Selasa, 18 November 2025

Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah

 

  • Home
  • Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah

Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah




Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الرابع

Simpul yang ke empat diantara dua puluh simpul yang beliau sebutkan di dalam kitab ini adalah

صرف الهمة فيه إلى علم القرآن والسنة

Kalau tadi kita sudah mengetahui bahwasanya pengagungan terhadap ilmu adalah dengan mengumpulkan berbagai keinginan untuk ilmu tadi maka sekarang kita harus mengumpulkan keinginan tadi untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Ini adalah termasuk pengagungan kita terhadap ilmu karena ilmu sumbernya adalah Al-Qur’an dan hadits, kalau kita ingin mengagungkan ilmu maka kita harus memiliki perhatian yang besar untuk mengenal Al-Qur’an dan juga hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Karena mungkin sebagian orang ketika dia baru hijrah dan mengenal agama ini ingin belajar kemudian akhirnya dia kesana kemari mencari ilmu tapi sayangnya perhatian dia terhadap Al-Qur’an dan hadits ini kurang, menganggap bahwasanya kalau saya belajar tafsir atau Ana belajar hadits kapan saya dapat ilmu, Ana ingin belajar fiqih Ana ingin belajar Ushul fiqih Ana ingin belajar musthalah hadits.

Seakan-akan kalau mempelajari ayat-ayat Allāh ﷻ belajar tafsir mempelajari Syarah dari hadits-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi Wasallam ini Ana tidak akan mendapatkan ilmu Ana akan menghabiskan waktu. Justru inilah sumber dari ilmu, maka kita harus kerahkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu Al-Quran dan juga sunnah.

إنَّ كلَّ علمٍ نافعٍ مردُّه إلىٰ كلام الله وكلام رسوله صلى الله عليه وسلم

Ketahuilah bahwasanya setiap ilmu yang bermanfaat itu sebenarnya kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, seluruh ilmu yang bermanfaat itu kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, kepada Al-Quran dan juga kepada sunnah.

وباقي العلوم: إمَّا خادمٌ لهما؛ فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة، أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل به

Adapun yang selainnya (selain Al-Qur’an dan Sunnah) terkadang dia fungsinya adalah untuk melayani supaya kita bisa memahami dengan baik Al-Quran dan Sunnah, maka itu tidak apa-apa dipelajari karena dia akan membawa kita untuk bisa memahami Al-Quran dan Sunnah,

فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة

maka kita ambil ilmu tadi sehingga kita bisa mewujudkan pemahaman kita terhadap Al-Quran dan juga Sunnah.

Berarti mempelajari ilmu nahwu sharaf bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an dan Sunnah, kita mempelajari misalnya ushulu tafsir (kaidah-kaidah dalam tafsir) maka itu bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an, kita mempelajari misalnya Syarah hadits-hadits Arbain Nawawi bagus kita akan mempelajari dan memahami Sunnah Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam

أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل به

atau ilmu tersebut adalah tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan Hadits maka tidak memudharati kita kalau kita tidak tahu tentang ilmu tersebut, jangan merasa rugi kalau memang ilmu tadi tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan hadits, tapi merasalah rugi kalau ilmu tadi berkaitan dengan Al-Quran dan juga hadits.

وما أحسنَ قولَ عياضٍ اليَحصُبيِّ في كتابه الإلماع

Sungguh baik ucapan ‘Iyadh Al-Yahshubiy dalam kitab beliau Al-Ilma’

العلم في أصلين لا يعْدُوهما
إلَّ المُضِلُّ عنِ الطَّريق اللَّحبِ
علمُ الكتاب وعلمُ الاثارِالَّتي
قد أُسندت عن تابعٍ عن صاحبِ

Beliau mengatakan ilmu itu ada dalam dua pokok, tidak melewatinya kecuali orang yang sesat dari jalan yang jelas, yang pertama di dalam

علمُ الكتاب وعلمُ الاثارِ

ilmu yang ada di dalam Al-Quran dan juga ilmu yang ada di dalam sunnah, Al-Quran dan juga hadits. Ilmu Hadits yaitu hadits-hadits yang disandarkan dari seorang tabi’in dari seorang sahabat yaitu hadits-hadits yang sahih maksudnya, berarti ilmu ini menurut para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam ilmu, mereka mengatakan bahwasanya ilmu itu pondasinya pada Al-Quran dan hadits sehingga harusnya kita memiliki perhatian yang besar terhadap Qur’an dan hadits ini.

