika masih kecil itu seperti kekuatan langgengnya pahatan di dalam batu, orang kalau memahat di batu maka ini akan beberapa tahun ke depan bahkan mungkin ratusan tahun masih bisa terlihat pahatan tadi, sebagaimana di sana ada peninggalan-peninggalan mungkin di dalam goa atau pahatan-pahatan itu masih ada meskipun 1000 tahun yang lalu dipahat.

Demikian ilmu yang dipahat yang diukir ketika seseorang masih kecil, dia menghafal Qur’an semenjak kecil dia menghafal hadits semenjak kecil dia mempelajari berbagai ilmu semenjak dia muda maka ini InsyaAllāh akan melekat di dalam dirinya.

فمن ٱغتنم شبابه نال إرْبَه

Barang siapa yang memanfaatkan masa mudanya maka dia akan mencapai puncaknya (tujuannya)

وحَمِد عند مشيبه سُراه

dan dia akan bersyukur ketika dia sudah tua, سُراه yang dimaksud di sini adalah ijtihad dia dan kesungguhan dia ketika masih muda.

Orang yang menggunakan masa muda dengan baik maka dia akan mendapatkan tujuannya dan ketika dia sudah tua maka dia akan bersyukur kepada Allāh ﷻ, Alhamdulillah yang telah memberikan Taufik kepadaku di masa mudaku aku diberikan Taufik untuk bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu.

Kemudian setelahnya beliau mendatangkan sebuah syair

اغتنم سِنَّ الشَّباب يا فتىٰ

di dalam nuskhah yang terbaru

أَلَا اغتنم سِنَّ الشَّباب يا فتىٰ

Ketahuilah maka hendaklah engkau menggunakan waktu mudamu wahai pemuda

عند المشيب يَحْمَدُ القوم السُّريٰ

ketika sudah tua barulah kaum-kaum tersebut bersyukur, bersyukur dan memuji Allāh subhanahu wa ta’ala atas kesungguhan yang dia lakukan ketika masih muda.

Orang yang menggunakan masa mudanya dengan baik maka dia akan mencapai tujuannya dan ketika dia sudah tua Alhamdulillah dia bersyukur kepada Allāh ﷻ yang telah memudahkan dia untuk berijtihad dan bersungguh-sungguh di masa mudanya.

ولا يُتوهَّم ممَّا سبق أنَّ الكبر لا يتعلَّم

Tadi kita menyebutkan hendaklah engkau gunakan masa mudamu dan menuntut ilmu di masa muda itu seperti orang yang mengukir di atas batu. Jangan dikira jangan disangka bahwasanya orang yang sudah tua kemudian tidak belajar, jangan menyangka kemudian orang yang sudah tua berarti dia tidak perlu belajar dan tidak usah belajar karena tidak ada manfaatnya, jangan dia menyangka demikian

بل هؤلاء

akan tetapi atau bahkan


هؤلاء أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلَّموا كبارً

Jadi orang yang sudah tua pun dituntut untuk belajar, beliau mendatangkan sebuah dalil bahwasanya para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mereka mempelajari ilmu agama ini dalam keadaan mereka sudah besar-besar sudah tua.

Di sana ada kibaru sahabah di sana ada sighar sahabah, ada sahabat-sahabat yang kibar yang mereka memang masuk Islam mengenal agama Islam ini ketika mereka sudah tua, mungkin 30 tahun atau 40 tahun atau ada yang 50 tahun bahkan dan ternyata mereka menjadi sebaik-baik manusia, mereka bisa mempelajari agama ini dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka jangan kita putus asa.

Alhamdulillah, ada sebagian orang sampai dia tua dan sampai dia mati tidak mempelajari ilmu agama, Allāh ﷻ memberikan karunia kepada kita sebelum kita bertemu Allāh subhanahu wa ta’ala Allāh ﷻ membimbing kita memberikan hidayah kepada kita untuk mempelajari ilmu agama, sebagaimana dahulu para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam banyak di antara mereka yang masuk Islam dalam keadaan mereka sudah sepuh dan sudah tua.

ذكره البخاريُّ في كتاب العلم من صحيحه

Ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullāh di dalam Kitabul Ilmi dari shahih beliau, beliau sebutkan bahwasanya para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dulu belajar dan mereka dalam keadaan sudah tua.

Ini menunjukkan bahwasanya yang sudah tua pun maka dituntut dia untuk mempelajari ilmu agama ini tentunya dengan cara yang tadi sudah kita sebutkan, kita dahulukan yang paling penting kemudian yang penting dan seterusnya.

وإنَّما يعسر التَّعلُّم في الكِبَر – كما بَيَّنه الماورديُّ في أدب النيا والدين

Kemudian beliau menyebutkan sebenarnya apa yang menyebabkan orang yang sepuh atau orang yang tua itu susah untuk belajar

كما بَيَّنه الماورديُّ

sebagaimana disebutkan oleh Mawardiy di dalam

أدب الدُّنيا والدِّين

Sebabnya adalah ini

لكثرة الشَّواغل

Yang pertama adalah karena banyaknya kesibukan, berbeda dengan anak muda orang yang sudah tua sudah banyak kesibukannya, dia sudah punya keluarga ngurus anak ngurus istri ngurus pekerjaan

وغلبة القواطع

dan banyaknya perkara-perkara yang memutuskan yang mengganggu yang merintangi dia dalam mempelajari ilmu agama yang itu harus dia lakukan

وتكاثر العلائق

dan banyaknya koneksi-koneksi (hubungan-hubungan) dengan manusia, dalam masalah pekerjaan dalam masalah mungkin dia ketua RT dan kesibukan-kesibukan yang lain, banyak urusan kalau dilihat di HP-nya mungkin ada ribuan nomor-nomor HP kalau dilihat di WA-nya mungkin ratusan yang masuk ke nomornya.

