Rabu, 05 November 2025

Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ

 

  • Home
  • Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ

Halaqah 04 | Simpul 02 – Mengikhlaskan Ilmu Hanya Untuk Allāh ﷻ



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الثاني

Simpul yang kedua di antara simpul-simpul yang dengannya insyaAllah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu dengan

إخلاص النية فيه

mengikhlaskan niat di dalam ilmu, فيه di sini kembali kepada ilmu, mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ, ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka di antara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk, karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu, ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu, tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut, ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.

إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولها

Sesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima, kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ, beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas tangganya juga keikhlasan dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan amalan tersebut harus ada

قال تعالىٰ

Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5

Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas dalam keadaan mentauhidkan Allah.

وفي الصَّحيحين

Di dalam Shahih Bukhari dan juga Muslim

عن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰ

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Amalan itu harus dengan niat kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam islam

وما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمين

Tidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.

Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas, ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah sampai menjadi seorang ahli fiqh ada yang ahlul hadits ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas, jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan hanya sekedar menghafal, tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena di antaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal, mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh menjadi seorang ahlul hadits.

قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القوم

Berkata Abu Bakar Al-Marrudziy aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan, yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan, orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi, dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu namanya sidq berarti dia jujur di dalam keinginannya. Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ, berarti ada shidq dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbal

بهٰذا ٱرتفع القوم

dengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ. Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Malik, kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.

وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصه

Sesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia, semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ bukan mendapatkan dunia.

Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia, kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia supaya dikenal supaya populer supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.

والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصول

Ikhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasi

بها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدها

dengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar, kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.

Yang pertama adalah

الأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسه

Niat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiri

بتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهي

Kita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh ana ingin punya ilmu kalau memang niat dia adalah demikian ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah, karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya dia sayangi dirinya dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu. Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah

الثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهم

adalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.

Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana kepada tetangga ana maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.

Yang ketiga

الثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياع

Niat kita adalah ingin menghidupkan ilmu, yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.

Yang keempat

الرَّابع: العمل بالعلم

Niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu, kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.

ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهم

Dahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis. Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.

Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.

Beliau memberikan contoh disini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya

سئل الإمامُ أحمدُ

ditanya Al Imamu Ahmad


هل طلبت العلم لله؟

apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻ

فقال: لله عزيز

beliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudah

ولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُه

akan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal mereka senang untuk berpikir tentang ilmu

فطلبتُه

maka aku pun mencarinya.

Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas tapi mereka beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.

ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌ

Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.

Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu mendatangi majelis ilmu keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصل

Maka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena dunia

وهو الإخلاص

yaitu keikhlasan


في أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِها

di dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.

ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّة

Akan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat, kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.

Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauriy

قال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّ

Lihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku, berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnya

لأنَّها تتقلَّب عليَّ

karena niatku tersebut senantiasa bolak-balik, karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.

Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻ

Demikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.

بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍ

Bahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagian

تغيَّرت نيَّتي

aku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya, belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya, mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan disitu dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya, ini perlu diawasi lagi perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.

فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍ

Ternyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.

Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

      

Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

 

  • Home
  • Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

Halaqah 03 | Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

المعقد الأول

Simpul yang pertama kata beliau

تطهير وعاء العلم

Di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama adalah kita harus membersihkan tempat dari ilmu tersebut, karena dia punya tempat, termasuk penghormatan kita dan pengagungan kita terhadap ilmu tadi maka kita harus membersihkan terlebih dahulu tempat tersebut.

