Selasa, 16 Desember 2025

Halaqah 07 | Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 07 | Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu

Halaqah 07 | Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الخامس

Simpul yang kelima adalah

سلوك الجادة الموصلة إليه

yaitu kita menempuh jalan yang menyampaikan kepada ilmu, kalau kita memang mengagungkan ilmu maka kita tempuh jalannya karena ilmu ini dia sudah memiliki jalan sendiri, kalau kita menempuh jalan ilmu tadi untuk mendapatkan ilmu maka berarti kita mengagungkan dan memuliakan ilmu, tapi kalau kita memilih jalan sendiri untuk mendapatkan ilmu maka kita tidak sampai dan berarti kita tidak mengagungkan ilmu itu sendiri.

لكلِّ مطلوبٍ طريقٌ يُوصل إليه،

Segala suatu yang dicari itu ada jalannya yang menyampaikan kepada ilmu

فمن سلك جادَّةَ مطلوبه أوقَفَتْهُ عليه

maka barang siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan sesuatu tadi maka dia akan mendapatkan sesuatu tadi

ومن عَدَلَ عنها لم يظفر بمطلوبه

barangsiapa yang menyimpang dari jalan tadi maka dia tidak akan mendapatkan apa yang dicari

وإنَّ للعلم طريقًا

dan sesungguhnya ilmu juga demikian, dia punya cara punya jalan

من أخطأها ضلَّ ولم يَنَلِ المقصود

barang siapa yang salah dan tidak menempuh jalan tadi maka dia akan sesat dan dia tidak akan mendapatkan maksudnya

وربما أصاب فائدةً قليلةً مع تعبٍ كثيرٍ

dan mungkin saja dia mendapatkan faedah, karena dia bermajelis ilmu dia mendapatkan faedah, tapi sedikit yang dia dapatkan berbeda dengan orang yang menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu maka dia akan mendapatkan faedah yang banyak

مع تعبٍ كثيرٍ

disertai dengan capek yang luar biasa.

Karena dia tidak menempuh jalannya akhirnya dia sedikit sekali mendapatkan ilmu tadi dan dia capek, capek karena dia salah jalan.

Dia orang yang tersesat ingin ke surabaya misalnya maka mungkin dia tidak sampai ke surabaya atau dia sampai ke surabaya tapi setelah dia capek, setelah dia mutar ke sana kemari baru dia sampai ke surabaya. Ini semua karena dia tidak mengikuti rambu-rambu tidak mengikuti jalan, kalau dia menempuh jalan dalam menuntut ilmu seperti yang ditempuh oleh para ulama maka insyaAllāh dia akan sampai kepada ilmu tersebut.

وقد ذكر هٰذا الطَّريق بلفظٍ جامعٍ مانعٍ محمَّدُ مرتضىٰ بن محمَّدٍ الزَّبيديُّ – صاحب تاج العروس

Dan telah menyebutkan jalan ini dengan lafadz yang menyeluruh dan dia lafadz yang menyingkirkan yang bukan masuk di dalamnya yaitu Muhammad Murtadha Ibnu Muhammad Azzabidiy yang mengarang Tājul ‘Arūs

في منظومةٍ له تُسمَّىٰ الفية السند يقول فيها

di dalam sebuah mandzumah yang dinamakan dengan Alfiatu Assanad, beliau mengatakan

فما حوىٰ الغايةَ في ألفِ سَنَهْ
شخصٌ فخذ من كلِّ فنٍّ أحسنهْ

tidak akan mencapai puncak di dalam 1000 tahun seseorang, maksudnya adalah seseorang yang tidak menempuh jalan ilmu meskipun dia belajar 1000 tahun kalau dia tidak menggunakan tidak menempuh jalan ilmu maka dia tidak akan sampai puncaknya

فخذ

maka beliau memberikan nasihat, maka ambillah

من كلِّ فنٍّ أحسنهْ

maka ambillah dari setiap cabang ilmu itu yang paling baik, maksudnya yang paling baik disini

بحفظ متنٍ جامعٍ للرَّاجحِ

dengan cara Antum menghafal, harus ada menghafalnya

متنٍ جامعٍ للرَّاجحِ

yang Antum hafal adalah matan yang menyeluruh atau matan yang isinya adalah perkara-perkara yang rajih menurut orang-orang yang ahli di dalam bidang tersebut, karena ilmu ini sudah berlalu bertahun-tahun dan para ulama yang menekuni bidang tadi mereka sudah mengetahui mana yang lebih kuat di antara permasalahan-permasalahan.

Di sana ada Matan yaitu kitab yang ringkas isinya adalah ringkasan dari ilmu-ilmu tadi, dijadikan dalam satu kitab yang ringkas dengan kata-kata yang mudah atau dengan kata-kata yang ringkas dan isinya adalah perkara-perkara yang lebih kuat di antara permasalahan-permasalahan tadi. Kalau memang di sana ada khilaf ada permasalahan yang diperselisihkan maka yang disebutkan dalam kitab tadi tidak semuanya tapi cukup dengan yang dikuatkan, ini namanya Matan.