Ini keadaan orang yang sudah tua, sudah banyak hubungannya sudah banyak kenalannya berbeda dengan anak yang masih muda urusannya masih ringan, kalau kita sudah tahu sebabnya adalah demikian

فمن قدِر علىٰ دفعها عن نفسه أدرك العلم

maka barang siapa yang mampu, ada orang tua yang dia mampu untuk melawan sebab-sebab yang menjadikan dia sulit untuk mempelajari ilmu tadi artinya dia bisa menekan dia bisa mengurangi koneksi dengan orang, dia bisa mengurangi pekerjaan dia, dia sempatkan untuk menuntut ilmu

أدرك العلم

maka InsyaAllāh dia akan mendapatkan ilmu sebagaimana anak muda mereka bisa mendapatkan ilmu, dengan syarat tentunya setelah Taufik dari Allāh ﷻ dan dia bisa melawan sebab-sebab dia sulit untuk mendapatkan ilmu.

Tapi kalau dia lebih memilih seperti awal artinya aduh kayaknya berat untuk meninggalkan rekan-rekan dia, masih ingin menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat ingin banyak nongkrong dan ngobrol dengan teman-temannya sulit bagi dia untuk mendapatkan ilmu, tapi kalau dia bisa melawan itu semuanya bisa menyempatkan waktu untuk belajar maka InsyaAllāh dia mendapatkan ilmu.

Dan di sana banyak para ulama yang dia menjadi ulama setelah mereka sudah tua, artinya baru mempelajari ilmu agama ketika mereka sudah tua bukan dari semenjak 10 tahun tapi mungkin ada di antara mereka yang berumur 40 tahun baru belajar ilmu agama.

Di antaranya seperti Al-‘Izz ibnu Abdissalam seorang ulama besar, ini juga belajar ilmu bukan dari kecil, Al-Qadhi ‘Iyadh, Ibnu Hazm mereka baru mempelajari ilmu agama dan mulai mempelajari ilmu agama ketika mereka sudah tua artinya sudah tidak muda lagi dan ternyata mereka menjadi ulama.

Jadi intinya ma’qid yang ketujuh adalah kita berusaha untuk memanfaatkan waktu muda kita dan bersegera untuk menuntut ilmu, jangan kita tunda-tunda dalam menuntut ilmu agama.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Halaqah 09 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (2)

 

  • Home
  • Halaqah 09 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (2)

Halaqah 09 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (2)



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

Beliau mengatakan hafidzahullahu ta’ala

وإنمَّا تنفع رعاية فنون العلم باعتماد أصلين

Dan sesungguhnya akan bermanfaat penjagaan kita terhadap cabang-cabang ilmu itu dengan berpegang dengan dua pokok, kita dinamakan menjaga cabang-cabang ilmu kalau kita berpegang dengan dua pokok

أحدهما

yang pertama adalah

تقديم الأهمِّ فالمهمِّ

kita mendahulukan yang paling penting kemudian yang penting

ممَّا يفتقر إليه المتعلِّم في القيام بوظائف العبوديَّة لله

diantara perkara-perkara yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu supaya dia bisa melaksanakan tugas ibadah dia untuk Allāh ﷻ, ini yang perlu diperhatikan. Karena tujuan kita menuntut ilmu adalah supaya kita bisa beribadah kepada Allāh ﷻ dengan baik yang merupakan tujuan dan hikmah kita diciptakan oleh Allāh ﷻ.

Maka Antum lihat ilmu apa yang kira-kira langsung kita butuhkan di dalam ibadah kita kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, tentunya yang paling penting adalah ilmu tauhid, memahami tentang tauhid al-uluhiyah apa yang dimaksud dengan ibadah macam-macam dari ibadah dan apa yang dimaksud dengan kesyirikan macam-macam kesyirikan, maka ini perkara atau ilmu yang paling penting yaitu ilmu tauhid sebelum kita mempelajari ilmu Ushul fiqh bahasa Arab dan seterusnya maka kita harus dan wajib hukumnya untuk mempelajari ilmu yang paling penting yaitu ilmu tauhid karena ini jelas berkaitan dengan ibadah yang merupakan tujuan utama kita diciptakan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala.

Kemudian juga kita mempelajari setelahnya tentang masalah tata cara shalat karena ini merupakan rukun Islam yang kedua yang setiap hari diwajibkan atas kita semuanya, dan di antara syarat shalat adalah berwudhu berarti kita harus mempelajari tentang tata cara bersuci yaitu berwudhu.