Kita kalau mau kedatangan tamu yang kita hormati maka kita berusaha untuk membersihkan rumah, halaman kita bersihkan ruang tamu kita bersihkan bahkan sampai kamar mandi pun kita bersihkan karena di dalam diri kita ada penghormatan terhadap orang tersebut. Kalau memang kita ingin menunjukkan penganggungan kita terhadap ilmu dan ilmu itu letaknya atau rumahnya tempatnya adalah di dalam hati kita sehingga otomatis kita harus membersihkan hati tersebut. Beliau mengatakan

وهو القلب

dan tempat dari ilmu adalah hati

وبحسَب طهارة القلب يدخله العلم، وإذا ٱزدادت طهارته ٱزدادت قابليَّته للعلم

maka sesuai dengan kebersihan hati seseorang ilmu itu akan masuk, apabila dia bertambah bersih maka akan bertambah dia menerima ilmu tersebut, tambah bersih dan semakin bersih hati tersebut maka ilmu akan semakin betah tinggal di hati tersebut dan sebaliknya kalau hati seseorang itu kotor maka ilmu semakin tidak betah dengan hati tersebut dan ingin segera dia keluar dari hati tersebut.

فمن أراد حيازة العلم فليُزينِّ باطنه، ويُطهِّرْ قلبه من نجاسة

Maka barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia menghiasi batinnya, jangan dia sibuk untuk menghiasi dzahirnya saja karena ilmu itu tempatnya berada di dalam, hendaklah dia menyibukkan diri untuk menghiasi dan awalnya adalah dengan membersihkan hati tersebut, kemudian dihiasi dan diperindah dan hendaklah dia membersihkan qalbunya dari najis-najis yang ada di dalam hati tersebut.

فالعلم جوهرٌ لطيفٌ ، لا يَصلُح إلَّ للقلب النَّظيف

Maka ilmu ini adalah sesuatu yang sangat lembut barang berharga yang sangat lembut tidaklah dia pantas kecuali untuk hati yang bersih.

Jangan sampai sesuatu yang berharga tadi yang sangat bernilai tadi ditaruh di tempat yang kotor karena ketika dia ditaruh di tempat yang kotor maka dia tidak akan lama-lama tinggal di tempat tersebut dia tidak akan betah di situ, dia adalah sesuatu yang mulia dan butuh tempat yang mulia yang bersih, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersiap-siap untuk membersihkan hati kita ini dari seluruh kotoran. Kemudian beliau menyebutkan bagaimana dan apa jenis-jenis dari kotoran tersebut yang harus kita singkirkan dan harus kita bersihkan dari hati kita.

وطهارة القلب ترجع إلىٰ أصلين عظيمين

Dan kebersihan hati itu kembali kepada dua pokok yang besar, jadi dari sekian banyak kotoran hati itu bisa diringkas menjadi dua

أحدهما: طهارته من نجاسة الشُّبهات

Yang pertama adalah bersihnya hati tersebut dari kotoran-kotoran syubhat, kalau ada syubhat maka segera kita tinggalkan, segera kita singkirkan syubhat tersebut dari hati kita karena itu adalah kotoran yang ilmu tidak akan cocok dengan syubhat tadi

والآخر

dan yang kedua

طهارته من نجاسة الشهوات

adalah bersihnya hati tersebut dari najisnya syahwat, yaitu syahwat yang diharamkan bukan syahwat yang dihalalkan seperti dosa-dosa besar berzina baik zina mata atau zina telinga atau zina kemaluan maka itu adalah syahwat yang muharramah, atau mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ﷻ, itu semua adalah najis yang mengotori hati seseorang dan ilmu tidak akan senang tinggal di sebuah tempat yang kotor baik kotor dengan syubhat maupun kotor dengan syahwat. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersihkan hati kita dari kotoran-kotoran syubhat dan dari kotoran syahwat.

Kemudian beliau mengatakan

وإذا كنت تستحي من نظر مخلوقٍ مثلِك إلىٰ وسخ ثوبك، فاستحِ من نظر الله إلىٰ قلبك، وفيه إحنٌ وبايا، وذنوبٌ وخطايا

Kemudian beliau membuat permisalan yang semoga ini bisa mempermudah pemahaman kita, apabila engkau malu dengan pandangan makhluk sepertimu terhadap kotoran yang ada di badan, kalau kita berjalan misal di jalan kemudian kita memiliki baju yang kotor maka kita malu orang lain melihat kita memakai baju yang kotor, maka kata beliau hendaklah engkau malu dari pandangan Allah ﷻ terhadap hatimu yang di dalamnya ada kotoran-kotoran dan juga musibah-musibah (dosa-dosa) dan juga kesalahan-kesalahan.