Berarti disini jangan sampai kita menghafal Matan yang masih disebutkan disitu khilaf, carilah Matan yang memang dia menyeluruh diringkas ilmu tadi dalam Matan tersebut dan itu hanya mengumpulkan pendapat-pendapat yang kuat saja.

تأخذُه علىٰ مفيدٍ ناصحٍ

Bukan hanya menghafal Matan itu saja tapi engkau membawanya / mempelajarinya kepada orang yang bisa memberikan faedah, orang yang memahami.

Berarti Antum harus mempelajari Matan tadi kepada orang yang memahami Matan tadi yang bisa memberikan Antum faedah, dan dia adalah orang yang memang ingin kebaikan untuk Antum, ingin Antum paham ingin Antum itu beramal ingin Antum berhasil dalam menuntut ilmu berarti harus mencari seorang guru yang dia adalah مفيدٍ ناصحٍ dan akan diterangkan oleh beliau di sini apa yang dimaksud.

فطريق العلم وجادَّتُه مبنيَّةٌ علىٰ أمرين

Maka cara atau jalan menuntut ilmu adalah dibangun di atas dua perkara

من أخذ بهما كان معظِّما للعلم؛ لأنَّه يطلبه من حيث يُمكن الوصول إليه

barang siapa yang menempuh dua cara tadi atau dua perkara tadi maka berarti dia mengagungkan ilmu, karena dia mencari ilmu dengan caranya / cara yang memungkinkan dia sampai kepada ilmu tadi.

Berarti kalau kita mencari ilmu tapi bukan dengan caranya itu berarti kita dianggap menghinakan ilmu, mau mencari ilmu bukan dengan cara tadi dianggap kita ini menghinakan ilmu, jadi menuntut ilmu harus dengan caranya dan ini adalah menunjukkan kita itu senang dan kita itu ingin mencapai ilmu tersebut.

فأمَّا الأمر الأوَّل

Maka yang pertama

فحفظ متنٍ جامعٍ للرَّاجح

yang pertama adalah kita menghafal Matan yang mencakup atau isinya adalah perkara-perkara yang rajih (kuat)

فا بدَّ من حفظٍ

maka harus menghafal

ومن ظنَّ أنَّه يَنال العلم با حفظٍ فإنَّه يطلب مُحالً

barang siapa yang menyangka bahwasanya dia bisa mendapatkan ilmu tanpa menghafal berarti dia sedang mencari sesuatu yang mustahil.

Para ulama menghafal dan yang dihafal Matan, jadi Matan itu adalah perkara yang ringkas, kalau antum belajar ingin belajar aqidah menghafal matan-matan aqidah Antum ingin belajar fiqih yang menghafal matan-matan ringkas tentang masalah fiqih yang ada dalam setiap mazhab.

والمحفوظ المعوَّل عليه هو المتن الجامع للراجح؛ أي المعتمد عند أهل الفنِّ

Dan yang dihafal adalah Matan yang mengumpulkan perkara-perkara yang rajih

maksudnya adalah yang dijadikan pegangan / tumpuan menurut ulama-ulama yang ada di cabang ilmu tersebut.

Jadi mereka semuanya sepakat dan mereka banyak mensyarah kitab tadi atau Matan tadi ini menunjukkan bahwasanya kitab ini adalah menjadi pegangan bagi ulama-ulama yang ada di di dalam cabang ilmu tadi, misalnya kalau ushul fiqh di sana ada al-waraqat kalau masalah aqidah di sana ada aqidah washithiah atau lum’atul i’tiqad ini banyak disyarah oleh para ulama karena ini adalah suatu yang mu’tamad / dijadikan pegangan oleh mereka, ini kita harus semangat untuk menghafalnya.

وأمَّا الأمر الثَّاني

Adapun yang kedua

فأخذه علىٰ مفيدٍ ناصحٍ

adalah kita mempelajari Matan tadi kepada seorang yang bisa memberikan faedah dan dia adalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita

فتفزع إلىٰ شيخٍ تتفهَّمُ عنه معانيَه، يتَّصف بهذين الوصفين

maka hendaklah engkau mendatangi seorang guru yang maksud antum mempelajari ilmu tersebut di hadapan beliau adalah ingin memahami maknanya yang dia memiliki dua sifat ini yaitu

و أوَّلهما

sifat yang pertama adalah

الإفادة

dia bisa memberikan faedah ke Antum

وهي الأهليَّة في العلم، فيكونُ ممَّن عُرف بطلب العلم وتلقِّيه حتىٰ أدرك، فصارت له مَلَكةٌ قويَّةٌ فيه

Dia adalah orang yang ahli di dalam ilmu tersebut maka beliau adalah termasuk yang dikenal dengan menuntut ilmu, jadi orangnya memang dikenal sebagai penuntut ilmu, dan dikenal dia menerima ilmu tersebut dari guru-gurunya

حتىٰ أدرك

sampai dia memahami sehingga dia memiliki مَلَكةٌ قويَّةٌ kemampuan yang kuat di dalam ilmu tersebut, ini kita harus mencari siapa di antara mereka yang memiliki sifat ini.

