Rabu, 20 Agustus 2025

Halaqah-03 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 1

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-03 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 1

Halaqah-03 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 1



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Rasul Allah “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian yang Pertama”

Cara Beriman kepada para rasul Allah mengandung beberapa perkara

1. Keyakinan yang dalam bahwa kenabian dan kerasulan adalah pilihan dari Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang memang berhak dan yang paling afdhal dan sempurna

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ

“Allah lebih tau dimana Allah meletakkan risalahNya” (Al-An’am : 124)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

”Allah memilih Rasul-rasul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ” (Al-Hajj : 75)

2. Keyakinan yang dalam bahwa mereka (Para Rasul Allah) adalah makhluk Allah yang paling sempurna baik ilmu, amalan, i’tiqad maupun penciptaan atau fisik mereka

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

”Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur” ( Al-Isra’ : 3)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun lembut hati dan suka kembali (kembali kepada Allah)” ( Hud : 75)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

“Mereka berkata “Janganlah engkau (wahai Ibrahim) takut sesungguhnya kami memberikan kabar gembira kepada dirimu dengan seorang anak yang ‘alim” (Al-Hijr : 53)

Yang dimaksud dengan anak tersebut adalah Nabi Ishaq عَلَيهِ السَّلَامُ dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

يَـٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ۬‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيًّ۬ا (١٢) وَحَنَانً۬ا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةً۬‌ۖ وَكَانَ تَقِيًّ۬ا (١٣) وَبَرَّۢا بِوَٲلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّ۬ا (١٤

“Wahai Yahya ambillah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak kanak dan kami jadikan rasa kasih sayang kepada sesama dari kami dan bersih dari dosa dan dia pun orang yang bertakwa dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong dan bukan pula orang yang durhaka” (Maryam : 12-14]

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

”Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada diatas akhlak yang agung” (Al-Qalam : 4)

Dan juga ayat-ayat yang lain yang menunjukkan tentang kesempurnaan para nabi dan para rasul Allah di dalam ilmu, amalan i’tiqad dan juga fisik mereka,

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-02 Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-02 Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul

Halaqah-02 Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Beriman Kepada Para Rasul, Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul

Dalil-dalil menunjukkan adanya perbedaan antara Nabi dan Rasul. Allah berfirman

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ

“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)

Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.

Ada ulama yang mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan namun ini adalah pendapat yang lemah karena ternyata dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu sebagaimana dalam Firman Allah

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ

“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)

Allah Mengatakan

“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”

ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.

Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR Al Bukhâri dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.

Dari sekian banyak pendapat tentang perbedaan antara Nabi dengan Rasul pendapat yang lebih dekat insyaa Allah adalah pendapat yang mengatakan

Bahwa Nabi adalah Orang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebut

Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad Al Amin As-Sinqity semoga Allah merahmati keduanya. Diantara dalilnya adalah firman Allah

…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…

“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (Al-Ma’idah : 44)

Di dalam ayat ini Nabi-nabi Bani Israil mereka menyampaikan syariat Nabi Musa yang ada didalam Taurat, adapun

Pengertian Rasul secara syariat mereka adalah orang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-01 Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul

Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-01 Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul

Halaqah-01 Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Para Rasul Allah “Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para Rasul”

Diantara pokok-pokok keimanan yang harus di imani oleh seorang hamba adalah beriman kepada para Rasul Allah

Rasuulun adalah bentuk tunggal dari rusulun, rasuulun artinya utusan, rusulun artinya utusan-utusan, Rasulullah artinya para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. Allah berfirman :

…لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ…

“…Sunngguh Kami telah mengutus rasul rasul Kami dengan bukti bukti yang nyata…” (Al-Hadid 25)

Al-Quran, Assunnah dan Ijma’ kaum muslimin menunjukkan tentang wajibnya beriman dengan kepada para Rasul Allah dan kekufuran kepada rasul-rasul Allah adalah kekufuran kepada Allah.

Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (An-Nisa : 136)

Adapun dari Assunnah maka Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?

الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Beriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang buruk

Beliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul rasul Allah ‘azza wajalla.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Sabtu, 09 Agustus 2025

Halaqah 25 ~ Buah beriman dengan kitab-kitab Allah

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 25 ~ Buah beriman dengan kitab-kitab Allah

Halaqah 25 ~ Buah beriman dengan kitab-kitab Allah



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Buah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh”.

Diantara buah beriman dengan kitab-kitab Allāh yang bisa kita petik adalah:

1 | Mendapatkan keutamaan-keutamaan beriman.
Diantaranya:
⑴ Hidayah di dunia
⑵ Keamanan di akhirat
⑶ Masuk ke dalam surga
⑷ Dan lain-lain
Karena beriman dengan kitab Allāh adalah bagian dari mewujudkan keimanan.