Kalau kita dipandang oleh makhluk seperti kita saja yang melihat pada pakaian kita yang kotor kita malu lalu bagaimana dengan  pandangan Allah subhanahu wa taala Al-Khaliq, di mana Allah subhanahu wa taala melihat pada hati kita apakah di situ ada kotoran atau tidak, tentunya kita malu seandainya Allah subhanahu wa taala melihat hati kita dalam keadaan banyak dosa banyak kotoran banyak syubhat banyak syahwat, kalau itu masih banyak di dalam hati kita maka akan sulit kita mendapatkan ilmu agama, belajar mental lagi membaca keluar lagi lupa lagi antum menghafal lupa lagi sebabnya karena kita belum membersihkan hati tersebut.

Sehingga ini menunjukkan bahwasanya penuntut ilmu harus memperhatikan hatinya, dia harus senantiasa muraqabah dan mengawasi hatinya jangan sampai dibiarkan hatinya berlarut-larut dalam keadaan kotor dengan syubhat dengan syahwat. Dengan syubhat karena mungkin ada di antara penuntut ilmu yang dia mendengarkan atau membaca buku-buku yang tidak dibenarkan, buku-buku ahlul bid’ah atau dia sengaja mendengarkan ceramah ceramah ahlul bid’ah, sengaja untuk memasukkan syubhat di dalam hatinya dan ini adalah waswas dari setan mengatakan engkau kuat engkau Insyaallah bisa mengetahui dan bisa membedakan mana yang haq mana yang batil, dan ini adalah waswas dari setan yang ingin mengajak kita untuk mengotori hati kita dengan syubhat-syubhat tadi.

ففي صحيح مسلمٍ عن أبي هريرة رضي الله عنه

Dan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

أنَّ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قال

Bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda

إن الله لا ينظر إلىٰ صوركم وأموالكم، ولٰكن ينظر إلىٰ قلوبكم وأعمالكم

Ini dalil bahwasanya Allah ﷻ melihat hati kita, Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat pada bentuk kalian dan harta-harta kalian, Allah ﷻ tidak melihat yang ini tampan berarti dia diangkat derajatnya, yang ini kaya berarti dia lebih tinggi derajatnya, Allah ﷻ tidak melihat yang demikian, tapi yang Allah ﷻ lihat adalah hati-hati kalian. Kalau dia orang kaya tapi hatinya kotor maka derajatnya lebih rendah daripada orang miskin yang hatinya bersih (bertaqwa).

وأعمالكم

dan Allah ﷻ juga melihat amalan, kalian bukan hanya hati saja yang dilihat oleh Allah ﷻ tapi amalan dzahirnya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak, dilihat hatinya keikhlasannya dan juga dilihat amalannya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak. Karena Allah subhanahu wa ta’ala melihat hati kita dan juga amalan kita maka hendaklah kita berusaha untuk senantiasa dan senantiasa membersihkan hati kita.

من طهَّر قلبه فيه العلم حَلَّ

Barang siapa yang membersihkan hatinya maka ilmu akan menempati hati tersebut

ومن لم يرفع منه نجاسته وَدَعَه العلمُ وارتحل

dan barang siapa yang malas dia tidak mau mengangkat najis yang ada di dalam hatinya, tapi dia terus mengikuti hawa nafsunya dia terus memasukkan syubhat di dalam dalam hatinya berarti kalau memang demikian keadaannya ya sudah

وَدَعَه العلمُ وارتحل

maka ilmu akan mengucapkan selamat tinggal untuknya, kalau memang tidak butuh ilmu ya sudah dia akan mencari hati-hati yang lebih bagus hati-hati yang lebih mau menerima ilmu tersebut yang hati-hati tersebut adalah hati-hati yang bersih

وارتحل

dan dia akan segera meninggalkan, dia tidak akan lama-lama tinggal di hati tersebut.