والأصل في هٰذا ما أخرجه أبو داود في ‘سننه’ بإسنادٍ قويٍّ عن ابن عبَّاسٍ أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: تسمعون، ويُسمع منكم، ويُسمع ممَّن يَسمع منكم

Dalilnya adalah apa yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud di dalam sunannya dengan sanad yang kuat dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan; Kalian mendengar dan didengar dari kalian, kalian mendengar yaitu para sahabat kalian mendengar dari saya


ويُسمع منكم

dan orang yang setelah kalian mendengar dari kalian

ويُسمع ممَّن يَسمع منكم

kemudian orang yang datang setelah kalian diambil ilmunya oleh yang setelahnya, berarti di sini guru ke muridnya kemudian murid ke muridnya lagi murid ke muridnya lagi, ini adalah dalil bahwasanya kita harus mengambil ilmu dari guru (talaqqi) bukan membaca sendiri.

والعرة بعموم الخطاب، لا بخصوص المخاطَب

Dan pelajarannya di sini adalah dengan umumnya ucapan Nabi ﷺ tadi bukan khususnya orang yang diajak bicara oleh Nabi ﷺ, karena saat itu Beliau ﷺ ketika mengatakan تسمعون yang diajak bicara adalah para sahabat tapi yang yang menjadi pelajaran kita yang kita ambil pelajaran di sini adalah keumuman ucapan Beliau ﷺ.

Jadi تسمعون bukan hanya para sahabat saja tapi maksudnya adalah umat ini semuanya bukan hanya sahabat saja tapi ini adalah cara umat ini semuanya dalam menuntut ilmu yaitu dengan dari seorang guru.

فا يزال من معالم العلم في هٰذه الأمَّة أن يأخذه الخالف عن السَّالف

Maka di dalam umat ini senantiasa ketika mereka termasuk menara-menara ilmu cara mereka mendapatkan ilmu adalah yang setelahnya mengambil ilmu dari yang sebelumnya, seorang murid mengambil ilmu dari gurunya dari dulu demikian.

أما الوصف الثَّاني فهو النَّصيحة

Adapun yang kedua maka guru tersebut dia memiliki nashihah

وتجمع معنيين ٱثنين

yang dimaksud dengan nashihah seorang guru yang bernasihat adalah yang memiliki dua sifat

أحدهما

yang pertama seorang guru yang nashih (yang menginginkan kebaikan bagi kita)

صلاحية الشَّيخ للاقتداء به

Syaikh (guru) tersebut pantas untuk ditiru

والاهتداء بهديه

dia pantas untuk ditiru petunjuknya

ودَلِّه وسَمْته

dan juga tingkah lakunya (gerak-geriknya) bisa dijadikan contoh bagi yang lain, itu yang pertama.

والآخر

adapun yang kedua, sifat yang kedua yang ini merupakan sifat seorang guru yang nashih

معرفته بطرائق التَّعليم

beliau punya pengalaman bagaimana cara mengajar, punya pengalaman tentang cara-cara di dalam mengajar

بحيث يُحسِن تعليمَ المتعلِّم

yaitu mampu mengajari orang yang sedang belajar, mengerti keadaan oh ini kalau demikian maka diajari demikian, beliau sudah punya pengalaman untuk mengajar orang yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa orang yang sebelumnya tidak paham menjadi paham.

Karena ada sebagian mungkin secara keilmuan dia bagus diakui tapi belum tentu beliau bisa mengajarkan kepada orang lain, tentunya kita belajar ingin mendapatkan faedah untuk apa kita duduk lama-lama di situ tapi kita tidak paham, beliau sebenarnya berilmu tapi kita tidak paham bagaimana dan apa yang beliau maksud. Tentunya kita ingin mencari seorang guru yang nashih diantaranya adalah yang memiliki kemampuan untuk mentransfer menyampaikan ilmu tadi kepada orang lain.