Tentunya sangat tidak mengagungkan ilmu sebelum dia belajar tauhid sebelum dia belajar shalat dia belum belajar wudhu, kemudian dia sibuk dengan menghafal al-waraqat misal ingin mempelajari ilmu Ushul fiqh, kemudian dia menghafalnya menyibukkan diri dengan Ushul fiqh padahal dia belum belajar tauhid belum belajar salat belum belajar wudhu, ini dia tidak mengagungkan ilmu itu sendiri.

Kemudian setelah itu dia mempelajari yang berkaitan dengan shalat dia, seperti misalnya mempelajari bagaimana membaca Al-fatihah yang benar karena Al-fatihah ini adalah rukun shalat belajar Al-fatihah, sebelum mempelajari atau membaca dengan benar surah An-nas Al-falaq maka dia mempelajari dengan benar bagaimana membaca Al-fatihah, kalau Al-fatihah sudah benar maka InsyaAllāh mudah untuk mempelajari surah-surah yang lain.

Juga mempelajari makna dari Al-fatihah, hanya tujuh ayat saja makna Bismillahirrahmanirrahim makna alhamdulillahi robbil ‘alamin secara singkat saja tidak perlu dia mempelajari Al-fatihah sampai berbulan-bulan, secara singkat mengetahui secara global apa yang terkandung di dalam Al-fatihah karena ini langsung berkaitan dengan ibadahnya setiap hari.

Demikian pula dzikir setelah shalat misal zikir pagi dan juga sore, jangan sampai seseorang belum hafal tentang dzikir setelah shalat kemudian dia ingin menghafal sebuah matan di dalam ilmu hadits menghafal Arba’in Nawawi sementara dia belum menghafal atau belum mengetahui tentang dzikir setelah shalat, dia harus dahulukan yang paling penting kemudian yang setelahnya.

Kemudian yg kedua

والآخر: أن يكون قصده في أوَّل طلبه تحصيلَ مختصرٍ في كلِّ فنٍّ

Hendaklah yang dia maksudkan (tujuan dia) ketika dia mulai mempelajari sebuah cabang ilmu adalah mencari ringkasan didalam setiap cabang ilmu tadi.

Kalau kita mau mempelajari ilmu agama dengan baik maka hendaklah kita mencari ringkasan dari masing-masing cabang ilmu tadi, ini termasuk

رعاية فنون العلم

kita ingin menjaga cabang-cabang ilmu, kita dahulukan yang paling penting kemudian yang penting kemudian kita berusaha untuk mencari ringkasan dari masing-masing ilmu. Antum ingin belajar tauhid cari ringkasan di dalam masalah tauhid, belajar ushulul tsalatsah belajar kitabut tauhid itu semuanya ringkasan di dalam masalah tauhid.

حتَّىٰ إذا ٱستكمل أنواع العلوم النافع؛ نظر إلىٰ ما وافق طبعه منها، وآنس من نفسه قدرةً عليه

Kemudian apabila dia sudah melengkapi seluruh ilmu-ilmu yang bermanfaat, dia sudah belajar ringkasan dari ushul fiqh sudah belajar tentang fiqih sudah belajar tentang nahwu dan sharaf, barulah dia melihat apa yang sesuai dengan tabi’at dia.

Ketika dia sudah mempelajari ilmu-ilmu tersebut maka dia akan mendapatkan dalam dirinya kecenderungan, Ana sepertinya lebih senang untuk mendalami masalah hadits silahkan, Ana lebih senang untuk mendalami masalah tafsir silakan setelah kita berusaha untuk melengkapi cabang-cabang ilmu tadi

وآنس من نفسه قدرةً عليه

dan dia mendapatkan di dalam dirinya kemampuan (untuk mempelajari ilmu tersebut), dia senang memang dengan ilmu tadi dan dia punya kemampuan untuk mendalami ilmu tersebut

فتبحَّر فيه

maka silakan dia mendalami ilmu tersebut

سواءٌ كان فنًّا واحدًا أم أكثر

sama saja apakah yang dia senangi itu adalah satu cabang ilmu atau lebih dari satu cabang.

Kadang seseorang mencintai dan tabiatnya senang dengan ilmu ini dan ilmu itu ada beberapa ilmu yang dia senangi, tapi sebagian yang lain dan ini banyak biasanya yang dia senangi satu saja maka silahkan dia menambah wawasannya dan mendalami ilmu tadi.

ومن طيَّار شعرِ الشَّناقطة قولُ أحدهم

Diantara syi’ir (sya’ir) orang-orang syanaqithah, dan sya’ir ini tidak diketahui siapa yang mengucapkan makanya dinamakan dengan طيَّار (sya’ir yang berterbangan) yang tidak diketahui siapa yang mengucapkan pertama kali sya’ir ini. Dia mengatakan

و إن تُرد تحصيلَ فنٍّ تَمِّمهْ
وعن سواه قبل الانتهاءِ مَهْ

kalau kamu ingin mendapatkan (menguasai) sebuah cabang ilmu maka sempurnakan dan sebelum selesai ilmu tadi jangan engkau mempelajari yang lain.

وفي ترادف العلوم المنعُ جا
إن توأمانِ ٱستبقا لن يخرجا

Jadi petunjuk beliau kalau kita mempelajari sebuah ilmu maka hendaklah kita selesaikan dulu, ini adalah cara sebagian ulama, mereka memiliki cara yaitu kalau memang kita ingin mempelajari tauhid misalnya kita pelajari dari awal sampai akhir dulu tentang tauhid, kita belajar tsalatsatul ushul kitabut tauhid kemudian qawa’idul arba kasyfus syubhat dan seterusnya sampai kita benar-benar menguasai ilmu tadi barulah kita berpindah ke ilmu yang lain.