Dari sini kita mengetahui tentang keutamaan para ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, ketika kita mendengar tentang keilmuan mereka yang dalam kita mengetahui bagaimana keadaan hati mereka yang bersih karena ilmu yang kita dengar dari lisan-lisan mereka yang mulia dan juga apa yang mereka tulis dalam kitab, ini menunjukkan tentang apa yang ada di dalam hati mereka.

وارتحل

Dan akhirnya ilmu tersebut akan pergi meninggalkan orang tersebut.

قال سهل بن عبد الله رحمه الله

Berkata Sahl Ibnu Abdillah rahimahullah

حرامٌ علىٰ قلبٍ أن يدخله النُّور، وفيه شيءٌ ممَّا يكره الله عزَّ وجلَّ

Haram bagi sebuah hati untuk dimasuki Nur (cahaya dari Allah ﷻ) sementara di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah ﷻ, haram bagi sebuah hati yaitu tidak mungkin sebuah hati dimasuki cahaya ilmu kalau di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah Azza wajalla, sesuai dengan kadar kebersihan hati tersebut maka akan semakin banyak ilmu yang masuk ke dalamnya dan semakin kotor maka akan semakin menjauh ilmu itu darinya.

Itu yang pertama kalau kita memang ingin mengagungkan ilmu maka cara mengagungkannya adalah dengan membersihkan tempat dari ilmu tersebut, ini coba kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya awalnya kita bersihkan dulu dengan beristighfar bertaubat kepada Allah ﷻ, kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu maka kita bertaubat dan beristighfar kepada Allah ﷻ.

Kemudian kita bertekad kuat untuk melaksanakan apa yang Allah ﷻ perintahkan dan jangan sampai kita melakukan apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan juga Rasul-Nya karena itulah yang akan mengotori hati kita, kalau memang kita sudah bertaqwa sesuai dengan kemampuan kita kemudian terjerumus ke dalam dosa maka segera kita bersihkan hati tersebut dengan beristighfar dan juga bertaubat dan juga dengan amal shalih sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wasallam

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها

Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah ﷻ di mana pun kau berada dan hendaklah engkau ikuti sebuah kejelekan itu dengan kebaikan, dan di antara kebaikan tersebut adalah istighfar dan juga bertaubat kepada Allah ﷻ dan amal shalih, karena amal shalih ini juga bisa menghapuskan sebagian dari dosa.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Kemudian beliau mengatakan

Minggu, 02 November 2025

Halaqah 02 | Muqaddimah Kitab Ta’dzimul ‘Ilmi

 

  • Home
  • Halaqah 02 | Muqaddimah Kitab Ta’dzimul ‘Ilmi

Halaqah 02 | Muqaddimah Kitab Ta’dzimul ‘Ilmi



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

Masuklah sekarang beliau pada Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilm, beliau mengatakan

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Jadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalah

الحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّم

Setelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam

أمَّا بعدُ

adapun setelahnya

فإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلاله

Ini muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya, sesungguhnya kata beliau bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri

فمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلاله

Maka barang siapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu semakin mengagungkan ilmu,

صلُح أن يكون محاًّ له

maka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiri

وبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منه

dan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebut

حتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلم

sehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu, karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.

Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita, semakin dia mengagungkan ilmu maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya, tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinya

فمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليه

Maka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat) maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.

Barang siapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut, al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut, bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.


ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيه

Kalau orang sudah mengagungkan ilmu maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut, kelezatan dia bukan pada tontonan bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut, dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.

وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلم

Sepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.

Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir, sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu, kemudian beliau mengatakan

وأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمه

Dan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.

Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu, karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.

وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلب

Yang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu kemudian kita bisa mengamalkan dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kita

فمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ له

Maka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil dia pahami dan dia praktekkan maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu

ومن ضيَّعها فلنفسه أضاع

Tapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri.

Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu, kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu, dan orang yang tidak mendapatkan ilmu dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh, ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan sebaliknya dengan ilmu seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.

Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri, kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh, makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmu

ولِهَواه أطاع

Dan dia telah mengikuti hawa nafsunya.

Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu, jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsu

فلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسه

Maka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya, kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi.

Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri, nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.

Kemudian beliau mendatangkan permisalan

يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَ

Dua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.

Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.

Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakan

يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَ

kedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup, bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiri

ومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُ

Dan barang siapa yang tidak menghormati ilmu tidak memuliakan ilmu maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia, balasan itu sesuai dengan amal, kalau kita mengagungkan ilmu maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kita

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

Allah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat mereka

إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ

Sesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.

Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surga

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang disitu kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah 01 | Muqaddimah Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm

 

  • Home
  • Halaqah 01 | Muqaddimah Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm

Halaqah 01 | Muqaddimah Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm



Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.

Beliau adalah Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala seorang ulama di kerajaan Saudi Arabia dan beliau adalah pengajar di Masjid Nabawi dan juga di Masjidil Haram, dan karangan beliau yang akan kita bahas ini adalah termasuk tulisan yang sangat bermanfaat berkaitan dengan adab-adab seorang penuntut ilmu.

Dan seorang yang ingin mendapatkan ilmu agama maka seharusnyalah dia mempelajari adab-adab di dalam menuntut ilmu, ilmu bukan hanya didapatkan dengan semangat tapi harus disertai dengan adab-adab. Kalau dia tidak memperhatikan adab-adab ini maka dikhawatirkan dia tidak bisa mendapatkan ilmu yang dia inginkan atau dengan susah payah dia mendapatkan ilmu tersebut.

Dan kitab yang akan kita pelajari bersama dia tidak terlalu panjang sehingga perlu pembahasan yang berbulan bulan demikian pula tidak terlalu pendek, namun sedang dan kita berharap semoga Allāh ﷻ memberkahi waktu kita sehingga kita bisa menyelesaikan kitab ini dan tentunya kita berharap kita bisa mengambil manfaat dan bisa mengamalkan apa yang kita pelajari bersama ini.

Beliau mengatakan hafidzahullahu ta’ala

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

memulai kitabnya dengan basmalah karena mengikuti Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an karena Allāh ﷻ memulai kitabnya dengan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullāh ﷺ karena Beliau ketika mengirim surat-surat yang isinya adalah dakwah maka Beliau ﷺ memulai surat-surat tersebut dengan basmalah, dan kitab ini isinya adalah dakwah dan juga peringatan.

Kemudian beliau mengatakan

الحمدُ لله الْمعظَّمِ بالتَّوحيد، وصلَّى الله وسلَّم على عبدِهِ ورسولِهِ محمَّدٍ الْمخصوصِ بأجلِّ المزيد، وعلى آله وصحبه أُولي الفضل والرَّأي السَّديد

setelah Basmalah maka beliau memuji Allāh ﷻ kemudian mengucapkan shalawat dan salam untuk Rasulullāh ﷺ dan tidak lupa beliau juga mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Beliau ﷺ para sahabat Beliau ﷺ radhiallāhu ta’ala ‘anhum jami’an.

Kemudian beliau mengatakan

أمَّا بعدُ

Adapun setelah itu

فهذه من كتابي “تعظيمِ العلمِ” خُلاصةُ اللَّفظ، أُعِدَّت بالتقاطها لمقصَد الحفظ، فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب، وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍ

maka ini adalah ringkasan atau inti lafadz dari kitabku yang bernama Ta’dzhimul ‘Ilm, makanya judulnya adalah Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm, khulashah artinya adalah inti, kitab beliau ini adalah inti dari kitab beliau yang lain yaitu Ta’dzhimul ‘Ilm, berarti Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya itu lebih luas karena ini adalah intinya.