ويعرف ما يَصلُح له وما يضرُّه

Guru tersebut mengetahui apa yang baik bagi muridnya dan apa yang memudharati muridnya, dia tahu ini jangan dibaca dulu ini kalau antum ingin memahami lebih dalam ini yang Antum lakukan

وَفق التَّربيَّة العلميَّة الَّتي ذكرها الشَّاطبيُّ في – الموافقات

sesuai dengan tarbiyyah ilmiyyah yang disebutkan oleh Asy-Syatibiy di dalam Al-Muwafaqat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Selasa, 18 November 2025

Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah

 

  • Home
  • Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah

Halaqah 06 | Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah




Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الرابع

Simpul yang ke empat diantara dua puluh simpul yang beliau sebutkan di dalam kitab ini adalah

صرف الهمة فيه إلى علم القرآن والسنة

Kalau tadi kita sudah mengetahui bahwasanya pengagungan terhadap ilmu adalah dengan mengumpulkan berbagai keinginan untuk ilmu tadi maka sekarang kita harus mengumpulkan keinginan tadi untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Ini adalah termasuk pengagungan kita terhadap ilmu karena ilmu sumbernya adalah Al-Qur’an dan hadits, kalau kita ingin mengagungkan ilmu maka kita harus memiliki perhatian yang besar untuk mengenal Al-Qur’an dan juga hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Karena mungkin sebagian orang ketika dia baru hijrah dan mengenal agama ini ingin belajar kemudian akhirnya dia kesana kemari mencari ilmu tapi sayangnya perhatian dia terhadap Al-Qur’an dan hadits ini kurang, menganggap bahwasanya kalau saya belajar tafsir atau Ana belajar hadits kapan saya dapat ilmu, Ana ingin belajar fiqih Ana ingin belajar Ushul fiqih Ana ingin belajar musthalah hadits.

Seakan-akan kalau mempelajari ayat-ayat Allāh ﷻ belajar tafsir mempelajari Syarah dari hadits-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi Wasallam ini Ana tidak akan mendapatkan ilmu Ana akan menghabiskan waktu. Justru inilah sumber dari ilmu, maka kita harus kerahkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu Al-Quran dan juga sunnah.

إنَّ كلَّ علمٍ نافعٍ مردُّه إلىٰ كلام الله وكلام رسوله صلى الله عليه وسلم

Ketahuilah bahwasanya setiap ilmu yang bermanfaat itu sebenarnya kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, seluruh ilmu yang bermanfaat itu kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, kepada Al-Quran dan juga kepada sunnah.

وباقي العلوم: إمَّا خادمٌ لهما؛ فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة، أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل به

Adapun yang selainnya (selain Al-Qur’an dan Sunnah) terkadang dia fungsinya adalah untuk melayani supaya kita bisa memahami dengan baik Al-Quran dan Sunnah, maka itu tidak apa-apa dipelajari karena dia akan membawa kita untuk bisa memahami Al-Quran dan Sunnah,

فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة

maka kita ambil ilmu tadi sehingga kita bisa mewujudkan pemahaman kita terhadap Al-Quran dan juga Sunnah.

Berarti mempelajari ilmu nahwu sharaf bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an dan Sunnah, kita mempelajari misalnya ushulu tafsir (kaidah-kaidah dalam tafsir) maka itu bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an, kita mempelajari misalnya Syarah hadits-hadits Arbain Nawawi bagus kita akan mempelajari dan memahami Sunnah Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam

أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل به

atau ilmu tersebut adalah tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan Hadits maka tidak memudharati kita kalau kita tidak tahu tentang ilmu tersebut, jangan merasa rugi kalau memang ilmu tadi tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan hadits, tapi merasalah rugi kalau ilmu tadi berkaitan dengan Al-Quran dan juga hadits.

وما أحسنَ قولَ عياضٍ اليَحصُبيِّ في كتابه الإلماع

Sungguh baik ucapan ‘Iyadh Al-Yahshubiy dalam kitab beliau Al-Ilma’

العلم في أصلين لا يعْدُوهما
إلَّ المُضِلُّ عنِ الطَّريق اللَّحبِ
علمُ الكتاب وعلمُ الاثارِالَّتي
قد أُسندت عن تابعٍ عن صاحبِ

Beliau mengatakan ilmu itu ada dalam dua pokok, tidak melewatinya kecuali orang yang sesat dari jalan yang jelas, yang pertama di dalam

علمُ الكتاب وعلمُ الاثارِ

ilmu yang ada di dalam Al-Quran dan juga ilmu yang ada di dalam sunnah, Al-Quran dan juga hadits. Ilmu Hadits yaitu hadits-hadits yang disandarkan dari seorang tabi’in dari seorang sahabat yaitu hadits-hadits yang sahih maksudnya, berarti ilmu ini menurut para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam ilmu, mereka mengatakan bahwasanya ilmu itu pondasinya pada Al-Quran dan hadits sehingga harusnya kita memiliki perhatian yang besar terhadap Qur’an dan hadits ini.

وقد كان هٰذا هو علم السَّلف – عليهم رحمة الله

Inilah dulu ilmu Salaf, dulu para Salaf itu kalau di majelis yang dibacakan ya hadits Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam saja, haddatsana fulan qola haddatsana fulan sebutkan hadits, kemudian menyebutkan yang satunya lagi hadits dan seterusnya, majelis-majelis mereka majelis-majelis hadits.

