Rabu, 05 November 2025

Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الأول

Simpul yang pertama kata beliau

تطهير وعاء العلم

Di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama adalah kita harus membersihkan tempat dari ilmu tersebut, karena dia punya tempat, termasuk penghormatan kita dan pengagungan kita terhadap ilmu tadi maka kita harus membersihkan terlebih dahulu tempat tersebut.

Kita kalau mau kedatangan tamu yang kita hormati maka kita berusaha untuk membersihkan rumah, halaman kita bersihkan ruang tamu kita bersihkan bahkan sampai kamar mandi pun kita bersihkan karena di dalam diri kita ada penghormatan terhadap orang tersebut. Kalau memang kita ingin menunjukkan penganggungan kita terhadap ilmu dan ilmu itu letaknya atau rumahnya tempatnya adalah di dalam hati kita sehingga otomatis kita harus membersihkan hati tersebut. Beliau mengatakan

وهو القلب

dan tempat dari ilmu adalah hati

وبحسَب طهارة القلب يدخله العلم، وإذا ٱزدادت طهارته ٱزدادت قابليَّته للعلم

maka sesuai dengan kebersihan hati seseorang ilmu itu akan masuk, apabila dia bertambah bersih maka akan bertambah dia menerima ilmu tersebut, tambah bersih dan semakin bersih hati tersebut maka ilmu akan semakin betah tinggal di hati tersebut dan sebaliknya kalau hati seseorang itu kotor maka ilmu semakin tidak betah dengan hati tersebut dan ingin segera dia keluar dari hati tersebut.

فمن أراد حيازة العلم فليُزينِّ باطنه، ويُطهِّرْ قلبه من نجاسة

Maka barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia menghiasi batinnya, jangan dia sibuk untuk menghiasi dzahirnya saja karena ilmu itu tempatnya berada di dalam, hendaklah dia menyibukkan diri untuk menghiasi dan awalnya adalah dengan membersihkan hati tersebut, kemudian dihiasi dan diperindah dan hendaklah dia membersihkan qalbunya dari najis-najis yang ada di dalam hati tersebut.

فالعلم جوهرٌ لطيفٌ ، لا يَصلُح إلَّ للقلب النَّظيف

Maka ilmu ini adalah sesuatu yang sangat lembut barang berharga yang sangat lembut tidaklah dia pantas kecuali untuk hati yang bersih.

Jangan sampai sesuatu yang berharga tadi yang sangat bernilai tadi ditaruh di tempat yang kotor karena ketika dia ditaruh di tempat yang kotor maka dia tidak akan lama-lama tinggal di tempat tersebut dia tidak akan betah di situ, dia adalah sesuatu yang mulia dan butuh tempat yang mulia yang bersih, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersiap-siap untuk membersihkan hati kita ini dari seluruh kotoran. Kemudian beliau menyebutkan bagaimana dan apa jenis-jenis dari kotoran tersebut yang harus kita singkirkan dan harus kita bersihkan dari hati kita.

وطهارة القلب ترجع إلىٰ أصلين عظيمين

Dan kebersihan hati itu kembali kepada dua pokok yang besar, jadi dari sekian banyak kotoran hati itu bisa diringkas menjadi dua

أحدهما: طهارته من نجاسة الشُّبهات

Yang pertama adalah bersihnya hati tersebut dari kotoran-kotoran syubhat, kalau ada syubhat maka segera kita tinggalkan, segera kita singkirkan syubhat tersebut dari hati kita karena itu adalah kotoran yang ilmu tidak akan cocok dengan syubhat tadi

والآخر

dan yang kedua

طهارته من نجاسة الشهوات

adalah bersihnya hati tersebut dari najisnya syahwat, yaitu syahwat yang diharamkan bukan syahwat yang dihalalkan seperti dosa-dosa besar berzina baik zina mata atau zina telinga atau zina kemaluan maka itu adalah syahwat yang muharramah, atau mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ﷻ, itu semua adalah najis yang mengotori hati seseorang dan ilmu tidak akan senang tinggal di sebuah tempat yang kotor baik kotor dengan syubhat maupun kotor dengan syahwat. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersihkan hati kita dari kotoran-kotoran syubhat dan dari kotoran syahwat.