Kalau belum menguasai jangan membaca cabang-cabang ilmu yang lain, jangan belajar fiqih dulu jangan belajar ini dulu tapi belajar tentang tauhid dulu, ini maksud beliau ini cara sebagian ulama. Beliau mengatakan demikian karena

وفي ترادف العلوم المنعُ جا

karena ketika ilmu itu sama-sama dipelajari maka ini dilarang (tidak boleh) ini menurut beliau, tidak boleh di sini maksudnya jangan sampai dipelajari sama-sama, karena sesungguhnya dua bayi kembar kalau mereka tidak mau mengalah (masing-masing ingin cepat keluar dari perut ibunya)

لن يخرجا

maka dua-duanya tidak akan keluar, kalau tidak ada salah satu di antara keduanya yang mengalah dan semuanya ingin segera keluar dari perut ibunya maka dua-duanya justru tidak akan keluar, ini dipermisalkan orang yang ingin mendapatkan ilmu ini dan ilmu itu dalam waktu yang sama justru malah dia tidak mendapatkan dua-duanya, tapi kalau dia mempelajari satu ilmu terlebih dahulu sampai selesai baru dia mempelajari ilmu yang lain maka dia akan mengambil manfaat.

Ini cara sebagian ulama dan di sana ada cara yang lain dan ini lebih mudah bagi seorang penuntut ilmu, itu yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Al-Ushaimi pengarang kitab ini yaitu dengan cara kalau kita memang ingin mempelajari sebuah cabang ilmu, misalnya kita mempelajari tauhid kita mempelajari dasarnya, tidak harus kita menguasai seluruh dengan benar seluruh ilmu tauhid.

Mungkin cukup kita mempelajari tsalatsatul ushul kemudian kitabut tauhid kemudian setelah itu kita mempelajari tentang tata cara shalat tata cara wudhu, jangan sampai seseorang dua tahun atau tiga tahun dia mempelajari tentang tauhid sementara dia tidak tahu selama dua tahun tiga tahun tadi bagaimana cara wudhu yang benar bagaimana cara shalat yang benar. Kita mempelajari ilmu tauhid yang dasarnya kemudian setelah itu kita mempelajari tentang shalat tentang wudhu tentang dzikir pagi dan petang dan dzikir setelah shalat.

ومن عرف من نفسه قدرةً علىٰ الجمعِ جَمَعَ، وكانت حاله ٱستثناءً من العموم

Barang siapa yang mengetahui kemampuan didalam dirinya, dan masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dia tahu bahwasanya dirinya memiliki kemampuan untuk menjama’ yaitu menguasai lebih dari satu ilmu maka silahkan dia menjama’ dan keadaan dia ini adalah pengecualian  dari umumnya manusia, karena umumnya manusia mereka tidak mampu untuk menjama’ lebih dari satu ilmu, biasanya kalau spesialis masalah hadits maka dia di hadits saja.

Kadang di hadits pun ada yang lebih spesial lagi, ada seorang guru yang dia memang spesialisnya masalah tentang ilmu jarh wa ta’dil yaitu tentang bagaimana kita menilai seorang rawi, ada sebagian mereka di dalam ilmu hadits tapi dalam masalah musthalah, ada di antara mereka yang lebih khusus lagi tentang hadits-hadits yang palsu, jarang di antara mereka yang menguasai lebih dari satu cabang.

Kalau misalnya ada seseorang yang bisa ini dan bisa itu maka ini sebuah pengecualian, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beliau termasuk orang yang diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala anugerah memiliki keahlian dalam banyak cabang ilmu agama. Baik itu adalah simpul yang keenam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Selasa, 13 Januari 2026

Halaqah 08 | Simpul 06 – Menjaga Cabang Ilmu dan Mendahulukan yang Lebih Penting Di Antara yang Penting (1)


Selasa, 16 Desember 2025

Halaqah 07 | Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 07 | Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu

Halaqah 07 | Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الخامس

Simpul yang kelima adalah

سلوك الجادة الموصلة إليه

yaitu kita menempuh jalan yang menyampaikan kepada ilmu, kalau kita memang mengagungkan ilmu maka kita tempuh jalannya karena ilmu ini dia sudah memiliki jalan sendiri, kalau kita menempuh jalan ilmu tadi untuk mendapatkan ilmu maka berarti kita mengagungkan dan memuliakan ilmu, tapi kalau kita memilih jalan sendiri untuk mendapatkan ilmu maka kita tidak sampai dan berarti kita tidak mengagungkan ilmu itu sendiri.