وقد كان هٰذا هو علم السَّلف – عليهم رحمة الله

Inilah dulu ilmu Salaf, dulu para Salaf itu kalau di majelis yang dibacakan ya hadits Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam saja, haddatsana fulan qola haddatsana fulan sebutkan hadits, kemudian menyebutkan yang satunya lagi hadits dan seterusnya, majelis-majelis mereka majelis-majelis hadits.

ثمَّ كَثُر الكلام بعدهم فيما لا ينفع

Kemudian setelah itu banyak kalam (ucapan) di dalam perkara yang tidak bermanfaat

فالعلم في السَّلف أكثر، والكلام فيمن بعدهم أكثر

Ilmu di masa para salaf itu lebih banyak tapi ucapan mereka sedikit, jadi karena majelis-majelis mereka ilmu saja hadits-hadits saja yang disebutkan oleh mereka makanya ilmu mereka lebih banyak, adapun ucapan maka yang setelah mereka ini yang lebih banyak, ilmunya ada cuma ucapan mereka lebih banyak daripada ilmunya.

قال حمَّاد بن زيد

Berkata Hammad ibn Zaid


قلت لأيوبَ السَّختيانيِّ: العلم اليوم أكثر أو فيما تقدم؟

Hammad ibn Zaid mengatakan; Aku berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyaniy, ilmu di hari ini lebih banyak atau dahulu? Karena di zaman beliau mungkin beliau melihat mulai banyak orang yang bicara

فقال: الكلام اليوم أكثر

Ucapan yaitu selain ilmu di hari ini lebih banyak, beda dengan zaman dulu

والعلم فيما تقدم أكثر

Adapun ilmu maka yang zaman dahulu itu lebih banyak.

Jadi yang banyak sekarang adalah ucapan manusia bukan ilmu, adapun zaman dahulu maka yang lebih banyak adalah qālallāh wa qāla rasul itu yang ada pada majelis-majelis ilmu zaman dahulu.

Maka simpul yang keempat ini di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu kita harus kembali mau untuk mempelajari Al-Qur’an dan juga hadits, mempelajari Al-Qur’an kembali kepada Tafsir Al-Qur’an dan di sana ada kadar dari Al-Qur’an yang bagusnya dipelajari oleh seorang penuntut ilmu.

Kalau tidak salah Syaikh Shaleh Al-Ushaimi pernah menyebutkan seseorang kalau ingin mempelajari Al-Qur’an atau Tafsir Al-Qur’an maka dia minimal mempelajari Tafsir Al-Baqarah, mempelajari sampai Tafsir Al-Baqarah dengan qisar al-mufashshal juz-juz yang terakhir kalau tidak salah dari surah Qof sampai akhir.

Ini kalau kita mempelajarinya mempelajari Tafsirnya InsyaAllāh kita bisa memahami Al-Qur’an ini secara global apa yang ada di dalamnya kalau kita mempelajari Al-Fatihah Al-Baqarah kemudian beberapa juz yang terakhir dari Al-Qur’an, kita memahaminya maka InsyaAllāh ayat-ayat yang lain kita akan mudah juga untuk untuk memahaminya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Halaqah 05 | Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 05 | Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu

Halaqah 05 | Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الثالث

Simpul yang ketiga di antara 20 simpul yang disebutkan di dalam kitab ini adalah

جمع همة النفس عليه

Mengumpulkan keinginan jiwa, jiwa kita ini punya banyak keinginan ingin itu ingin ini ingin mobil ingin berkeluarga ingin anak dan seterusnya, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus mengagungkan ilmu di antara bentuk pengagungan ilmu kita harus kumpulkan keinginan-keinginan / himmah-himmah tadi kita kumpulkan pada ilmu tadi, ini bentuk bahwasanya kita benar-benar mengagungkan terhadap ilmu tadi sampai keinginan-keinginan tadi kita kesampingkan kita kumpulkan semuanya kepada ilmu.

تُجمع الهِمَّة علىٰ المطلوب بتَفقُّد ثلاثة أمورٍ

Dikumpulkan keinginan untuk mendapatkan ilmu tadi dengan kita memperhatikan tiga perkara

أوَّلِها: الحرص علىٰ ما ينفع، فمتىٰ وُفِّق العبد إلىٰ ما ينفعه حَرَص عليه

Bagaimana kita bisa mendatangkan keinginan yang besar tadi bagaimana kita bisa mengumpulkan keinginan tadi untuk semuanya dikerahkan mendapatkan ilmu, caranya adalah kita harus bersemangat untuk mendapatkan yang bermanfaat, kita harus tahu bahwasanya ilmu itu adalah bermanfaat bagi kita di dunia dan juga di akhirat, kalau kita mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat maka kita akan bersemangat untuk mendapatkannya, sebagaimana dalam ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu.