Kemudian beliau mengatakan

وإذا كنت تستحي من نظر مخلوقٍ مثلِك إلىٰ وسخ ثوبك، فاستحِ من نظر الله إلىٰ قلبك، وفيه إحنٌ وبايا، وذنوبٌ وخطايا

Kemudian beliau membuat permisalan yang semoga ini bisa mempermudah pemahaman kita, apabila engkau malu dengan pandangan makhluk sepertimu terhadap kotoran yang ada di badan, kalau kita berjalan misal di jalan kemudian kita memiliki baju yang kotor maka kita malu orang lain melihat kita memakai baju yang kotor, maka kata beliau hendaklah engkau malu dari pandangan Allah ﷻ terhadap hatimu yang di dalamnya ada kotoran-kotoran dan juga musibah-musibah (dosa-dosa) dan juga kesalahan-kesalahan.

Kalau kita dipandang oleh makhluk seperti kita saja yang melihat pada pakaian kita yang kotor kita malu lalu bagaimana dengan  pandangan Allah subhanahu wa taala Al-Khaliq, di mana Allah subhanahu wa taala melihat pada hati kita apakah di situ ada kotoran atau tidak, tentunya kita malu seandainya Allah subhanahu wa taala melihat hati kita dalam keadaan banyak dosa banyak kotoran banyak syubhat banyak syahwat, kalau itu masih banyak di dalam hati kita maka akan sulit kita mendapatkan ilmu agama, belajar mental lagi membaca keluar lagi lupa lagi antum menghafal lupa lagi sebabnya karena kita belum membersihkan hati tersebut.

Sehingga ini menunjukkan bahwasanya penuntut ilmu harus memperhatikan hatinya, dia harus senantiasa muraqabah dan mengawasi hatinya jangan sampai dibiarkan hatinya berlarut-larut dalam keadaan kotor dengan syubhat dengan syahwat. Dengan syubhat karena mungkin ada di antara penuntut ilmu yang dia mendengarkan atau membaca buku-buku yang tidak dibenarkan, buku-buku ahlul bid’ah atau dia sengaja mendengarkan ceramah ceramah ahlul bid’ah, sengaja untuk memasukkan syubhat di dalam hatinya dan ini adalah waswas dari setan mengatakan engkau kuat engkau Insyaallah bisa mengetahui dan bisa membedakan mana yang haq mana yang batil, dan ini adalah waswas dari setan yang ingin mengajak kita untuk mengotori hati kita dengan syubhat-syubhat tadi.

ففي صحيح مسلمٍ عن أبي هريرة رضي الله عنه

Dan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

أنَّ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قال

Bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda

إن الله لا ينظر إلىٰ صوركم وأموالكم، ولٰكن ينظر إلىٰ قلوبكم وأعمالكم

Ini dalil bahwasanya Allah ﷻ melihat hati kita, Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat pada bentuk kalian dan harta-harta kalian, Allah ﷻ tidak melihat yang ini tampan berarti dia diangkat derajatnya, yang ini kaya berarti dia lebih tinggi derajatnya, Allah ﷻ tidak melihat yang demikian, tapi yang Allah ﷻ lihat adalah hati-hati kalian. Kalau dia orang kaya tapi hatinya kotor maka derajatnya lebih rendah daripada orang miskin yang hatinya bersih (bertaqwa).

وأعمالكم

dan Allah ﷻ juga melihat amalan, kalian bukan hanya hati saja yang dilihat oleh Allah ﷻ tapi amalan dzahirnya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak, dilihat hatinya keikhlasannya dan juga dilihat amalannya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak. Karena Allah subhanahu wa ta’ala melihat hati kita dan juga amalan kita maka hendaklah kita berusaha untuk senantiasa dan senantiasa membersihkan hati kita.