لكلِّ مطلوبٍ طريقٌ يُوصل إليه،

Segala suatu yang dicari itu ada jalannya yang menyampaikan kepada ilmu

فمن سلك جادَّةَ مطلوبه أوقَفَتْهُ عليه

maka barang siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan sesuatu tadi maka dia akan mendapatkan sesuatu tadi

ومن عَدَلَ عنها لم يظفر بمطلوبه

barangsiapa yang menyimpang dari jalan tadi maka dia tidak akan mendapatkan apa yang dicari

وإنَّ للعلم طريقًا

dan sesungguhnya ilmu juga demikian, dia punya cara punya jalan

من أخطأها ضلَّ ولم يَنَلِ المقصود

barang siapa yang salah dan tidak menempuh jalan tadi maka dia akan sesat dan dia tidak akan mendapatkan maksudnya

وربما أصاب فائدةً قليلةً مع تعبٍ كثيرٍ

dan mungkin saja dia mendapatkan faedah, karena dia bermajelis ilmu dia mendapatkan faedah, tapi sedikit yang dia dapatkan berbeda dengan orang yang menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu maka dia akan mendapatkan faedah yang banyak

مع تعبٍ كثيرٍ

disertai dengan capek yang luar biasa.

Karena dia tidak menempuh jalannya akhirnya dia sedikit sekali mendapatkan ilmu tadi dan dia capek, capek karena dia salah jalan.

Dia orang yang tersesat ingin ke surabaya misalnya maka mungkin dia tidak sampai ke surabaya atau dia sampai ke surabaya tapi setelah dia capek, setelah dia mutar ke sana kemari baru dia sampai ke surabaya. Ini semua karena dia tidak mengikuti rambu-rambu tidak mengikuti jalan, kalau dia menempuh jalan dalam menuntut ilmu seperti yang ditempuh oleh para ulama maka insyaAllāh dia akan sampai kepada ilmu tersebut.

وقد ذكر هٰذا الطَّريق بلفظٍ جامعٍ مانعٍ محمَّدُ مرتضىٰ بن محمَّدٍ الزَّبيديُّ – صاحب تاج العروس

Dan telah menyebutkan jalan ini dengan lafadz yang menyeluruh dan dia lafadz yang menyingkirkan yang bukan masuk di dalamnya yaitu Muhammad Murtadha Ibnu Muhammad Azzabidiy yang mengarang Tājul ‘Arūs

في منظومةٍ له تُسمَّىٰ الفية السند يقول فيها

di dalam sebuah mandzumah yang dinamakan dengan Alfiatu Assanad, beliau mengatakan

فما حوىٰ الغايةَ في ألفِ سَنَهْ
شخصٌ فخذ من كلِّ فنٍّ أحسنهْ

tidak akan mencapai puncak di dalam 1000 tahun seseorang, maksudnya adalah seseorang yang tidak menempuh jalan ilmu meskipun dia belajar 1000 tahun kalau dia tidak menggunakan tidak menempuh jalan ilmu maka dia tidak akan sampai puncaknya

فخذ

maka beliau memberikan nasihat, maka ambillah

من كلِّ فنٍّ أحسنهْ

maka ambillah dari setiap cabang ilmu itu yang paling baik, maksudnya yang paling baik disini

بحفظ متنٍ جامعٍ للرَّاجحِ

dengan cara Antum menghafal, harus ada menghafalnya

متنٍ جامعٍ للرَّاجحِ

yang Antum hafal adalah matan yang menyeluruh atau matan yang isinya adalah perkara-perkara yang rajih menurut orang-orang yang ahli di dalam bidang tersebut, karena ilmu ini sudah berlalu bertahun-tahun dan para ulama yang menekuni bidang tadi mereka sudah mengetahui mana yang lebih kuat di antara permasalahan-permasalahan.

Di sana ada Matan yaitu kitab yang ringkas isinya adalah ringkasan dari ilmu-ilmu tadi, dijadikan dalam satu kitab yang ringkas dengan kata-kata yang mudah atau dengan kata-kata yang ringkas dan isinya adalah perkara-perkara yang lebih kuat di antara permasalahan-permasalahan tadi. Kalau memang di sana ada khilaf ada permasalahan yang diperselisihkan maka yang disebutkan dalam kitab tadi tidak semuanya tapi cukup dengan yang dikuatkan, ini namanya Matan.

Berarti disini jangan sampai kita menghafal Matan yang masih disebutkan disitu khilaf, carilah Matan yang memang dia menyeluruh diringkas ilmu tadi dalam Matan tersebut dan itu hanya mengumpulkan pendapat-pendapat yang kuat saja.

تأخذُه علىٰ مفيدٍ ناصحٍ

Bukan hanya menghafal Matan itu saja tapi engkau membawanya / mempelajarinya kepada orang yang bisa memberikan faedah, orang yang memahami.

Berarti Antum harus mempelajari Matan tadi kepada orang yang memahami Matan tadi yang bisa memberikan Antum faedah, dan dia adalah orang yang memang ingin kebaikan untuk Antum, ingin Antum paham ingin Antum itu beramal ingin Antum berhasil dalam menuntut ilmu berarti harus mencari seorang guru yang dia adalah مفيدٍ ناصحٍ dan akan diterangkan oleh beliau di sini apa yang dimaksud.

فطريق العلم وجادَّتُه مبنيَّةٌ علىٰ أمرين

Maka cara atau jalan menuntut ilmu adalah dibangun di atas dua perkara

من أخذ بهما كان معظِّما للعلم؛ لأنَّه يطلبه من حيث يُمكن الوصول إليه

barang siapa yang menempuh dua cara tadi atau dua perkara tadi maka berarti dia mengagungkan ilmu, karena dia mencari ilmu dengan caranya / cara yang memungkinkan dia sampai kepada ilmu tadi.