Maka seorang hamba yang diberikan Taufik untuk mengetahui apa yang bermanfaat baginya dia harus bersemangat untuk mendapatkannya. Kalau antum tahu bahwasanya ilmu ini adalah yang membawa kebaikan kita di dunia dan juga di akhirat maka kita harus semangat untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Ini yang pertama caranya adalah dengan mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan tidak ada yang lebih bermanfaat daripada ilmu agama. Kemudian yang kedua

ثانيها: الاستعانة بالله ﷻ في تحصيله

Kita harus meminta kepada Allāh ﷻ pertolongan untuk mendapatkannya, jangan hanya sekedar semangat untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat tapi kita harus memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ.

Tunjukkan bahwasanya antum benar-benar ingin mendapatkan ilmu dengan cara meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ, Ya Allāh ﷻ tolonglah saya untuk mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat. Ketika antum berdoa dan mengatakan Ya Allāh ﷻ mudahkanlah saya dalam menuntut ilmu itu menunjukkan bahwanya antum punya keinginan yang besar untuk mendapatkan ilmu, tapi kalau antum jarang meminta kepada Allāh ﷻ jarang mengatakan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا

atau seandainya dia mengucapkan begitu saja tanpa dia memahami maknanya berarti mana hal yang menunjukkan bahwasanya antum menginginkan ilmu tersebut.

Seorang penuntut ilmu harusnya sering dia Isti’anah dan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menuntut ilmu agama.

ثالثِها

Yang ketiga

عدم العجز عن بلوغ البُغية منه

Jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya, sebelum kita mendapatkan ilmu jangan kita lemah dan merasa tidak bisa mendapatkan ilmu tersebut.

Seseorang harus memiliki husnudzon kepada Allāh ﷻ dan jangan dia merasa lemah, mungkin karena sakit kemudian dia lemah tidak mau menuntut ilmu padahal cuma sakit ringan saja atau dia kesulitan dalam masalah ekonomi kemudian dia mundur ke belakang, sudah ana mau berkebun saja atau karena jauh tempatnya kemudian dia beralasan karena jauh kemudian akhirnya dia mundur tidak jadi menuntut ilmu, ini namanya lemah, jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya.

وقد جُمِعت هٰذه الأمورُ الثَّلاثة في الحديث الَّذي رواه مسلم عن أبي هريرة أن الني صلى الله عليه وسلم قال: احرِص علىٰ ما ينفعك، واستعنْ بالله ، ولا تَعْجِزْ

Dan telah dikumpulkan tiga perkara ini di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam mengatakan hendaklah engkau semangat di dalam perkara yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau lemah.

Ini dikumpulkan dalam satu hadits, punya semangat terhadap perkara yang bermanfaat bagimu kemudian kita iringi dengan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ kemudian jangan kita lemah, lemah karena ekonomi lemah karena kejauhan lemah karena mungkin sakit dan seterusnya, kita harus punya semangat untuk sampai kepada ilmu tersebut.

وقال ابن القيِّم

Berkata Ibnul Qoyyim


إِذَا طَلَعَ نَجْمُ الهِمَّةِ فِي ظُلُمَاتِ لَيْلِ البَطَالَةِ، وَرَدِفَهُ قَمَرُ العَزِيمَةِ، أَشْرَقَتِ الأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا

Apabila muncul bintang al-himmah (keinginan yang kuat), kalau sudah muncul keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu di dalam kegelapan kerusakan dan juga kesibukan dengan suatu yang tidak bermanfaat, muncul tiba-tiba keinginan yang kuat, sebelumnya kita berada di dalam kegelapan kebodohan, kalau sudah muncul keinginan yang kuat ditambah lagi di sana ada ‘azimah, ada himmah dan juga ada ‘azimah, ada keinginan yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang mulia tadi

أشرقت الأرض بنور ربِهّا

maka akan bercahaya bumi ini dengan cahaya Rabbnya, yaitu dengan ilmu.

Maksud beliau di sini adalah kalau kita memang punya keinginan yang kuat maka kita akan mendapatkan InsyaAllāh apa yang kita inginkan.