من طهَّر قلبه فيه العلم حَلَّ

Barang siapa yang membersihkan hatinya maka ilmu akan menempati hati tersebut

ومن لم يرفع منه نجاسته وَدَعَه العلمُ وارتحل

dan barang siapa yang malas dia tidak mau mengangkat najis yang ada di dalam hatinya, tapi dia terus mengikuti hawa nafsunya dia terus memasukkan syubhat di dalam dalam hatinya berarti kalau memang demikian keadaannya ya sudah

وَدَعَه العلمُ وارتحل

maka ilmu akan mengucapkan selamat tinggal untuknya, kalau memang tidak butuh ilmu ya sudah dia akan mencari hati-hati yang lebih bagus hati-hati yang lebih mau menerima ilmu tersebut yang hati-hati tersebut adalah hati-hati yang bersih

وارتحل

dan dia akan segera meninggalkan, dia tidak akan lama-lama tinggal di hati tersebut.

Dari sini kita mengetahui tentang keutamaan para ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, ketika kita mendengar tentang keilmuan mereka yang dalam kita mengetahui bagaimana keadaan hati mereka yang bersih karena ilmu yang kita dengar dari lisan-lisan mereka yang mulia dan juga apa yang mereka tulis dalam kitab, ini menunjukkan tentang apa yang ada di dalam hati mereka.

وارتحل

Dan akhirnya ilmu tersebut akan pergi meninggalkan orang tersebut.

قال سهل بن عبد الله رحمه الله

Berkata Sahl Ibnu Abdillah rahimahullah

حرامٌ علىٰ قلبٍ أن يدخله النُّور، وفيه شيءٌ ممَّا يكره الله عزَّ وجلَّ

Haram bagi sebuah hati untuk dimasuki Nur (cahaya dari Allah ﷻ) sementara di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah ﷻ, haram bagi sebuah hati yaitu tidak mungkin sebuah hati dimasuki cahaya ilmu kalau di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah Azza wajalla, sesuai dengan kadar kebersihan hati tersebut maka akan semakin banyak ilmu yang masuk ke dalamnya dan semakin kotor maka akan semakin menjauh ilmu itu darinya.

Itu yang pertama kalau kita memang ingin mengagungkan ilmu maka cara mengagungkannya adalah dengan membersihkan tempat dari ilmu tersebut, ini coba kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya awalnya kita bersihkan dulu dengan beristighfar bertaubat kepada Allah ﷻ, kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu maka kita bertaubat dan beristighfar kepada Allah ﷻ.

Kemudian kita bertekad kuat untuk melaksanakan apa yang Allah ﷻ perintahkan dan jangan sampai kita melakukan apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan juga Rasul-Nya karena itulah yang akan mengotori hati kita, kalau memang kita sudah bertaqwa sesuai dengan kemampuan kita kemudian terjerumus ke dalam dosa maka segera kita bersihkan hati tersebut dengan beristighfar dan juga bertaubat dan juga dengan amal shalih sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wasallam

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها

Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah ﷻ di mana pun kau berada dan hendaklah engkau ikuti sebuah kejelekan itu dengan kebaikan, dan di antara kebaikan tersebut adalah istighfar dan juga bertaubat kepada Allah ﷻ dan amal shalih, karena amal shalih ini juga bisa menghapuskan sebagian dari dosa.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Kemudian beliau mengatakan

Minggu, 02 November 2025

Halaqah 02 | Muqaddimah Kitab Ta’dzimul ‘Ilmi

 

  • Home
  • Halaqah 02 | Muqaddimah Kitab Ta’dzimul ‘Ilmi

Halaqah 02 | Muqaddimah Kitab Ta’dzimul ‘Ilmi



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

Masuklah sekarang beliau pada Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilm, beliau mengatakan

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Jadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalah

الحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّم

Setelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam

أمَّا بعدُ

adapun setelahnya

فإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلاله

Ini muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya, sesungguhnya kata beliau bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri

فمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلاله

Maka barang siapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu semakin mengagungkan ilmu,

صلُح أن يكون محاًّ له

maka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiri

وبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منه

dan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebut

حتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلم

sehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu, karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.

Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita, semakin dia mengagungkan ilmu maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya, tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinya

فمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليه

Maka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat) maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.

Barang siapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut, al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut, bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.


ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيه

Kalau orang sudah mengagungkan ilmu maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut, kelezatan dia bukan pada tontonan bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut, dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.

وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلم

Sepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.

Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir, sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu, kemudian beliau mengatakan

وأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمه

Dan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.

Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu, karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.

وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلب

Yang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu kemudian kita bisa mengamalkan dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kita

فمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ له

Maka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil dia pahami dan dia praktekkan maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu

ومن ضيَّعها فلنفسه أضاع

Tapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri.

Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu, kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu, dan orang yang tidak mendapatkan ilmu dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh, ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan sebaliknya dengan ilmu seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.

Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri, kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh, makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmu

ولِهَواه أطاع

Dan dia telah mengikuti hawa nafsunya.

Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu, jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsu

فلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسه

Maka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya, kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi.

Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri, nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.

Kemudian beliau mendatangkan permisalan

يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَ

Dua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.

Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.

Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakan

يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَ

kedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup, bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiri

ومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُ

Dan barang siapa yang tidak menghormati ilmu tidak memuliakan ilmu maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia, balasan itu sesuai dengan amal, kalau kita mengagungkan ilmu maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kita

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

Allah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat mereka

إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ

Sesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.

Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surga

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang disitu kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 01 | Muqaddimah Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm

 

  • Home
  • Halaqah 01 | Muqaddimah Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm

Halaqah 01 | Muqaddimah Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

Beliau adalah Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala seorang ulama di kerajaan Saudi Arabia dan beliau adalah pengajar di Masjid Nabawi dan juga di Masjidil Haram, dan karangan beliau yang akan kita bahas ini adalah termasuk tulisan yang sangat bermanfaat berkaitan dengan adab-adab seorang penuntut ilmu.

Dan seorang yang ingin mendapatkan ilmu agama maka seharusnyalah dia mempelajari adab-adab di dalam menuntut ilmu, ilmu bukan hanya didapatkan dengan semangat tapi harus disertai dengan adab-adab. Kalau dia tidak memperhatikan adab-adab ini maka dikhawatirkan dia tidak bisa mendapatkan ilmu yang dia inginkan atau dengan susah payah dia mendapatkan ilmu tersebut.

Dan kitab yang akan kita pelajari bersama dia tidak terlalu panjang sehingga perlu pembahasan yang berbulan bulan demikian pula tidak terlalu pendek, namun sedang dan kita berharap semoga Allāh ﷻ memberkahi waktu kita sehingga kita bisa menyelesaikan kitab ini dan tentunya kita berharap kita bisa mengambil manfaat dan bisa mengamalkan apa yang kita pelajari bersama ini.

Beliau mengatakan hafidzahullahu ta’ala

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

memulai kitabnya dengan basmalah karena mengikuti Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an karena Allāh ﷻ memulai kitabnya dengan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullāh ﷺ karena Beliau ketika mengirim surat-surat yang isinya adalah dakwah maka Beliau ﷺ memulai surat-surat tersebut dengan basmalah, dan kitab ini isinya adalah dakwah dan juga peringatan.

Kemudian beliau mengatakan

الحمدُ لله الْمعظَّمِ بالتَّوحيد، وصلَّى الله وسلَّم على عبدِهِ ورسولِهِ محمَّدٍ الْمخصوصِ بأجلِّ المزيد، وعلى آله وصحبه أُولي الفضل والرَّأي السَّديد

setelah Basmalah maka beliau memuji Allāh ﷻ kemudian mengucapkan shalawat dan salam untuk Rasulullāh ﷺ dan tidak lupa beliau juga mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Beliau ﷺ para sahabat Beliau ﷺ radhiallāhu ta’ala ‘anhum jami’an.

Kemudian beliau mengatakan

أمَّا بعدُ

Adapun setelah itu

فهذه من كتابي “تعظيمِ العلمِ” خُلاصةُ اللَّفظ، أُعِدَّت بالتقاطها لمقصَد الحفظ، فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب، وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍ

maka ini adalah ringkasan atau inti lafadz dari kitabku yang bernama Ta’dzhimul ‘Ilm, makanya judulnya adalah Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm, khulashah artinya adalah inti, kitab beliau ini adalah inti dari kitab beliau yang lain yaitu Ta’dzhimul ‘Ilm, berarti Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya itu lebih luas karena ini adalah intinya.