ثمَّ كَثُر الكلام بعدهم فيما لا ينفع

Kemudian setelah itu banyak kalam (ucapan) di dalam perkara yang tidak bermanfaat

فالعلم في السَّلف أكثر، والكلام فيمن بعدهم أكثر

Ilmu di masa para salaf itu lebih banyak tapi ucapan mereka sedikit, jadi karena majelis-majelis mereka ilmu saja hadits-hadits saja yang disebutkan oleh mereka makanya ilmu mereka lebih banyak, adapun ucapan maka yang setelah mereka ini yang lebih banyak, ilmunya ada cuma ucapan mereka lebih banyak daripada ilmunya.

قال حمَّاد بن زيد

Berkata Hammad ibn Zaid


قلت لأيوبَ السَّختيانيِّ: العلم اليوم أكثر أو فيما تقدم؟

Hammad ibn Zaid mengatakan; Aku berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyaniy, ilmu di hari ini lebih banyak atau dahulu? Karena di zaman beliau mungkin beliau melihat mulai banyak orang yang bicara

فقال: الكلام اليوم أكثر

Ucapan yaitu selain ilmu di hari ini lebih banyak, beda dengan zaman dulu

والعلم فيما تقدم أكثر

Adapun ilmu maka yang zaman dahulu itu lebih banyak.

Jadi yang banyak sekarang adalah ucapan manusia bukan ilmu, adapun zaman dahulu maka yang lebih banyak adalah qālallāh wa qāla rasul itu yang ada pada majelis-majelis ilmu zaman dahulu.

Maka simpul yang keempat ini di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu kita harus kembali mau untuk mempelajari Al-Qur’an dan juga hadits, mempelajari Al-Qur’an kembali kepada Tafsir Al-Qur’an dan di sana ada kadar dari Al-Qur’an yang bagusnya dipelajari oleh seorang penuntut ilmu.

Kalau tidak salah Syaikh Shaleh Al-Ushaimi pernah menyebutkan seseorang kalau ingin mempelajari Al-Qur’an atau Tafsir Al-Qur’an maka dia minimal mempelajari Tafsir Al-Baqarah, mempelajari sampai Tafsir Al-Baqarah dengan qisar al-mufashshal juz-juz yang terakhir kalau tidak salah dari surah Qof sampai akhir.

Ini kalau kita mempelajarinya mempelajari Tafsirnya InsyaAllāh kita bisa memahami Al-Qur’an ini secara global apa yang ada di dalamnya kalau kita mempelajari Al-Fatihah Al-Baqarah kemudian beberapa juz yang terakhir dari Al-Qur’an, kita memahaminya maka InsyaAllāh ayat-ayat yang lain kita akan mudah juga untuk untuk memahaminya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Halaqah 05 | Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 05 | Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu

Halaqah 05 | Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الثالث

Simpul yang ketiga di antara 20 simpul yang disebutkan di dalam kitab ini adalah

جمع همة النفس عليه

Mengumpulkan keinginan jiwa, jiwa kita ini punya banyak keinginan ingin itu ingin ini ingin mobil ingin berkeluarga ingin anak dan seterusnya, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus mengagungkan ilmu di antara bentuk pengagungan ilmu kita harus kumpulkan keinginan-keinginan / himmah-himmah tadi kita kumpulkan pada ilmu tadi, ini bentuk bahwasanya kita benar-benar mengagungkan terhadap ilmu tadi sampai keinginan-keinginan tadi kita kesampingkan kita kumpulkan semuanya kepada ilmu.

تُجمع الهِمَّة علىٰ المطلوب بتَفقُّد ثلاثة أمورٍ

Dikumpulkan keinginan untuk mendapatkan ilmu tadi dengan kita memperhatikan tiga perkara

أوَّلِها: الحرص علىٰ ما ينفع، فمتىٰ وُفِّق العبد إلىٰ ما ينفعه حَرَص عليه

Bagaimana kita bisa mendatangkan keinginan yang besar tadi bagaimana kita bisa mengumpulkan keinginan tadi untuk semuanya dikerahkan mendapatkan ilmu, caranya adalah kita harus bersemangat untuk mendapatkan yang bermanfaat, kita harus tahu bahwasanya ilmu itu adalah bermanfaat bagi kita di dunia dan juga di akhirat, kalau kita mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat maka kita akan bersemangat untuk mendapatkannya, sebagaimana dalam ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu.

Maka seorang hamba yang diberikan Taufik untuk mengetahui apa yang bermanfaat baginya dia harus bersemangat untuk mendapatkannya. Kalau antum tahu bahwasanya ilmu ini adalah yang membawa kebaikan kita di dunia dan juga di akhirat maka kita harus semangat untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Ini yang pertama caranya adalah dengan mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan tidak ada yang lebih bermanfaat daripada ilmu agama. Kemudian yang kedua

ثانيها: الاستعانة بالله ﷻ في تحصيله

Kita harus meminta kepada Allāh ﷻ pertolongan untuk mendapatkannya, jangan hanya sekedar semangat untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat tapi kita harus memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ.