وإنَّ ممَّا يعلي الهِمَّة ويسمو بالنَّفس: ٱعتبارَ حال مَن سبق، وتعرُّفَ هِمم القوم الماضين

Kemudian beliau menyebutkan disini bagaimana cara kita untuk mendapatkan semangat yang kuat, bagaimana supaya kita bisa mengumpulkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu sehingga tidak bercabang keinginan, caranya di antaranya adalah dengan kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita, kisah-kisah mereka bagaimana mereka menuntut ilmu agama kita mengetahui tentang himmah-himmah mereka orang-orang yang sudah berlalu.

Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh

فأبو عبد الله أحمد ابن حنبلٍ كان – وهو في الصِّبا – ربَّما أراد الخروج قبل الفجر إلىٰ حِلَق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول – رحمة به: حتىٰ يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحوا

Dahulu Imam Ahmad ibn Hanbal Abu Abdillah dan beliau saat itu masih kecil terkadang beliau ingin keluar dari rumahnya sebelum subuh, sebelum subuh itu sudah ingin keluar dari rumahnya, untuk menuju ke majelis-majelis Syaikh, mungkin saat itu masih kecil tapi sudah memiliki keinginan yang kuat ingin tahu ingin menghafal hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam.

Maka ibu beliau memegang pakaian beliau dan mengatakan dengan kasih sayang, maksudnya adalah ingin karena perasaan beliau sebagai seorang ibu menyayangi anaknya, beliau mengatakan sampai adzan atau sudah masuk waktu pagi baru engkau keluar, beliau tidak melarang anaknya untuk menuntut ilmu tapi kasihan sebelum subuh sudah pergi, beliau bilang sampai adzan kalau sudah adzan silakan pergi atau masuk waktu pagi silahkan mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut.

Itu Al Imamu Ahmad ibn Hanbal bagaimana beliau bisa sampai menjadi seorang imam besar, demikian semangat beliau datang majelis ilmu sebelum datang gurunya dia sudah semangat untuk mendatangi majelis tersebut. Jangan kita berlambat-lambat dalam menghadiri majelis ilmu.

وقرأ الخطيب البغداديُّ صحيح البخاري كلَّه علىٰ إسماعيل الحِيريِّ في ثلاثة مجالسَ

Al-Khatib Al Baghdadi (ini menunjukkan bagaimana semangat mereka untuk mendapatkan ilmu) membaca Shahih Al-Bukhari semuanya kepada Ismail Al-Hiyriy dalam tiga majelis saja

ٱثنان منها في ليلتن من وقت صاة المغرب إلىٰ صاة الفجر

Tiga majelis dua diantaranya ada di dua malam dari semenjak shalat magrib sampai shalat fajar, baca terus baca Shahih Al-Bukhari ini yang dinamakan dengan qira’ah yaitu membaca kitab tersebut kepada gurunya, mungkin jarang disyarah tapi membaca saja sekedar membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam meskipun tidak disyarah oleh gurunya itu sudah besar pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Kemudian di hari yang ketiga

واليوم الثَّالث من ضحوة النَّهار إلىٰ صاة المغرب

dari siang hari sampai shalat magrib

ومن المغرب إلىٰ طلوع الفجر

ditambah lagi majelisnya dari maghrib sampai subuh.

Jadi hari yang ketiga lebih panjang lagi, dari dzuhur sampai maghrib dilanjutkan lagi dari maghrib sampai terbit fajar. Ini kalau sudah semangat dalam hati mereka membara maka tidak ada yang menghalangi mereka, mereka berusaha untuk mengkhatamkan membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam tadi dalam waktu yang sangat singkat yang mungkin tidak dibayangkan oleh sebagian dari kita.

وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أوَّلَ ٱبتدائه يدرس اللَّيل كلَّه

Seorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Tabban di awal beliau belajar, beliau belajar agama di seluruh malam

فكانت أُمُّه ترحمه

Ibunya sayang kepada beliau


وتنهاه عن القراءة باللَّيل

kemudian melarang dia untuk membaca di malam hari, karena zaman dahulu sangat terbatas sekali cahaya di malam hari, bisa merusak matanya

فكان يأخذ المصباح ويجعله تحت الجَفنة

karena beliau semangat untuk mendapatkan ilmu tidak tenang dia untuk tidur begitu saja tanpa membaca, maka apa yang beliau lakukan supaya bisa membaca padahal Ibunya sudah melarang, beliau mengambil lampu kemudian beliau taruh itu di bawah al-jafnah (bejana yang besar) sehingga tidak kelihatan

ويتظاهر بالنَّوم

kemudian dia pura-pura tidur

فإذا رقدت

kalau Ibunya sudah tidur

أخرج المصباح وأقبل علىٰ الدَّرس

maka beliau pun mengeluarkan lampu tadi kemudian beliau pun belajar sehingga ibunya tidak melihat dia dalam keadaan belajar, ini tidak mungkin bisa terjadi kecuali bagi orang yang memiliki semangat yang kuat di dalam menuntut ilmu, dia merasa tenang dan merasa lezat di malam tersebut ketika dia membaca dan ketika dia menghafal ilmu tersebut.

فكن رجاً رِجْلُه على الثَّرىٰ ثابتة

Maka hendaklah engkau menjadi seorang laki-laki yang kakinya berada di atas bumi dalam keadaan kokoh

وهامةُ همته فوق الثُّريا

dan dia memiliki keinginan yang tinggi yang lebih tinggi daripada tsurayya (nama bintang), menjadi orang yang kokoh di atas bumi dan keinginan dia lebih tinggi daripada bintang

سامقة

dalam keadaan tinggi


ولا تكن شابَّ البدن أشيبَ الهِمَّة

Jangan engkau menjadi seorang yang badannya saja yang mudah tetapi keinginannya adalah keinginan seorang yang sudah tua, jangan engkau menjadi seseorang yang punya badan yang muda tetapi keinginannya sudah tua yaitu sudah lemah padahal dia memiliki badan yang kekar

فإنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيب

karena himmah dan juga keinginan yang tinggi dari orang yang jujur, orang yang jujur keinginannya tadi yang mengumpulkan keinginan-keinginan dia tadi, maka itu tidak akan menjadi tua.

Jadi orang yang jujur dalam keinginannya meskipun rambutnya ini beruban dan kulitnya sudah mulai berubah tapi kalau dia adalah orang yang jujur maka itu tidak akan merubah himmahnya, sampai tua pun dia akan menuntut ilmu.

كان أبو الوفاء ابن عَقيل – أحدُ أذكياءِ العالم من فقهاء الحنابلة – يُنشِد وهو في الثمانين

Dahulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil beliau adalah salah seorang di antara orang-orang yang cerdas di antara ahli fiqih mazhab Hanbali, beliau pernah membuat syair dan umur beliau adalah 80 tahun, kata beliau

ما شاب عزمي ولا حزمي ولاخُلُقي

ولا ولائي ولا ديني ولا كرمي

Keinginanku tidak menjadi tua, aku memang sudah tua umurku sudah 80 tahun tapi keingananku tidak menjadi tua

ولا حزمي

dan juga ketegasanku (keinginanku yang kuat tekadku yang kuat) tidak menjadi tua karena tubuhku yang sudah tua

ولاخُلُقي

dan juga akhlakku tidak berubah

ولا ولائي

demikian pula loyalitasku, terhadap agama ini

ولا ديني

dan juga agamaku, ibadahku

ولا كرمي

demikian pula kemurahanku, infaqku tidak berubah karena beliau sudah tua

وإنمَّا ٱعتاض شعري غيرَ صِبغته

Yang terjadi adalah rambutku saja itu berubah warnanya, yang sebelumnya hitam menjadi putih

والشَّيبُ في الشَّعر غيرُ الشَّيب في الهِممِ

dan menjadi putihnya rambut itu lain dengan menjadi tuanya tekad yang kuat.

Artinya beliau di sini mengingatkan bahwasanya meskipun ana sudah tua rambutku sudah beruban dan kulitku sudah berubah tapi itu hanya dzahirnya saja, adapun semangatku masih seperti dahulu ibadahku agamaku loyalitasku terhadap agama ini akhlakku tekadku yang kuat itu masih seperti ketika dahulu aku masih muda.

Ini menunjukkan kepada kita keharusan kita untuk mengumpulkan keinginan kita untuk ilmu ini supaya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Rabu, 05 November 2025

Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ

 

  • Home
  • Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ

Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الثاني

Simpul yang kedua di antara simpul-simpul yang dengannya insyaAllah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu dengan

إخلاص النية فيه

mengikhlaskan niat di dalam ilmu, فيه di sini kembali kepada ilmu, mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ, ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka di antara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk, karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu, ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu, tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut, ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.

إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولها

Sesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima, kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ, beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas tangganya juga keikhlasan dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan amalan tersebut harus ada

قال تعالىٰ

Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5

Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas dalam keadaan mentauhidkan Allah.

وفي الصَّحيحين

Di dalam Shahih Bukhari dan juga Muslim

عن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰ

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Amalan itu harus dengan niat kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam islam

وما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمين

Tidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.

Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas, ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah sampai menjadi seorang ahli fiqh ada yang ahlul hadits ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas, jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan hanya sekedar menghafal, tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena di antaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal, mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh menjadi seorang ahlul hadits.

قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القوم

Berkata Abu Bakar Al-Marrudziy aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan, yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan, orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi, dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu namanya sidq berarti dia jujur di dalam keinginannya. Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ, berarti ada shidq dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbal

بهٰذا ٱرتفع القوم

dengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ. Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Malik, kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.

وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصه

Sesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia, semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ bukan mendapatkan dunia.

Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia, kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia supaya dikenal supaya populer supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.

والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصول

Ikhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasi

بها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدها

dengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar, kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.

Yang pertama adalah

الأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسه

Niat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiri

بتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهي

Kita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh ana ingin punya ilmu kalau memang niat dia adalah demikian ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah, karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya dia sayangi dirinya dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu. Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah

الثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهم

adalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.

Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana kepada tetangga ana maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.

Yang ketiga

الثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياع

Niat kita adalah ingin menghidupkan ilmu, yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.

Yang keempat

الرَّابع: العمل بالعلم

Niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu, kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.

ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهم

Dahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis. Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.

Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.

Beliau memberikan contoh disini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya

سئل الإمامُ أحمدُ

ditanya Al Imamu Ahmad


هل طلبت العلم لله؟

apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻ

فقال: لله عزيز

beliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudah

ولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُه

akan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal mereka senang untuk berpikir tentang ilmu

فطلبتُه

maka aku pun mencarinya.

Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas tapi mereka beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.

ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌ

Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.

Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu mendatangi majelis ilmu keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصل

Maka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena dunia

وهو الإخلاص

yaitu keikhlasan


في أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِها

di dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.

ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّة

Akan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat, kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.

Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauriy

قال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّ

Lihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku, berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnya

لأنَّها تتقلَّب عليَّ

karena niatku tersebut senantiasa bolak-balik, karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.

Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻ

Demikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.

بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍ

Bahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagian

تغيَّرت نيَّتي

aku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya, belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya, mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan disitu dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya, ini perlu diawasi lagi perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.

فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍ

Ternyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.

Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

      

Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الأول

Simpul yang pertama kata beliau

تطهير وعاء العلم

Di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama adalah kita harus membersihkan tempat dari ilmu tersebut, karena dia punya tempat, termasuk penghormatan kita dan pengagungan kita terhadap ilmu tadi maka kita harus membersihkan terlebih dahulu tempat tersebut.

Kita kalau mau kedatangan tamu yang kita hormati maka kita berusaha untuk membersihkan rumah, halaman kita bersihkan ruang tamu kita bersihkan bahkan sampai kamar mandi pun kita bersihkan karena di dalam diri kita ada penghormatan terhadap orang tersebut. Kalau memang kita ingin menunjukkan penganggungan kita terhadap ilmu dan ilmu itu letaknya atau rumahnya tempatnya adalah di dalam hati kita sehingga otomatis kita harus membersihkan hati tersebut. Beliau mengatakan

وهو القلب

dan tempat dari ilmu adalah hati

وبحسَب طهارة القلب يدخله العلم، وإذا ٱزدادت طهارته ٱزدادت قابليَّته للعلم

maka sesuai dengan kebersihan hati seseorang ilmu itu akan masuk, apabila dia bertambah bersih maka akan bertambah dia menerima ilmu tersebut, tambah bersih dan semakin bersih hati tersebut maka ilmu akan semakin betah tinggal di hati tersebut dan sebaliknya kalau hati seseorang itu kotor maka ilmu semakin tidak betah dengan hati tersebut dan ingin segera dia keluar dari hati tersebut.

فمن أراد حيازة العلم فليُزينِّ باطنه، ويُطهِّرْ قلبه من نجاسة

Maka barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia menghiasi batinnya, jangan dia sibuk untuk menghiasi dzahirnya saja karena ilmu itu tempatnya berada di dalam, hendaklah dia menyibukkan diri untuk menghiasi dan awalnya adalah dengan membersihkan hati tersebut, kemudian dihiasi dan diperindah dan hendaklah dia membersihkan qalbunya dari najis-najis yang ada di dalam hati tersebut.

فالعلم جوهرٌ لطيفٌ ، لا يَصلُح إلَّ للقلب النَّظيف

Maka ilmu ini adalah sesuatu yang sangat lembut barang berharga yang sangat lembut tidaklah dia pantas kecuali untuk hati yang bersih.

Jangan sampai sesuatu yang berharga tadi yang sangat bernilai tadi ditaruh di tempat yang kotor karena ketika dia ditaruh di tempat yang kotor maka dia tidak akan lama-lama tinggal di tempat tersebut dia tidak akan betah di situ, dia adalah sesuatu yang mulia dan butuh tempat yang mulia yang bersih, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersiap-siap untuk membersihkan hati kita ini dari seluruh kotoran. Kemudian beliau menyebutkan bagaimana dan apa jenis-jenis dari kotoran tersebut yang harus kita singkirkan dan harus kita bersihkan dari hati kita.

وطهارة القلب ترجع إلىٰ أصلين عظيمين

Dan kebersihan hati itu kembali kepada dua pokok yang besar, jadi dari sekian banyak kotoran hati itu bisa diringkas menjadi dua

أحدهما: طهارته من نجاسة الشُّبهات

Yang pertama adalah bersihnya hati tersebut dari kotoran-kotoran syubhat, kalau ada syubhat maka segera kita tinggalkan, segera kita singkirkan syubhat tersebut dari hati kita karena itu adalah kotoran yang ilmu tidak akan cocok dengan syubhat tadi

والآخر

dan yang kedua

طهارته من نجاسة الشهوات

adalah bersihnya hati tersebut dari najisnya syahwat, yaitu syahwat yang diharamkan bukan syahwat yang dihalalkan seperti dosa-dosa besar berzina baik zina mata atau zina telinga atau zina kemaluan maka itu adalah syahwat yang muharramah, atau mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ﷻ, itu semua adalah najis yang mengotori hati seseorang dan ilmu tidak akan senang tinggal di sebuah tempat yang kotor baik kotor dengan syubhat maupun kotor dengan syahwat. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersihkan hati kita dari kotoran-kotoran syubhat dan dari kotoran syahwat.

Kemudian beliau mengatakan

وإذا كنت تستحي من نظر مخلوقٍ مثلِك إلىٰ وسخ ثوبك، فاستحِ من نظر الله إلىٰ قلبك، وفيه إحنٌ وبايا، وذنوبٌ وخطايا

Kemudian beliau membuat permisalan yang semoga ini bisa mempermudah pemahaman kita, apabila engkau malu dengan pandangan makhluk sepertimu terhadap kotoran yang ada di badan, kalau kita berjalan misal di jalan kemudian kita memiliki baju yang kotor maka kita malu orang lain melihat kita memakai baju yang kotor, maka kata beliau hendaklah engkau malu dari pandangan Allah ﷻ terhadap hatimu yang di dalamnya ada kotoran-kotoran dan juga musibah-musibah (dosa-dosa) dan juga kesalahan-kesalahan.

Kalau kita dipandang oleh makhluk seperti kita saja yang melihat pada pakaian kita yang kotor kita malu lalu bagaimana dengan  pandangan Allah subhanahu wa taala Al-Khaliq, di mana Allah subhanahu wa taala melihat pada hati kita apakah di situ ada kotoran atau tidak, tentunya kita malu seandainya Allah subhanahu wa taala melihat hati kita dalam keadaan banyak dosa banyak kotoran banyak syubhat banyak syahwat, kalau itu masih banyak di dalam hati kita maka akan sulit kita mendapatkan ilmu agama, belajar mental lagi membaca keluar lagi lupa lagi antum menghafal lupa lagi sebabnya karena kita belum membersihkan hati tersebut.

Sehingga ini menunjukkan bahwasanya penuntut ilmu harus memperhatikan hatinya, dia harus senantiasa muraqabah dan mengawasi hatinya jangan sampai dibiarkan hatinya berlarut-larut dalam keadaan kotor dengan syubhat dengan syahwat. Dengan syubhat karena mungkin ada di antara penuntut ilmu yang dia mendengarkan atau membaca buku-buku yang tidak dibenarkan, buku-buku ahlul bid’ah atau dia sengaja mendengarkan ceramah ceramah ahlul bid’ah, sengaja untuk memasukkan syubhat di dalam hatinya dan ini adalah waswas dari setan mengatakan engkau kuat engkau Insyaallah bisa mengetahui dan bisa membedakan mana yang haq mana yang batil, dan ini adalah waswas dari setan yang ingin mengajak kita untuk mengotori hati kita dengan syubhat-syubhat tadi.