2 | Semakin mengetahui dan menyadari perhatian Allāh dan kasih sayangNya kepada makhluk.
Semakin mencintaiNya karena menurunkan kepada kita kitab yang berisi petunjuk dan cahaya supaya kita tenang di dunia dan bahagia di akhirat.
Kita tidak dibiarkan tersesat dan terombang-ambing dengan hawa nafsu dan syahwat.
Dan bagi yang ingin melihat kebesaran nikmat ini silakan dia melihat orang-orang yang hidup tanpa berpegang dengan kitab Allāh; mereka dalam keadaan resah, bimbang, bingung dan tidak tahu kemana arah hidupnya.

3 | Mengetahui hikmah Allāh dan kebijaksanaanNya karena memberikan kepada setiap kaum syari’at yang sesuai dengan keadaan mereka.
Dan Al-Qurān sebagai kitab terakhir sesuai untuk semua umat di setiap tempat dan masa sampai hari kiamat.

4 | Mengetahui bahwa petunjuk Allāh kepada manusia tidak terputus sampai hari kiamat.

5 | Semakin mencintai dan menghormati Al-Qurān dengan memperhatikan adab-adab ketika membacanya.
Demikian pula semakin mencintai orang-orang yang mencintai Al-Qurān.

6 | Membenci amalan-amalan yang bertentangan dengan Al-Qurān dan orang-orang yang melakukannya.

7 | Membangkitkan semangat untuk bersungguh-sungguh mencari hidayah dari Al-Qurān dengan membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi, mengamalkan, berhukum dengan Al-Qurān dan kembali kepada Al-Qurān ketika terjadi perselisihan.

8 | Bersemangat untuk membela kitab Allāh dengan menyebarkan aqidah yang benar tentangnya dan membongkar tuduhan dan keyakinan yang sesat yang ingin menurunkan kepercayaan terhadap Al-Qurān dan menjauhkan umat dari Al-Qurān.

9 | Bergembira dan bersyukur kepada Allāh atas karuniaNya yang besar.

الْحَمْدُ لِلَّه ِالَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

[Alhamdulillāh alladzī bini’matihi tatimmushshālihāt] Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-7 tentang Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh.
Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan sampai bertemu kembali pada Silsilah Ilmiyyah ke-8 tentang “Beriman Dengan Rasul-rasul Allāh.”

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah 24 ~ Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh

 Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah ﷻ > Halaqah 24 ~ Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh

Halaqah 24 ~ Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Kitab – Kitab Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh”.
Diantara penyimpangan-penyimpangan di dalam hal iman dengan kitab-kitab Allāh:
1 | Mengingkari keseluruhan atau sebagian kitab-kitab Allāh meskipun hanya 1 huruf.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً بَعِيداً

“Dan barangsiapa yang kufur kepada Allāh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS An-Nisā: 136)
Berkata ‘Abdullāh Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu:

مَنْ كَفَرَ بِحَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ بِآيَةٍ مِنْهُ فَقَدْ كَفَرَ بِهِ كُلِّهِ

“Barangsiapa yang kufur atau mengingkari satu huruf dari Al-Qurān atau 1 ayat darinya maka sungguh dia telah kufur atau mengingkari keseluruhannya.”
[Atsar ini dikeluarkan oleh Ath-Thabariy di dalam tafsirnya]

2 | Mendustakan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab tersebut.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka sombong merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-A’rāf: 36)

3 | Melecehkan dan mengolok-olok.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: Apakah dengan Allāh, ayat-ayatNya dan rasulNya kalian mengolok-olok? Janganlah kalian minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” (QS At-Taubah 65-66)

4 | Membenci apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa petunjuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian karena mereka membenci apa yang Allāh turunkan maka Allāh membatalkan amalan-amalan mereka.” (QS Muhammad: 9)
Apabila seseorang membenci Al-Qurān yang di dalamnya ada petunjuk meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kufur.

5 | Meninggalkan Al-Qurān.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَقَالَ الرَّسُول ُيَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qurān sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqān: 30)
Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qurān mencakup:
• Tidak mau mendengarkannya.
• Tidak beramal dengannya.
• Tidak berhukum dengannya.
• Tidak mentadabburinya.
• Dan juga tidak mau berobat dengan Al-Qurān baik untuk penyakit hati maupun penyakit badan.
Diantara penyimpangan-penyimpangan dalam hal iman dengan kitab-kitab Allāh adalah:

6 | Ragu-ragu dengan kebenaran Al-Qurān.
7 | Berusaha untuk mengubah Al-Qurān baik lafazh maupun maknanya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print