Selasa, 30 September 2025

Halaqah-02 Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ > Halaqah-02 Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ

Halaqah-02 Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dalil Wajibnya Beriman dengan Takdir Allah”.

Beriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.

Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
[QS Al-Qamar 49] “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”

Dan Allah berfirman,

… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
[QS Al-Furqan 2] “Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
[QS Al-Ahzab 38] “Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”

Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman,

أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda,

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ

“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]

Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.
Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]

Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.
Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,

وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155] Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,

و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى

“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-01 Pengertian Al Qadha dan Al Qadar

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ > Halaqah-01 Pengertian Al Qadha dan Al Qadar

Halaqah-01 Pengertian Al Qadha dan Al Qadar



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Pengertian Al Qadha dan Al Qadar”.
Al Qadha dan Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.

Al Qadha
Secara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.

Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…
[QS Al-Isra’ 23] “Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.”

Dan Allah berfirman,

وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…
[QS Ghafir 20] “Dan Allah memutuskan dengan benar.”

Dan Allah berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…
[QS Al-Baqarah 200] “Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.”
Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.

Al Qadar
Secara bahasa adalah menentukan.
Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.
Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.
Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.
Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.
Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Selasa, 16 September 2025

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam

Diantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalam

① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jalla

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)

② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam

③ Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirman

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩

“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)

④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.
⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah terakhir dari Silsilah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam

Kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan meninggal dunia diatas keimanan dan sampai bertemu kembali pada Silsilah ilmiah berikutnya yaitu Silsilah Beriman Dengan Takdir.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang ke 22

Diantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka

Mereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)

Dan Allah mengatakan

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

”Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27)

Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat

Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ

”Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… “ (Yusuf : 109)

Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau adapun sabda Rasulullah ﷺ

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ

Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing (HR Al-Bukhari)

Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah (HR Al-Bukhari)

Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan., sebagaimana di dalam Al Qashas : 27

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-23 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 21

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-23 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 21

Halaqah-23 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 21

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-23 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-21

Setelah kita memahami mukjizat, Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah dan hal-hal yang berkaitan dengannya maka kita lanjutkan poin-poin tentang tata cara beriman kepada para rasul.

Diantara tata cara beriman dengan para rasul ‘alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain.

18 nama didalam surat Al An’am adalah

1. Ibrahim
2. Ishaq
3. Ya’qub
4. Nuh
5. Daud
6. Sulaiman
7. Ayyub
8. Yusuf
9. Musa
10. Harun
11. Zakariya
12. Yahya
13. ‘Isa
14. Ilyas
15. Ismail
16. Al Yasa’
17. Yunus
18. Luth ‘Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86

Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalaا

1. Nabi Adam,
dua puluh lima kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31

2. Nabi Idris,
Disebutkan dua kali didalam Al-Quran dalam surat Maryam : 56 dan Al-Anbiya’: 85

3. Nabi Dzulkifli,
Dua kali disebutkan didalam surat Al-Anbiya’: 85 dan surat Shod : 48

4. Nabi Hud,
Tujuh kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Al-A’raf : 65

5. Nabi Shaleh,
Sembilan kali disebutkan yang pertama di dalam surat Al A’raf : 73

6. Nabi Syuaib,
Sepuluh Kali disebutkan, yang pertama didalam surat Al A’raf : 85

7 Nabi Muhammad ﷺ,
Empat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 144

Kemudian diantara beriman dengan para Rasul ‘alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya

① Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah wahai Muhammad, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158)

Dan Nabi ﷺ bersabda

وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافة

Dan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan diutus aku untuk manusia semuanya (HR Bukhari)

Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin

② Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ…

“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab: 40)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda

كانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…

“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-22 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 20

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-22 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 20

Halaqah-22 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 20

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-22 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-20
diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah

④ Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah ‘Azza wa jalla

Di dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”

berkata Abu muslim “Iya”

kembali Al-Amsyi bertanya

“apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullah? ”

berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”

Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu, usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang Masjid

Maka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “dari mana asal mu”

Abu Muslim mengatakan : ” dari Yaman ”

Berkata Umar “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”

Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”

Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”

berkata Abu muslim: “Iya”

Berkata syarah bil maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan Umar

Berkata Umar Ibn Khaththab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”

Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khaththab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya.

⑤ Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print