Beliau melakukan hal ini yaitu menjadikan di sana kitab yang lain selain Ta’dzhimul ‘Ilm dan itu merupakan inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm, beliau mengatakan maksud beliau adalah untuk dihafalkan, maka ini diperlukan lafadz yang sedikit, dan semakin dalam maknanya maka tentunya ini lebih bagus untuk dijadikan hafalan.

فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب

Sehingga karena tujuannya adalah untuk dihafal maka diambillah dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm intinya, jadi terkadang dirubah lafadznya, ini perbedaan wallāhu a’lam antara ikhtishar dengan khulashah, kalau ikhtishar ini dihilangkan seperti misalnya Mukhtashar Shahih Al-Bukhari maka dihilangkan sanadnya misalnya, tapi kalau khulashah maka ini mungkin saja di situ ada perubahan lafadz karena yang dimaksud dengan khulashah adalah naqawah yaitu intinya.


وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍ

Kemudian dijadikan di sana contoh dari setiap bab, beliau berusaha mendatangkan intinya kemudian mendatangkan permisalannya

ليكونَ في نفوس الطَّلبة شمسَ النَّهار، ويتَرشَّحوا بعدَه إلى العمل والادِّكار

dibuat tidak sepanjang Ta’dzhimul ‘Ilm tapi dijadikan di sana intinya saja kemudian dibuat di sana permisalan adalah supaya menjadi seperti matahari di siang hari bagi para penuntut ilmu, maksudnya di sini adalah supaya menjadi lebih jelas perkaranya sebagaimana terangnya matahari di siang hari sehingga mudah dipahami oleh para penuntut ilmu agama.

Kemudian bukan hanya dari sisi keilmuan dan kejelasan dan juga kepahaman tapi supaya mereka mempersiapkan dirinya setelah itu yaitu setelah memahami untuk mengamalkan dan juga mengingat-ingat atau mengambil pelajaran, dia bisa mengamalkan kalau dia bisa memahami, dia bisa memahami kalau dibuat bukunya tadi dicarikan intinya dan dibuat permisalan. Karena terkadang kalau terlalu panjang kitabnya mungkin sebagian penuntut ilmu malah tidak paham, kalau tidak bagaimana dia bisa mengamalkan dan bagaimana dia bisa mengambil pelajaran, tapi ketika dibuat intinya maka dia bisa memahami kemudian setelah itu dia bisa mengamalkan, dan itu yang kita harapkan, tujuan kita menuntut ilmu adalah untuk mengamalkan bukan hanya sekedar dihafal.

Maka tentunya ini adalah maksud yang sangat baik dan muafaq dari Syaikh, beliau menjadikan di sana inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm Kemudian beliau beri nama dengan Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm tujuannya adalah supaya bisa dipahami oleh kita semuanya dan dari situ bisa kita amalkan dan kita bisa mengambil pelajaran.

Kemudian beliau berdoa

فأسألُ اللهَ لي ولهم لزومَ معاقدِ التَّعظيم، والفوزَ بجوامعِ فضلِهِ العظيم

Maka aku meminta kepada Allāh ﷻ untukku dan untuk mereka (para penuntut ilmu), beliau mendoakan untuk beliau sendiri karena asalnya memang kita mendoakan untuk diri kita sendiri kemudian tidak lupa beliau mendoakan untuk para penuntut ilmu, mendoakan dengan kebaikan yaitu supaya mereka melazimi dan berpegang teguh dengan simpul-simpul (prinsip-prinsip) pengagungan terhadap ilmu, bukan hanya sekedar memahami kitab beliau tapi juga berpegang teguh dan istiqamah di atas simpul pengagungan tadi, kemudian dan juga keberuntungan mendapatkan karunia yang besar dari Allāh ﷻ.

Dan yang pertama tadi yang kita baca adalah mukadimah dari kitab Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print


Rabu, 22 Oktober 2025

Halaqah-25 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 3

 

  • Home
  • Halaqah-25 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 3

Halaqah-25 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 3



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 3”.

16. Berbaik sangka kepada Allah. Ketika melihat dirinya diberi hidayah kepada Tauhid, Sunnah, dan ketaatan, maka dia berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah menghendaki pada dirinya kebaikan dan ingin memudahkan dia masuk ke dalam Surga-Nya.