Tunjukkan bahwasanya antum benar-benar ingin mendapatkan ilmu dengan cara meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ, Ya Allāh ﷻ tolonglah saya untuk mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat. Ketika antum berdoa dan mengatakan Ya Allāh ﷻ mudahkanlah saya dalam menuntut ilmu itu menunjukkan bahwanya antum punya keinginan yang besar untuk mendapatkan ilmu, tapi kalau antum jarang meminta kepada Allāh ﷻ jarang mengatakan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا

atau seandainya dia mengucapkan begitu saja tanpa dia memahami maknanya berarti mana hal yang menunjukkan bahwasanya antum menginginkan ilmu tersebut.

Seorang penuntut ilmu harusnya sering dia Isti’anah dan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menuntut ilmu agama.

ثالثِها

Yang ketiga

عدم العجز عن بلوغ البُغية منه

Jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya, sebelum kita mendapatkan ilmu jangan kita lemah dan merasa tidak bisa mendapatkan ilmu tersebut.

Seseorang harus memiliki husnudzon kepada Allāh ﷻ dan jangan dia merasa lemah, mungkin karena sakit kemudian dia lemah tidak mau menuntut ilmu padahal cuma sakit ringan saja atau dia kesulitan dalam masalah ekonomi kemudian dia mundur ke belakang, sudah ana mau berkebun saja atau karena jauh tempatnya kemudian dia beralasan karena jauh kemudian akhirnya dia mundur tidak jadi menuntut ilmu, ini namanya lemah, jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya.

وقد جُمِعت هٰذه الأمورُ الثَّلاثة في الحديث الَّذي رواه مسلم عن أبي هريرة أن الني صلى الله عليه وسلم قال: احرِص علىٰ ما ينفعك، واستعنْ بالله ، ولا تَعْجِزْ

Dan telah dikumpulkan tiga perkara ini di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam mengatakan hendaklah engkau semangat di dalam perkara yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau lemah.

Ini dikumpulkan dalam satu hadits, punya semangat terhadap perkara yang bermanfaat bagimu kemudian kita iringi dengan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ kemudian jangan kita lemah, lemah karena ekonomi lemah karena kejauhan lemah karena mungkin sakit dan seterusnya, kita harus punya semangat untuk sampai kepada ilmu tersebut.

وقال ابن القيِّم

Berkata Ibnul Qoyyim


إِذَا طَلَعَ نَجْمُ الهِمَّةِ فِي ظُلُمَاتِ لَيْلِ البَطَالَةِ، وَرَدِفَهُ قَمَرُ العَزِيمَةِ، أَشْرَقَتِ الأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا

Apabila muncul bintang al-himmah (keinginan yang kuat), kalau sudah muncul keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu di dalam kegelapan kerusakan dan juga kesibukan dengan suatu yang tidak bermanfaat, muncul tiba-tiba keinginan yang kuat, sebelumnya kita berada di dalam kegelapan kebodohan, kalau sudah muncul keinginan yang kuat ditambah lagi di sana ada ‘azimah, ada himmah dan juga ada ‘azimah, ada keinginan yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang mulia tadi

أشرقت الأرض بنور ربِهّا

maka akan bercahaya bumi ini dengan cahaya Rabbnya, yaitu dengan ilmu.

Maksud beliau di sini adalah kalau kita memang punya keinginan yang kuat maka kita akan mendapatkan InsyaAllāh apa yang kita inginkan.

وإنَّ ممَّا يعلي الهِمَّة ويسمو بالنَّفس: ٱعتبارَ حال مَن سبق، وتعرُّفَ هِمم القوم الماضين

Kemudian beliau menyebutkan disini bagaimana cara kita untuk mendapatkan semangat yang kuat, bagaimana supaya kita bisa mengumpulkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu sehingga tidak bercabang keinginan, caranya di antaranya adalah dengan kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita, kisah-kisah mereka bagaimana mereka menuntut ilmu agama kita mengetahui tentang himmah-himmah mereka orang-orang yang sudah berlalu.

Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh

فأبو عبد الله أحمد ابن حنبلٍ كان – وهو في الصِّبا – ربَّما أراد الخروج قبل الفجر إلىٰ حِلَق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول – رحمة به: حتىٰ يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحوا

Dahulu Imam Ahmad ibn Hanbal Abu Abdillah dan beliau saat itu masih kecil terkadang beliau ingin keluar dari rumahnya sebelum subuh, sebelum subuh itu sudah ingin keluar dari rumahnya, untuk menuju ke majelis-majelis Syaikh, mungkin saat itu masih kecil tapi sudah memiliki keinginan yang kuat ingin tahu ingin menghafal hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam.

Maka ibu beliau memegang pakaian beliau dan mengatakan dengan kasih sayang, maksudnya adalah ingin karena perasaan beliau sebagai seorang ibu menyayangi anaknya, beliau mengatakan sampai adzan atau sudah masuk waktu pagi baru engkau keluar, beliau tidak melarang anaknya untuk menuntut ilmu tapi kasihan sebelum subuh sudah pergi, beliau bilang sampai adzan kalau sudah adzan silakan pergi atau masuk waktu pagi silahkan mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut.

Itu Al Imamu Ahmad ibn Hanbal bagaimana beliau bisa sampai menjadi seorang imam besar, demikian semangat beliau datang majelis ilmu sebelum datang gurunya dia sudah semangat untuk mendatangi majelis tersebut. Jangan kita berlambat-lambat dalam menghadiri majelis ilmu.

وقرأ الخطيب البغداديُّ صحيح البخاري كلَّه علىٰ إسماعيل الحِيريِّ في ثلاثة مجالسَ

Al-Khatib Al Baghdadi (ini menunjukkan bagaimana semangat mereka untuk mendapatkan ilmu) membaca Shahih Al-Bukhari semuanya kepada Ismail Al-Hiyriy dalam tiga majelis saja

ٱثنان منها في ليلتن من وقت صاة المغرب إلىٰ صاة الفجر

Tiga majelis dua diantaranya ada di dua malam dari semenjak shalat magrib sampai shalat fajar, baca terus baca Shahih Al-Bukhari ini yang dinamakan dengan qira’ah yaitu membaca kitab tersebut kepada gurunya, mungkin jarang disyarah tapi membaca saja sekedar membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam meskipun tidak disyarah oleh gurunya itu sudah besar pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Kemudian di hari yang ketiga

واليوم الثَّالث من ضحوة النَّهار إلىٰ صاة المغرب

dari siang hari sampai shalat magrib

ومن المغرب إلىٰ طلوع الفجر

ditambah lagi majelisnya dari maghrib sampai subuh.

Jadi hari yang ketiga lebih panjang lagi, dari dzuhur sampai maghrib dilanjutkan lagi dari maghrib sampai terbit fajar. Ini kalau sudah semangat dalam hati mereka membara maka tidak ada yang menghalangi mereka, mereka berusaha untuk mengkhatamkan membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam tadi dalam waktu yang sangat singkat yang mungkin tidak dibayangkan oleh sebagian dari kita.

وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أوَّلَ ٱبتدائه يدرس اللَّيل كلَّه

Seorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Tabban di awal beliau belajar, beliau belajar agama di seluruh malam

فكانت أُمُّه ترحمه

Ibunya sayang kepada beliau


وتنهاه عن القراءة باللَّيل

kemudian melarang dia untuk membaca di malam hari, karena zaman dahulu sangat terbatas sekali cahaya di malam hari, bisa merusak matanya

فكان يأخذ المصباح ويجعله تحت الجَفنة

karena beliau semangat untuk mendapatkan ilmu tidak tenang dia untuk tidur begitu saja tanpa membaca, maka apa yang beliau lakukan supaya bisa membaca padahal Ibunya sudah melarang, beliau mengambil lampu kemudian beliau taruh itu di bawah al-jafnah (bejana yang besar) sehingga tidak kelihatan

ويتظاهر بالنَّوم

kemudian dia pura-pura tidur

فإذا رقدت

kalau Ibunya sudah tidur

أخرج المصباح وأقبل علىٰ الدَّرس

maka beliau pun mengeluarkan lampu tadi kemudian beliau pun belajar sehingga ibunya tidak melihat dia dalam keadaan belajar, ini tidak mungkin bisa terjadi kecuali bagi orang yang memiliki semangat yang kuat di dalam menuntut ilmu, dia merasa tenang dan merasa lezat di malam tersebut ketika dia membaca dan ketika dia menghafal ilmu tersebut.

فكن رجاً رِجْلُه على الثَّرىٰ ثابتة

Maka hendaklah engkau menjadi seorang laki-laki yang kakinya berada di atas bumi dalam keadaan kokoh

وهامةُ همته فوق الثُّريا

dan dia memiliki keinginan yang tinggi yang lebih tinggi daripada tsurayya (nama bintang), menjadi orang yang kokoh di atas bumi dan keinginan dia lebih tinggi daripada bintang

سامقة

dalam keadaan tinggi


ولا تكن شابَّ البدن أشيبَ الهِمَّة

Jangan engkau menjadi seorang yang badannya saja yang mudah tetapi keinginannya adalah keinginan seorang yang sudah tua, jangan engkau menjadi seseorang yang punya badan yang muda tetapi keinginannya sudah tua yaitu sudah lemah padahal dia memiliki badan yang kekar

فإنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيب

karena himmah dan juga keinginan yang tinggi dari orang yang jujur, orang yang jujur keinginannya tadi yang mengumpulkan keinginan-keinginan dia tadi, maka itu tidak akan menjadi tua.

Jadi orang yang jujur dalam keinginannya meskipun rambutnya ini beruban dan kulitnya sudah mulai berubah tapi kalau dia adalah orang yang jujur maka itu tidak akan merubah himmahnya, sampai tua pun dia akan menuntut ilmu.

كان أبو الوفاء ابن عَقيل – أحدُ أذكياءِ العالم من فقهاء الحنابلة – يُنشِد وهو في الثمانين

Dahulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil beliau adalah salah seorang di antara orang-orang yang cerdas di antara ahli fiqih mazhab Hanbali, beliau pernah membuat syair dan umur beliau adalah 80 tahun, kata beliau

ما شاب عزمي ولا حزمي ولاخُلُقي

ولا ولائي ولا ديني ولا كرمي

Keinginanku tidak menjadi tua, aku memang sudah tua umurku sudah 80 tahun tapi keingananku tidak menjadi tua

ولا حزمي

dan juga ketegasanku (keinginanku yang kuat tekadku yang kuat) tidak menjadi tua karena tubuhku yang sudah tua

ولاخُلُقي

dan juga akhlakku tidak berubah

ولا ولائي

demikian pula loyalitasku, terhadap agama ini

ولا ديني

dan juga agamaku, ibadahku

ولا كرمي

demikian pula kemurahanku, infaqku tidak berubah karena beliau sudah tua

وإنمَّا ٱعتاض شعري غيرَ صِبغته

Yang terjadi adalah rambutku saja itu berubah warnanya, yang sebelumnya hitam menjadi putih

والشَّيبُ في الشَّعر غيرُ الشَّيب في الهِممِ

dan menjadi putihnya rambut itu lain dengan menjadi tuanya tekad yang kuat.

Artinya beliau di sini mengingatkan bahwasanya meskipun ana sudah tua rambutku sudah beruban dan kulitku sudah berubah tapi itu hanya dzahirnya saja, adapun semangatku masih seperti dahulu ibadahku agamaku loyalitasku terhadap agama ini akhlakku tekadku yang kuat itu masih seperti ketika dahulu aku masih muda.

Ini menunjukkan kepada kita keharusan kita untuk mengumpulkan keinginan kita untuk ilmu ini supaya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Rabu, 05 November 2025

Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ

 

  • Home
  • Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ

Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الثاني

Simpul yang kedua di antara simpul-simpul yang dengannya insyaAllah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu dengan

إخلاص النية فيه

mengikhlaskan niat di dalam ilmu, فيه di sini kembali kepada ilmu, mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ, ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka di antara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk, karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu, ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu, tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut, ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.

إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولها

Sesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima, kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ, beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas tangganya juga keikhlasan dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan amalan tersebut harus ada

قال تعالىٰ

Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5

Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas dalam keadaan mentauhidkan Allah.

وفي الصَّحيحين

Di dalam Shahih Bukhari dan juga Muslim

عن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰ

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Amalan itu harus dengan niat kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam islam

وما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمين

Tidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.

Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas, ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah sampai menjadi seorang ahli fiqh ada yang ahlul hadits ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas, jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan hanya sekedar menghafal, tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena di antaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal, mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh menjadi seorang ahlul hadits.

قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القوم

Berkata Abu Bakar Al-Marrudziy aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan, yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan, orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi, dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu namanya sidq berarti dia jujur di dalam keinginannya. Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ, berarti ada shidq dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbal

بهٰذا ٱرتفع القوم

dengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ. Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Malik, kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.

وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصه

Sesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia, semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ bukan mendapatkan dunia.

Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia, kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia supaya dikenal supaya populer supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.

والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصول

Ikhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasi

بها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدها

dengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar, kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.

Yang pertama adalah

الأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسه

Niat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiri

بتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهي

Kita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh ana ingin punya ilmu kalau memang niat dia adalah demikian ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah, karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya dia sayangi dirinya dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu. Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah

الثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهم

adalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.

Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana kepada tetangga ana maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.

Yang ketiga

الثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياع

Niat kita adalah ingin menghidupkan ilmu, yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.

Yang keempat

الرَّابع: العمل بالعلم

Niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu, kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.

ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهم

Dahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis. Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.

Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.

Beliau memberikan contoh disini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya

سئل الإمامُ أحمدُ

ditanya Al Imamu Ahmad


هل طلبت العلم لله؟

apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻ

فقال: لله عزيز

beliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudah

ولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُه

akan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal mereka senang untuk berpikir tentang ilmu

فطلبتُه

maka aku pun mencarinya.

Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas tapi mereka beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.

ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌ

Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.

Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu mendatangi majelis ilmu keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصل

Maka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena dunia

وهو الإخلاص

yaitu keikhlasan


في أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِها

di dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.

ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّة

Akan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat, kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.

Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauriy

قال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّ

Lihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku, berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnya

لأنَّها تتقلَّب عليَّ

karena niatku tersebut senantiasa bolak-balik, karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.

Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻ

Demikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.

بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍ

Bahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagian

تغيَّرت نيَّتي

aku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya, belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya, mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan disitu dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya, ini perlu diawasi lagi perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.

فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍ

Ternyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.

Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print