Berarti kalau kita mencari ilmu tapi bukan dengan caranya itu berarti kita dianggap menghinakan ilmu, mau mencari ilmu bukan dengan cara tadi dianggap kita ini menghinakan ilmu, jadi menuntut ilmu harus dengan caranya dan ini adalah menunjukkan kita itu senang dan kita itu ingin mencapai ilmu tersebut.

فأمَّا الأمر الأوَّل

Maka yang pertama

فحفظ متنٍ جامعٍ للرَّاجح

yang pertama adalah kita menghafal Matan yang mencakup atau isinya adalah perkara-perkara yang rajih (kuat)

فا بدَّ من حفظٍ

maka harus menghafal

ومن ظنَّ أنَّه يَنال العلم با حفظٍ فإنَّه يطلب مُحالً

barang siapa yang menyangka bahwasanya dia bisa mendapatkan ilmu tanpa menghafal berarti dia sedang mencari sesuatu yang mustahil.

Para ulama menghafal dan yang dihafal Matan, jadi Matan itu adalah perkara yang ringkas, kalau antum belajar ingin belajar aqidah menghafal matan-matan aqidah Antum ingin belajar fiqih yang menghafal matan-matan ringkas tentang masalah fiqih yang ada dalam setiap mazhab.

والمحفوظ المعوَّل عليه هو المتن الجامع للراجح؛ أي المعتمد عند أهل الفنِّ

Dan yang dihafal adalah Matan yang mengumpulkan perkara-perkara yang rajih

maksudnya adalah yang dijadikan pegangan / tumpuan menurut ulama-ulama yang ada di cabang ilmu tersebut.

Jadi mereka semuanya sepakat dan mereka banyak mensyarah kitab tadi atau Matan tadi ini menunjukkan bahwasanya kitab ini adalah menjadi pegangan bagi ulama-ulama yang ada di di dalam cabang ilmu tadi, misalnya kalau ushul fiqh di sana ada al-waraqat kalau masalah aqidah di sana ada aqidah washithiah atau lum’atul i’tiqad ini banyak disyarah oleh para ulama karena ini adalah suatu yang mu’tamad / dijadikan pegangan oleh mereka, ini kita harus semangat untuk menghafalnya.

وأمَّا الأمر الثَّاني

Adapun yang kedua

فأخذه علىٰ مفيدٍ ناصحٍ

adalah kita mempelajari Matan tadi kepada seorang yang bisa memberikan faedah dan dia adalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita

فتفزع إلىٰ شيخٍ تتفهَّمُ عنه معانيَه، يتَّصف بهذين الوصفين

maka hendaklah engkau mendatangi seorang guru yang maksud antum mempelajari ilmu tersebut di hadapan beliau adalah ingin memahami maknanya yang dia memiliki dua sifat ini yaitu

و أوَّلهما

sifat yang pertama adalah

الإفادة

dia bisa memberikan faedah ke Antum

وهي الأهليَّة في العلم، فيكونُ ممَّن عُرف بطلب العلم وتلقِّيه حتىٰ أدرك، فصارت له مَلَكةٌ قويَّةٌ فيه

Dia adalah orang yang ahli di dalam ilmu tersebut maka beliau adalah termasuk yang dikenal dengan menuntut ilmu, jadi orangnya memang dikenal sebagai penuntut ilmu, dan dikenal dia menerima ilmu tersebut dari guru-gurunya

حتىٰ أدرك

sampai dia memahami sehingga dia memiliki مَلَكةٌ قويَّةٌ kemampuan yang kuat di dalam ilmu tersebut, ini kita harus mencari siapa di antara mereka yang memiliki sifat ini.

والأصل في هٰذا ما أخرجه أبو داود في ‘سننه’ بإسنادٍ قويٍّ عن ابن عبَّاسٍ أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: تسمعون، ويُسمع منكم، ويُسمع ممَّن يَسمع منكم

Dalilnya adalah apa yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud di dalam sunannya dengan sanad yang kuat dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan; Kalian mendengar dan didengar dari kalian, kalian mendengar yaitu para sahabat kalian mendengar dari saya


ويُسمع منكم

dan orang yang setelah kalian mendengar dari kalian

ويُسمع ممَّن يَسمع منكم

kemudian orang yang datang setelah kalian diambil ilmunya oleh yang setelahnya, berarti di sini guru ke muridnya kemudian murid ke muridnya lagi murid ke muridnya lagi, ini adalah dalil bahwasanya kita harus mengambil ilmu dari guru (talaqqi) bukan membaca sendiri.

والعرة بعموم الخطاب، لا بخصوص المخاطَب

Dan pelajarannya di sini adalah dengan umumnya ucapan Nabi ﷺ tadi bukan khususnya orang yang diajak bicara oleh Nabi ﷺ, karena saat itu Beliau ﷺ ketika mengatakan تسمعون yang diajak bicara adalah para sahabat tapi yang yang menjadi pelajaran kita yang kita ambil pelajaran di sini adalah keumuman ucapan Beliau ﷺ.