17. Menimbulkan rasa takut di dalam diri seorang hamba dari suul khotimah, sehingga dia tidak tertipu dengan amal sholehnya, karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir amalannya.

18. Menimbulkan sifat tidak suka merendahkan orang lain dan menghinakan orang lain yang terjerumus ke dalam kemaksiatan, karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir dari amalan orang tersebut.

19. Memerdekakan akal dan diri dari khurafat dan tathoyyur dan dia meyakini bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak ada yg menolak kejelekan kecuali Allah.

20. Menjadikan seseorang rendah hati dan tidak sombong ketika diberikan rezeki oleh Allah baik berupa harta, kedudukan, maupun ilmu, dll. Karena ini semua datang dari Allah dan dengan takdir Allah. Dan kalau Allah menghendaki, Allah akan mengambilnya dari kita sewaktu-waktu.

21. Membawa ketenangan di dalam hati dan ketentraman jiwa karena ketika tertimpa musibah dia merasa itu yg terbaik dan pasti ada hikmahnya dan dia mengetahui bahwa orang yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya, sehingga dia tidak cemas dan gelisah, dan tidak berangan-angan dan berandai-andai.

Akhirnya semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk orang yang beriman dengan takdir Allah yang baik maupun yang buruk.
Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan karunia kepada kita semua sehingga kita bisa merasakan buah-buah yang baik dari beriman dengan takdir. Dan sesungguhnya Allah mengabulkan do’a.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Demikianlah yang bisa saya sampaikan di dalam Silsilah Beriman dengan Takdir Allah dan sampai bertemu kembali pada Silsilah Ilmiah selanjutnya yaitu Silsilah Siroh Nabawiyyah.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-24 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 2

 

  • Home
  • Halaqah-24 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 2

Halaqah-24 Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 2



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 2”.

9. Membuahkan semangat yang tinggi di dalam melakukan kebaikan yang berkaitan dengan agama seperti ibadah, menuntut ilmu, berdakwah, dll.

Orang yang beriman dengan Takdir Allah tidak takut celaan orang yang mencela ketika berdakwah, tidak terlalu hancur hatinya ketika melihat orang yang tidak menerima dakwahnya, dan dia tidak pamer atau bangga diri ketika melihat orang yang mendapatkan hidayah dengan sebab dirinya karena semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla.

10. Membuahkan semangat yang tinggi di dalam berbuat kebaikan yang berkaitan dengan dunia seperti bekerja yang halal, melakukan aktivitas yang diperbolehkan dan bermanfaat, dll. Dan dia tidak mudah menyesal dan berputus asa ketika menghadapi musibah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.

11. Membuahkan ridha terhadap hukum-hukum Allah baik yang berupa hukum-hukum syariat, maupun hukum-hukum Kauniyah.

12. Membuahkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan karena dia mengetahui dan yakin bahwa Allah memilih yang terbaik baginya di dalam urusan dunia, agama, dan akhir dari perkaranya.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

… ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

[QS Al-Baqarah 216]

“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu dan dia adalah baik bagi kalian. Dan mungkin saja kalian mencintai sesuatu dan dia adalah jelek bagi kalian. Dan Allah, Dia-lah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”

13. Membuahkan keistiqomahan di atas jalan yang lurus baik dalam keadaan mendapatkan nikmat atau tertimpa musibah, karena dia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan akan bersabar ketika dia terkena musibah.

14. Tidak putus asa dari pertolongan Allah bagaimanapun besarnya fitnah dan banyaknya ujian, karena dia yakin bahwa akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Dan ini adalah ketentuan Allah yang sudah Allah tentukan.

Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

[QS Al-Fath 28]

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menampakkan agama tersebut di atas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.”

Dan Allah mengatakan,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

[QS Ghafir 51]

“Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan ketika bangkit para saksi.”

15. Menjadikan di dalam diri seorang hamba Qonaah atau merasa cukup dengan pemberian Allah azza wajalla, tidak rakus terhadap dunia dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Karena dia meyakini bahwa rezeki sudah tertulis dan tidak mungkin orang lain bisa menyampaikan kepadanya sebuah rezeki kecuali apa yang sudah Allah tulis sebelumnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print