Beliau melakukan hal ini yaitu menjadikan di sana kitab yang lain selain Ta’dzhimul ‘Ilm dan itu merupakan inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm, beliau mengatakan maksud beliau adalah untuk dihafalkan, maka ini diperlukan lafadz yang sedikit, dan semakin dalam maknanya maka tentunya ini lebih bagus untuk dijadikan hafalan.

فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب

Sehingga karena tujuannya adalah untuk dihafal maka diambillah dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm intinya, jadi terkadang dirubah lafadznya, ini perbedaan wallāhu a’lam antara ikhtishar dengan khulashah, kalau ikhtishar ini dihilangkan seperti misalnya Mukhtashar Shahih Al-Bukhari maka dihilangkan sanadnya misalnya, tapi kalau khulashah maka ini mungkin saja di situ ada perubahan lafadz karena yang dimaksud dengan khulashah adalah naqawah yaitu intinya.


وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍ

Kemudian dijadikan di sana contoh dari setiap bab, beliau berusaha mendatangkan intinya kemudian mendatangkan permisalannya

ليكونَ في نفوس الطَّلبة شمسَ النَّهار، ويتَرشَّحوا بعدَه إلى العمل والادِّكار

dibuat tidak sepanjang Ta’dzhimul ‘Ilm tapi dijadikan di sana intinya saja kemudian dibuat di sana permisalan adalah supaya menjadi seperti matahari di siang hari bagi para penuntut ilmu, maksudnya di sini adalah supaya menjadi lebih jelas perkaranya sebagaimana terangnya matahari di siang hari sehingga mudah dipahami oleh para penuntut ilmu agama.

Kemudian bukan hanya dari sisi keilmuan dan kejelasan dan juga kepahaman tapi supaya mereka mempersiapkan dirinya setelah itu yaitu setelah memahami untuk mengamalkan dan juga mengingat-ingat atau mengambil pelajaran, dia bisa mengamalkan kalau dia bisa memahami, dia bisa memahami kalau dibuat bukunya tadi dicarikan intinya dan dibuat permisalan. Karena terkadang kalau terlalu panjang kitabnya mungkin sebagian penuntut ilmu malah tidak paham, kalau tidak bagaimana dia bisa mengamalkan dan bagaimana dia bisa mengambil pelajaran, tapi ketika dibuat intinya maka dia bisa memahami kemudian setelah itu dia bisa mengamalkan, dan itu yang kita harapkan, tujuan kita menuntut ilmu adalah untuk mengamalkan bukan hanya sekedar dihafal.

Maka tentunya ini adalah maksud yang sangat baik dan muafaq dari Syaikh, beliau menjadikan di sana inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm Kemudian beliau beri nama dengan Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm tujuannya adalah supaya bisa dipahami oleh kita semuanya dan dari situ bisa kita amalkan dan kita bisa mengambil pelajaran.

Kemudian beliau berdoa

فأسألُ اللهَ لي ولهم لزومَ معاقدِ التَّعظيم، والفوزَ بجوامعِ فضلِهِ العظيم

Maka aku meminta kepada Allāh ﷻ untukku dan untuk mereka (para penuntut ilmu), beliau mendoakan untuk beliau sendiri karena asalnya memang kita mendoakan untuk diri kita sendiri kemudian tidak lupa beliau mendoakan untuk para penuntut ilmu, mendoakan dengan kebaikan yaitu supaya mereka melazimi dan berpegang teguh dengan simpul-simpul (prinsip-prinsip) pengagungan terhadap ilmu, bukan hanya sekedar memahami kitab beliau tapi juga berpegang teguh dan istiqamah di atas simpul pengagungan tadi, kemudian dan juga keberuntungan mendapatkan karunia yang besar dari Allāh ﷻ.

Dan yang pertama tadi yang kita baca adalah mukadimah dari kitab Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print