Jadi تسمعون bukan hanya para sahabat saja tapi maksudnya adalah umat ini semuanya bukan hanya sahabat saja tapi ini adalah cara umat ini semuanya dalam menuntut ilmu yaitu dengan dari seorang guru.

فا يزال من معالم العلم في هٰذه الأمَّة أن يأخذه الخالف عن السَّالف

Maka di dalam umat ini senantiasa ketika mereka termasuk menara-menara ilmu cara mereka mendapatkan ilmu adalah yang setelahnya mengambil ilmu dari yang sebelumnya, seorang murid mengambil ilmu dari gurunya dari dulu demikian.

أما الوصف الثَّاني فهو النَّصيحة

Adapun yang kedua maka guru tersebut dia memiliki nashihah

وتجمع معنيين ٱثنين

yang dimaksud dengan nashihah seorang guru yang bernasihat adalah yang memiliki dua sifat

أحدهما

yang pertama seorang guru yang nashih (yang menginginkan kebaikan bagi kita)

صلاحية الشَّيخ للاقتداء به

Syaikh (guru) tersebut pantas untuk ditiru

والاهتداء بهديه

dia pantas untuk ditiru petunjuknya

ودَلِّه وسَمْته

dan juga tingkah lakunya (gerak-geriknya) bisa dijadikan contoh bagi yang lain, itu yang pertama.

والآخر

adapun yang kedua, sifat yang kedua yang ini merupakan sifat seorang guru yang nashih

معرفته بطرائق التَّعليم

beliau punya pengalaman bagaimana cara mengajar, punya pengalaman tentang cara-cara di dalam mengajar

بحيث يُحسِن تعليمَ المتعلِّم

yaitu mampu mengajari orang yang sedang belajar, mengerti keadaan oh ini kalau demikian maka diajari demikian, beliau sudah punya pengalaman untuk mengajar orang yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa orang yang sebelumnya tidak paham menjadi paham.

Karena ada sebagian mungkin secara keilmuan dia bagus diakui tapi belum tentu beliau bisa mengajarkan kepada orang lain, tentunya kita belajar ingin mendapatkan faedah untuk apa kita duduk lama-lama di situ tapi kita tidak paham, beliau sebenarnya berilmu tapi kita tidak paham bagaimana dan apa yang beliau maksud. Tentunya kita ingin mencari seorang guru yang nashih diantaranya adalah yang memiliki kemampuan untuk mentransfer menyampaikan ilmu tadi kepada orang lain.

ويعرف ما يَصلُح له وما يضرُّه

Guru tersebut mengetahui apa yang baik bagi muridnya dan apa yang memudharati muridnya, dia tahu ini jangan dibaca dulu ini kalau antum ingin memahami lebih dalam ini yang Antum lakukan

وَفق التَّربيَّة العلميَّة الَّتي ذكرها الشَّاطبيُّ في – الموافقات

sesuai dengan tarbiyyah ilmiyyah yang disebutkan oleh Asy-Syatibiy di dalam Al-Muwafaqat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Selasa, 18 November 2025

Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah

 

  • Home
  • Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah

Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah




Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الرابع

Simpul yang ke empat diantara dua puluh simpul yang beliau sebutkan di dalam kitab ini adalah

صرف الهمة فيه إلى علم القرآن والسنة

Kalau tadi kita sudah mengetahui bahwasanya pengagungan terhadap ilmu adalah dengan mengumpulkan berbagai keinginan untuk ilmu tadi maka sekarang kita harus mengumpulkan keinginan tadi untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Ini adalah termasuk pengagungan kita terhadap ilmu karena ilmu sumbernya adalah Al-Qur’an dan hadits, kalau kita ingin mengagungkan ilmu maka kita harus memiliki perhatian yang besar untuk mengenal Al-Qur’an dan juga hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Karena mungkin sebagian orang ketika dia baru hijrah dan mengenal agama ini ingin belajar kemudian akhirnya dia kesana kemari mencari ilmu tapi sayangnya perhatian dia terhadap Al-Qur’an dan hadits ini kurang, menganggap bahwasanya kalau saya belajar tafsir atau Ana belajar hadits kapan saya dapat ilmu, Ana ingin belajar fiqih Ana ingin belajar Ushul fiqih Ana ingin belajar musthalah hadits.

Seakan-akan kalau mempelajari ayat-ayat Allāh ﷻ belajar tafsir mempelajari Syarah dari hadits-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi Wasallam ini Ana tidak akan mendapatkan ilmu Ana akan menghabiskan waktu. Justru inilah sumber dari ilmu, maka kita harus kerahkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu Al-Quran dan juga sunnah.

إنَّ كلَّ علمٍ نافعٍ مردُّه إلىٰ كلام الله وكلام رسوله صلى الله عليه وسلم

Ketahuilah bahwasanya setiap ilmu yang bermanfaat itu sebenarnya kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, seluruh ilmu yang bermanfaat itu kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, kepada Al-Quran dan juga kepada sunnah.

وباقي العلوم: إمَّا خادمٌ لهما؛ فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة، أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل به

Adapun yang selainnya (selain Al-Qur’an dan Sunnah) terkadang dia fungsinya adalah untuk melayani supaya kita bisa memahami dengan baik Al-Quran dan Sunnah, maka itu tidak apa-apa dipelajari karena dia akan membawa kita untuk bisa memahami Al-Quran dan Sunnah,

فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة

maka kita ambil ilmu tadi sehingga kita bisa mewujudkan pemahaman kita terhadap Al-Quran dan juga Sunnah.