ففي صحيح مسلمٍ عن أبي هريرة رضي الله عنه

Dan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

أنَّ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قال

Bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda

إن الله لا ينظر إلىٰ صوركم وأموالكم، ولٰكن ينظر إلىٰ قلوبكم وأعمالكم

Ini dalil bahwasanya Allah ﷻ melihat hati kita, Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat pada bentuk kalian dan harta-harta kalian, Allah ﷻ tidak melihat yang ini tampan berarti dia diangkat derajatnya, yang ini kaya berarti dia lebih tinggi derajatnya, Allah ﷻ tidak melihat yang demikian, tapi yang Allah ﷻ lihat adalah hati-hati kalian. Kalau dia orang kaya tapi hatinya kotor maka derajatnya lebih rendah daripada orang miskin yang hatinya bersih (bertaqwa).

وأعمالكم

dan Allah ﷻ juga melihat amalan, kalian bukan hanya hati saja yang dilihat oleh Allah ﷻ tapi amalan dzahirnya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak, dilihat hatinya keikhlasannya dan juga dilihat amalannya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak. Karena Allah subhanahu wa ta’ala melihat hati kita dan juga amalan kita maka hendaklah kita berusaha untuk senantiasa dan senantiasa membersihkan hati kita.

من طهَّر قلبه فيه العلم حَلَّ

Barang siapa yang membersihkan hatinya maka ilmu akan menempati hati tersebut

ومن لم يرفع منه نجاسته وَدَعَه العلمُ وارتحل

dan barang siapa yang malas dia tidak mau mengangkat najis yang ada di dalam hatinya, tapi dia terus mengikuti hawa nafsunya dia terus memasukkan syubhat di dalam dalam hatinya berarti kalau memang demikian keadaannya ya sudah

وَدَعَه العلمُ وارتحل

maka ilmu akan mengucapkan selamat tinggal untuknya, kalau memang tidak butuh ilmu ya sudah dia akan mencari hati-hati yang lebih bagus hati-hati yang lebih mau menerima ilmu tersebut yang hati-hati tersebut adalah hati-hati yang bersih

وارتحل

dan dia akan segera meninggalkan, dia tidak akan lama-lama tinggal di hati tersebut.

Dari sini kita mengetahui tentang keutamaan para ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, ketika kita mendengar tentang keilmuan mereka yang dalam kita mengetahui bagaimana keadaan hati mereka yang bersih karena ilmu yang kita dengar dari lisan-lisan mereka yang mulia dan juga apa yang mereka tulis dalam kitab, ini menunjukkan tentang apa yang ada di dalam hati mereka.

وارتحل

Dan akhirnya ilmu tersebut akan pergi meninggalkan orang tersebut.

قال سهل بن عبد الله رحمه الله

Berkata Sahl Ibnu Abdillah rahimahullah

حرامٌ علىٰ قلبٍ أن يدخله النُّور، وفيه شيءٌ ممَّا يكره الله عزَّ وجلَّ

Haram bagi sebuah hati untuk dimasuki Nur (cahaya dari Allah ﷻ) sementara di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah ﷻ, haram bagi sebuah hati yaitu tidak mungkin sebuah hati dimasuki cahaya ilmu kalau di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah Azza wajalla, sesuai dengan kadar kebersihan hati tersebut maka akan semakin banyak ilmu yang masuk ke dalamnya dan semakin kotor maka akan semakin menjauh ilmu itu darinya.

Itu yang pertama kalau kita memang ingin mengagungkan ilmu maka cara mengagungkannya adalah dengan membersihkan tempat dari ilmu tersebut, ini coba kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya awalnya kita bersihkan dulu dengan beristighfar bertaubat kepada Allah ﷻ, kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu maka kita bertaubat dan beristighfar kepada Allah ﷻ.

Kemudian kita bertekad kuat untuk melaksanakan apa yang Allah ﷻ perintahkan dan jangan sampai kita melakukan apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan juga Rasul-Nya karena itulah yang akan mengotori hati kita, kalau memang kita sudah bertaqwa sesuai dengan kemampuan kita kemudian terjerumus ke dalam dosa maka segera kita bersihkan hati tersebut dengan beristighfar dan juga bertaubat dan juga dengan amal shalih sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wasallam

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها

Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah ﷻ di mana pun kau berada dan hendaklah engkau ikuti sebuah kejelekan itu dengan kebaikan, dan di antara kebaikan tersebut adalah istighfar dan juga bertaubat kepada Allah ﷻ dan amal shalih, karena amal shalih ini juga bisa menghapuskan sebagian dari dosa.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Kemudian beliau mengatakan