Berarti mempelajari ilmu nahwu sharaf bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an dan Sunnah, kita mempelajari misalnya ushulu tafsir (kaidah-kaidah dalam tafsir) maka itu bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an, kita mempelajari misalnya Syarah hadits-hadits Arbain Nawawi bagus kita akan mempelajari dan memahami Sunnah Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam

أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل به

atau ilmu tersebut adalah tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan Hadits maka tidak memudharati kita kalau kita tidak tahu tentang ilmu tersebut, jangan merasa rugi kalau memang ilmu tadi tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan hadits, tapi merasalah rugi kalau ilmu tadi berkaitan dengan Al-Quran dan juga hadits.

وما أحسنَ قولَ عياضٍ اليَحصُبيِّ في كتابه الإلماع

Sungguh baik ucapan ‘Iyadh Al-Yahshubiy dalam kitab beliau Al-Ilma’

العلم في أصلين لا يعْدُوهما
إلَّ المُضِلُّ عنِ الطَّريق اللَّحبِ
علمُ الكتاب وعلمُ الاثارِالَّتي
قد أُسندت عن تابعٍ عن صاحبِ

Beliau mengatakan ilmu itu ada dalam dua pokok, tidak melewatinya kecuali orang yang sesat dari jalan yang jelas, yang pertama di dalam

علمُ الكتاب وعلمُ الاثارِ

ilmu yang ada di dalam Al-Quran dan juga ilmu yang ada di dalam sunnah, Al-Quran dan juga hadits. Ilmu Hadits yaitu hadits-hadits yang disandarkan dari seorang tabi’in dari seorang sahabat yaitu hadits-hadits yang sahih maksudnya, berarti ilmu ini menurut para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam ilmu, mereka mengatakan bahwasanya ilmu itu pondasinya pada Al-Quran dan hadits sehingga harusnya kita memiliki perhatian yang besar terhadap Qur’an dan hadits ini.

وقد كان هٰذا هو علم السَّلف – عليهم رحمة الله

Inilah dulu ilmu Salaf, dulu para Salaf itu kalau di majelis yang dibacakan ya hadits Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam saja, haddatsana fulan qola haddatsana fulan sebutkan hadits, kemudian menyebutkan yang satunya lagi hadits dan seterusnya, majelis-majelis mereka majelis-majelis hadits.

ثمَّ كَثُر الكلام بعدهم فيما لا ينفع

Kemudian setelah itu banyak kalam (ucapan) di dalam perkara yang tidak bermanfaat

فالعلم في السَّلف أكثر، والكلام فيمن بعدهم أكثر

Ilmu di masa para salaf itu lebih banyak tapi ucapan mereka sedikit, jadi karena majelis-majelis mereka ilmu saja hadits-hadits saja yang disebutkan oleh mereka makanya ilmu mereka lebih banyak, adapun ucapan maka yang setelah mereka ini yang lebih banyak, ilmunya ada cuma ucapan mereka lebih banyak daripada ilmunya.

قال حمَّاد بن زيد

Berkata Hammad ibn Zaid


قلت لأيوبَ السَّختيانيِّ: العلم اليوم أكثر أو فيما تقدم؟

Hammad ibn Zaid mengatakan; Aku berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyaniy, ilmu di hari ini lebih banyak atau dahulu? Karena di zaman beliau mungkin beliau melihat mulai banyak orang yang bicara

فقال: الكلام اليوم أكثر

Ucapan yaitu selain ilmu di hari ini lebih banyak, beda dengan zaman dulu

والعلم فيما تقدم أكثر

Adapun ilmu maka yang zaman dahulu itu lebih banyak.

Jadi yang banyak sekarang adalah ucapan manusia bukan ilmu, adapun zaman dahulu maka yang lebih banyak adalah qālallāh wa qāla rasul itu yang ada pada majelis-majelis ilmu zaman dahulu.

Maka simpul yang keempat ini di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu kita harus kembali mau untuk mempelajari Al-Qur’an dan juga hadits, mempelajari Al-Qur’an kembali kepada Tafsir Al-Qur’an dan di sana ada kadar dari Al-Qur’an yang bagusnya dipelajari oleh seorang penuntut ilmu.

Kalau tidak salah Syaikh Shaleh Al-Ushaimi pernah menyebutkan seseorang kalau ingin mempelajari Al-Qur’an atau Tafsir Al-Qur’an maka dia minimal mempelajari Tafsir Al-Baqarah, mempelajari sampai Tafsir Al-Baqarah dengan qisar al-mufashshal juz-juz yang terakhir kalau tidak salah dari surah Qof sampai akhir.

Ini kalau kita mempelajarinya mempelajari Tafsirnya InsyaAllāh kita bisa memahami Al-Qur’an ini secara global apa yang ada di dalamnya kalau kita mempelajari Al-Fatihah Al-Baqarah kemudian beberapa juz yang terakhir dari Al-Qur’an, kita memahaminya maka InsyaAllāh ayat-ayat yang lain kita akan mudah juga untuk untuk memahaminya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته